
Selama lebih dari seratus tahun lamanya, Muzan masih tak mampu menemukan Aoi Higanbana atau Blue Spider Lily.
Malam ini, Muzan pamit pada istrinya yang bernama Shizuka, "Sayang, seperti biasa aku pergi untuk berkeliling dan bertugas, jika ada sesuatu yang ingin kau katakan maka katakanlah," ucap Muzan dengan lembut oada istrinya itu yah meskipun itu hanyalah kelembutan yang palsu, karena nyatanya, Muzan sangat kecewa dan membenci wanita yang hidup bersama dengannya.
"Tidak ada, aku hanya berharap semoga kau bisa pulang dengan selamat, dan aku juga berharap aku bisa menemukan bunga yang kau cari, aku tidak boleh terus-menerus gagal bukan," gumam pelan Shizuka.
Mendengar pernyataan Shizuka, Muzan pun terdiam dan membatin, 'Shizuka, dia adalah istriku yang kalau aku hitung dari kehidupan awalku sebagai Oni, ia adalah istriku yang ke sepuluh dalam beberapa ratus tahun ini, sampai saat ini aku heran kenapa aku dan orang-orang yang aku minta untuk menemukan Aoi Higanbana itu tidak ada satupun yang berhasil.
"Ano .... Mu-kun, ada apa? Apa ada sesuatu yang kelupaan?" tanya Shizuka pada Muzan suaminya.
Muzan yang mendengar perkataan Istrinya hanya tersenyum tipis dan menepuk kepala perempuan itu dan berkata, "Do'akan aku, semoga aku bisa pulang dengan selamat dan membawa banyak uang," ucap Muzan yang akhirnya pergi keluar rumah, meninggalkan Shizuka seorang diri.
'Padahal dia sangat cantik dan muda, dalam perhitunganku ketika melihat wajahnya pas pertama kali bertemu, aku bisa simpulkan kalau ia masih berusia 15 tahun kala itu dan sekarang usianya sudah 20 tahun, kalau diingat kembali, pernikahan kami sudah berlangsung selama 4 tahun,' batin Muzan sambil berjalan santai.
Ia berjalan santai memasuki kerumunan warga di malam hari. Muzan sudah dikenal sebagai dokter yang berkeliling di malam hari, yah, meski pakaian yang ia gunakan bukan pakaian yang umumnya dipakai oleh petugas medis atau para tabib. Namun, peralatan dan obat-obatan yang ia bawa cukup lengkap.
"Kibutsuji-san!" seru seseorang menyerukan marga milik Muzan.
Muzan yang tertarik dengan seseorang yang memanggil namanya langsung menoleh ke sumber suara dan terlihatlah seorang pria tua yang berlari tertatih-tatih, ia juga nampak sangat kurus, "Ada apa?" tanya Muzan melihat orang itu.
"I-Istriku ingin melahirkan, b-bisakah Kibutsuji-san membantu istriku?" tanya pria itu.
"Melahirkan? Bukankah masih banyak bidan wanita yang bisa menanganinya dan juga bukankah tidak baik memperlihatkan tubuh istrimu pada pria lain, meskipun pria itu adalah tabib keliling sepertiku," ucap Muzan menanggapi permintaan pria itu.
"Soal itu ... aku tidak punya uang untuk membayar jasa bidan, untuk saat ini aku sudah banyak berhutang, aku tak mungkin meminta bantuan orang lain, lalu aku juga dengar anda mau menerima bayaran apapun sebagai ganti dari uang," ucap pria tersebut.
Muzan yang mendengar hal itu hanya memejamkan mata dan berkata, "Aku mengerti, tapi sebagai gantinya, aku akan mengambil ari-ari dan tali pusar anakmu, apa itu tidak masalah?" tanya Muzan dengan nada datar, yah sejujurnya sudah lama ia ingin merasakan daging manusia lagi dan ini adalah kesempatan baik, yah meski tidak setiap hari, setidaknya ia bisa mendapatkannya secara gratis.
