
Ternyata tak hanya itu saja kejutan yang didapat Binar. Ada satu hal lagi yang bahkan membuat gadis itu terpaku tak sanggup bicara. Hanya air mata lah yang turun membasahi pipi, sembari terus memandangi Mada yang kini masih setia berlutut di hadapannya.
Sebuah cincin berlian yang menjadi impian Binar dan pernah Mada berikan waktu itu, kembali terulur di depan wajah Binar. Saat ini, detik ini, cincin tersebut digunakan untuk melamar dirinya.
Mada memang sengaja mengadakan surprise ulang tahun ini untuk Binar, karena pria itu sudah membulatkan tekad untuk melamarnya.
Semua orang yang menyaksikan hal tersebut terdiam. Mereka menanti jawaban baik yang keluar dari mulut sang gadis. Namun, alih-alih jawaban baik, Binar justru menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Aku tak bisa menerimanya!" jawab gadis itu tegas.
Semua orang yang berada di sana terkesiap, mereka lantas menoleh ke arah Mada yang tampak biasa-biasa saja. Agaknya pria itu sudah bisa menebak, bahwa Binar pasti tidak akan langsung menerimanya.
__ADS_1
Mada tersenyum. Tangannya yang bebas mengambil tangan Binar dan menggenggam erat. "Kali ini aku tidak akan membiarkanmu menolaknya!" tegas Mada. Cincin yang semula tersimpan rapi di dalam kotak berwarna merah kini dengan cepat tersemat di jari manis Binar.
"Mada!" pekik Binar.
"'Kamu harus menikah denganku!' itu lah yang aku katakan sebelumnya, kan? Jadi aku bukan sedang meminta persetujuan darimu, melainkan memberi perintah mutlak."
Air mata Binar semakin deras mengalir. Ia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman pria itu agar bisa membuang cincin tersebut. Namun, Mada menggenggamnya kuat-kuat.
"Aku tidak bisa Mada! Jangan jadi pria bodoh! Kamu lihat sendiri bagaimana kondisiku saat ini. Aku sakit Mada, aku sakit!" teriak Binar.
"Lalu mengapa masih mau melakukannya? Oh, karena kamu kasihan melihat kondisiku seperti ini, kan? Karena kamu iba melihatku tak berdaya, kan?" tanya Binar sembari mengusap air matanya kasar.
__ADS_1
"Aku tidak pernah menganggapmu demikian. Sejak kita kembali bersama, aku memang berniat mengajakmu kembali, tetapi keberanian itu belum muncul. Saat akhirnya aku memiliki nyali di makan malam itu, kamu malah menolaknya sebelum mendengar semua!" Kali ini Mada menatap Binar dengan tegas. Ia hendak menunjukkan bahwa apa yang baru saja dilakukannya adalah keseriusan. Tak ada embel-embel iba atau apa pun seperti yang ditudingkan Binar.
Binar bungkam. Ia tak mampu membalas tatapan Mada dan hanya tertunduk.
Mata mendekatkan diri, perlahan ia memeluk tubuh Binar yang terasa sangat ringkih. Tangis Binar pun pecah.
Helaan napas penuh kelegaan terdengar dari seluruh penghuni ruangan ini. Mereka pun bertepuk tangan dan mendatangi sepasang kekasih itu guna mengucapkan selamat. Para wanita yang menjadi teman-teman Binar bahkan membentuk koloni untuk memeluk gadis itu beramai-ramai. Tak lupa kedua orang tua Mada yang datang ke sana.
"Terima kasih sudah mau menerima Mada, Sayang," bisik Wilhelmina pada Binar.
"Aku lah yang seharusnya berterima kasih, Ma," balas Binar. "anak Mama bodoh sekali karena memilih gadis yang salah," sambungnya.
__ADS_1
Wilhelmina menggelengkan kepala. "Justru ia pandai karena telah memilihmu. Kebodohannya hanya karena terlalu lama meninggalkanmu dulu, Binar."
Binar termangu mendengar jawaban sanga calon ibu mertua. Dalam hati ia berharap jawaban beliau memang lah jawaban yang sebenarnya.