
Tidak ada yang berbeda dengan sekolah hari ini, jam pelajaran berlangsung seperti biasa. Memusingkan serta melelahkan, Binar mengedarkan pandangannya untuk melihat seisi kelas. Banyak sekali yang tampak tidak serius menjalani jam pelajaran terkahir untuk hari ini.
“Kalian jangan lupa tugas untuk minggu depan ya.” Ibu Sabariyah kembali menekankan info tersebut. Sepertinya guru itu juga menyadari bahwa lebih dari setengah seisi kelas ini tidak semangat menjalani mata pelajarannya.
“Baiklah, saya keluar dulu. Jangan ada yang cabut sebelum bel bebunyi ya.” Ujar guru itu diiringi dengan tatapan memperingatkan untuk seisi kelas. Ada beberapa murid yang menanggapi bu Sabariyah dengan cengiran tak bersalah mereka.
Seusai guru itu keluar, seisi kelas malah bersuara.
“Minggu depan jangan lupa datang ke pertandingan volly kami sama anak kelas XI IPA 2 ya.” Ucap si kapten
volly, Ramos.
“Kami butuh dukungan kalian, apalagi para perempuan-perempuan bersuara besar ini.” Ramos berjalan mendekati Binar yang tampak tak antusias dengan pengumumannya.
“Eh, susu stroberi, lo dateng kan?” suara itu menginterupsi lamunan Binar.
“Heh? Apa?” Ramos beranjak dari samping kursi gadis itu untuk duduk dikursi bagian depan.
“Lo datengkan? Liat Nino tanding kali ini?” Binar tak bergeming. Ramos tak tau apa yang ada dipikiran gadis itu, semenjak setahun semenjak Nino mengatakan ia berpacaran dengan gadis ini tetapi ia tak pernah melihat gadis ini hadir di setiap pertandingan sahabatnya itu.
“Gue mesti bimbel Mos.” Jawab gadis itu singkat. Klasik, sangat klasik. Ramos hanya tersenyum miring, ia berpikir
sepertinya bukan ini alasan yang sebenarnya.
Bel pulang berbunyi, semenjak tadi gadis itu tak melihat sang pacar masuk kelas setelah mengantarkannya sampai koridor dan meminta izin untuk memarkirkan motornya terlebih dahulu.
“Binaaaaa....” teriak seseorang dari arah koridor barat sekolah ini. Gadis itu berputar 60 derajat untuk mencari sumber suara. Disana berdiri seorang Binta, sepupu kesayangannya.
__ADS_1
“Kok lo gak semangat gitu si? Banyak pikiran ya Bin?” gadis yang ditanya ini hanya menggeleng lemah, ia sadar bahwa masalah kemarin belum sepenuhnya selesai lebih tepatnya ia belum bisa berdamai menerima kalimat keputusasaan dari manusia yang ia cintai itu.
“Lo kenapa? Berantem lagi sama Nino?” gadis itu menatap sepupunya.
“Enggak kok, ini gue lagi cari Nino.”
“Nino tadi dikantin kalo gak salah gue liat.” Jawab sepupunya itu. Gadis itu berlari ke arah kantin satu-satunya yang berada di bagian tengah sekolah ini.
Di sudut sana, tampak cowok yang masih setia dengan jaket denimnya dan sebuah ponsel di tangannya. Gadis itu berencana itu mengejutkan cowok itu perlahan, tapi ia urungkan niatnya sebab si Anindya si anak baru sudah duduk di kursi bagian depan cowok itu sambil membawa dua botol teh pucuk. Binar tampak penasaran tentang apa yang dua remaja itu bicarakan sepertinya bukan masalah yang sepele sebab selama ini dikelas Binar tak pernah melihat anak baru itu bertegur sapa dengan pacarnya.
Gadis itu masih bergelut dengan pikirannya tanpa ia sadar cowok yang tadi ia perhatikan sudah duduk di sampingnya sambil tersenyum.
“Kok sendiri? Nungguin aku ya?”
“Ihh geer.” Ujar gadis itu sambil beranjak tapi tangannya lebih dulu dicekal oleh Nino. Gadis itu menatap dengan tatapan kenapa.
“Ke rumah yuk.” Petama kalinya cowok itu memintanya untuk ke rumah yang dari dulu ia ceritakan selalu saja menjadi tempat yang tak pernah nyaman untuk cowok itu.
“Ngenalin kamu ke mama mungkin.”tampak raut wajah tak yakin dari cowok itu. Binar tersenyum, “Kalau rumah bukan tempat ternyaman untuk kamu, aku juga gak maksa untuk kesana No.” Jelas gadis itu.
“Gak apa-apa, daripada kamu nyusun teka teki terus di kepalamu untuk memikirkan orang seperti aku. Cuma bakal
bikin kamu pusing.” Binar tak menjawab lagi pernyataan itu, ia hanya berusahan menyamai langkah Nino yang kini berada di sisi kanannya.
Akhirnya motor ini berhenti di depan sebuah rumah berpagar putih cukup tinggi, rumah yang tampak megah dari
luar itu apakah benar bukan termpat ternyaman bagi seorang Nino? Banyak pertanyaan yang simpang siur di kepala gadis itu.
__ADS_1
Prankkkk........ suara pecahan kaca yang sangat keras mengejutkannya. Nino berlari ke dalam rumah untuk menemukan sumber suara sedangkan Binar tak berani masuk sebab ia kesini hanya berkunjung bukan untuk mencampuri urusan rumah ini.
Tak lama dari suara pecahan tersebut Binar terkejut dengan siapa yang baru saja lewat di hadapanya, ya itu dia Anindya cewek yang baru beberapa waktu yang lalu ia lihat di kantin bersama pacarnya. Semakin banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya.
Apa hubungan gadis itu dengan Nino?
Apa hubungan gadis itu dengan keluarga Nino?
Apa mereka sedekat ini?
Banyak asumsi yang ia munculkan dengan pikirannya sendiri. Ia menghela nafas panjang “Butuh berapa lama aku harus memahamimu No.” Gumamnya. Ia menunggu dengan setia kehadiran cowok yang masih sibuk di dalam rumahnya. Sejam berlalu cowok itu baru menampakkan batang hidungnya.
“Kamu ngantuk ya?” yang ditanyai menggeleng.
“Maaf ya bikin kamu nunggu lama.”
“Kayaknya aku pulang aja deh No.”
“Aku antar ya.” Binar menggeleng mendengar tawaran itu.
“Aku pesan ojek online saja.” Gadis itu bergegas mengambil ponsel dari saku ransel hijau army miliknya. Cowok di depannya hanya diam memperhatikan gadis itu.
“Mba Binar?” panggil ojek online yang mengintip di celah pagar putih rumahnya Nino. Binar mengangguk lalu menatap cowok yang masih diam di sampingnya.
“Aku gak apa-apa kok, kamu istirahat ya? Kalo gak nyaman di rumah, main ke rumah Ramos aja ya? Nanti sampai
rumah aku telfon” ujar gadis itu sambil tersenyum lalu melambai kearah cowok itu.
__ADS_1
Mungkin kalian berpikir Binar cukup egois meninggalkan Nino pada saat seperti ini, tetapi itu solusi terbaik menurutnya. Dengan adanya dia di sana malah membuat cowok itu terbebani, adanya dia juga tak akan membuat cowok itu bercerita panjang lebar soal masalah yang ia alami hampir setiap hari. Membiarkan cowok itu tenang
sendiri mungkin solusi darpada dia tetap disana malah membenani.