
"Terima kasih untuk hari ini Mada," ucapku lembut. Kami baru saja tiba di rumahku dan Mada baru saja pamit pulang pada ibu dan ayah barusan. Mereka berterima kasih karena sudah mengajakku pergi jalan-jalan ke luar.
"Aku lah yang harusnya berterima kasih. Di kencan kita yang kedua, aku akan lebih berhati-hati mengajakmu pergi. Mungkin kamu bisa mereferensikan tempat yang cukup nyaman dan tidak memerlukan banyak energi," ujar Mada kemudian.
"Baiklah, aku akan menghubungimu nanti," jawabku pada Mada.
Mada pun masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan rumahku. Begitu mobil Mada tak lagi terlihat, aku langsung bersandar pada dinding rumah.
Sejak tadi aku memang menguatkan diri agar tidak tumbang di hadapan pria itu. Aku bahkan harus mondar-mandir ke toilet demi memastikan tak ada hal buruk yang terjadi. Namun, sepertinya pertahanan diriku hanya sampai di sini. Sebab, begitu pria itu pergi, seluruh tubuhku layaknya tertimpa berton-ton beban berat.
Sekuat tenaga aku berjalan masuk ke dalam rumah meski harus menyeret kakiku.
"Binar, kamu berdarah!" Teriakan ibu terdengar samar di telingaku. Sedetik kemudian, semuanya menjadi gelap.
...**********...
Aku sama sekali tidak terkejut saat membuka mata dan mendapati diriku terbaring di ranjang rumah sakit.
"Bu, Yah!" Dengan suara serak aku memanggil ayah dan ibu yang sedang berbicara dengan dokter jaga. Mereka bergegas menghampiri begitu mendengar suaraku.
"Binar, kamu sudah sadar, Nak? Apa yang sakit? Apa yang kamu rasakan saat ini?" Ibu dengan mata sembab melontarkan berbagai macam pertanyaan seraya mengelus lenganku lembut.
Aku tersenyum lalu menggelengkan kepala. "Hanya sedikit pusing saja," jawabku pelan.
"Binar, kita tidak bisa menundanya lagi. Kau harus segera melakukan perawatan." Dokter Benny tiba-tiba muncul dan langsung mencecarku. Pria telah menjadi dokterku selama hampir delapan tahun ini tampak frustasi.
Aku menggeleng tegas. "Tunggu sebentar lagi saja ya, Dok, aku baru saja bertemu dengan seseorang yang sudah kutunggu-tunggu."
Dokter Benny sontak memelototiku. "Kau pikir, hal ini bisa ditawar-tawar Binar!" serunya emosi.
__ADS_1
Aku meringis dan menatapnya dengan wajah memelas. "Ka, please ... kakak sendiri yang bilang kalau kesembuhanku bahkan tidak sampai enam puluh persen, lalu mengapa kakak tidak membiarkan aku menikmati waktu yang ada?"
"Lagi pula selama ini aku mampu bertahan dengan baik. Segala pengobatan sudah aku lakukan, operasi pun demikian. Namun, pada kenyataannya penyakit ini tetap kembali, kan?"
Dokter Benny yang juga merupakan kakak sepupu tertuaku dari pihak ibu terdiam. Aku tahu saat ini dia tengah bimbang. Di satu sisi dia pasti memahami perasaanku yang merupakan keluarganya, tetapi di sisi lain dia juga harus bersikap profesional demi kesembuhan pasiennya.
Aku menoleh ke arah ayah dan ibu. Ayah tampak mendukung keputusan Dokter Benny, sementara ibu hanya mengelus rambutku lembut sembari sesekali tersenyum.
"Baiklah! Tetapi ingat Binar, sekali lagi aku menemukanmu seperti ini, kau tidak akan pernah kuperbolehkan pulang ke rumah. Mengerti!" tegas Dokter Benny.
Aku mengangguk semangat dan langsung mengulurkan tanganku pada Dokter Benny. Beliau memelukku erat sekali.
