
“Pagi anak-anak.”
Ucapan selamat pagi Bu Sabariyah sebagai wali kelas disambut dengan semangat. Wanita paruh baya itu datang dengan seorang siswi dengan kunciranya yang rapi.
“ Anin, perkenalkan diri kamu.” Ujar Bu Sabariyah pada siswi di sampingnya.
“Hai, kenalkan saya Anindya Suherman. Semoga bisa berteman baik.”
“Kamu duduk di sana ya.” Bu Sabariyah menunjuk sebuah kursi untuk gadis itu.
Jam pelajaran membosankan untuk seorang Binar ditambah lagi dengan kebenaran ia meninggalkan ponselnya di rumah. Gadis itu beranjak dari kursinya setelah jam istirahat menuju kursi yang menopang bahu ternyaman baginya. Ia padangi laki-laki itu disetiap langkahnya. Laki-laki itu sedang berbicang sambil tersenyum pada siswi baru itu.
“Yang, ke kantin yuk.” Ajaknya pada laki-laki pemilik bahu ternyamannya itu.
“Cieeee, Binar. Udah berani yang-yang an nih di kelas.”
“Ada yang salah? Sama pacar sendiri kok.” Gadis itu memberi penekanan pada kata pacar, laki-laki dihadapannya senyum melihat tingkah itu.
“Kamu kenapa?” ujar laki-laki itu setelah beranjak dari kursinya sambil merangkul gadis yang sedang cemberut itu.
“Gak kenapa-kenapa kok.” Tampak jelas raut cemburu-cemburu lucu di wajah gadis itu.
“ Cemburu ni yee....” Gadis itu berlari ke arah tukang batagor kesukaannya, sementara laki-laki itu kearah penjual minuman. Seperti itulah tugas masing mereka saat bersama ke kantin. Sesampai gadis itu di meja dimana pujaan hatinya menunggu wajahnya langsung bercahaya melihat dua kotak susu stroberi disana, Nino memang mengerti bagaimana dirinya.
“Udah bisa senyum nih yang tadinya cemberut.”
“ Iya dong, kan dibeliin susu stroberi.” Laki-laki itu mengacak rambut gadis yang satu tahun belakangan mengisi hari-harinya. Mereka berdua melahap makanan masing-masing dan disertai dengan tertawa akibat kerecehan Nino yang semakin tinggi levelnya.
“Oh iya, nanti aku gak bisa nemenin kamu ya ke gramedia.” Ujar Nino lalu mendapat tatapan mengapa dari Binar.
“ Nanti papa ngajak aku makan malam sama sahabatnya, gak apa-apakan?” Gadis
dihadapannya ber-oh ria mendengar penuturan laki-laki itu lagi.
“ Iya, gak apa-apa. Toh biasanya kalau kamu latihan basket aku juga sendiri ke gramednya. Tenang, aku kan manusia kuat.” Nino tersenyum mendegar jawaban itu, seperti itulah Binar yang selalu membuatnya bahagia meskipun dengan hal kecil seperti sekarang.
Setelah jam sekolah selesai, Binar melanjutkan langkahnya ke gerbang sekolah sambil memesan ojek online yang selalu setia padanya disaat Nino tak ada untuknya. Gramedia adalah salah satu tempat ternyaman selain bahu laki-laki pujaannya.
Setelah beberapa menit dalam perjalanan gadis itu sampai pada tujuannya. Baru masuk pintu utama saja sudah terbau aroma buku buku baru yang menyenangkan, hanya saja hari ini gadis itu cuma dapat membeli dua buku saja sebab uang jajannya terpotong akibat harus mengembalikan buku milik perpustakaan yang ia hilangkan bulan lalu. Meyendihkan bukan?
Banyak buka terbaru yang membuat gadis bernama Binar itu bingung harus membeli novel yang mesti ia beli terlebih dahulu.
__ADS_1
"Duh, sumpah bingung gue." Gumamnya pada dirinya sendiri. Melihat kebingungan diwajah gadis itu seorang pegawai gramedia mendekatinya.
"Mau cari buku apa mba?" Binar menoleh pada sumber suara. Gadis itu tersenyum kikuk sebab ia masih kebingungan.
"Saya bukan bingung nyari mas, cuma binging mesti beli yang mana duluan." Ujarnya sambil menyengir. Laki-laki itu beranjak setelah menyaraninya membaca sinopsis di belakang novel yang membuatnya bingung.
Pada akhirnya gadis itu memutuskan membeli tiga buah novel, meskipun itu akan membuat jajannya semakin tipis. Tapi bagaimana lagi ia ingin memiliki novel itu sekaligus.
Setelah selesai memborong novel yang diinginkan, Binar memutuskan untuk duduk di Chatime untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Biasanya ia mengerjakan tugas di sini bersama Nino karena Nino pintar dalam pelajaran apalagi fisika menurutnya. Binar mengerjakan tugasnya sambil mendengarkan musik dari aplikasi berbayar miliknya. Tugas ini lumayan membuatnya berpikir keras sebab ada beberapa soal yang tidak memiliki petunjuk atau mirip dengan contoh soal pada buku paket miliknya. Tanpa sengaja gadis itu menoleh ke arah pembatas kaca dimana disana ia mendapati laki-laki yang ia kenal bersama seseorang yang juga familiar baginya. Disana ada Nino bersama siswi baru yang tadi pagi baru masuk dikelasnya, tetapi disana juga ada dua laki-laki paruh baya yang mendampingi mereka.
