Bertahan Sebentar Lagi

Bertahan Sebentar Lagi
bertemu kamu


__ADS_3

belajar adalah salah satu hal yang paling menyebalkan, apa lagi matematika. Seperti Kinan yang kini nyaris tertidur di dalam kelas karena merebahkan kepalanya.


"seperti ini ya Kinan" ucap pak Bambang sambil menyodorkan sebuah kertas kepada Kinan. Karena terkejut Kinan pun langsung membangkitkan diri dengan senyum malu di wajahnya.


"mana lagi yang tertidur?" Tanya pak Bambang.


akhirnya pelajaran membosankan itu selesai, bel istirahat pun sudah berbunyi. Kinan memutuskan pergi kek kantin, mencari-cari cemilan yang dapat mengisi perutnya.


sepintas ide muncul, Kinan memutuskan untuk membuat sebuah novel bertemakan dia dan seorang pria idamannya.


Setelah membeli cemilan, Kinan langsung bergegas menuju kelas. Kinan mengambil buku diary itu, menuliskan judul pada bagian atasnya 'Deru'.


Kinan membayangkan bagaimana sosok 'Dewi' pemeran utama wanita dalam novel nya. Begitu juga dengan 'Biru' pemeran utama pria.


jika terus di bayangkan Kinan dapat jatuh cinta dengan sosok 'Biru'. Dia menggambarkan seperti pria idamannya. seorang pemain basket, paras yang tampan, suara deep voice, jago nyanyi, bermain gitar, cerdas, jago masak, dan tentunya orang yang sangat royal.


Kinan terus melanjutkan novel nya. Dia terus membayangkan skenario Dewi dan Biru. Makin di bayangkan Kinan makin jatuh hati pada sosok Biru tersebut.


"Halo" Kinan mulai mematung, karena dia berada dalam kamar, dan juga tidak ada orang satu pun, hanya dia sendiri.


"Jangan takut, aku tidak bisa menyakiti mu, percayalah" suara itu muncul lagi, Kinan mulai cemas, pipinya memerah. Dia dengan cepat mengambil barang di sekitarnya.


"SIAPA KAMU? TUNJUKAN DIRI MU" Kinan berteriak dengan wajah panik.


"Tidak bisa. Kamu saja belum membayangkan wajah ku" Kinan mulai mematung. Suara persis seperti imajinasi suara Biru karakter fiksi itu.


Gadis itu mulai merasa bahwa dirinya sedang gila. Terlalu banyak terjun kedua kecil yang di buat dia sendiri mungkin membuatnya tidak bisa membedakan mana imajinasi dan dunia nyata.


"tebakan mu tidak salah. Aku adalah karakter fiksi dari dunia kecil mu itu. Entah mengapa kamu namakan aku sebagai Biru, tapi tidak masalah, aku menyukainya" jelas Suara itu yang di yakini adalah Biru.


"bagaimana bisa?" tanya Kinan dengan kebingungan.


"coba tanya dirimu sendiri" jawab Biru. "aku harap kamu tidak terjebak dalam imajinasi ini" gumam suara itu.


"biasa aja, ga usah aku-kamu". Kinan mulai merasa aman. Dia segera merebahkan tubuhnya kek atas kasur yang empuk. Namun pikiran ini mulai bertanya-tanya, sebenarnya ada apa? dan bagaimana bisa?.


suara ketukan pintu mulai terdengar "Kinan, ada ulangan ga? Kalo ada belajar. Jangan main hp terus, entar matanya rusak" ucap seorang wanita paruh baya yang di yakini adalah Kartika.

__ADS_1


"i-iya ma" jawab Kinan dari dalam kamar. Kartika pun mulai pergi kek dapur menyiapkan makan malam.


"tenang, ga ada yang bisa denger gw selain lo" ucap Biru menenangkan.


Pagi hari di sambut dengan pelajaran pak Bambang. Benar, matematika yang menyebalkan itu.


"baik. Saya absen dulu" Pak Bambang membuka buku absen dan menyebutkan nama siswa satu per-satu.


Raim adalah cowok yang kebetulan sekelas dengan Kinan. Meski Kinan tidak terlalu menyukai raim tetapi raim selalu dapat membuat suasana mencekam itu berubah seperti terompet ulang tahun.


karena haus. Raim pun meminum minuman yang di bawa dalam botolnya.


