Between HIM

Between HIM
Episode 4. Hari yang paling dinanti


__ADS_3

Hujan turun dengan derasnya, disertai angin yang membuat suasana pagi semakin dingin. Jam yang menunjukan pukul 05.00 pagi.


...


Jam alarm berbunyi, tring kring kring.....


"Emm hoammm, masih ngantuk." "Heughhh dinginnya," Chibi bangun dan melihat ke arah jendela kamarnya.


"Hujan ya," "Ahh, males banget pergi ke sekolah saat hujan." Dengan setengah sadar Chibi pun keluar kamar menuju kamar mandi. Dibasuhlah mukanya sambil menggosok gigi.


Saat melihat kaca dan terpancar bayangan wajahnya di cermin. Chibi pun sempat berpikir dan teringat masa lalu. Kemudian dia hanya bisa tersenyum saat teringat pertemuanya dengan Johan. Sesaat Chibi juga mengingat pertemuanya dengan Farhan yang membuat hatinya jadi gak karuan lagi.


"Hahh, kenapa aku ini. Masa itu sudah berlalu. Kini di hatiku sudah ada johan, ayo Chibi Smile." Sambil menepuk kedua pipinya dia pun berusaha menenangkan hatinya. Kemudian dia pergi mandi dan bersiap pergi ke sekolah.


"Ahhh, hujannya belum berhenti. Oh Tuhan, bagaimana ini. Sekarang sudah jam enam pagi. Aku bisa terlambat kesekolah nanti. Yasudah, tancap ajalah. Ibu, aku berangkat yaa." Chibi pun memaksakan berangkat ke sekolah meski hujan deras. Dengan jas hujan berwarna hijau terang dia pun menerobos hujan sampai ke jalan raya untuk menunggu angkot.


" Aduhhh, lama lagi angkotnya." Tintin...... terdengar suara motor mengklakson dirinya.


"Butuh tumpangan dek?. Ayo bareng nanti telat loh." Dengan senyum menyebalkan Farhan mengajak Chibi berangkat ke sekolah.


"Ohh, kamu toh Han. Ehh tunggu dulu, tadi bilang apa kau. apa tadi kau bilang Dek katamu!. Hem kau ini!" seketika Chibi marah dan memalingkan wajahnya.


"Yah, gitu aja marah Bie, aku kan cuma bercanda. Lagian kamu gak berubah sih dari SMP hhe."


"Apa maksudmu, jadi kau bilang aku masih tetep setinggi anak SMP kau bilang!" Chibi menjadi tambah kesal.


"Maaf-maaf, bukan gitu maksudku Bie, Bukannya bagus ya, kan kamu jadi keliatan awet muda gitu loh. Kamu mah negative thinking mulu sih."


"Ohh, maksudnya aku awet muda toh. Bilang dong yang bener, jangan pake kalimat ambigu gitu deh. Hehh, pagi-pagi aku jadi marah-marah gini gegara kau."


"Iya maaf, aku kan cuma bercanda Bie. Ayo naik, aku kan udah minta maaf. Lagian sekarang udah jam 6.30 loh. Jam pertama Pak Oki kan. Ditambah lagi hujan gini, nanti kamu sakit. Ayo naik Chibi nanti kamu telat loh," ujarnya sembari memegang tangan chibi. Farhan berusaha meyakinkannya berangkat kesekolah bersama. Akhirnya karna Chibi tak ingin terlambat ke sekolah. Dia pun berangkat sekolah bersama Farhan.


"Pegangan yang kenceng yah, aku mau sedikit cepet soalnya. Supaya kita gak telat ke sekolah."


"Kesel banget deh, kenapa dia bersikap baik padaku disaat hatiku sudah milik orang lain. Kau tau Farhan, hatiku sakit kau berbuat baik padaku. Apalagi dengan senyum di wajahmu itu," Sembari memegang pinggang farhan. Chibi lantas meneteskan air mata sambil menggerutu di dalam hatinya.


Sesampainya disekolah


"Akhirnya kita sampai tepat waktu. Hujannya juga sudah reda. Nah loh kamu nangis Bie?"


"Ahh, apaan?. Udah jelas ini air hujan kan. Ngaco kamu, emang aku harus nangis kenapa?"


"Hahaa, iya juga ya, maaf deh kalo gitu."


"Udah ah, gak usah minta maaf segala, btw makasih buat tumpanganya ya. Aku duluan ke kelas."


"Yeh, aku ditinggalin. Iya sama-sama deh Bie," ujar Farhan sedikit cemberut. Dengan melepas mantel dan helmnya Farhan pun bergegas masuk ke kelas.


"Pagi anak-anak. masih semangat ya meski musim hujan kaya gini. Sekarang kita mulai pelajaran Matematikanya."