Binar tidak mengetahui apa urusan antara mereka dan itu juga bukan urusannya meskipun disana ada laki-laki
yang ia cintai. Gadis itu tiba-tiba menunduk saat keberadaannya hampir saja diketahui Nino, ia tidak ingin tertangkap basah disini meskipun ini sebuah kebetulan. Bukannya ia tak ingin mencapuri hanya saja jika itu patut ia ketahui laki-lakinya pasti akan memberi tahu seiring waktu berjalan.
Akhirnya Binar memutuskan untuk pergi dari sana, tanpa ia sadari langkahnya dari tempat itu diperhatikan oleh Nino hingga punggungnya menghilang.
Nino : Yang, dimana?
Sebuah pesan membuat sebuah senyum tercipta di bibir gadis itu.
Binar : Aku di rumah, kenapa? Rindu ya?
Dua
Tiga
Deringan ponsel itu membuat Binar memekik girang karena terkaan gadis itu benar.
“Assalamualaikum, ada yang bisa Binar bantu?”
“Aku rindu.”
“Jawab salam dulu sayang, baru rindunya.” Terdengar tawa kikuk di seberang sana.
“Hehe, waalaikumsalam. Aku rindu.”
“Kamu kan rindu terus, tiap hari malah.”
“Gimana gramedia hari ini yang?”
“Gak menarik, gak ada Nino. Tadi aku di gangguin sama mas-mas gramedia.”
__ADS_1
“Kok bisa?” Nino bertanya heran, tidak biasanya gadis itu mengadu padanya.
“Tadi masnya nanya-nanya aku mau beli buku apa, dia suka sok kenal sok dekat gitu sama aku. Jadi takut diculik aku.”
“Kamu belajar ngelucu sama siapa sih Bin, kok garing.”
“Ihhhh.” Teriak geram gadis itu sambil diiringi dengan tawa renyah Nino.
“Oh iya, tadi aku liat kamu di Chatime. Kenapa pergi setelah terciduk liatin aku?”
“Hah? Aku pergi bukan karena terciduk yaa.” Seketika sambungan telepon diputus secara sepihak. Hal ini sering terjadi dan sampai sekarang tak ia ketahui sebabnya. Gadis itu masih bertanya-tanya dengan segala asumsi yang berputar di kepalanya.
Sedangkan di seberang sana, laki-laki yang tadi memutuskan sambungan telepon secara sepihak sedang menijit dahi dengan tangan kanannya. Sungguh pusing ia mendengar hal yang selalu saja terjadi di rumah. Laki-laki itu beranjak mendekati tangga, disana terlihat kedua orang tuanya sedang bertengkar hebat seperti biasa. Nino menenteng sweater hitam yang selalu jadi andalannya ketika pergi dari rumah saat malam seperti ini serta dilengkapi ransel yang berisi seragam sekolahnya. Memang pergi dari masalah bukan solusi tetapi bertahan di tempat seperti neraka ini juga bukan hal baik baginya.
“Dasar murahan.” Kalimat itu sungguh mengiris hati seorang Nino, ingin rasanyamenampar mulut itu tapi ia hidup dari jerih payah laki-laki paruh baya itu. Mungkin banyak yang akan berpikir dirinya tak berperasaan membiarkan ibunya disakiti begitu saja, cuma ia seperti ini juga karena kekecewaan yang ia buktikan sendiri benar adanya. Nino beranjak ke garasi dimana motornya terparkir dengan gagah seiring dengan dirinya akan menancap gas untuk pergi, disana terdengar pekikan yang sangat keras. Terdengar lebih menyakitkan dari biasanya, Nino segera berlari ke arah dimana kedua orang tuanya bertengkar tadi. Dapat ia temukan disana wanita yang pernah ia puja-puja dengan tangan berlumuran darah.
“Papa keterlaluan.” Ujarnya sambil melayangkan sebuah tonjokkan keras pada bibir laki-laki paruh baya itu. Hal itu cukup membuat laki-laki itu kehilangan keseimbangannya tapi ia dapat mengontrol dirinya.
“Aku tau papa kecewa, cuma bukan seperti ini caranya pa.”
“Kamu mengerti apa?” Laki-laki paruh baya itu tertawa meremehkan Nino.
“Aku memang gak paham perasaan papa, hanya saja karma punya cara sendiri untuk membalas pa.” Nino beranjak dari hadapan ayahnya lalu membalut luka ditangan wanita itu dengan seragam yang ia simpan dalam tasnya. Nino menuntun mamanya ke kamar yang biasanya di tempati wanita itu.
“Makasih masih peduli sama mama ya No, dan maaf untuk kesalahan mama.” Kalimat itu mengalun lirih tepat di belakang punggungnya, rasanya sungguh menyesakkan. Ia melanjutkan langkahnya keluar ruangan sebab ia tak bisa menahan dirinya berlama-lama di ruangan itu.
Remaja laki-laki itu kembali ke garasi dan mengendarai motornya untuk menikmati udara segar serta udara kebebasan. Nino mengeluarkan ponselnya yang berbunyi, tertera beberapa pesan dengan pengirim Binar.
22.47
Binar : kamu dimana?
22.59
Binar : No, udah tidur ya?
23.40 Binar : Tidur yang nyenyak ya
Ingin rasanya Nino menghubungi gadis itu, hanya saja ia tak ingin menggangu. Meskipun ia tau gadis itu akan dengan senang hati mengangkat telepon darinya. Cukup ia nikmati sendiri kekecewaannya malam ini.
Semoga mimpi indah, Binar.
__ADS_1