Ahh, rasanya kerinduanku pada sosok seorang kakak sedikit terobati. Sepertinya aku akan meminta Genta untuk pulang secepatnya.
...**********...
Keesokan harinya aku sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Hari ini aku memutuskan untuk beristirahat selama satu atau dua hari sampai kondisiku benar-benar pulih, sebelum melanjutkan kencan kedua kami.
Tak lupa beberapa kotak makan siang aku siapkan untuk kami makan di sana.
Tidak seperti sebelumnya, aku meminta Mada untuk langsung bertemu di tempat alih-alih datang menjemput. Hal itu dikarenakan ayah yang bersikeras ingin mengantarku pergi. Aku tidak bisa menolak sebab ini adalah salah satu syarat yang beliau ajukan bila ingin tetap pergi keluar rumah bersama Mada.
Aku sendiri sebenarnya tidak keberatan dengan itu asal bisa meringankan kekhawatiran mereka.
"Janji untuk langsung menghubungi Ayah, jika terjadi sesuatu!" tegas ayah begitu kami sampai di depan gedung sekolah. Ayah yang kebetulan mengenal baik security sekolah memudahkan kami untuk datang berkunjung ke sana.
"Baik, Yah. Ayah tidak perlu khawatir. Aku berjanji yang kemarin adalah kebodohanku yang terakhir." Sepenggal janji meluncur dari bibir tipisku.
Ayah memeluk tubuhku lama sekali sebelum kemudian membiarkan aku keluar dari mobil. Sekali lagi aku meminta ayah untuk tidak menjemput.
__ADS_1
Setelah mobil ayah pergi, aku berjalan menuju halaman sekolah yang rupanya masih sama. Hanya saja kini ditanami berbagai macam jenis bunga warna-warni.
Aku mendudukkan diri tepat di bawah pohon sembari menunggu Mada. Tak butuh waktu lama, sekitar sepuluh menit kemudian Mada datang dengan motor matic-nya.
Aku sontak tertawa kecil karena motor itu adalah motor jaman SMA yang dimiliki Mada. Benda mati itu lah yang menjadi saksi bisu perjalananku bersama pemiliknya.
"Kamu terkejut?" tanya Mada.
"Tentu saja!" gelakku. "Aku sama sekali tidak menyangka, kamu masih menyimpan motor itu! Aku pikir, kau sudah menjualnya!"
"Motor ini memiliki banyak kenangan, jadi aku tidak sampai hati menjualnya. Kenangan tidak bisa dibeli dengan harga berapa pun."
Aku setuju dengan Mada. Aku pun memintanya untuk duduk bersama untuk menyantap makan siang.
"Bagaimana kalau mulai sekarang, kita kencan dengan motor saja," usulku tiba-tiba di tengah-tengah acara makan siang kami.
Mada mengerutkan kening. "Apa tidak masalah? Motor, kan, tidak senyaman mobil. Aku takut kamu akan kelelahan!"
Aku tertawa kecil. "Hei, aku tidak selemah itu! Lagi pula aku akan langsung bersandar pada punggungmu jika lelah. Boleh, kan?" Entah dari mana datangnya keberanian itu, aku tiba-tiba mengatakan hal yang sangat memalukan barusan.
Wajahku sontak memanas. Kulihat Mada tersenyum lalu tergelak kecil. "Kau benar-benar gadis yang berbeda Bi. Ke mana Binar-ku yang polos dulu?"
Wajahku semakin memanas kala Mada dengan gemas mulai mengacak-acak rambut panjanku.
Aiihh, perlakuanmu itu benar-benar membuatku asdfghjkl, Mada! Kamu bisa membuatku mati berdiri kalau begini!
...Apa kamu benar-benar tidak sadar bahwa hal-hal kecil yang kamu lakukan itu membawa dampak besar untuk jantungku?...
Terlebih, apa kau bilang tadi? Binar-ku? Binar-ku? BINAR-KU?
__ADS_1
Oh, my God, Madaharsaaaaa!
Berhenti memerah Binar bodoh! Kau benar-benar sangat memalukan!