"Baik Pak," jawab para murid semuanya.


Jam istirahat berbunyi, waktu istirahat pun datang. Chibi dan Simran pun pergi ke kantin sekolah untuk membeli makanan.


"Loh, tumben kau beli makananya dua Bie? Ahaha, lo lagi nafsu makan ya sekarang."


"Apaan sih, ini bukan buat aku kali."


"Hahh?? Buat siapa emang Bie. Emang tadi ada yang nitip ya?. Pake beli minumanya juga lagi."


"Udah ah jangan berisik, nanti kamu juga tau Sim."


Kemudian Chibi dan Simran pun pergi ke lapangan basket.


"Woahh, ternyata Farhan masih semangat main basket ya meski musim hujan gini."


"Hahh, dia mah kalo soal basket emang suka gak tau waktu gitu."


" Ciyee, sampe tau sifatnya dia cie-cie," Simran menggelitik Chibi.


"Ih apaan sih, orang kita dulu satu SMP kali. Jadi aku tau lah sifat dia kaya gimana. Kamunya aja yang terlalu melebih-lebihkan Sim."


"Cielah, gitu aja sewot, iya aku juga tau kali Bie. Kan cuma bercanda juga kali."


"Hahaha, aku juga bercanda kali Sim. Kena lo sekarang."


"Ih Chibi nyebelin, aku klikitik nih."


"Ih jangan Sim, geli eh jangan ahaha," Chibi dan Simran lantas malah saling mengelitiki badan di pinggir lapangan yang agak jauh dari Farhan.

__ADS_1


Farhan yang melihat Chibi dan Simran di pinggir lapangan pun langsung menghampiri mereka. "Seru banget nih kayanya, lagi ngobrolin apa emang. Suara kalian sampe ke pinggir lapangan sebelah sana loh."


"Ah masa?" Chibi dan Simran kaget sampai mata mereka melongo.


"Ahaha, gue bercanda kali. Tapi emang bener sih kedengaran meski cuma sampai tengah lapangan aja."


" Akhh, lo mah Han. Bikin kita kaget aja."


"Haha, sorry-sorry."


"Oh ya, lo belum ke kantin kan?" tanya chibi ke Farhan.


"Em, belum. Emang kenapa Bie?"


"Btw, kamu main basket udah makan?. Kamu bawa minum kan?"


"Ah, gue lupa. Tadi pagi buru-buru ke sekolah. Jadi lupa bawa minum sama bekal. Aduhh, gue emang pelupa."


"Emm, kalo minum sama makanan ini lo gak apa kan?. Yah itu juga kalo sesuai sama selera lo sih".


"Hem, yang bener? Ini buat gue Bie, elo gimana?"


"Aku udah makan kok tadi di kantin. Itu sengaja aku beli buat kamu, anggap aja sebagai ucapan terimakasih. Jadi jangan salah paham oke. Itu cuma ucapan terima kasihku buat yang tadi pagi. Okee, aku balik ke kelas dulu yaa".


"Hahh, ada-ada aja itu cewe," sambil tersenyum kebingungan.


Ujian akhir semester akan segera tiba satu minggu lagi. Meski demikian di hati Chibi hanya satu hal yang dipikirkannya.


"Satu minggu lagi aku bisa bertemu dengan Johan. Aku tak sabar dengan datangnya hari itu. Tapi sebelum itu aku harus melalui ujian akhir semester dahulu nih. Baiklah, semangat Chibi." Dengan penuh pengharapan dan semangat dalam hatinya. Chibi menjadi semangat di kelas terakhirnya. Dikarenakan minggu depan sudah memasuki hari ujian.


Hari ujian akhirnya tiba.


Chibi dan teman sekelas lainya mengikuti ujian akhir semester selama enam hari.


"Baiklah, anak-anak sekalian. Ujian hari pertama kita mulai yah. Tolong bagikan lembar soal ini ke belakang ya Simran."


"Baik Bu"


Ujian hari pertama pun berjalan dengan hikmat. Para siswa mengerjakan soal ujian dengan tenang dan penuh keseriusan.


Enam hari ujian akhir sekolah telah berlalu. Satu minggu kemudian chibi dan teman-teman lainnya pun sudah mendapatkan hasil ujian akhir sekolah mereka di kelas dua. Kini Chibi dan yang lainya sudah menjadi kelas tiga di SMA ASRI. Dengan demikian Chibi dan yang lainnya sudah harus serius dalam pelajaran untuk ujian Nasional kelas tiga nanti.


"Banyak orang yang mempersiapkan liburan yang menyenangkan sepertinya. Begitu pula dengan Simran yang akan pergi berlibur bersama keluarganya di Solo. Kalo Farhan dia gak bilang mau kemana liburan ini. Sepertinya mereka akan bersenang-senang semua. Karna ini libur panjang terakhir di SMA, aku harap akan jadi liburan yang paling berkesan. Karna mulai semester depan aku sudah kelas tiga SMA. Hemm, cepatlah pagi."


