
Tak terasa liburan yang Chibi jalani sudah berlalu satu minggu. Mereka banyak menghabiskan waktu bersama di rumah saudara Johan yang sedang liburan ke luar kota kala itu. Kini Johan dan Chibi harus segera pergi dari rumah tersebut. Karna keesokan harinya sang pemilik sudah pulang dari liburan di luar kota mereka.
"Okee, hari ini adalah jadwal kita bersih-bersih rumah. Apakah kau siap nyonya manis?" ucap Johan sambil memegang sapu.
"Huphz," Chibi menahan tawa.
"Kenapa Bie?" "Ada yang aneh sama aku?" tanya Johan melihat Chibi menahan tawa.
"Aahaha, habisnya kamu lucu Joo. Kamu udah keren gini malah pegang sapu. Yaa ampun, cuma kamu doang yang bisa buat aku tertawa kaya gini. Hahahaha.... Maaf-maaf aku jadi tertawa lagi deh. Meski kamu pegang gitar atau sapu sekali pun kamu tetap paling keren di hati aku kok Johanku. Percaya deh, ting..... ting..... ting...." Sambil mengedipkan mata genitnya.
"Hahaha, kamu ini yah. Gak usah di bilang juga aku ini emang keren kali." Sambil berpose ala gitaris memegang sapunya.
"Keluar deh pedenya, ayo kita segera bereskan. Supaya cepat selesai."
Dua jam sudah berlalu saat mereka mulai membereskan dan membersihkan seluruh isi rumah. Kini rumah sudah bersih dan rapi seperti sedia kala.
" Akhh, akhirnya selesai juga. Terimakasih atas bantuannya yah sayangku."
"Iya sama-sama cintaku," balas Chibi dengan senyum indahnya.
Pukul 09.00 menjelang siang Johan sibuk membuat bekal makan siang dan mempersiapkan peralatan kemah. Pada akhir liburan kali ini Johan berencana mengajak Chibi berkemah bersama di Camping Ground yang paling dekat. Mereka berdua menghabiskan malam bersama di bumi perkemahan tersebut. Seakan alam mendukung hubungan mereka, malam itu terlihat penuh dengan bintang di angkasa. Dinginnya malam dengan hembusan angin. Mereka duduk di pinggir perapian sambil menatap bintang dan secangkir teh hangat serta minuman hangat lainya.
"Kau lihat bintang disana Bie?. Disaat bintang bersinar terang tapi tetap saja sinarnya kalah oleh sinar bulan. Meski demikian bintang itu tetap bersinar indah meski kecil."
"Hmm," Chibi mendengarkan Johan sambil menatap langit yang penuh bintang.
"Aku berharap, waktu tak akan pernah berputar. Dan kita masih menikmati hal indah ini bersama." Ungkap Johan.
Sehentak Chibi melihat ke arah Johan dan menanggapi perkataannya. Digenggamnya lah tangan Johan kala itu, Chibi pun mulai tersenyum dan berkata. "Meski waktu terus berputar pun, aku akan selalu ada disampingmu. Dan kita akan bersama lalui hal indah bersama begitu pula hal yang sulit. Benarkan?"
Johan pun merangkul punggung Chibi dan tersenyum mendengar perkataannya tersebut. Malam itu mereka menghabiskan malam terindah di pinggir perapian api unggun yang hangat. Saat itu bintang yang bersinar di langit pun semakin terang seakan menyinari malam indah saat itu.
Malam telah berlalu, angin segar di pagi hari berhembus ke bagian dinding tenda. Kicauan burung yang bernyanyi di dahan pohon pertanda Sang Mentari yang mulai bersinar.
Sinar Mentari pagi yang menerobos celah tenda menyinari bagian dalam tenda. Chibi membuka matanya perlahan dia tengok kearah samping. Dilihatnya sleeping bed yang sudah terpasang rapi tanda Johan sudah bangun lebih awal dari dirinya. Chibi segera merapihkan sleeping bed miliknya dan seisi tenda. Kemudian Chibi keluar tenda dan dilihatnya Johan yang sedang memasak air di dekat api unggun semalam. Lalu Chibi mencoba mendekati Johan dan memeluknya dari belakang.
