
"Aih, anak ini mengapa susah sekali di bangunkan. Bibi Yao, tolong bangun Bora dan suruh dia ke bawah untuk makan malam."
"Baik nyonya"
Telingaku mulai bergerak dan mendengar suara langkah kaki yang mendekati kamarku dan itu sangat membuatku tak nyenyak untuk tidur.
"Nona, celat bangun untuk makan malam." Bibi Yo terus mencari cara untuk membangunkanku, tapi semua yang bibi Yao lakukan hanyalah sia sia karena aku masih tertidur dengan lelap.
" Maafkan aku nona, hanya dengan cara beginilah baru nona bisa bangun."
Byurrr..... suara tumlahan air mengenai semua tubuhku sehingga tubuhku menjadi basah kuyup. "Maafkan aku nona, hanya dengan cara begini nona baru bisa bangun" kata bibi Yao sambil berlutut di hadapanku.
Setelah itu aku turun ke bawah untuk mandi.
"Puffttt, kenapa kau turun ke bawah dengan penampilan seperti itu?" kata mamah sambil menahan ketawanya.
"Aku tak bangun- bangun, jadi bibi Yak terpaksa menyiramku agar aku bangun. Sudahlah aku ingin mandi." Se usai mandi aku berjalan menuju meja makan untuk makan malam. Namun seketika langkahku berhenti karena melihat papah.
"Sudahlah aku tidak jadi makan, sedang tidak mood" kataku sambil memutar arah dan berjalan menuju balkon di lantai 3.
__ADS_1
"TIDAK SOPAN, DASAR ANAK KURANG HAJAR!!." Ya begitulah, hubunganku dengan ayah memang sangat renggang karena ayah selalu memaksaku untuk menjadi ahli waris dari perusahaan ayah. Tapi aku tidak ingin. Aku hanya ingin menjadi pemain piano yang di kagumi banyak orang.
Sesampainya di balkon, aku menikmati angin yang terus berhembus sehingga rambutku terbang.
Aku mengambil ponselku dan berbincang dengan Youra.
Aku: "Hei, mau temani aku keluar?"
Youra: "Maaf Bora, aku tak bisa menemanimu saat ini karena aku dan ayah akan merayakan ulang tahun ibuku.
Aku:"Baiklah, aku mengerti."
Sekarang jam 17:56. Aku berpikir untuk keluar sendiri dan menenangkan diriku. " Ma, aku pergi dulu ya."
"Mau ke mana kamu?" tanya mama
"Mau pergi bersama Youra ma." jawabku.
Hari makin larut dan aku masih berjalan tanpa tujuan. Angin yang berhembus di luar membuatku kedinginan. Aku memutuskan untuk membeli kopi hangat. " Jadi berapa?" tanyaku kepada penjaga kasir.
__ADS_1
" Semuanya menjadi ₩5.000." Aku mengeluarkan jumlah yang di katakan oleh penjaga kasir.
"Nih mbak." Secara tiba tiba tangan seorang pria memberikan uang dengan jumlah ₩5.000 dari belakangku. Aku segera melihat ke belakang dan melihat wajah Young Joon yang tersenyum kepadaku.
"Sedang apa kau di sini?" Tanyaku sambil menunjuk muka Young Joon.
"Aku sedang mengikutimu" jawabnya.
"Untuk apa mengikutiku?" tanyaku kembali.
"Aku bosan di rumah, jadi aku keluar untuk mencari udara segar. Di tengah perjalanan aku melihatmu sedang menghangatkan diri. Jadi aku mengikutimu."
"Arrasso."
Se usai itu aku dan Young Joon keluar berjalan jalan. " Jadi, namamu Young Joon kan? apakah kau sudah merasa enakan setelah aku membawamu ke rooftop?"
"Ah, soal itu aku sudah merasa jauh lebih baik. Makasih ya sudah menenangkan hatiku." ujar Young Joon dengan memegang kedua tanganku.
Hari mulai larut. Aku dan Young Joon segera terburu buru untuk pulang ke rumah. " Sampai sini dulu ya, dadah" kataku sambil melambaikan tangan.
__ADS_1