
Suasana ruang UGD yang banyak dengan pasien membuat Revan dan Ray memilih menunggu di luar, sedangkan Billa dan Ibu Panti masih menunggu di bilik Kyara, menanti ibu hamil itu untuk sadar, sedangkan Kenan pergi mengurusi administrasi Kyara.
"Ini kesempatan loe bro.” Ucap Ray membuat Revan bingung.
"Maksudnya?" Jawab Revan tidak paham.
"Haisss…, apa perlu gue yang ajarin loe? Ini kesempatan loe memperbaiki perilaku loe yang nyakitin Kyara."
"Caranya?"
"Loe pikir dong apa yang bisa loe lakuin saat dia lagi butuh pemulihan. Kalo loe bingung, loe anggep aja dia temen loe yang lagi butuh bantuan, sesimple itu broo..." Jawab Ray kesal dan merasa Revan sangat lamban.
Revan terdiam mendengar ucapan Ray, berpikir sejenak dan ada benarnya juga. Ini kesempatan baik untuk memperbaiki semua sikap dan perilaku menyakitkannya pada Kyara.
“Oke, gue kayaknya tahu apa yang harus gue lakuin.” Jawab Revan mantap.
“Gitu dong brooo…,” Jawab Ray tersenyum lega, setidaknya Revan mau berusaha.
"Eheemm..." Sapa Kenan menghampiri mereka.
"Kita belum kenalan, gue Kenan, guru di panti asuhan." Ucap Kenan mengulurkan tangannya. Ray menyambut dengan cepat.
"Ray...," Jawab Ray lalu melepaskan jabat tangannya. Kenan menunggu Revan untuk menyambut tangannya, tapi pria itu ogah-ogahan dan menyambut dengan kasar.
"Revan."
"Kyara sudah sadar." Lanjut Kenan, Revan bergegas ingin masuk dan menemui Kyara.
"Tunggu...," Panggil Kenan menahan Revan dan Ray.
"Ada apa?" Tanya Ray heran.
"Apa kalian teman baik Kyara?"
"Tidak termasuk teman baik, tapi kami teman lama Kyara, ada apa?" Jawab Ray.
"Ada apa? Apa yang sebenarnya mau kau bicarakan?" Tanya Revan tidak sabaran, entah kenapa ia merasa ingin langsung menemui Kyara yang sudah sadar.
"Aku hanya ingin bertanya, apa ayah dari bayi itu masih hidup?" Tanya Kenan serius dan menatap Ray dan Revan menanti jawaban. Kedua pria itu terperangah dan saling melihat satu sama lain, bingung harus menjawab apa.
"Bagaimana jika masih dan bagaimana jika tidak?" Tanya Revan penasaran.
__ADS_1
"Jika masih, aku berharap ada kesempatan untuk bertemu dan mengetahui siapa ayah dari bayi itu." Jawab Kenan membuat Revan dan Ray kembali saling bertatapan bingung, ada apa dengan pria ini?
"Maaf, tapi apa hubungannya denganmu?" Tanya Ray.
"Hanya ingin bertemu. Masuklah, Kyara mungkin akan senang melihat kalian." Jawab Kenan lalu berbalik melangkah ke dalam, meninggalkan sejumlah tanda tanya dalam benak Revan dan Ray.
Billa, Revan, Ray, Ibu panti dan Kenan sudah mengelilingi ranjang Kyara. Kyara terlihat pucat dan masih lemah, sesekali mengernyitkan keningnya karena kepalanya masih sakit, masih berusaha memulihkan tenaga dan pikirannya.
"Keyy... Kenapa, sakit??" Panggil Billa memegang tangan Kyara yang meraba-raba perutnya.
"Baby...?" Sebut Kyara lemah setelah sadar apa yang baru saja ia alami.
"Aman Key, anak kamu sehat, gak kenapa-napa." Jawab Billa mengelus rambut Kyara dengan pelan untuk menenangkan.
"Nak Key..., harus banyak istirahat ya. Jangan banyak pikiran dulu." Nasihat Ibu panti yang terlihat cemas. Kyara hanya mengganguk lemah, ia belum kuat berbicara banyak.
"Key, nanti kamu pulang tempat aku ya, jangan di panti lagi. Aku bisa bantu jaga kamu, masalah pekerjaan dan uang, cukup untuk kita berdua kok." Ungkap Billa yang tahu Kyara akan kesulitan dalam masalah keuangan, dan salah satu alasan Kyara pergi ke panti adalah untuk menumpang hidup.
"Nggak Bil, aku gak mau repotin kamu." Jawab Kyara tersenyum lemah.
"Nak Key, di panti gak layak. Nak Key suka maksain diri bantu ibu jaga anak-anak, ibu gak tega lihatnya."
"Hmm..., kalau gak keberatan, gimana kalau sementara Kyara tinggal di rumah saya aja Bu? Di tempat saya juga ada ART yang 24 jam bisa bantu jaga Kyara kalau saya sedang berpergian. Kalau Kyara bosan, dia juga bisa ikut Kenan ke panti tiap akhir pekan." Ucap Kenan membuka suara, membuat semua terperanjat kaget.
