
Langit berubah jingga, Binar berjalan gontai ke arah pagar rumahnya dengan keadaan seragam yang basah kuyup. Pagar itu terbuka lebar dan terlihat disana motor merah yang menjadi favoritnya setahun belakangan ini, sudah diduga cowok itu pasti ke rumahnya
“Eh anak Bunda udah pulang.” Binar hanya membalas dengan senyum tipis. “ Kenapa bisa basah kuyup gini kak?” Binar tak menimpali perkataan ibunya itu. Seirinng ia berjalan ia mendengar tawa ayahnya dari taman belakang, pasti Nino juga disana. Tapi ia sedang tak bersemangat karena kejadian tadi siang bersama cowok itu.
Gadis itu beranjak kekamarnya dan mandi adalah tujuan uatamanya saat ini. Sedangkan disisi lain rumahnya, cowok yang sedang bermain catur dengan ayahnya masih menyimpan perasaan khawatir karena tak ada kabar apa-apa dari gadis itu.
Ibu gadis itu menepuk pundaknya, “Binar udah pulang kok No, dia lagi di kamarnya.” Cowok itu menghela nafas lega.
“Tapi dia pulang dalam keadaan basah kuyup.” Timpal wanita paruh baya itu.
“Maaf bun.” Tampak raut menyesal dari remaja laki-laki itu. Wanita paruh baya itu tersenyum mengisyaratkan bahwa semua baik-baik saja.
“Tunggu Binar selesai mandi dulu ya, nanti bunda bujuk dia buat ketemu kamu.” Nino mengangguk. Ia memandangi punggung wanita paruh baya yang ia kagumi semenjak pertama kali ia diajak kerumah ini oleh Binar. Lembut, perhatian, serta hangat.
Binar sedang dengan hair dryer sambil memandangi motor merah yang masih setia terparkir kokoh di depan terasnya.
“Udah, jangan dipandangi mulu kak.” Ucap bundanya dari ambang pintu lamarnya.
“Apaansih bun.” Gadis itu mengelak lalu beranjak duduk di tepi kasurnya.
“Nino masih di bawah lo kak, yakin gak mau ketemu?” cewek itu menggeleng pelan.
“Dia masih berpikiran kalo solusi masalahnya itu kematian bun.” Ujar gadis itu diiringi oleh isak tangisnya. Wanita paruh baya itu segera memeluk anak gadisnya itu.
“Udah, kok malah kakak yang nangis? Seharusnya adek nyemangatin dia dong.” Wanita paruh baya itu mengelus
rambut anaknya.
“Jangan lari gitu. Kan malah nambah pikiran dia yang harus mikirin kakak juga.” Gadis itu melepas pelukan ibunya dan menatap.
“Jadi kakak harus apa?”
__ADS_1
“Kakak harus jadi penyemangatnya, udah sana dia udah nungguin kakak di bawah.”gadis itu mengangguk dan membiarkan ibunya lebih dulu keluar dari kamarnya.
Beberapa saat kemudia gadis itu menuruni tangga dengan setelah piyama biru pastel miliknya. Ia bisa melihat
Nino sedang bermain dengan adik semata wayangnya.
“Bang Nino mah gak asik bun. Curang, main gelitikin adek” Teriak bocah kelas 4 SD itu. Wanita baruh baya itu hanya menggeleng sambil tersenyum mendengar aduan si bungsu di keluarganya itu.
“ Udah ah, jangan gangguin bang Ninonya terus dek.” Ujar Binar yang baru sampai di area ruang tengah.
“Yah... bodyguardnya bang Nino datang. Adek mundur aja ah.” Ujar bocah itu sambil memeletkan lidahnya dan dibalas dengan tatapan tajam dari kakaknya. Nino tersenyum melihat keharmonisan keluarga ini, andai keluarganya bisa seperti ini.
Gadis itu mengisyaratkan untuk bicara di teras rumah saja, disetujui oleh Nino. Mereka diam sambil memandang rintik hujan yang kembali turun membasahi bumi.
“Maaf ya Bin.” Kalimat itu keluar juga dari mulut cowok yang tadi dengan tidak sengaja membuatnya menangis lagi.
“Gak apa-apa, cuma jangan bicara gitu lagi.” Nino memutar duduknya 45 derajat ke arah gadis itu. Gadis
“Maaf aku bikin kamu nangis lagi.”
“Gak apa-apa.” Timpal gadis itu lagi.
Setelah kalimat itu tak ada lagi yang memulai pembicaraan di antara mereka sampai hujan tak lagi menampakkan rintiknya. Nino pamit untuk kembali kerumah pada gadisnya dan keluarga gadis itu. Ia cukup lega, sebab gadis itu tampak lebih baik.