"Tidak apa. Asal istriku melahirkan bayinya dengan selamat" ucap orang itu
"Satu lagi, kau harus rahasiakan kemampuanku dari siapapun," ucap Muzan yang tiba-tiba berubah wujud jadi sosok wanita dewasa yang cantik dengan rambut hitam berkilau dan diikat dengan ikat rambut berhiaskan mutiara, mengenakan kimono hitam motif bunga, serta mata merah muda dengan pupil garis vertikal tipis.
"Baik. Aku akan merahasiakannya" ucap orang itu
"Kalau begitu, pimpin jalannya" ucap Muzan
"L-lewat sini," ucap gugup pria itu, ia tidak menyangka tabib keliling Kibutsuji Muzan yang legendaris itu memang seorang pria ajaib yang punya kemampuan dewa, "A-ano, anda sebenarnya siapa dan kenapa bisa berubah wujud dan kenapa jadi wanita?" tanya si pria.
"Aku Adalah Kibutsuji Muzan, sang Tabib hantu keliling yang membantu siapa saja yang butuh bantuan, kau tentu pernah mendengar itu bukan?" tanggap Muzan.
"Yah, Tuan Kibutsuji dikatakan seorang Tabib dengan wajah yang tak pernah berubah dan sudah ada sejak ratusan tahun lalu, tapi aku pikir itu hanya candaan dan gosip belaka, karena tak ada manusia yang bisa hidup selama ratusan tahun," ungkap Pria itu.
"Yah, normalnya tidak ada, lagian mereka adalah leluhurku dan wajah kami mirip dari tahun ketahun serta tak pernah menua juga karena keahlian rahasia keluarga Kibutsuji yang hanya akan diwariskan pada penerusnya saja," ucap Muzan berbohong.
"Begitu yah dan soal perubahan tubuh itu?" tanya sang pria.
"Ini disebut seni penyamaran cepat, aku menambahkan bantal pada dadaku dan mengganti pakaianku dengan cepat serta memakai rambut palsu dan riasan dalam sekejap mata, aku juga mengubah suaraku agar lebih meyakinkan, ini aku lakukan dalam situasi seperti ini, hal ini penting agar istri tuan tidak canggung karena yang membantunya melahirkan adalah lelaki," jawab Muzan.
"Ah anda benar, maaf atas kebodohan hamba," ucapnya.
"Hem, tidak masalah, lagi pula aku senang bisa membantu anda," ungkap Kibutsuji Muzan sambil tersenyum, yah dia tersenyum meskipun senyum itu hanyalah senyum secara fisik dan tidak ada emosi apapun dalam senyuman itu.
"Aah begitu yah, tapi kalau boleh tahu, apa alasan Kibutsuji-dono, mau membantu saya dan orang lain, meskipun tidak dibayar dengan uang, bukankah harga obat dan pelajaran ilmu medis itu mahal?" tanya Pria tua itu.
"Ini karena wujud penyesalan leluhur saya, dulu beliau dikenal sangat lemah dan sakit-sakitan, bahkan saat lahir sempat dikira sudah mati, sampai akhirnya ia menangis ketika ingin dikremasi. Setelah usia 20 tahun, ia dirawat secara khusus oleh seorang tabib hebat, tapi karena sudah marah kesal dan takut akan kematian, Leluhurku membunuh tabib itu karena merasa perawatannya sia-sia dan hanya menghabiskan banyak uang. Namun siapa sangka setelah ia membunuh tabib itu, ia sadar kalau ia sudah menjadi sangat sehat, akan tetapi ada satu masalah. Kami tidak bisa hidup di bawah sinar matahari, sebagai rasa tanggung jawab dan penyesalan, Leluhurku mendedikasikan hidupnya untuk menyembuhkan orang banyak sebanyak yang ia bisa agar tidak ada lagi orang yang menderita karena penyakit," ungkap bohong Muzan.
