Berjalan Satu Arah

Berjalan Satu Arah
Menunggu


__ADS_3

Milia menutup wajah dengan lututnya, tetesan air mata membasahi celana bahan berwarna coklat. ia menangis terisak, mengambil boneka beruang ukuran besar dan melanjutkan tangisnya di atas kasur. Kemudian memutar lagu, mengeraskan volume dan larut dalam tangisannya.


Sementara di suatu tempat Adrian termenung di sebuah kelas. Tidak ada orang disana, hanya ia dan isi kepalanya yang menerawang memikirkan ucapan yang dilontarkan kekasihnya. Bagi Adrian komunikasi tidak terlalu penting, yang terpenting adalah saling percaya satu sama lain.


Bunyi ponsel menyadarkan Milia yang sedang menyenderkan kepalanya ke tembok. Dengan malas ia mengambil ponselnya di nakas, dan menaruhnya kembali saat melihat Adrian lah yang meneleponnya.


Sebuah kamar terlihat seperti tidak berpenghuni. Tissue berserakan, begitupun dengan baju yang menggantung tidak karuan. beberapa gelas kemasan bekas kopi berjajar di meja belajar. Bel berbunyi tanda seseorang datang, namun ia tidak siap menerimanya. Dengan malas Milia membuka pintu rumahnya. Rani sibuk membawa masuk belanjaan yang dibawanya dan masuk ke dalam kost Milia.


"Mil, tadi gue abis maen terus inget lu mampir deh. eh lu kenapa?"


"Gapapa"


"Kenapa sih sini cerita"


"gue abis berantem sama Adrian"


"kenapa emangnya"


"biasalah masalah LDR"


"dari kapan?"


"udah 3 hari"


"Adrian ngga minta maaf gitu?"


"udah kali, pesannya ngga gue buka teleponnya juga ngga gue angkat"


"terus mau sampe kapan lu ngediemin dia"


"ngga tau, gue butuh waktu buat berfikir dulu. lagi capek aja sama dia"


"Ya ampun Miliaaaa, ini kamar lu berantakan banget"


Milia hanya diam, tidak menggubris kehebohan sahabatnya itu.


"Lu mau cerita ngga?"


"ngga lah gue cape nangis"


"gue nginep disini deh nemenin lu" ucap Rani sambil membereskan kekacauan di kamar Milia


"iyah, lu emang ngga kerja besok?"


"besok masuk siang"


Kondisi kamar Milia kembali seperti sedia kala. Rani tidak terlihat lelah meskipun beraktivitas penuh seharian. Ia mengambil alat pel dan mulai membersihkan seluruh sudut kamar tidur.


"nah udah beres, pesen makan yuk" ucap rani


"makan apa?" jawab milia tak berselera


"salad wrap aja gimana? udah malem juga"


"yaudah"


Rani berniat menceritakan acara pertunangannya, namun ia urungkan karena kondisi Milia yang tidak mendukung. Milia datang dengan dua gelas ice chocholate di atas nampan. Setelah menaruhnya di meja, ia memilih film untuk ditonton di netflix. kebetulan ada film baru yang ingin ditontonnya setelah melihat trailer film tersebut yang ditayangkan beberapa kali.


Film mulai ditayangkan, keduanya diam menikmati alur cerita. Rani menghampiri driver online yang mengantar pesanan mereka. Setelah makan, Rani membuka percakapan tentang Adrian.


"Mil, tadi Adrian WA gue"


"apa?"

__ADS_1


"nanyain gue lagi di rumah lu bukan"


"terus?"


"nanyain keadaan lu gimana"


"lu jawab apa"


"baik tapi abis nangis"


Milia diam tak menjawabnya lagi. Selang beberapa menit Adrian menelepon dan meminta Rani menyambungkan teleponnya kepada Milia. Ia menerima panggilan, mengeraskan suaranya dan menaruh handphone Rani di atas meja.


"halo"


"iyah"


"sayang, aku minta maaf. kamu masih marah?"


"hmm"


"aku janji bakalan ngasih kabar kamu setiap hari"


"iyah"


"udah dong ngambeknya. aku ngaku salah"


"iyah"


"yaudah jangan malem-malem ya tidurnya"


"hmm"


"satu lagi, bales WA aku sama angkat telepon"


"iyah"


"gue cuma pengen dia ngabarin gue setiap hari, na. apa itu salah atau berlebihan?"


