
Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak tiga puluh menit yang lalu. Namun, beberapa murid sekolah masih terlihat menunggu di depan undakan gedung karena hujan masih setia mengguyur tempat mereka.
Binar yang hari ini lupa membawa payung juga turut menunggu di sana, duduk termenung di salah satu kursi panjang dekat lemari piala sembari meratapi nasibnya, karena sempat menolak ajakan Arunika, teman sebangkunya, untuk pulang bersama.
Maklum saja, hari ini dia kembali bangun kesiangan. Jadi, mau tidak mau Binar harus lamgsung berangkat ke sekolah tanpa sarapan dan tanpa payung yang tidak sengaja terlupa.
Binar kembali menatal jam dinding yang terpatri di sana dan kembali mengeluh. Tampaknya dia dan beberapa murid yang lain masih harus tetap bertahan di sana sedikit lebih lama. Namun, Binar tak ingin melakukannya. Dia harus segera pulang agar bisa membantu sang ibu membuat pesanan kue.
Ibunya yang hanya seorang ibu rumah tangga, terkadang suka menerima pesanan kue dari para tetangga, demi mengisi kekosongan. Saat itu lah Binar dengan senang hati membantu beliau di dapur.
"Apa aku terobos saja hujan ini? Toh, sudah tidak terlalu deras!" gumam Binar. Gadis itu bangkit dari kursinya dan berjalan perlahan menuju depan undakan.
Tangannya kemudian terulur keluar demi memastikan seberapa deras hujan tersebut.
"Tidak apa-apa lah!" seru Binar seraya mengangkat tasnya tinggi-tinggi sebatas kepala demi menghalau air hujan agar tidak membasahi kepalanya tersebut.
Tanpa pikir panjang, Binar bergegas lari menerobos hujan, diikuti beberapa teman lain yang ternyata melihat aksi Binar.
Binar berlari menuju halte bus yang terletak sekitar enam ratus meter dari sekolah. Tak lama kemudian, bus pun datang dan Binar naik ke dalam bus tersebut.
Beruntung, bus yang Binar tempati tidak terlalu ramai. Dia bisa mengambil kursi di barisan depan dengan nyaman tanpa berdesak-desakan. Jarak sekolah dari rumahnya yang memakan waktu hingga lima belas menit, membuat Binar beristirahat sejenak.
Sesampainya di tujuan, Binar turun dari bus. Hujan masih belum reda ketika dia menginjakkan kakinya di aspal.
"Untung sudah dekat!" gumam Binar. Saat dia hendak melangkahkan kaki, tiba-tiba sebuah payung besar menutupi hampir seluruh tubuhnya.
Binar yang terkejut bergegas mengalihkan pandangannya ke belakang. Gadis itu terkesiap, tatkala mendapati sosok Madaharsa, teman sekelas sekaligus pria yang dia sukai, ada di sana. Mada lah yang telah memayungi Binar.
"Mada! Kenapa di sini?" tanya Binar. Bus yang mereka naiki memang sama, tetapi rumah Mada masih melewati rumahnya. Jadi seharusnya Mada tidak turun di sini.
"Seragammu basah." Bukannya menjawab, Mada malah melirik lengan seragam Binar yang sudah basah kuyup.
Binar meringis dan langsung memegang lengannya. "Kamu mau ke mana?" tanya gadis itu lagi.
__ADS_1
"Mengantarmu sampai rumah."
Mendengar jawaban Mada, Binar terkejut. Dia pun dengan tegas menolak tawaran itu karena khawatir Binar akan terlambat pulang. Apa lagi dalam kondisi hujan seperti ini. Namun, rasanya berdebat pun percuma, sebab Mada malah memaksa Binar untuk ikut berjalan bersamanya.
Binar pasrah. Dia akhirnya ikut melangkah bersama Mada menembus hujan di bawah payung yang sama.
Dlaam hati sebenarnya Binar merasa senang, sebab pria yang tengah dekat dengannya ini lagi-lagi menaruh perhatian.
Binar dan Mada memang sudah cukup saling mengenal sejak kelas satu SMA, dan keduanya semakin dekat saat mereka menghuni kelas yang sama di kelas dua.
Kedekatan Binar dan Mada bahkan membawa kabar burung tersendiri. Apa lagi kalau bukan tentang hubungan mereka.