__ADS_1
"Begitu ya" ucap laki-laki itu
"Yah, dan penyakit itu juga menurun padaku, aku tidak pernah bisa mengetahui bagaimana indahnya kota ini di siang hari, karena kulitku akan langsung terbakar saat menyentuh sinar matahari, oleh karena itu kami hanya keluar di malam hari dan terus mencari Aoi Higanbana, yang merupakan bahan utama untuk membuat obat dan kemungkinan bisa menyembuhkanku," ungkap Muzan memberikan isyarat kecil agar pria itu membantunya mencari bunga tersebut.
"dan itu agar aku bisa beraktivitas seperti manusia pada umumnya" ucap Muzan menambahkan. Karena warga pasti akan curiga jika dia hanya bisa beraktivitas di Malam hari bukan di Siang hari
"Aku akan berusaha membantu anda menemukannya, jika istri saya bisa selamat," ungkap sang pria tua.
"Tuan tak perlu memaksakan diri, tubuh tuan terlalu lemah untuk berpetualang mencari bunga yang belum tentu ada, karena leluhurku sudah mencarinya selama ratusan tahun, tapi tidak ketemu," ungkap Muzan.
"Tapi. Aku pasti dianggap tidak tahu berbalas budi akibat kebesaran hati tuan datang dan ingin membantu persalinan istri saya dengan harga cuma-cuma" ucap Laki-laki itu
"Tidak cuma-cuma kok, toh aku dapat ari-ari dan tali pusar anak anda," jawab Muzan dengan santai.
"Memang itu mau diapakan?" tanya heran si pria itu.
"Itu rahasia, yang penting istrimu bisa melahirkan bukan," tanggap Muzan yang tidak mau mengatakan kalau ia akan memakan ari-ari dan tali pusar bayi pasiennya.
Sesampainya di rumah laki-laki yang sudah tua itu. Terlihat ada seorang perempuan yang dia memakai baju yukata dengan kedua kaki terbuka lebar dengan perut buncitnya layaknya ibu hamil 9 bulan
"Mas.... Apa sudah ahhh ahhh bidannya sudah datang?" Tanya perempuan itu dengan mengelus perutnya yang mulai menurun ke arah bawah
"Ya Sayang ini aku membawa Bidan dari keluarga Kibutsuji!" seru si pria.
"Kibutsuji? Maksudmu Shizuka-chan?" tanya gadis itu.
"B-bukan, d-dia adik perempuan dari Tuan Muzan yang merupakan Tabib malam keliling," ucap sang suami.
Sang istri pun menatap Muzan versi cewe, ia terdiam melihat wajah anggun dari Muzan versi wanita itu, "Anda siapa?" tanyanya tanpa sadar.
"Kibutsuji Uzami, aku diminta kakak Muzan untuk membantu anda melahirkan," ucap lembut Muzan pada perempuan itu.
"Kalau begitu, kamu tolong ambil nampan dan isi dengan air hangat, itu berguna untuk membersihkan anakmu dari darah dan sekalian bawa kain untuk mengikat perut istri anda nanti agar saat sudah melahirkan darah tidak terus keluar," ucap Muzan atau Uzami dengan lembut dan penuh perhatian, ia kemudian juga meminta pasiennya segera berbaring, dan menggenggam erat lengan gadis itu, ia tahu ini adalah momen krusial dan penuh perjuangan.
"Dan anda tolong tenanglah, tarik nafas dalam-dalam dan perlahan, lalu berusahalah mendorong bayi anda keluar, aku akan membantu menariknya secara perlahan, ketika kepalanya muncul," ucap lembut Muzan memberikan instruksi.
"Baik" ucap perempuan itu yang kini mulai siap untuk melahirkan bayinya keluar
"1.... 2... 3... Dorong" ucap Uzami ke perempuan itu
"Engggh!!!"
"Bagus terus berjuanglah, aku tahu ini menyakitkan, jadi hembuskan nafas kembali dan tarik secara perlahan lalu dorong lagi!" seru Muzan.