Jam tangan Nino menunjukkan tengah malam, sehabis dari rumah Binar ia menyempatkan diri kerumah Ramos.
Seperti yang kalian pikirkan, cowok itu malas untuk kembali kerumah. Bahkan sudah tengah malam seperti sekarang.
Cowok itu membuka pagar rumahnya perlahan, dan memasukan motorkepekarangan rumah tanpa menghidupkannya karena takut akan mengganggu tetangga. Tetapi apa yang ia dapati, wanita paruh baya berdaster putih polos tergeletak di halaman rumahnya, ya itu ibunya. Ia merangkul wanita paruh baya itu dan menuntunnya ke dalam rumah. Wanita paruh baya itu tampak lemah dan pucat dengan keriput di telapak tangannya.
“Kenapa kamu bawa ******* itu ke dalam lagi.” Suara berat itu membuat Nino mengalihkan pandangannya. Nino
__ADS_1
mulai tidak tahan dengan perkataan lelaki itu tapi ia mencoba sabar. Ia kembali menuntun wanita paruh baya itu ke kamar dan membaringkannya.
“Papa udah keterlaluan.” Ujar Nino pada ayahnya yang sedang duduk santai di sofa.
“Lebih keterlaluan siapa? papa atau mamamu itu yang punya anak dari sabahat suaminya sendiri.” Nino menghela
nafas berat, perdebatan ini tak akan ada habisnya. Tapi ia tak ingin lari lagi dari masalah ini.
“ Tapikan mama udah nyoba buat memperbaiki kesalahannya pa. Udah 17 tahun berlalu juga pa.” Ujar Nino pelan agar papanya tidak tersinggung.
“Tetap saja itu hal yang tak bisa di maafkan.” Ujar laki-laki paruh baya itu dengan nada dinginnya. Nino memandang punggung lebar laki-laki itu meski tampak masih gagah dari belakang tapi ia tau bagaimana hancur hati laki-laki itu untuk bertahan dengan wanita yang ternyata mengkhianatinya dari awal.
Setelah membantu mamanya beberes diri, Nino kembali ke kasurnya yang beralaskan sprai biru elektrik itu. Ponselnya sibuk bergetar di atas meja belajarnya tapi ia abaikan. Ia tak ingin berbicara dengan siapa-siapa serta tak ingin lari untuk malam ini sebab takut hal yang lebih parah lagi akan terjadi.
Ia mencoba memenjamkan mata sambil berharap hari esok lebih baik. Sedangkan diseberang sana gadis yang ia
cintai sibuk mengirim spam kepadanya.
“Aduhh, ini si Nino kemana si?” renggut gadis itu. Ia baru ingat kalau buku tugas fisikanya ada pada cowok itu dan ada tugas yang harus ia kumpulkan esok hari. Gadis itu menuruni tangga rumahnya, ia melihat jam di ruang tengah menunjukkan pukul tiga pagi. Mata gadis itu tak ingin terpejam entah karena apa, akhirnya gadis itu memutuskan
untuk membuat indomie goreng di dapur sebab perutnya keroncongan.
“Ehh, kakak gak tidur?” bunda keluar dari kamar dengan mukena bantiknya karena mendengar suara yang cukup gaduh dari arah dapur. Gadis itu nyengir kuda sambil mengangkat bungkus mi yang sudah ia buka.
“Yaudah, abis itu tidur ya kak, kan nanti mau sekolah.” Gadis itu mengangguk dan kembali melanjutkan memasak mi kesukaannya itu. Tapi setelah menghabiskan sepiring mi, Binar malah menyetel drama korea yang ia tunggu semenjak minggu kemarin bukan beranjak tidur seperti permintaan bundanya. Ia menikmati menit demi menit drama yang menampilkan berbagai macam emosi itu seperti menangis dan tertawa.
Tak terasa dua episode rama korea ia habiskan beriringan dengan azan subuh yang menandakan bahwa gadis itu sudah melewatkan kesempatan tidurnya.
“Yah, bakalan ngantuk nih pastinya di kelas ntar.” Gumam gadis itu sambil berjalan gontai ke arah kamar mandi. Selama gadis itu di kamar mandi, ponselnya bergetar itu tertera nama cowok yang semalam baru saja dari rumahnya. Karena gadis itu tak jua mengangkat telepon akhirnya mucullah sebuah notifikasi pesan di layar ponsel tersebut.
“Aku jemput dirumah ya.” Senyum gadis itu merekah, dengan cepat gadis itu membalas “Siap boss.”
__ADS_1