Berjalan Satu Arah

Berjalan Satu Arah
Kecurigaan


__ADS_3

Pemandangan yang asri memanjakan mata Milia saat memandangnya. Beberapa kali terlihat gunung samar-samar dari kejauhan. Pemandangan alam tak pernah mengecewakan dan selalu menenangkan.


Seseorang tengah tersenyum memperhatikan Milia dari kejauhan. Ia hendak bangun dari duduknya namun dipenuhi keraguan. Diurungkan niatnya dan hanya melihat dari jauh.


"Kita pasti ketemu lagi" ucapnya setengah berbisik


Setelah merapikan barang yang dibawa pulang dan mengemas oleh-oleh untuk teman-temannya, Milia mengistirahatkan tubuhnya di atas kasur. Tubuhnya sudah memberikan sinyal untuk segera beristirahat karena kelelahan.


Keluarga pasien memenuhi ruang tunggu rumah sakit. Beberapa terlihat sinis tertuju pada satu orang. Milia bertanya kepada rekan yang berjaga malam.


"Ada apa, rei?"


"Ada kecelakaan, yang banyak orang itu keluarga korban. Korbannya luka parah, kakinya kejepit waktu evakuasi di lokasi kecelakaan. Ada kemungkinan kakinya diamputasi. keliatannya keluarganya ngga terima. Kasian yang nabraknya, katanya ngantuk soalnya seharian nemenin bosnya"


"Mobilnya rusak parah ya?"


"Iya pasti"


"Kasian juga yah"


"Tadi sempet ribut, tapi udah dipisahin sama security"


Milia ditugaskan untuk menangani pemulihan pasien korban kecelakaan yang dibicarakannya tempo hari. Terlihat seorang bapak tampak lesu di depan kamar pasien. Menatap ke dalam kamar seorang pasien yang belum sadarkan diri hingga saat ini.


"Malam Pak"


"Iya dok"


"Bapak belum pulang?"


"Belum dok, saya masih mau nunggu mungkin sebentar lagi nak andri bisa sadarkan diri"


Tampak kantung matanya hitam tanda tak bisa tidur beberapa hari ke belakang.


"Bapak merasa bersalah sama nak andri, karena bapak dia jadi kehilangan masa depannya. Bapak akan terima segala konsekuensinya"


"Kita ngga pernah tahu kapan musibah datang pak, semoga bapak bisa lewatin ini semua ya. Jangan terlalu nyalahin diri bapak sendiri pak. Gimanapun ini sudah jalan takdirnya"


"Makasih ya dok, saya bersyukur di tengah ujian ini Allah masih ngizinin saya kerja dan punya bos yang baik"


"Alhamdulillah, serahin aja semuanya sama Allah pak"


"Iya dok"


"Saya pamit dulu ya pak"


"Iya dok, silahkan makasih udah dengerin cerita saya"


Milia tersenyum dan berlalu meninggalkan bapak itu sendirian. Kemudian menyelesaikan beberapa pekerjaan yang ada di ruangannya. Ia memeriksa ponselnya dan terdapat 5 panggilan tak terjawab dari Adrian.


Sejak pagi ia meninggalkan handphone di ruangannya. Milia menelepon kembali Adrian, tanpa menunggu lama teleponnya diangkat oleh si pemilih handphone.

__ADS_1


"halo, iya sayang"


"aku nelfon dari pagi ngga diangkat angkat"


"maaf, hpnya ketinggalan di ruangan aku. terus juga hari ini banyak pasien sama aku nyelesain kerjaan aku dari hari sabtu kemaren"


"oh, aku cuma mau nanya kamu nyampe rumah dengan selamat kan?"


"Iya, Alhamdulillah. udah kerja juga hari ini"


"kerja keras banget ya pacar aku"


"iya dong, mau ngumpulin uang buat masa depan hehe"


"Pak, tugas saya udah selesai" terdengar suara wanita diujung telepon


"Sebentar ya" ucapnya kepada Milia


"Tunggu diluar, kan belum saya suruh masuk" ucapnya kepada mahasiswa


"halo, kalo gitu udahan dulu ya. aku mau ngelanjutin kerjaan aku lagi"


"jam segini banget masih ketemu mahasiswa?"


"iya ini soalnya aku ada urusan tadi siang, jadi baru bisa bimbingan skripsi sekarang"


"oh, dimana?"


