Binar, Aku Rindu

Binar, Aku Rindu
Binar, Si Ceria Susu Stroberi


__ADS_3

“Haiiiiiiiiiiii.” Sapa gadis berambut pendek itu kepada semua masyarakat kelasnya, sekarang ia sedang duduk di kelas XII sebuah SMA negeri di kota Medan. Sampai sekarang belum ada yang lebih menarik di sekolah selain sang pujaan hati menurut gadis itu. Pujaan hati yang juga sekelas dengannya, Nino Pratama. Cowok berdarah minang yang lebih dari setahun ini mengisi hari-hari gadis ceria itu.


“Hai pacar.” Sapanya saat ia berhasil duduk di samping Nino.


“Hai, Bin.” Jawab cowok itu dengan senyumnya. Gadis di depannya langsung memegang dadanya dan memulai drama pagi yang biasanya juga terjadi, tetapi hal itu tak pernah membuat pujaannya itu bosan dengannya.


“Duh, senyum kamu bikin jantung aku melemah.” Ujar gadis itu manja, Nino masih saja setia dengan senyumnya.  Memperhatikan tingkah menggemaskan dari gadisnya itu,sungguh lucu dan menghibur.


Binar kembali ke kursinya yang terletak jauh dari Nino ketika Buk Sabariyah terlihat di ambang pintu kelas dengan  kimia tebalnya.


“Selamat pagi anak-anak, bagaimana kabar kalian?” ucap wanita paruh baya itu dengan


semangatnya.


“Belum makan buk.” Jawaban itu paling menonjol pagi ini, dan itu dari si ceria Binar.


“Kamu ada-ada aja Binar, abis mimpi saya kasih makan ya.” Candaan dari wanita paruh baya itu terdengar garing oleh Binar dan ia pun memilih untuk mengeluarkan bukunya. Kimia termasuk salah satu pelajaran yang membuat kepalanya merasa ingin botak. Ia tidak benci dengan kimia, hanya saja tak terlalu menyukainya.


Dua jam pelajaran berlalu, Binar menempelkan pipinya pada meja yang terasa sejuk serta menenangkan. Sedangkan siswa yang lain juga sibuk dengan kegiatannya. Gadis itu mengedarkan pandangannya hingga sampai pada sosok Nino, cowok itu tampak nyaman dengan headset di telinganya. Binar tak pernah bermimpi menjalin


hubungan dengan Nino, cowo yang ia kenal saat kegiatan olahraga bola volly.


“Perhatian.” Intruksi sebuah suara yang sudah gadis itu kenali, si ketua bersuara cempreng.


“Pak Awal gak dateng, jadi sebagai gantinya kita disuruh ngerjain semua latihan di buku paket yang berhubungan dengan matrik.” Seketika yang awalnya berniat bersorak hanya menghembuskan nafas panjang.


“Dikumpul minggu depan.” Lanjut sang ketua. Ini baru sebuah kabar gembira, Binar memejamkan matanya. Jarang- jarang ia bisa tidur di kelas seperti ini, sedangkan yang lain juga sibuk dengan kegiatannya seperti Ramos teman sebangku Nino sibuk bemain mobile legend di ponselnya dengan volume yang cukup mengganggu kegiatan


yang lainnya.


“No,kok lo bisa sih suka sama si Binar gila itu?” tanyanya masih dengan mata yang fokus pada ponselnya.  Nino yang ditanya hanya diam sebab cowok itu tidak suka jika seseorang bertanya tanpa memandang padanya kecuali Binar.


“No.” Panggil Ramos lagi sebab sahabatnya itu tidak menjawab pertanyaannya.


“Hmm.”

__ADS_1


“Lo kok gak jawab pertanyaan gue sih!” ujarnya kesal sambil memutar wajahya dari ponsel kearah Nino.


“Lo nanya ke gue?” tanya Nino balik sambil memperlihatkan wajah innocencenya.


“Kaga, sama jenglot.” Ujarnya sambil merenggut pada Nino.


“Lo jelek tau kek gitu Mos.”


“Biarin.” Nino tersenyum melihat Ramos yang mudah kesal padanya.


“Gue suka Binar, karena dia itu murni.” Ujarnya sambil menatap gadisnya yang saat ini sedang damai dalam tidurnya.


“Murni? Emangnya tu anak teh sari murni atau minyak goreng sari murni?” Nino menjitak kening sahabatnya itu.


“Bodoh jangan pelihara Mos.” Ujarnya lalu beranjak dari kursi menuju keluar kelas. Ramos mengarahkan pandangannya pada gadis yang dikatakan Nino murni itu, tak ada yang spesial. Cantik memang, cuma ya cantik itu relatif dan sudah banyak wanita cantik yang menjamur di dunia ini. Ramos kembali berpikir mungkin ada hal yang berbeda ditemukan sahabatnya pada gadis itu.


Bel istirahat berbunyi, membuat semua murid keluar tapi tidak dengan Binar yang masih setia dengan tidurnya. Gadis itu masih nyaman dengan posisi dan angin sepoi-sepoi dari kipas angin kelas yang membelai pipinya. Nino masuk dengan sebotol susu stroberi dan sebuah cupcake coklat, ia berjalan menuju meja dimana gadisnya tertidur. Berniat membangunkan tapi ia sedang memikirkan cara membangunkan yang bisa mengejutkan Binar.