"Pagi... Johannn. Kamu rajin banget sih bangun sepagi ini?. Emmm emang beda ya Mr Perfect kaya kamu mah."
"Aduhh, kau ini manja banget ya. Padahal aku ini pacarmu kan bukan ibumu. Oh yah Chibi, kau mau teh, kopi apa susu?. Nanti aku buatkan kalo airnya udah mendidih."
__ADS_1
"Hmmm, aku mau kopi pake susu. Oh yah, kamu pasti cape kan. Sekarang giliran aku yang buatin kamu teh. Kamu bisa duduk manis aja Jou."
"Udah gak usah Chibi. Biar aku aja, udah kepalang kalo Bahasa Sundanya mah. Jadi kamu cukup duduk disamping aku dan lihat Chef Johan beraksi."
"Ohh, oke kalo gitu aku akan liatin Chef Johan beraksi. Cheese, mana senyumnya dong?."
"Weeiii...," Johan berfose ala Chef dengan celemek ala kadarnya.
"Oke, sekarang kita foto berdua, bahasa inggrisnya keju."
"Cheese...."
Cekrek..cekrek..cekrek
Seusai berfoto, akhirnya air yang dimasak oleh Johan mendidih. Mereka berdua sarapan dengan roti bakar dan minuman hangat buatan Johan. Seperti biasa semua makanan yang dibuat oleh Johan sudah seperti buatan Chef Profesional.
Matahari sudah semakin tinggi. Pertanda siang sudah menjelang. Chibi dan Johan berkemas segera pulang dari acara berkemah mereka.
Dalam perjalanan pulang menuju rumah Chibi. Perjalanan yang penuh sesak menanti mereka. Dikarenakan hari libur terakhir untuk semua siswa sudah usai hari itu. Siapa sangka Chibi akan bertemu dengan seseorang yang dia kenal di jalan yang penuh sesak itu.
"Chibi?" Sesaat ada suara yang memanggil namanya dari belakang. Namun chibi tidak menghiraukannya. Chibi tetap melihat kearah depan. "Chibi" Suara itu terdengar lagi di telinganya. 'Seperti ada yang panggil nama aku deh,' imbuhnya dalam hati. "Kau Chibi kan?. Marlina Chibi?" Ucap orang yang tak diketahui identitasnya. Seketika Chibi menengok ke arah belakang motor. Tak disangka chibi akan bertemu dengan Farhan di kemacetan Jakarta saat itu. Motor Johan dan motor Farhan saling berdekatan. Mereka pun bisa sedikit berbicara agak dekat dari posisi sekarang. Saat itulah Chibi memperkenalkan Johan pada Farhan, begitu pula dengan sebaliknya. Dikarenakan tujuan mereka berbeda, Farhan menempuh rute yang berbalikan dengan Chibi dan mereka berpisah di pertigaan sebelum memasuki jalan lurus.
"Dahh, sampai ketemu disekolah," ucap Farhan sebagai tanda pamitannya pada Chibi sebelum kendaraannya menuju rute yang dituju. "Ya, hati-hati dijalan," Chibi melambaikan tangan dan pada akhirnya mereka menempuh perjalanan pulang.
Tok,tok,tok.....suara pintu diketuk.
"Ibu ini aku. Aku pulang bu," Chibi mengetuk pintu rumah dan menyuarakan bahwa dirinya sudah kembali pulang. Ibunya membuka pintu, lalu langsung memeluk Chibi dan mempersilahkan Johan untuk masuk. Mereka bertiga duduk di kursi dan berbincang-bincang sejenak sebelum akhirnya Johan berpamitan untuk pulang.
