Binar, Aku Rindu

Binar, Aku Rindu
Masih Seperti Biasa


__ADS_3

Suasana sekolah masih seperti biasa, cukup menyenangkan karena banyak jadwal pelajaran yang kosong sebab hari ini adalah hari rapat wali siswa/siswi kelas dua belas tetapi yag kurang hari ini adalah kehadiran Nino. Laki-laki itu tak memperlihatkan batang hidungnya sejak pagi di gerbang sekolah. Ini sudah hal yang sangat lumrah untuknya sebab tidak masuk adalah kebiasaan Nino jika malah hari sebelumnya ia memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


“Mos.” Pemilik nama itu menoleh ke arahnya dengan tatapan mengapa.


“Nino ngabarin kemana ga?” Tanya gadis itu pada si pemilik nama. Sebelum pemilik nama itu menjawab sebuah getar dari sakunya membuat pandangan gadis itu beralih pada ponselnya.


Nino : Nanti aku jemput ya di warung Bi Surti.


Gadis itu bingung, tidak biasanya laki-laki itu seperti ini. Biasanya ia akan menghilang seharian dan akan muncul di sekolah keesokan harinya. Dengan cepat gadis itu membalas pesan tersebut.


Binar : Siap bos.


“Kayaknya lo deh yang di kabarin duluan sama Nino.” Ujar Ramos yang merasa diabaikan.


“Hehehe.” Nyegir gadis itu padanya.


“Kemana si Nino?” Gadis itu hanya menaikkan bahunya tanda tidak tahu. “Cuma dia bakalan jemput gue nanti pas jam pulang di warung Bu Surti.” Ada tatapan berbeda dari seorang Ramos. Ia mengetahui apa yang sedang disembunyikan sahabatnya itu hanya saja bukan haknya menceritakan pada Binar.


“Kok gitu tatapannya? Ada yang aneh sama gue?”


“Sejak kapan lo gak aneh si Bin.” Ujar ramos sambil mencubit pipi gadis yang membuat sahabatnya jatuh cinta itu.


Tak selang beberapa waktu, bel pulang berbunyi. Sungguh membahagiakan untuk seorang Binar.


“Pak, bel bunyiiiiiiiii.” Cicit Binar dari tempat duduknya tapi masih bisa didengar oleh sang guru yang masih saja setia menulis soal matematika di papan tulis.


“Iya Binar, saya tahu.” Jawab laki-laki paruh baya itu dari depan papan tulis. Seperti sudah hafal bagaimana kelakuannya saat bel sudah berbunyi oleh laki-laki paruh baya itu.


“Pak, pulangnya masih lama?” Pertanyaan gadis itu membuat beberapa mata melihat padanya termasuk laki-laki paruh baya yang baru saja selesai dengan kegiatannya.


“Kamu bener-bener gak sabaran ya orangnya.” Gadis itu hanya nyengir tak bersalah.


“Baiklah, sampai disini dulu perjumpaan kita ya anak-anak.” Hampir semua orang di kelas itu bernafas lega. Sebelum Pak Jo keluar, Binar sudah lebih dulu ngacir dari sana tanpa bersalam pada laki-laki paruh baya itu.


“Woi bucin.” Teriak Ramos saat Binar melewati gerbang utama sekolahnya itu.

__ADS_1


“Anjay, gue ga bucin. Cuma kelebihan micin doang.” Jawab gadis itu.


“Sama aja ****.” Tanpa memperdulikan Ramos, gadis itu berjalan menuju warung Bu Surti yang berada tepat di samping kanan SMA Bhakti. Benar, sudah terparkir motor yang sangat ia kenali disana.


“Eh neng Binta, udah lama ga kesini.” Ujar Bu Surti sang pemilik warung. Dulu warung ini masuk dalam daftar tempat ternyaman untuknya hanya saja akhir ini ia jarang sekali berkunjung kesini akibat kesibukan bimbelnya.


"Hehe, iya bi." Jawabnya kikuk.


"Mau nyari Mas Nino ya?" Tanya wanita paruh baya itu padanya, pertanyaan itu cukup membuat senyumnya mengembang.


"Bibi tau aja si."


"Iyalah, yakali mba Binar nyari bibi." Gadis itu tersenyum lalu menuju meja paling sudut dimana laki-laki yang ia


cintai duduk dengan wajah kusutnya. Gadis itu duduk tanpa basa basi disana dan Nino langsung menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu. Cukup mengejutkan, tetapi Binar paham situasi ini.


"Sepuluh menit lagi baru kita jalan ya." Binar tersenyum tipis mendengar kalimat itu. Akan ada keluh-kesah yang akan diceritakan laki-laki itu padanya. Setelah sepuluh menit berlalu, sekarang Binar sudah dibonceng oleh laki-laki kesayangannya ini. Gadis itu takkan bertanya kenapa dan kemana laki-laki di depannya ini semalam.


“Kita ke bioskop yuk Bin.” Suara itu sampai ke telinga Binar tetapi gadis itu pura-pura tidak mendengarnya saja.


“Kita ke bioskop yuk yang.”


“Hayuk.” Pertanyaan itu dijawab ceria oleh sang gadis, Nino hanya bisa menggelengkan kepala. Sedangkan gadis di belakangnya senyum-senyum tidak jelas.


Akhirnya mereka sampai di mall tujuan, dimana mereka akan menonton film. Binar tidak segan-segan menggandeng lengan kekasihnya itu, selagi ada kesempatan. Cukup banyak siswa/siswi yang menonton hari ini sebab film yang ditunggu-tunggu sudah tayang empat hari yang lalu.