"Ba baik.. mnghhh unghhhh hah hah mnghh unghhhh"
"Yakk.. bagus... Aku melihat bulatan hitam disana" ucap Uzami yang membantu persalinan perempuan itu
"Sayang kau baik-baik saja?" tanya khawatir sang suami sambil berjalan membawa air hangat, dan kain serta handuk kecil.
"I-iya h-hanya saja ini sakit sekali!" seru perempuan itu.
'Tidak heran, di usianya yang sudah tidak muda lagi, melahirkan itu sama saja dengan mempertaruhkan nyawa,' batin Muzan yang melihat perempuan usia 49 tahun yang berjuang sekuat tenaga untuk mengeluarkan bayinya.
Muzan kemudian mulai membantu, dengan menyentuh perut perempuan itu, 'Aku tidak bisa membiarkannya terus menderita, sepertinya aku harus menggunakan seni darah iblisku,' pikir Muzan dan mulai menggunakan kekuatannya untuk mengendalikan isi tubuh perempuan itu dan dengan itu juga ia bisa tahu kondisi fisik perempuan itu.
'Sial gadis ini selain sedang hamil, ia juga mengidap diabetes,' batin Muzan, 'Lalu bayinya juga akan lahir dari kaki, ini tidak bagus, ia bisa mati lemas,' batin Muzan yang mulai memakai kekuatannya untuk mengubah posisi bayi dengan hati-hati, tak lupa ia juga mengendalikan rahim perempuan itu agar bisa membawa bayinya keluar dengan sangat baik.
__ADS_1
'Kuharap dengan ini bayinya lahir dengan selamat' pikir Muzan
"Enggggggh!!!!"
"Arrrrrgggg!!!" nampak si pria paruh baya yang merupakan si suami berteriak kesakitan karena bahunya dicengkram istrinya sendiri.
"Tahan itu, lagipula kau juga harus bisa merasakan perjuangan istrimu," tanggap Muzan sedikit bercanda.
"Aku takut terkilir" ucapnya
"Tahan saja, pak. Kamu harus lihat bagaimana seorang wanita yang berjuang untuk melahirkan bayinya dengan selamat ke dunia ini" ucap Muzan
Tak lama setelahnya, dalam perjuangan selama 3 menit lamanya, sang bayi keluar dan mengeluarkan suara tangisan, Muzan langsung membersihkan sang bayi dari darah dan memotong tali pusar serta ari-ari bayi itu.
"Selamat, anak anda perempuan," ucap Muzan sambil tersenyum dan menyerahkan sang bayi ke pelukan sang ayah yang sudah tua dan kira-kira dari usia itu sudah 53 tahun.
"Akhirnya, s-setelah 15 tahun menikah, aku bisa mempunyai anak," ucap sang pria tua sambil memeluk anaknya.
'Eh.. 15 tahun belum dapat anak? Kukira mereka sudah punya anak' pikir Muzan kaget karena ini kali pertama dia mendengar jika kedua pasangan itu bisa mendapatkan seorang anak setelah 15 tahun lamanya, 'Sudahlah, yang penting kondisi istrinya,' gumam pelan Muzan sambil menatap sang istri dari pria tua itu. Nampak perempuan usia 49 tahun itu tersenyum lemas, nafasnya juga tidak beraturan, kulitnya pucat kekurangan darah.
"Katase-san kau baik-baik saja?" tanya Muzan agak khawatir.
"Em aku baik-baik saja Uzami-chan," ucap lembut perempuan itu.
Muzan pun mengambil beberapa tanaman obat dan mulai meraciknya di depan sang Pasien, "Minumlah, ini akan memulihkan sedikit tenaga anda dan juga, aku ingin Katase-san sehat, karena sepertinya anda sangat akrab dengan kakak ipar saya Shizuka," ucap Muzan yang masih menyamar sebagai Uzami.
"Terima kasih, aku harap kami bisa membayar biaya melahirkan ini di beberapa bulan ke depannya," ucap Katase.
