Binar-binar Madaharsa

Binar-binar Madaharsa
Bab 23. Akhir Kisah.


__ADS_3

Jantung Mada seolah diremas kuat saat Benny dengan mata berkaca-kaca memberitahu, bahwa Binar kini mengalami koma. Kondisinya semakin menurun. Ia bahkan meminta Mada dan keluarga bersiap untuk menghadapi situasi terburuk.


Mada jatuh terduduk. Pandangan matanya kosong. Tangisan terdengar dari Artanti yang juga terkulai jatuh ke lantai. Wilhelmina yang ikut menangis berusaha menenangkan besannya tersebut.


Pernikahan yang seharusnya menjadi hari bahagia berubah pilu.


Selama hampir satu minggu, Binar tak kunjung sadar. Namun, pria itu dengan setia terus berada di samping Binar. Dengan telaten ia mengurus dan merawat sang istri menggantikan ibu mertuanya.


Saat Mada tertidur di atas tangan Binar, gadis itu tiba-tiba membuka matanya.


"Binar, Sayang!" pekik Mada. "Kamu ... kamu sadar! Sebentar aku akan memanggil Ka Benny!" seru pria itu kemudian.


Akan tetapi Binar segera menahannya dan menggeleng. "Nanti saja ... di sini dulu," ucap Binar dengan susah payah. Suaranya pun nyaris tidak terdengar.


Mada menurut. Ia menggenggam erat tangan Binar yang terasa dingin. "Kamu tidur lama sekali," ucapnya lirih sembari menciumi tangan sang istri.


"Maaf," jawab Binar seraya menatap Mada lekat-lekat.


"Jangan tidur lagi ya? Kamu membuatku takut, Bi," kata Mada.


Kali ini Binar menjawab dengan anggukan dan kedipan mata. Keduanya tak saling bicara selama beberapa saat. Mereka hanya sibuk saling menatap satu sama lain dengan penuh perasaan.


Mada meluapkan kerinduannya dengan kecupan-kecupan kecil di seluruh wajah Binar, sedangkan Binar membalasnya meski tidak terlalu kentara karena pergerakannya yang terbatas.


"Andai waktu bisa berputar, aku pasti akan memilih tetap tinggal di sini. Sebab dengan begitu, waktu kita tidak akan hilang, Bi," ujar Mada kemudian.


"Jangan berandai-andai. Justru aku akan menyesal jika kamu tidak bisa menggapai mimpu seperti sekarang ini." Binar sekali lagi tersenyum.

__ADS_1


Mada terdiam sejenak. "Bi, jangan pergi, tetaplah di sini dan temani aku, oke?" katanya dengan mata berkaca-kaca.


Binar mengangguk. "Aku tidak akan ke mana-mana dan akan selalu mengawasimu." Gadis itu mengecup punggung tangan Mada lalu berucap, "jangan tangisi aku, terus lah hidup dengan baik. Aku tidak akan rela melihatmu terpuruk Mada."


Mada mengeratkan genggamannya. "Bagaimana kalau aku tidak bisa melakukannya?" tanya pria itu dengan suara bergetar.


"Maka aku akan bersedih."


Mada bungkam. Ia menarik napasnya yang mulai terasa berat sembari menengadahkan kepala ke atas, sebelum akhirnya kembali menatap wajah pucat sang istri. "Aku berjanji akan hidup bahagia untukmu," ucap Mada.


Seulas senyum terbaik yang Binar miliki terpatri di wajahnya. Senyum yang mampu membuat hati Mada mengembang.


"Aku mencintaimu, Mada. Aku mencintaimu, Suamiku," ucap Binar.


"Aku juga. Aku lebih mencintaimu, Binarku, istriku, belahan jiwaku," balas Mada.


"Bukankah sudah kubilang untuk jangan tidur lagi?" Mada tak bisa menahan air matanya lagi ketika mendengar perkataan tersebut.


"Maaf." Binar perlahan memejamkan matanya tanpa menghapus senyum yang terus tersungging di bibir tipis gadis itu.


Mada menggeram, jiwanya terguncang hebat. Sembari terisak ia pun berkata, "tidur lah istriku, aku ikhlas."


Setelah berkata demikian, tak lama kemudian tangan Binar jatuh terkulai.


Detik itu juga tangis Mada pecah.


.......

__ADS_1


.......


.......


.......


.......


"Mada, kenapa kamu memilihku untuk jadi pacarmu?"


"Karena kamu sangat menyebalkan dan kurang ajar!"


"Eh, yang benar saja! Kapan aku seperti itu?"


"Setiap waktu. Kamu selalu menyebalkan dan kurang ajar karena terus menerus datang ke dalam pikiranku tanpa permisi!"


.......


.......


.......


.......


.......


...TAMAT...

__ADS_1


__ADS_2