"Yah, kenapa buru-buru Nak Johan?. Sekarang baru pukul 17.00 loh," ucap ibu Chibi. "Iya nih Bu, saya hanya sebentar disini. Masih ada kerjaan yang harus saya selesaikan. Yang lebih penting saya sudah menepati janji saya menjaga Chibi sampai dia pulang dengan selamat. Makasih ya Bu, udah mempercayakan anaknya pergi dengan saya. Saya pamit dulu ibu, Chibi," jawab Johan dengan senyum ramahnya tersebut. "Ohh begitu. Yasudah kalo begitu. Kapan-kapan main lagi ya Nak," tambah Ibu Chibi mengantar kepulangan Johan di depan pintu. Hingga akhirnya Ibu Chibi masuk terlebih dahulu kedalam rumah dan mengatakan pada Chibi untuk mengantar Johan sampai pintu pagar.
"Makasih ya Joo, liburan semester ini berkesan banget buat aku. Ya meski cuma satu minggu terakhir aku bahagia banget bisa bareng sama kamu. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan yang telah mempertemukan kita dan mengirim kamu untukku," ucap Chibi pada Johan. Lalu dengan memegang tangan Chibi. Johan menggenggam erat kedua tangannya tersebut. Johan hanya mengatakan, Terimakasih kembali atas kebahagiaan yang kau beri," dengan mencium kening chibi sebelum berpamitan. "Aku pulang yah," Johan akhirnya pulang setelah berpamitan.
Usai mengantar kepulangan Johan sampai pagar rumahnya. Chibi segera masuk kedalam rumah. Setelah mandi dan membereskan semua perlengkapan untuk sekolah besok karna kelelahan Chibi akhirnya tertidur lelap di kamarnya.
Studio musik pukul 22.00 yang berlokasi di Ibukota Jakarta.
"Hei Joo, kemana aja lo?. Udah hampir satu minggu lo susah banget dihubungi. Padahal sebentar lagi festival kampus udah mau dimulai tau," ucap James pada Johan sembari bersalaman denganya. "Apa sih yang lo bicarain. Ngawur banget, gue udah bilang kan ganti aja drumernya sama Irpan. Gue gak bisa manggung saat festival kampus. Lo tau kan gue ada remidi seminggu lagi. Jadi gue gak bakalan bisa latihan," jawab Johan sambil duduk di sofa penonton.
"Uwaaah, jadi lo beneran ada remidi Jo?" sambung James kaget. "Akhh parah banget dah kalo begitu. Mana Irpan kemarin masuk rumah sakit lagi. sudahlah hancur pentas kita di festival kampus nanti. James yang pusing memegangi kepalanya yang gonrong seperti orang gila. "Hahh, gak usah lebay gitu deh. Itu kan cuma festival kampus," dengan tenangnya Johan mengatakan demikian. "Hey Bro, cuma lo bilang. Hari itu kampus kita kedatangan awak media Brother. Itu kesempatan kita buat unjuk gigi. Ayolah Johan!" ucap James dengan ekspresi kesalnya pada Johan yang menyepelekan hal tersebut.
__ADS_1
"Hahh, berisik akh. Iya nanti gue usahain seusai remidi gua langsung naik keatas panggung dah. Tapi jangan salahin gue yah kalo permainan gue jelek karna gak latihan," sambung Johan yang terpaksa menerima ajakan James.
"Nah, dari tadi gitu dong Joo. Akh lama banget bilang iyanya. Ayo kita latihan dulu sebentar gimana?" ajak James yang sedang semangatnya.
"Lu mau bunuh gue apa James?" Gue baru balik anterin cewe gue dari rumahnya nih. Kalo gue mati sekarang gak lucu kan," "Ahh, iya...iya. Kalo gitu elo istirahat aja deh. Hahh, dasar. bercandaanya mati mulu. Gak asik ah lu. Yaudah gue latihan sama yang lainnya dulu dah," James pun akhirnya latihan bersama yang lainya tanpa Johan sebagai drumer. " Ya..ya, yang semangat ya. Hoamhp ngantuk banget gua," Johan tertidur di sofa studio musik saat itu juga karena kelelahan.
Pukul 23.30 Malam hari di studio musik.
" Johan, hoy... Johan bangun hoy."