Ada ide cemerlang yang melintas di benak Nino, ini pasti akan manjur jika digunakan untuk membangunkan seorang Binar. Tanpa menunggu lama cowok itu menempelkan kotak susu stroberi yang cukup dingin itu di pipi gadis tersayangnya.


“Kamu baik-baik aja kan Bin?” cewek itu hanya menatapnya heran.


“Kok kamu bisa ada disini?”


“Dari tadi memang aku disini. Nih, makan dan minum dulu bentar lagi bel masuk bakalan bunyi.” Cowok itu menyodorkan apa yang ia bawa di tangannya pada Binar.


“Kamu tadi bangunin aku pake cara apa? Kok pipi aku basah sih? Jangan-jangan kamu....” gadis itu mulai berimajinasi yang tidak-tidak tentang apa yang dilakukan cowok di hadapannya itu padanya.


“Jangan mikir aneh-aneh deh Bin.”


“Manatauankan kamu khilaf liat kelucuan aku, hehehe.” Gadis itu membentuk V dengan jarinya dengan maksud memberi isyarat bahwa ia tak bersungguh- sungguh. “Oh iya, ntar siang ke starbuck yuk No. Udah lama aku nggak ngegalau disana.” Ajak Binar sambil mengedip-ngedip manjakan kedua matanya.


“Males ah, masa kamu galau ngajak-ngajak.” Cowok itu beranjak dari hadapan Binar lalu menuju kursinya, Binar merenggut kesal. Nino selalu saja seperti itu dan ia pun heran bisa tahan dengan makhluk datar yang tak  terlalu ganteng itu.


“Kalau ngajak aku tu ke pelaminan dong, ini masa ngajak aku ngegalau sih Bin.” Seketika makhluk datar itu mebuat Binar mendadak shock dengan kalimat yang meluncur dari bibir seksi itu secara spontan.

__ADS_1


“Cie elah Nino, ga sabar Binar seriusin yaa.” Jawab gadis itu diiringi tingkah manjanya. Mungkin untuk sebagian cowok itu termasuk salah satu tingkah menjijikan dari seorang cewe tapi Nino malah menilai itu sebuah tingkah yang menggemaskan dari seorang Binar.


“Bukannya kamu nunggu di seriusin sama aku Bin?”tanya cowok itu balik pada gadis hadapannya.


“Aku mah udah kamu seriusin, kamu halalin aja yang belum.” Jawabnya. Nino menggeleng pelan mendengar jawaban dari gadis itu. Gadis itu selalu saja ada banyak jawaban jika bersama dirinya.


“Ntar deh di halalin, aku balik ke kantin dulu ya.” Setelah memngucapkan sepenggal kalimat yang seketika membuat Binar berbunga-bunga tak karuan, Nino melesat pergi ke arah kantin untuk melanjutkan makannya.


Tiga jam berlalu begitu lama untuk Binar, meskipun lama ia sudah hampir pada akhir i


“Kriiiiiingggggg.......” dengan nyaring bel berbunyi seantero sekolah seketika membuat semua siswa siswi


yang bersekolah di SMA ini berteriak gembira termasuk Binar, inilah akhir penantian itu. Pada akhirnya ia bisa duduk disini di hadapan kekasih datarnya, ditemani secangkir caffé latte yang telah menjadi favorit gadis itu sejak lama sedangkan Nino di hadapannya sedang sibuk dengan game pada ponselnya.


“Jadi dicuekin akutuh disini?” rungut gadis itu dengan manja, setelah beberapa menit gadis itu tidak mendapat tanggapan juga. Ia sudah bersiap dari kursinya hanya saja jarinya lebih dulu di raih Nino, cowok itu menggenggam tangannya serta menautkan jemari mereka. Inilah salah satu hal yang membuat Binar jatuh cinta dengan cowo itu, Nino suka melakukan hal manis yang tak terduga.


Kupu-kupu di seluruh dunia serasa dilepaskan ke dalam ruangan yang khas dengan bau kopi ini, meskipun disini ramai di penuhi makhluk sosial yang sibuk dengan kegiatannya, tetapi Binar mersakan ruangan ini hanya milik mereka berdua.


“Kok malah beranjak sih Bin?”


“Kesel.” Berusaha menyembunyikan kebahagiaanya hanya saja hal itu tak berhasil dihadapan seorang Nino, hal itu malah membuat rasa bahagia yang dirasakan gadis itu semakin ketara.


“Masa iya sih kesel?”


“Emang kesel pun.” Jawaban gadis yang cemberut itu malah membuat cowo dihadapanya


tersenyum.


“Kamu makin camtik deh kalau cemberut gitu.”


“Tapi lebih cantik lagi kalau senyum.” Kata-kata gombalan receh Nino sudah sangat hapal untuk seorang Binta.


“Receh terus ya?” gadis itu mengangguk kecil. Lucu.


“Sok imut banget sih Bin.”

__ADS_1


“Memang imutpun.” Perbincangan yang tidak jelas apa topiknya itu berlanjut hingga matahari mulai beranjak pulang. Perbicangan yang berawal dari kata imut hingga seorang kakek yang masih dikenal dengan keahliannya bermain bulu tangkis, Tuk Dalang Upin Ipin. Sangat tidak jelas bukan, hanya saja hal begitulah yang membuat kedua pelajar SMA itu saling nyaman serta saling membahagiakan.


__ADS_2