"Aku udah gak sabar ketemu sama kamu Johan. Semoga ini menjadi liburan pertama kita berdua yang menyenangkan," Sembari memegang handphone-nya Chibi tertidur dengan penuh pengharapan malam itu.


Fajar yang dinanti akhirnya tiba.


Sembari menunggu kedatangan Johan. Chibi mengobrol dengan ibunya sebelum pergi berlibur di Ibukota bersama Johan.


" Bu, sebentar lagi Johan jemput aku.


Ibu gak usah khwatir ya. Kata Johan, dia yang akan langsung meminta izin dari Ibu nanti. Perihal nanti aku tinggal di Ibukota."


"Hemm, anak ibu udah besar yah sekarang. Dibilang jangan khawatir ibu masih menghawatirkan kamu Nak. Apalagi ini kali pertama kamu bepergian dengan pacarmu. Tapi bila Johan yang datang langsung meminta izin pada ibu. Mungkin ibu akan sedikit lega. Tapi ingat ya Nak, kamu harus jaga diri disana. Ingat keluargamu, jangan berbuat sesuatu yang nantinya mengecewakan keluargamu ya Nak. Meski ibu percaya kamu pasti bisa menjaga dirimu sendiri."


" Iya Ibuku sayang," sambil memeluk Ibunya. Aku pasti menjaga diri baik-baik kok. Aku akan ingat selalu pesan ibu. Ibu juga jaga diri baik-baik dirumah ya. Jangan terlalu capek. Aku akan pulang cepat kok Bu. Aku sayang banget sama ibu." Tanpa sadar Chibi pun meneteskan air matanya.


"Nah loh, kamu kenapa nangis Nak. Kamu kan hanya pergi liburan. Gak usah nangis gitu Nak. Ibu pasti jaga diri baik-baik di rumah. kamu gak usah khawatir ya. Udah, hapus air matanya sekarang. Nanti kalo Nak Johan datang gimana. Cantiknya nanti hilang loh kalo nangis," sembari menghapus air mata Chibi di pipinya.


Tak lama terdengarlah suara pintu diketuk.


Tok tok tok


"Permisi, selamat pagi. Ibu...Chibi, ini aku Johan..."


"Ayo, dibuka pintunya Nak. itu pasti Nak Johan kan?"


"Iya Bu, aku buka pintu dulu ya."


Cekrek, suara pintu dibuka.


Terlihat lelaki tinggi dengan wajah yang ditutupi buket bunga mawar. Perlahan dia menurunkan buket mawar itu dari wajahnya. Dengan senyum yang manis bak pangeran dari negeri dongeng, Johan memberikan buket mawar tersebut. Dipegangnya tangan Chibi sambil mencium tanganya.


"Pagi Peri Cantikku, apa kau merindukanku?"


Chibi hanya bisa tersenyum dan terdiam tanpa kata sejenak.


" Hei Bie, kok diem aja," tanya Johan sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ah gak kok, aku cuma gak nyangka aja. Ini beneran kamu Jo?" Sambil memegang pipi Johan. Seakan tak percaya dia pun mencubit tanganya sendiri.


"Aduh sakit juga ternyata, jadi ini nyata ya."


"Hemm, kamu ini. Yaiyalah aku nyata Bie. Sini aku pencet idung kamu. Kalo gak sakit berarti aku ini ilusi."


"Ahh, jangan-jangan, aku udah sadar kok. Kamu nyata banget Jou. Sembari memeluk Johan. "Selamat datang Johanku."


Johan hanya tersenyum sebari mengusap rambut Chibi. Dengan erat Chibi pun memeluk Johan untuk melepas rasa rindunya selama ini. Dikarenakan Chibi yang lama berada di luar. Ibu Chibi pun keluar untuk melihat ada apa gerangan.


"Lah, Chibi lama banget cuma buka pintu aja. Chibi .... Siapa yang datang Nak?"


"Johan.... Apa buka-n?" Sehentak Chibi pun melepaskan pelukannya, setelah mendengar suara Ibunya.


"Ahaha, aku kelamaan yah meluknya. Maaf yah, aku jadi baper gini Jou. Ayo kita masuk."


Disaat Chibi dan Johan akan masuk ke dalam rumah. Ternyata Ibu Chibi sedang menuju ke luar untuk melihat mereka di luar.


"Lah ibu, kenapa keluar?. Kan aku udah bawa Johan masuk Bu."


"Habisnya kamu lama Nak, ibu jadi kawatir kan. Ibu kira kamu kemana dulu tadi."