"ngga ko mil, itu wajar banget"


"tapi di sisi lain gue juga pengen ngertiin kesibukan dia"


"emang Adrian kerja apa aja kayanya sibuk banget"


"dia dosen terus sekarang punya jabatan baru di kampusnya, dia juga punya kerjaan freelance desain gitu"


"pantes kerjaannya banyak ya tapi tetep sih komunikasi itu penting"


"gue ngga pernah ngelarang atau ngebatasin gerak dia. silahkan mau kerja sebanyak apa tapi at least luangin sedikit aja waktu buat gue. seengaknya kirim pesan aja gapapa ko"


"coba diomongin lagi aja mil"


"udah ran"


Selesai menonton film, mereka memutuskan untuk tidur dan tidak lagi membicarakan apapun. Milia sibuk dengan pikirannya sendiri, begitu pula Rani.


satu minggu berlalu, Milia masih mengabaikan pesan dan telepon dari Adrian. kali ini ia benar-benar menginginkan Adrian berubah untuknya. Bukan hanya untuk diri sendiri, karena ia berharap hubungan ini bisa menjadi lebih baik lagi. Jika diberi pilihan tentu saja ia memilih untuk mempertahankan cinta dan hubungannya.


Meskipun belum menemukan jawaban atas banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya, Milia tetap meyakinkan diri untuk mempertahankan dan percaya kepada Adrian sekali lagi.


"tok tok" seseorang mengetuk pintu


"masuk" ucap Milia dari dalam kamar pasien

__ADS_1


Rei memberitahu bahwa ada seseorang yang mencari Milia di bagian pendaftaran pasien. Milia bertanya tentang orang yang mencarinya namun Rei hanya menggelengkan kepala. Diiringi rasa penasaran Milia menghampiri orang yang mencari keberadaannya.


"Adrian?" ucap Milia


Mengetahui namanya disebut, Adrian mengangkat wajahnya dan tersenyum ke arah kekasihnya.


"kamu ko ada disini?"


"iyah, ada urusan sama bu dokter"


Milia hanya tersenyum tipis


Keduanya berada di cafe terdekat dari rumah sakit. Tak ada obrolan, keduanya hanya diam. Adrian memandangi wajah Milia yang tengah diam tanpa ekspresi sambil memainkan sedotan yang ada di minuman miliknya.


"aku ambil cuti 1 hari"


"tumben ngambil cuti"


"iya nih mau ngebujuk pacar aku yang ngambeknya ngga selesai selesai" ucapnya sambil tersenyum


"ooh"


"kamu baik?"


"iya baik"


"kamu pulang jam berapa hari ini"


"jam 6, kamu udah pesen hotel?"


"udah di deket sini. nanti pulang dari rumah sakit kita jalan yah"


"boleh"


"udah dong sayang ngambeknya, aku kan udah janji bakal berubah"


"iyah"


"kamu mah iyah doang tapi masih marah"


"iya nggaaa" ucapnya sambil tersenyum


"gitu dong kan cantik kalo senyum"


"alah" ucap Mulia sambil tersenyum malu


"bener ngga boong"


"boong kalii"


"mau jalan-jalan kemana nanti? aku ikutin kemana aja mau kamu"


"mau ke malioboro lagi"


"aku baru nyampe banget ini langsung balik lagi gitu?" tanya Adrian sambil tertawa


"ngga deh becanda kapan-kapan lagi bisa itu mah. aku mau barbeque an aja"


"anything for you"


Milia pamit lebih dulu karena menerima panggilan dari rumah sakit. Dengan hati hati ia memeriksa kondisi pasien yang baru saja datang. Setelah diperiksa pasien tersebut mengalami keracunan makanan yang diterima dari seorang temannya. Sayang sekali, makanan tersebut sudah habis sehingga tidak bisa dilakukan penelitian lebih lanjut terkait dari mana racun itu berasal.


Beruntung keluarga pasien cepat membawanya ke rumah sakit jika tidak besar kemungkinan pasien tidak tertolong. Karena itu pasien diharuskan untuk mendapatkan perawatan insentif di rumah sakit. Pihak keluarga masih mencari identitas teman pasien dan mengalami kesulitan karena teman yang lain sama sekali tidak pernah berhubungan ataupun memiliki kontrak pribadinya.

__ADS_1


__ADS_2