"hmm"


"kenapa? aku cuma ketemu mahasiswa ngga ngapa ngapain"


"gapapa, yaudah lanjutin kerjaan kamu. semangat ya kerjanya"


"kamu juga"


Milia menutup telepon dengan perasaan tidak tenang. Rasanya ia harus kembali memupuk rasa percaya untuk Adrian, terlebih hubungan mereka yang harus terpisahkan jarak saat ini dan kedepannya. Kepercayaan adalah kunci dari sebuah hubungan, namun diiringi dengan komunikasi yang lancar.


Sementara dalam hubungannya terkadang komunikasi yang terjalin diantara mereka tidak selancar itu. Adrian terkadang tidak menghubunginya selama berhari-hari. Mungkin jika Milia tidak memulainya, Adrian tidak akan menghubunginya selama berminggu-minggu.


Buku laporan pemeriksaan pasien kembali dibukanya, mengecek kembali apakah ada yang kurang atau tertinggal. Setelah selesai ia bersiap untuk pulang dan membuang kecurigaannya kepada Adrian, dan memilih mempercayainya saja.


Ingatan Milia kembali kepada dua tahun lalu, ketika Adrian bercerita tentang keinginannya untuk menjadi dosen akhirnya tercapai dan ditempatkan di kampus impiannya. Tentu saja membuat Milia sangat senang, dan mereka berjanji akan terus bersama. Memiliki jadwal kencan 1x dalam satu bulan, serta janji janji lain yang sepertinya satu per satu mulai dilupakan Adrian.


Milia selalu ingin menegurnya, ia tidak ingin membatasi Adrian dan membebaninya. Namun, jika ini terus berlanjut maka Milia ragu hubungannya akan baik-baik saja kedepannya nanti.


Setelah membaringkan tubuhnya di kasur, Milia memikirkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi pada hubungannya. Kepalanya terasa pusing, dan ia baru ingat belum makan malam. Setelah makan dan scroll social media, akhirnya ia tidur dan mencoba untuk selalu memiliki pikiran yang positif terhadap Adrian.


Seperti yang dikatakan Milia sebelumnya tentang komunikasi yang tidak lancar. Satu minggu belakangan Adrian yang sama sekali tidak menghubunginya. Ia mencoba mengerti akan kesibukan Adrian, namun egonya tetap memimpin. Milia, ia ingin tahu tentang segalanya yang berkaitan dengan Adrian.


Saat Milia sedang melihat instagram, terlihat seseorang yang menandai akun instagram milik Adrian dengan ucapan selamat.

__ADS_1


"Selamat Pak Adrian atas terpilihnya menjadi Kahim tahun 2022 @Ad_rian182"


Perasaan senang menyelimuti Milia atas prestasi yang diraih kekasihnya. Ia sengaja tidak bertanya kepada Adrian tentang itu, menunggu diberitahu dengan sendirinya. waktu berlalu dan hingga esok paginya tak ada satupun pesan yang diterimanya.


Suara notifikasi instagram terdengar, Milia membuka pesannya dan itu dari akun seorang wanita.


"Adrian, aku yang tadi di cafe"


Milia membalasnya


"siapa?"


"Aruni"


Seminggu berlalu, Adrian menghubungi Milia dan menceritakan tentang ia yang dipercaya menjadi Kahim dan menjadi salah satu orang kepercayaan kampus.


"aku udah tau"


"ko bisa? tau dari mana"


"aku nyari tau di instagram"


"ooh"


"aruni siapa?"


"siapa aku ngga kenal"


"aku baca dm kamu"


"aku ngga tau, ngga buka buka dm"


"jujur aja"


"aku ngga boong"


"siapa aruni? dia bilang ketemu di cafe"


"bukan siapa-siapa, cuma orang asing" ucapnya dengan emosi


"kalo aku? orang asing juga?"


"apasih"


"aku udah tau kamu jadi Kahim dari satu minggu yang lalu, kalo aku emang orang yang penting buat kamu kenapa aku harus tau kabar itu dari orang lain? aku nungguin kamu ngabarin di hari itu tapi kamu ngga ngasih kabar sama sekali. aku pengen jadi orang yang pertama tau tentang kamu, memang harusnya gitu kan. aku ngerasa kamu memperlakukan aku seperti orang lain"


"kamu tau aku sibuk apalagi aku punya tugas baru sekarang"


"sibuk cuma alasan, ngasih kabar cuma butuh berapa menit. coba tanya sama diri kamu, masih penting ngga aku di hidup kamu"


Milia memutuskan panggilan teleponnya. Ia menangis merasa tak lagi menjadi prioritas untuk Adrian dan sering merasa diabaikan. Selama ini ia sudah bersabar, namun kini tak bisa menahannya lagi.

__ADS_1


__ADS_2