
"Kamu melamun Sayang?" tanya Artanti ketika baru menutup pintu lemari Binar. Wanita itu baru saja selesai meletakkan kebaya milik Binar yang akan dipakai besok.
Besok adalah hari pernikahan putri bungsunya dengan Mada. Rencana mereka untuk menikah akhir bulan mendadak berubah ketika Binar tiba-tiba meminta tanggal pernikahan dipercepat. Tak hanya itu saja, gedung yang akan mereka pakai pun sengaja dibatalkan karena kondisi Binar yang tidak memungkinkan untuk meninggalkan rumah sakit.
Alhasil, mereka harus puas meminjam ruang pertemuan rumah sakit untuk melakukan akad nikah sederhana yang akan dilanjutkan dengan acara makan-makan dan santunan untuk pasien-pasien kurang mampu di tempat itu.
Binar lah yang meminta hal terakhir dilaksanakan. Ia merasa uang tersebut lebih berguna jika dimanfaatkan dengan baik untuk kepentingan orang lain.
"Tidak Bu," jawab Binar tersenyum. Gadis itu kemudian meminta sang ibu untuk mendekat padanya untuk bermanja-manja.
"Tubuh Ibu nyaman sekali," ujar Binar seraya menyandarkan diri pada Artanti, saat wanita itu berdiri tepat di sebelah putrinya.
"Bolehkah aku meminta seperti ini setiap waktu?" tanyanya kemudian.
Artanti mengelus kepala Binar lembut. "Tentu saja boleh Sayang, Ibu akan menguatkan bahu dan tubuh Ibu supaya kamu bisa terus bermanja-manja seperti ini," ucapnya jenaka.
Binar tertawa kecil. Keduanya berbincang soal acara pernikahan yang terlaksana kurang dari beberapa jam lagi.
__ADS_1
"Aku takut Bu. Bagaimana kalau aku tak bisa menemani Mada lebih lama nanti?" kata Binar lirih.
"Jangan bilang begitu, Nak, kamu kuat dan kamu pasti bisa sembuh," ujar Artanti dengan mata yang kini telah basah. Wanita itu tahu benar apa yahg dikatakannya tak seratus persen terjadi, sebab Benny telah memberitahu semua keluarga soal kondisi Binar.
Dengan kondisinya yang saat ini, Binar terlalu beresiko menjalani operasi besar seperti transplantasi. Benny bahkan tak yakin donor itu akan datang tepat waktu, jadi pria itu meminta mereka semua untuk bersiap.
Walau Binar tidak tahu pembicaraan mereka, tetapi sepertinya ia menyadari kondisinya sendiri. Itu lah mengapa Binar meminta mereka untuk mempercepat waktu pernikahan.
Bunar tidak menanggapi perkataan sang ibu. Ia hanya terus memeluk beliau, meresapi tiap sentuhan penuh kasih sayang yang dicurahkan Artanti untuknya.
Sejujurnya Binar tidak perlu khawatir soal mereka berdua, sebab mereka masih memiliki Genta, sang putra sulung yang bisa menjadi penguat di keluarga.
"Sah?" Penghulu baru saja meneriakan perkataan tersebut kepada para tamu undangan yang datang menyaksikan akad nikah Mada dan Binar.
"SAH!" Teriakan sekaligus tepuk tangan para tamu yang terdiri dari keluarga, kerabat, teman dana para staf rumah sakit pun menggema.
Walau berada di kursi roda, Binar tampak cantik dengan balutan kebaya putih. Kali ini ia pun meminta dipakaikan hijab. Sementara Mada terlihat gagah dengan balutan jas putih yang senada dengan kebaya Binar. Keduanya tampak sangat bahagia, terlebih ketika mereka saling menyematkan cincin di jari manis masing-masing.
__ADS_1
Beberapa tamu undangan terlihat mengusap pipi mereka yang basah oleh air mata. Bagaimana tidak, kisah cinta mereka yang sempat kandas kini kembali menyatu. Namun, dalam kondisi yang sangat berbeda. Entah bagaimana selanjutnya, mereka tak berani memprediksi, yang jelas mereka semua berharap Binar bisa segera pulih seperti dulu.
"Binaar!" Arunika bersama beberapa teman Binar lainnya pun memeluk gadis itu beramai-ramai. Mereka bahkan melakukan sesi foto bersama hingga belasan kali. Semua terlihat bahagia, sebab Binar meminta mereka untuk tidak menangis di depannya.
Acara pun berjalan dengan sangat lancar.
Selama acara, Mada dengan setia selalu berada di sisi Binar. Sesekali pria itu bahkan menciumi kening dan juga tangan Binar, tak peduli meski mereka masih berada di hadapan para tamu undangan.
Mada pun sempat ingin membatasi para tamu yang hendak menghampiri sang istri untuk memberikan ucapan selamat, tetapi Binar mencegahnya.
"Aku takut kamu kelelahan," ujarnya khawatir.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja," jawab Binar.
Mada akhirnya mengalah dan membiarkan Binar menikmati acaranya sendiri.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Mada ketika mereka baru saja selesai menyalami para tamu undangan. Kini mereka tengah menyantap hidangan yang tersedia di sana.
__ADS_1
"Ya, aku baik," jawab Binar tersenyum. Tangannya yang lemah kemudian terangkat guna menggapai tangan sang suami. Namun, seketika itu juga Binar terkulai jatuh bersamaan dengan dirinya yang tiba-tiba saja pingsan.
Mada dan seluruh tamu undangan dilanda kepanikan. Dengan cepat pria itu mengangkat tubuh istrinya dan berlari meninggalkan tempat tersebut. Benny yang turut berada di sana segera meninggalkan makanannya. Begitu pula dengan keluarga Binar dan Mada.