"Raim" pak Bambang segera mencari anak bernama Raim dengan matanya.


Raim mengangkat tangannya, tanpa sadar. Dia menggunakan tangan kirinya.


"Tuh Kan. Udah ngobrol, angkat tangan pake tangan kiri pula" kesal pak Bambang pada murid yang satu ini.


Semuanya kebingungan. Masalahnya dari tadi Raim sedang meminum, bagaimana bisa dia mengobrol?.


pelajaran berlangsung seperti biasanya, Kinan kini tidak lagi merebahkan kepala pada meja nya.


Bell berbunyi, senang sekali rasanya akhir dari penderita ini. Gadis dengan rambut kecoklatan dan cenderung berkulit sawo matang berlari menuju Kinan "gimana cuy?".


"Boleh kata mami gw, jadi maunya di rumah siapa?" tanya Kinan sambil merapikan bukunya.


"Rumah Lo lah, enak sepi" Kinan memutar bola matanya malas. Itu adalah Amandaka murid pintar dan terkenal multitalenta di kelasnya.


Kini wanita berambut pendek berbentuk wolf cut ikut menimpali "setuju. Kita makan seblak". Dia adalah Talancalan.


sepulang sekolah Kinan pergi kek rumah nya, menunggu teman-temannya datang.


Pertama adalah Talancalan, disusul dengan Amandaka. Lalu kedua remaja paling tinggi di antra yang lain, yaitu Cantika dan Amanda, bedanya Cantika memiliki rambut lebih panjang dari Amanda. Paling terakhir adalah Mira.


Mereka semua mulai mengerjakan tugas masing-masing diselingi dengan canda tawa bersama.


Pikiran itu mulai menghantui Kinan, disaat-saat menyenangkan ini, kenapa harus diingatkan?.

__ADS_1


tanpa sadar, satu pertanyaan keluar dari bibirnya yang dapat merubah suasana.


"bagaimana kalo seandainya salah satu teman kalian pernah di perkos*? Tanya Kinan tanpa sadar.


satu kata yang dapat menggambarkan suasana itu, hening.


"ooh gw tau siapa" jawab cantika.


Kinan menatap cantika bingung karena dia tidak pernah menceritakan hal ini pada siapa pun, bahkan kedua orang tuanya sendiri.


"siapa?" tanya Kinan dengan was-was.


"Zara" gerakan bibir yang dapat di baca oleh Kinan.


Kinan ingat. Zara pernah bercerita padanya bahwa dia pernah di perlakukan hal tidak senonoh oleh satu orang yang sama dengan Kinan.


Zara dan Kinan adalah sepupu, jadi tidak heran bahwa mereka berdua tau sifat bejat pamannya. namun Kinan tidak memberi tahu Zara tentang dirinya. Tidak seperti Kinan, Zara hanya mengalami hal tersebut dapat dihitung dengan jari, itu pun tidak secara terang-terangan, aksi itu di lakukan pada saat Zara sedang tertidur, namun Zara sangat pintar, beberapa menit kemudian dia terbangun, jadi hal serupa tidak berlangsung lama. Kinan sangat salut dengan Zara yang berani menceritakannya.


"ooh iya emang bener, Zara pernah cerita kek gw, dan orang itu adalah paman gw sendiri" jawab Kinan.


Amandaka mulai merenungkan semuanya "mungkin ajakan dia sering gores-gores tangan itu juga karena trauma hal kayak gitu".


Zara sangat suka menyakiti dirinya sendiri. Berbeda dengan Kinan yang sangat menyayangi tubuhnya.


"iya juga sih" Kinan mengangguk setuju.


"tapi... gimana kalo seandainya, bukan cuman Zara yang di perlakukan hal kayak gitu?" tanya Kinan.


Serentak mereka semua berteriak "LO JUGA?"


Kinan mulai kaget, bagaimana bisa mereka langsung dapat menebak semuanya, padahal dia belum bercerita apa-apa.


"YA-"


**BERSAMBUNG....


GIMANA CERITA HARI INI??? JANGAN LUPA SUPPORT AUTHOR TERUS YA. BIAR SEMANGAT LANJUTIN CERITANYA, MAKASIH.

__ADS_1


SEHAT SELALU


__ADS_2