"Kamu belum menikah, apa pantes nak Kenan, takutnya orang akan membicarakan kalian." Tanya ibu panti dengan halus.
"Kenan gak masalah bu, asal Kyara bersedia." Jawab Kenan tegas.
Billa tersenyum mendengar pria itu seperti tulus ingin membantu Kyara dan terlihat memiliki perasaan yang berbeda pada Kyara.
"Boleh juga tuh Key...," Ucap Billa dengan suara kecil pada Kyara tapi masih bisa didengar yang lain.
"Musuh baru brooo..." Bisik Ray pada Revan yang sudah sedari tadi mengepalkan tangannya.
Revan menatap Kyara yang tampak ragu dengan tawaran Kenan, sepertinya wanita itu akan segera menyetujuinya.
“Kyara akan tinggal di apartemen gue.” Ucap Revan cepat sebelum Kyara membuka mulutnya.
"Hahh??" Tanya Billa dan Ray bersamaan.
Ray memang meminta dia turun tangan mengambil kesempatan untuk memperbaiki hubungan Revan dengan Kyara, tapi ia tidak menyangka Revan bisa berpikir sejauh itu.
__ADS_1
"Revan, loe jangan ngada-ngada deh... Ini situasi serius, bukan waktunya loe nglawak." Tegur Billa kesal dan merasa Revan hanyalah bercanda. Kyara membuang muka tidak ingin melihat Revan, ia juga merasa pria itu hanya asal bicara.
"Boleh kasih gue waktu untuk ngomong berdua sama Kyara?" Tanya Revan kepada yang lain.
Ray langsung menarik Billa dan memberi kode untuk meninggalkan kedua teman mereka itu. Kenan dan ibu panti pun ikut keluar, memberi kesempatan kedua orang dewasa itu untuk berbicara walaupun merasa heran dan curiga dengan hubungan Revan dan Kyara.
"Kyara...," Panggil Revan lembut, tapi Kyara tidak menggubrisnya.
"Kamu mau apa lagi Revan?" Tanya Kyara terlihat tidak menyukai kehadiran Revan.
"Aku mau kamu terima tawaran aku untuk tinggal di apartemen, demi kamu dan baby.” Ucap Revan membuat Kyara tersenyum miris, apa lagi yang pria ini rencanakan?
"Mana mungkin Revan? Kamu lupa? Kamu menolak bayi ini, dan itu bukan keputusan yang tepat, aku gak mau berhubungan sama kamu lagi Revan." Tolak Kyara dengan mata berkaca-kaca.
“Please Kyara, kasih aku kesempatan untuk perbaiki semua hal yang udah aku lakuin dan nyakitin kamu. Kalau kamu belum bisa terima bantuan ku, anggep aja ini bantuan dari seorang temen, please, kamu terima yahh…” Ada sorot mata ketulusan dan memohon di mata Revan saat ia mengatakannya, membuat hati Kyara bergetar dan luluh sesaat. Kyara menggelengkan kepalanya halus.
“Revan, aku gak ngerti apa maumu. Bayi ini, bukan milikmu. Aku bisa hidup tanpa bantuan dari kamu.” Tolak Kyara dengan tegas.
“Kyara, maaf…, aku yang salah. Aku memang belum bisa terima 100% itu anak aku, tapi…, aku juga gak bisa biarin kamu di luar sana sendiri dengan kondisi hamil begini.”
“Lalu untuk apa kamu bantuin aku? Aku gak butuh belas kasihan kamu Revan.” Tegas Kyara dengan kesal.
“Aku gak tenang Kyara. Aku berharap aku bisa bertanggung jawab dan bantu dengan cara lain walaupun tidak sepenuhnya berguna untuk kamu. Pleaseee…, kasih aku kesempatan untuk nerima keadaan ini. Aku gak akan lari lagi. Aku janji akan bantu kamu, apapun keadaannya.”
“Gimana dengan Angela? Apa dia bisa terima kalau tahu kamu begini?”
“Masalah Angela, itu urusan aku. Kamu gak usah pikirin itu, cukup pikirin kondisi kamu dan babymu.” Jawab Revan yang kekeh ingin membantu Kyara. Kyara terdiam sesaat, pikirannya pusing, dan sulit berpikir sekarang.
“Beri aku waktu untuk mempertimbangkannya, aku tidak bisa berpikir sekarang.” Jawab Kyara ragu, entah kenapa, hatinya ingin mengiyakan tawaran Revan yang terdengar tidak masuk akal di pikirannya. Ia merasa hati dan tubuhnya ingin berada dekat dengan Revan, apa ini karena bayi yang di kandungnya? Kyara menghela nafas kasar, berharap segera keluar dari penderitaannya ini.
.
.
.
.
.
To Be Continue~
__ADS_1