
Kyara terbangun saat mendengar gerasak gerusuk di sekitarnya, sayup-sayup ia mendengar suster mengantarkan makanan, dan dijawab ucapan terima kasih oleh suara pria.
Kyara belum kuat membukakan mata, terasa amat berat dan mengantuk. Tangan dan kepalanya tergerak sedikit dmi sedikit, berusaha mengalahkan kantuknya.
"Kyara udah bangun tuh...," Ucap Ray yang menyadarinya.
"Key..., bangun yuk, makan dulu...," Suara lembut tak asing terdengar di sisi telinga Kyara.
"Key..., udah siang loh...,“ Panggil Revan lagi.
Tanpa Kyara harus membuka mata, ia tahu itu suara Revan. Untuk apa pria itu di sana?
Ingin Kyara bertanya, tapi mengalahkan kantuknya saja ia belum sanggup. Mata Kyara menyipit, terbuka sesekali.
"Aku usap wajahmu dulu Key, supaya gak ngantuk lagi." Suara Revan meminta izin, kemudian terasa handuk hangat terusap ke wajahnya, dengan lembut dan perlahan, menyegarkan dirinya dari kantuk dengan seketika.
Kyara ingin menolak, tapi ia tidak sanggup, dan lagi tidak ada Billa atau Bu Ana di sana yang bisa ia minta tolong.
Setelah memastikan Kyara terbangun, Revan membantu Kyara mengangkat tubuhnya dan duduk bersandar, memberi minum terlebih dahulu.
Revan sibuk membuka plastik penutup makanan yang sudah terletak di meja lipat di hadapan Kyara.
"Aaaa...," Ucap Revan menyodorkan sesuap nasi.
Kyara tak langsung menangupnya.
"Aku bisa Revan... Biar aku makan sendiri...," Ucap Kyara pelan.
"Tidak, kau masih sangat lemah. Sini ku bantu...,"
"Tapi...,"
"Jangan menolak Key... Ini demi kepulihanmu juga...," Bujuk Revan.
Kyara pun terpaksa menuruti, apalagi perutnya sudah lapar sedari pagi belum terisi makanan apapun.
Revan memperhatikan Kyara yang makan dengan lahap, dalam hati terdalam, ia bersyukur Kyara dan bayinya selamat.
...***...
Revan menghampiri Ray yang duduk di bangku lorong rumah sakit, temannya itu sudah pulang 2 jam yang lalu dan berganti pakaian, ia juga membawakan baju ganti miliknya untuk Revan gunakan.
Revan ikut duduk di sebelah Ray, kemudian ia mengangkat tangannya, melihat dan menyentuh telapak tangannya sendiri, seperti memainkannya. Ray yang memperhatikan gelagat aneh temannya, tentu saja heran.
"Kenapa loe bro?" Tanya Ray.
"Tadi pas gue ngelus perut Kyara, ada sensasi aneh ngalir..." Jawab Revan masih terus memperhatikan tangannya.
"Sensasi gimana?" Tanya Ray bingung.
__ADS_1
"Entah, gak bisa gue deskripsikan. Kayak tenang dan ada rasa ngalir ke hati dan tubuh gue..."
"Fix itu anak loe!!!" Jawab Ray diiringi gelak tawa senangnya.
"Gue malah masih ngira itu anak Nathan." Lanjut Ray lagi.
"Kenapa gitu?" Tanya Revan sensi saat nama Nathan disebutkan.
"Kemarin pas gue mau mampir ke tempet Kyara, gue ketemu Kyara sama Nathan di minimarket deket Apartement. Si Nathan care banget, semua keperluan Kyara dia tahu detail, bawa-bawain belanjaannya dan bayarin itu belanjaan."
"Bukannya itu biasa aja?"
"Bukan itu doang..., dari yang gue denger kayaknya dia juga sering bayarin Kyara. Kalau dibilang mereka suami istri, siapa aja yang lihat pasti percaya. Apalagi tuh anak selalu kelihatan peduli dan tulus sama Kyara. Makanya lihat interaksi mereka deket gitu, gue sempet mikir apa itu anak dia dan Nathan. Kita juga gak tahu hubungan mereka aslinya bagaimana... "
Wajah Revan tidak suka mendengarnya. Memang selama ini Nathan selalu ada untuk Kyara. Tapi mereka memang tidak tahu, bagaimana perasaan dan hubungan yang sedang berkembang di antara Nathan dan Kyara.
"Tapi setelah lihat loe sendiri udah mengalami ikatan batin sama bayi dan Kyara, gue jamin 100% fix itu pasti anak loeee....,"
Revan diam tak menjawab pernyataan Ray, ia menghela nafas kasar, suasana hatinya sedang kacau, ada rasa senang, tapi juga tak terlalu semangat, apalagi tubuhnya masih lelah karena kurang istirahat, ia belum bisa berpikir dengan jernih, dan lagi ia tidak tahu harus sampai kapan ia membohongi Angela.