"Iya ibu maaf, aku kelamaan buka pintunya hhe."


"Kamu ini yah. Hemm jadi ini Nak Johan yang sering kamu ceritakan itu. Tinggi yah, kalian jadi seperti kakak-adik dari pada sepasang kekasih."


"Akhh, ibu mah."


" Hhhhi, sambil tertawa kecil. Maaf-maaf, ibu cuma bercanda kok. Ayo masuk Nak Johan. Silahkan duduk, Chibi buatkan teh buat Nak Johan ya sayang."


"Baik Bu, siap."


Chibi pun menuju dapur untuk membuatkan teh untuk Johan dan Ibunya.


"Bu, kedatangan saya kesini mau meminta izin kepada ibu secara langsung. Saya akan mengajak Chibi liburan di Ibukota. Kebetulan saya juga ada saudara yang memiliki rumah disana. Jadi ibu tidak perlu khawatir Chibi nanti tinggal dimana. Oh iya, bila ibu masih kawatir. Ibu bisa ikut kami berlibur juga bila ibu mau, bagaimana Bu?. Tentu chibi akan senang bila ibu juga ikut."


"Ya ampun, Nak Johan tidak perlu kawatirkan ibu. Ibu cukup senang dengan ajakan Nak Johan. Tapi ibu banyak kerjaan disini yang tak bisa di tinggalkan. Jadi ibu tak bisa ikut dengan kalian. Sebenarnya ibu sempat kawatir. Tapi setelah Nak Johan datang langsung dan meminta izin kepada ibu. Ibu rasa sekarang bisa mempercayakan putri ibu pergi berlibur bersama Nak Johan. Jadi tolong dijaga ya anak ibu karna dia itu anak bungsu. Mungkin dia sedikit manja, tapi tolong dimaklumi ya Nak Johan.


"Ohh, saya baru tau Chibi anak bungsu. Dia tidak pernah cerita bila memiliki kakak."


"Iya Nak Johan, dia memiliki kakak lelaki. Kebetulan kakaknya ikut dengan ayahnya Chibi di luar kota. Karna Chibi masih sangat kecil saat itu, mungkin dia tak pernah ingat wajah kakaknya. Karna kami memutuskan untuk bercerai saat chibi usia 4 tahun. Jadi ibu mohon ya Nak Johan. Tolong jaga putri ibu sebaik-baiknya."


"Ibu tak usah khawatir. Saya akan menjaga putri ibu sebaik mungkin. Ibu bisa percayakan putri ibu kepada saya."


Tak lama berselang saat ibunya dan Johan sedang mengobrol. Chibi pun datang membawa teh dan kue untuk disantap bersama.


"Hemm, kayanya obrolanya seru nih.


Ayo di minum dulu tehnya, ini buat ibu dan ini buat Johan."


"Wah, kamu semakin pandai buat teh ya Nak. Manisnya pas gak lebih dan kurang. Gimana Nak Johan?. Apakah sesuai dengan selera Nak Johan manisnya?."


"Iya Bu, ini pas banget. Hangat air tehnya juga pas untuk diminum."


"Akhh, kalian berdua buat aku malu aja. Ini kan cuma buat teh. Jadi gak perlu segitunya," dengan pipi yang memerah chibi pun duduk di kursi dekat Johan.


Jam sudah menunjukan pukul 08.00. Setelah lama berbincang, Chibi dan Johan berpamitan untuk pergi berlibur ke Ibukota.


"Ibu aku pamit dulu ya, ibu jaga diri baik-baik ya. Aku gak akan lama kok. Nanti setelah aku sampai, aku pasti akan menghubungi ibu. Jadi ibu gak perlu kawatir ya," Sambil memeluk ibunya.


"Saya pamit ya Bu. Ibu bisa percayakan Chibi bersama saya." Johan berpamitan pada ibunya Chibi sambil mencium tangan sebagai tanda penghormatan kepada Ibu Chibi.


" Ibu percayakan Chibi pada kamu ya Nak Johan. Tolong dijaga ya Chibi-nya."


"Baik Bu, saya mohon pamit."


"Ibu aku berangkat ya..."


" Hati-hati di jalan, jangan lupa berdoa."


" Iya Bu, kami berangkat dulu."


Akhirnya Chibi dan Johan berangkat menuju Ibukota dengan sepeda motor yang biasa dipakai Johan. Chibi berpegangan erat memeluk Johan. Johan hanya tersenyum dan berkonsentrasi mengendarai sepeda motornya.


"Pegangan yang erat ya Bie."


"Tentu, aku akan pegang seerat mungkin sampai kau tak bisa lepas dariku."


Kini Perjalan liburan pun akhirnya dimulai. Bersama dengan sinar mentari yang menyinari perjalanan mereka.....

__ADS_1


.......


__ADS_2