"Tak perlu membayar, ini sudah lunas dengan ini," ucap Muzan sambil menyimpan tali pusar dan ari-ari bayi di dalam kantong kain.
"Eh hanya itu saja?" Tanya Katase
"Iya... Hanya ini saja" ucap Uzami
"Aku akan datang tiap malam untuk memastikan kondisimu, soalnya kondisi seorang wanita saat sudah melahirkan itu sangat lemah dan butuh waktu untuk pulih, dan Issei-san, sebagai suami pastikan kalau istrimu tidak terlalu banyak bergerak dan pastikan agar ia lebih banyak beristirahat, sampai beberapa bulan kedepan," ucap Muzan mengingatkan.
"Baik. Aku akan mengingatnya, Uzami-san" balas Issei
"Dan jika kalian ingin membayar pengobatan, kalian bisa membantu istriku Shizuka dalam merawat kebunnya, aku juga akan membayar bantuan kalian jika kalian mau dan ini juga bagus dengan begitu kalian perlahan bisa bayar hutang dan hidup nyaman, karena jika hanya dapat obat dariku tapi tidak punya uang untuk makan, rasanya akan sangat menyedihkan, terutama untuk anak kalian," ungkap Muzan sambil pergi keluar rumah meninggalkan suami istri itu.
"Ano, apa aku tidak salah dengar, dia memanggil Shizuka-chan istrinya dan bukan Kakak iparnya?" tanya Katase yang sadar akan hal aneh sebelumnya, mengingat yang bicara pada mereka adalah Uzami/Muzan yang menyamar jadi wanita.
"Ah itu ... sebenarnya Uzami adalah Muzan yang menyamar, ia bilang ia melakukannya agar kamu tidak canggung dan bisa melahirkan dengan nyaman," jelas Issei.
"Ehh.." kaget Katase mendengar apa yang dikatakan oleh Issei yang merupakan suaminya itu, 'J-jadi proses melahirkanku di-dibantu lelaki?' batin Katase.
"K-katase, t-tenanglah, a-aku tahu aku salah, t-tapi hanya Kibutsuji-dono yang mau membantu kita tanpa dibayar, j-jadi aku tidak punya pilihan!" seru Issei sambil bersujud karena sudah membuat istrinya memperlihatkan bagian kewanitaannya pada lelaki lain.
"Nggak apa. Asal bayi kita selamat. Aku sudah senang" ucap Katase
Sementara itu.
Nampak di tempat yang cukup sunyi, Muzan mengambil ari-ari dan tali pusar bayi dan memakannya di sana dan dengan cepat kembali ke wujud asalnya sebagai seorang pria berambut panjang ikal berkilau, dengan mata merah muda berpupil garis vertikal, ia juga mengenakan kimono yang merupakan pakaian adat tradisional era Heian.
'Meskipun tidak banyak, aku bisa merasakan kekuatanku meningkat cukup besar, tak aku sangka menjadi bidan beranak begitu menguntungkan,' batin Muzan yang terus berjalan melanjutkan pekerjaannya sebagai tabib malam keliling.
Ia memang tidak bisa menghasilkan banyak uang dari pekerjaannya, karena kebanyakan pasiennya orang miskin yang tak sanggup membayar biaya pengobatan mahal, sehingga uang yang ia dapat hanya sedikit, karena kebanyakan pasiennya tidak membayarnya dengan uang.
__ADS_1
Akan tetapi, berkat kebaikannya, kehidupan Shizuka jadi sangat nyaman, banyak Diskon yang diberikan pada Kibutsuji Shizuka istrinya. Intinya berkat kebaikannya, para tetangga dan manusia lainnya banyak yang membantu kehidupan istrinya, ia juga bisa hidup nyaman, karena tak akan ada orang yang curiga kalau ia adalah Oni dan ia bisa hidup damai selama ratusan tahun karena ia terus berbuat baik pada sekitarnya.
Bersambung