Binar yang memang menyukai Mada tentu tidak berharap banyak pada perkembangan kedekatan mereka, karena Mada sendiri sepertinya tidak menunjukkan tanda-tanda menyukainya. Bagi Binar, sifat Mada memang sebaik itu. Kendati dingin, Masa termasuk ramah pada setiap orang yang dikenalnya.
Keduanya berjalan perlahan tanpa suara. Sesekali Binar terlihat ingin bicara, tapi selalu diurungkan kembali setelah melihat raut wajah Mada yang cukup serius. Namun, sedetik kemudian, Binar tiba-tiba dikejutkan dengan aksi Mada yang tanpa permisi mendekap lengannya demi menghindari air hujan.
"Mendekatlah agar air hujan tidak membasahi lenganmu," pinta Mada sambil mengeratkan rangkulannya.
"Maaf sudah merepotkanmu," cicit Binar dengan wajah takut-takut.
Mada terdiam. Tiba-tiba dia menghentikan langkahnya, padahal rumahku hanya tinggal berjarak lima sampai enam rumah lagi.
Mada dengan lembut mengubah posisiku menjadi berdiri tepat di hadapannya.
"Ada apa?" tanya Binar dengan raut keheranan. Tinggi tubuhnya yang menjulang membuat gadis itu terpaksa mendongakkan kepala agar bisa melihat wajahnya.
"Bi, aku mau bicara," kata Mada.
"Bicara apa? Tidak bisa menunggu besok?" Binar kembali melontarkan pertanyaan padanya.
"Tidak bisa karena aku tidak ingin menunda-nundanya lagi!" Jawab Mada dengan nada tegas. Dari raut wajahnya, Mada tampak sedang serius ingin membahas sesuatu dengannya. Itu artinya, dia tak ingin diinterupsi atau digoda.
Binar pun menganggukan kepala.
__ADS_1
"Aku harap, kamu tidak marah padaku, Bi," ucap Mada ambigu, yang langsung membuat Binar bertanya-tanya dalam hati.
Apa sebenarnya yang ingin dikatakan Mada sampai-sampai membuat pria itu berubah serius? Belum lagi bibirnya yang sedikit pucat, entah karena cuaca yang dingin atau hal lainnya.
Mada berdeham sejenak lalu mengeluarkan sebuah jepit rambut mawar yang sangat cantik.
"Aku tidak akan berbasa-basi!" tegas Mada yang langsung menyematkan jepitan rambut tersebut ke rambut Binar.
Binar refleks memegangnya. Baru saja dia hendak mengucapkan terima kasih, Mada sudah kembali bersuara dengan lantang.
"Jadi lah kekasihku!"
Binar seketika termangu. Jantungnya seolah nyaris melompat keluar setelah mendengar pengakuan Mada yang sangat mengejutkan tersebut.
Bagaimana tidak, selama ini Mada tak pernah benar-benar menunjukkan ketertarikannya pada Binar. Itu lah mengapa Binar tak pernah mengharapkan apa pun dari hubungan mereka.
"Kau pasti sedang bergurau," ujar Binar sambil tertawa kecil. Namun, Mada sama sekali tidak menyambut tawanya atau pun berkilah. Dia malah memegang tangan Binar dan mengatakannya sekali lagi.
"Aku ingin jawabanmu sekarang juga!" desak Mada.
"Mengapa bisa? Aku bukan gadis yang pantas kamu sukai Mada," ujar Binar yang mulai menanggapi hal ini dengan serius.
Terang saja, sebab biar bagaimana pun Binar merasa sangat kecil dibandingkan dengan Mada.
"Aku tak butuh banyak pertanyaan Bi. Selama satu tahun kita dekat, aku mantap memilihmu menjadi kekasihku, dan aku membutuhkan jawabannya sekarang juga! " Mada lagi-lagi melontarkan pernyataan dengan nada tak enak untuk menutupi kecanggungan yang hadir di hatinya.
Kedua pun cukup lama terdiam, sampai Binar tanpa suara menganggukkan kepalanya dua kali tanda setuju.
Kendati tanpa suara, Mada tetap tahu bahwa Binar telah menerimanya. Beban berat yang selama ini dipikul Mada pun hilang seketika. Helaan napas keluar dari mulut pria itu.
Mada tanpa pikir panjang membawa Binar dalam dekapannya.
"Terima kasih."
__ADS_1