"Gue ke dalem dulu ya. Butuh tidur...," Ucap Revan dan dijawab anggukan oleh Ray.
"Ragunya jangan lama-lama yahh!!" Ledek Ray pada Revan, ia tahu Revan sedang bergelut dengan pemikirannya sendiri.
Kyara sedang berusaha beranjak dari tempat tidur, menurunkan kakinya dengan perlahan karena masih terasa lemas. Gerakannya terhenti saat terdengar pintu dibuka seseorang.
"Apa ada yang tidak enak?" Tanya Revan lagi.
"Tidak... aku mau ke kamar mandi...," Jawab Kyara pelan. Tangan Revan terulur menggapai tubuh Kyara, memapah wanita itu untuk berdiri dan membantunya berjalan.
"Tak usah... Aku bisa...," Tolak Kyara dengan halus. Tapi Revan tak peduli, ia terus memegang Kyara, membantu wanita itu berjalan.
"Sampai sini saja...," Pinta Kyara saat mereka sudah tiba di pintu kamar mandi.
"Tidak, bagaimana nanti jika kau memerlukan bantuan?" Tanya Revan cemas.
"Tidak apa, aku bisa...,"
"Kau malu apa heh? Kita juga sudah saling lihat. Cepat, ku bantu daripada nanti kenapa-kenapa." Omel Revan membuat Kyara terdiam, toh ia malas berdebat.
Tanpa Kyara duga, Revan mengangkat bajunya dan menurunkan ****** ********. Kyara terdiam sesaat, terasa canggung, tapi Revan justru tampak biasa saja, mungkin Revan hanya merasa mengurus orang sakit tanpa perasaan sedikitpun.
Revan berbalik saat memastikan Kyara duduk di kloset, memberikan privacy padanya untuk menuntaskan buang air kecil dengan nyaman.
Jantung Revan berdegup kencang, ia juga gugup, tapi ia berpura-pura tampak biasa, tidak ingin membuat Kyara tidak nyaman.
Bunyi flush air membuat Revan segera berbalik,"Sudah?" Tanya Revan langsung membantu Kyara memakai CDnya. Wajah Kyara sudah tidak tahu lagi apa bentuknya, merona dan malu bercampur satu.
"Terima kasih...," Ucap Kyara saat sudah duduk kembali di ranjangnya.
__ADS_1
Kyara mengecek ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 5 sore. Dan sedari awal ia terbangun, Revan terus berada di sana.
"Hmm, kau pulanglah...," Seru Kyara tiba-tiba, membuat gerakan Revan terhenti, pria itu baru saja akan menuangkan segelas air minum untuk Kyara.
"Tidak ada yang membantu di sini, aku bisa berjaga..."
"Tidak usah. Kau sudah banyak membantuku."
"Bagaimana jika kau perlu bantuan?"
"Aku akan meminta Nathan datang." Kyara bergegas mengambil handphonenya, berniat mengirim pesan pada Nathan.
Greppp... Handphone yang Kyara pegang dengan cepat direbut oleh Revan.
Revan menghela nafas kasar, tampak raut kecewa di wajahnya yang kelelahan.
"Kenapa kau selalu mengusirku?" Tanya Revan dengan suara dingin.
"Aku tidak mengusirmu..., tapi kau harus pulang. Tidak pantas kau menjaga wanita lain, sedangkan kau sudah beristri."
"Sekarang status pernikahanku bisa menjadi alasanmu... Bagaimana dengan dulu?" Tanya Revan menatapnya tajam, menuntut jawaban.
Kyara tersentak diam, kenapa Revan tiba-tiba begini?
"Kau tidak bisa menjawabnya kan... Sepertinya sedari dulu kau memang tidak menganggapku." Jawab Revan membuang mukanya.
"Dulu bagaimana tidaklah penting." Jawab Kyara dengan suara lirih, jantungnya berdegup kencang, tubuhnya masih lemah dan sekarang Revan mengajaknya berdebat.
"Tidak penting bagimu?" Revan tanpa sadar menaikkan nadanya.
"Aku mohon, pulanglah...," Ucap Kyara memohon.
Ada rasa kecewa, saat mendengar Kyara terus menyuruhnya pulang. Apa ia sangat tidak dibutuhkan? Revan merasa kesal, sejak dulu Kyara selalu mendorongnya menjauh.
Revan melemparkan handphone Kyara ke pemiliknya, tidak kencang, tapi terkesan kasar. Revan lalu berbalik dan melangkah keluar, menutup pintu dengan hentakan sehingga menimbulkan bunyi Blam yang cukup kencang di tengah lorong rumah sakit.
"Kenapa dia seperti anak kecil? Hah!" Protes Kyara kesal.
.
.
.
.
.
To Be Continue~
__ADS_1