Johan masih belum bangun meski sudah James goyang-goyang bahunya. Hingga beberapa saat ia mengar suara seseorang yang memanggil namanya samar-samar. "Heump, siapa ya?," dengan setengah tersadar Johan membuka matanya. "Ohh, james toh." Johan melanjutkan tidurnya. "Bangun Johannn, kita udah mau pada balik nih. Studionya juga mau ditutup. Hoy... Ini anak kebluk banget dah kalo udah molor. "BANGUN WOY !!?" james berteriak hingga Johan terkaget dan membuka matanya. "Buset dah, telinga gua bisa tuli nanti James. Huhhh, hoamphh." Johan berdiri dan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya agar tidak terlalu mengantuk. James menunggu Johan di luar bersama teman satu bandnya yang lain.
"Ah, kalian nungguin gue toh. Maaf-maaf, gue ngantuk banget tadi. Jadi ketiduran deh. Terus kalian mau balik ke kostan masing-masing apa gimana nih?" tanya Johan pada yang lainya. "Gue balik ke kost lah besok ada kuliah pagi. Jadi gue duluan ya semuanya," ucap Ramos yang memegang posisi Gitaris tersebut. Begitu pula dengan Natan yang memainkan Keyboard serta Ivan sebagai Basis. Mereka pulang ke kost mereka satu-persatu. "Thanks ya dan hati-hati di jalan," ucap Johan dan James yang masih berada di depan studio saat itu.
Angin malam sudah semakin dingin Johan dan James memutuskan segera pulang saat itu juga.
"Aghh, karna semuanya udah balik. Ayo sekarang kita juga balik Jo," kata James dengan santainya sambil menuju motornya. "Hey tunggu dulu, rumah lo kearah sana kan." Johan kebingungan dengan arah yang dituju James sama dengan kost miliknya. "Apa sih yang lo bingungin Jo. Yah jelaslah gua nginep di kost-an elu!. Pulang jam segini kerumah Mati-leh gua, habis diomelin Bokap gua nanti." Ungkap James mengutarakan kepada Johan. "Jadi akhirnya lo nungguin gue, karna ada maunya ya?" Huhh... James... James.. Nama bagus, rambut gondrong, logat bicara lo.....Ahh... yasudahlah. Ayo balik dah balik,"
Akhirnya pembicaraan mereka selesai dan mereka berdua pun pulang ke kost dimana Johan tinggal. James dan Johan mengendarai motor mereka masing-masing.
Kring____ kring____ Jam alarm berbunyi, waktu sudah menunjukan pukul 05.30.
Dilihatnya jam alarm. Chibi bangun dari tidurnya dan bersiap untuk semester baru yang menanti.
"Pagi Bu, hoamph.... Huhh.... Kenapa pagi cepet banget ya. Padahal masih ngantuk nih, keluh Chibi dengan potongan roti yang masih belum dikunyahnya. Sudah cepat sarapan dulu, nanti bicaranya setelah makan," ucap Ibunya yang sedang menuangkan teh.
"Aku berangkat ya Bu, Chibi mencium tangan dan memeluk ibunya sembari pamit berangkat ke sekolah. Hati-hati dijalan ya, kalo pulang telat cepat hubungi Ibu," ucap Ibu Chibi sambil melambaikan tangan.
"Iya Buu, aku berangkat...."
Hari pertama masuk sekolah setelah liburan berakhir dimulai.
Ruang Kelas
"Chibiiii lihat, aku bawa oleh-oleh loh dari libur semester kemarin. Khusus aku belikan untukmu gimana?. Cantik kan?" Simran datang dan berteriak untuk memamerkan barang bawaan yang dia bawa saat liburan.
...
Liburan telah usai, saat kembali ke sekolah harus Chibi rasakan lagi. Belajar, bermain dengan Simran dan teman yang lainya. Bertemu Farhan lagi di sekolah, serta kegiatan OSIS yang setumpuk agendanya.
__ADS_1
Meski demikian kenangan indah saat liburan bersama Johan masih membekas di hatinya. Memberikan semangat dan harapan baru disemester baru kala itu.
•••