“Kamu mau nonton apa?” Tanya Nino pada gadis itu.


“Kamu?” Laki-laki itu menurunkan bahunya.


“Aku nanyanya kamu sayang.” Ujar Nino sambil memcubit pipi gadis itu.


“Ihh, Nino suka deh cubit-cubit. Dari pada cubit pipi aku bagus halalin aku.” Sontak kalimat dari bibit tipis gadis itu membuat Nino semakin geram pada gadis itu.


Dengan senyum yang mengembang dan tangan membentuk huruf V “Iyaiya, kita nonton minion aja ya” Ujar gadis itu agar mendapat persetujuan oleh laki-laki di depannya,

__ADS_1


Laki-laki itu menatapnya heran, “Aku kira kamu bakalan milih Dilan lo.”


“Aku kan udah ada kamu, buat apa milih Dilan. Ntar kamunya cemburu lagi.” Nino akhirnya mengacak rambut gadis itu. Ia sungguh beruntung memiliki gadis ceria itu meskipun banyak hal yang ia tutupi dari gadis itu. Energi positif ya ada pada gadis itu membuat moodnya membaik. Binar adalah satu-satunya obat untuk seorang Nino setahun terakhir ini, semenjak rumah tak lagi nyaman untuk ia tempati.


Hari ini bioskop lebih ramai dari biasanya, ruang theater pilihan mereka pun dipenuhi banyak siswa dan siswi SMA seperti mereka. Pemutaran film berlangsung seru dan menyenangkan. Binar melihat tawa yang tampak kosong dari seorang Nino, sepertinya kali ini masalah cowok itu semakin berat. Ingin rasanya gadis itu memeluk cowok yang kini masih setia menatap layar bioskop.


Pemutaran film selesai, Binar masih setia pada genggamannya. Ia masih belum memiliki keberanian untuk bertanya kepada cowok itu, sudah enam bulan terakhir Nino suka menghilanng seperti ini dan Binar tak perlu tau alasannya apa. Sebab ia paham tak setiap orang pintar cerita hal yang mungkin menyakitkan untuk dirinya.


“Aku tau kamu penasaran.” Ucap Nino setelah sampai di parkiran. Binar menggeleng pelan sambil mengisaratkan bahwa rasa penasarannya tak sebesar pemikiran Nino. Cowok itu membalasnya dengan senyum tipis sambil


memasangkan helm dikepala gadis itu.


“Nanti ya aku cerita, kita cari tempat yang adem dulu.” Gadis itu mengangguk lagi. Nino bersyukur bisa mengenal gadis yang sedang ia bonceng ini. gadis yang cukup sabar menghadapinya meskipun kadang menjengkelkan juga.


Salah satu pinggiran taman yang asri menajdi pilihan Nino, Binar tampak mengela nafas panjang sebab jarang sekali ia dapat menikmati udara sejuk seperti ini.


“Aku gak tau harus cerita darimana, cuma aku ngerasa capek buat hidup Bin.”


Deg. Jantung nimar berdegup kencang mendengar kata itu lagi. Sudah sekian lama Binar tidak mendengar keputusasaan cowok itu beberapa bulan belakangan ini. Binar memberanikan diri untuk mengelus punggung cowok yang kini sudah bergabung untuk duduk disampingnya.


“Namanya juga hidup No, gak semua sesuai keinginan kita.” Gadis itu mengela nafasnya untuk melanjutkan kalimat selanjutnya.


‘Kita juga ga bisa egoiskan, kadang menerima lebih menenangkan.”


Nino diam sejenak tanpa kata, mencerna apa yang baru saja gadis itu sampaikan. Lalu ia menegakkan kepala dan memutarnya ke arah gadis itu. Ia dapati senyum manis dibibir gadis itu. Akhirnya cowo itu memulai ceritanya tentang kejadian semalam, Binar mendengarkan secara seksama tanpa memotong pembicaraan cowok itu.


“Kenapa harus pergi?” akhirnya gadis itu bersuara setelah cowok dihadapannya selesai.


“Pusing.” Jawaban singkat. Pertanda bahwa cowok itu tak ingin lagi diajak bicara. Gadis itu hanya mengangguk pelan, ia tau cowok itu tak akan mendengarkannya jika ia melanjutkan percakapan ini. Mereka kembali diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.


“Kadang aku bingung, kenapa aku harus menjalani hal sepeti ini?” Binar tau kalimat barusan bukan sebuah pertanyaan yang harus ia jawab, ia hanya perlu mendegarkan keluhan cowok itu.


“Rasanya kematian jadi solusi paling tepat.”


Lagi. Kata itu. Binar beranjak dari duduknya dan tak lupa membersihkan roknya yang sedikit kotor karena tanah kering yang tadi ia duduki. Ia selalu kesal kalau Nino membahas kematian padanya.

__ADS_1


“Binnn...” panggil cowok itu dari arah belakangnya, Binar mempercepat jalannya hingga sampai di trotoar pada pinggir sisi selatan taman. Gadis itu melambaikan tangan memanggil tukang ojek yang sedang bersantai di persimpangan yang tak jauh dari sana. Nino tak lagi bisa mengejar gadis itu, ia hanya menghela nafas kasar. Ia salah, ia sadar gadis itu tak menyukai apa yang ia bicarakan barusan yaitu keputusasaan dan kematian.


__ADS_2