Bintangku

Bintangku
Runtuh


__ADS_3

Bintang menatap ke atas dengan perasaan hancur bersamaan dengan runtuhnya Bintang-Bintang dan remuk berkeping-keping. Kepingan-kepingannya mengenai tubuh mungilnya dan darah mulai menetes dari sekujur tubuhnya bersamaan dengan tetesan air matanya. Perlahan tatapannya mulai kabur dan gelap hingga dia tidak sadarkan diri, dia hanya merasa melihat seseorang yang datang ke arahnya.


"Yang mulia sebaiknya luka anda di obati juga" ucap Gry khawatir.


"Oke kamu bisa mulai membersihkannya biarkan medis yang lain menengani Bintang terlebih dahulu" perintah Aksana.


"Baik yang mulia" Gry segera menyiapkan air hangat didalam dua wadah beserta dua kain yang lembut.


"Mohon di tahan sebentar yang mulia" Gry mulai membersihkan luka yang ada di lengan kiri dan punggung Aksana, seketika air di wadah berubah menjadi merah dan Gry segera menyuruh pelayan untuk menyiapkan air hangat yang masih bersih.


"Aku tidak tahu aku bisa menyelamatkannya atau tidak Gry, aku datang terlambat" ucap Aksana penuh penyesalan.


"Yang mulia sudah melakukan yang terbaik semampu Anda, tapi kenapa yang mulia ikut terluka bukannya anda memakai payung pelindung?" tanya Gry heran.


"Semua cerita itu benar Gry, bahwa tidak ada yang mampu melawan kekuatan Bintang yang jatuh. Hanya dengan beberapa kali hantaman payung itu robek, dan hanya dengan sekali hantaman mampu membuat punggung dan tanganku terluka" Jawab Aksana.


"Kalau begitu bagaimana dengan Putri Bintang dia bahkan sudah bermandikan dengan darah?" Gry mulai cemas.


"Aku sudah mengatakannya tadi apakah aku bisa menyelamatkannya atau tidak" ucap Aksana ragu.


"Yang mulia tenang saja, kita sudah mengerahkan semua Medis terbaik untuk menanganinya dia pasti akan baik-baik saja" Gry meyakinkan.


Setelah hampir satu jam lebih Gry sudah selesai membersihkan, dan membalut luka Aksana. Tanpa menghiraukan saran dari Gry untuk bersistirahat Aksana pergi menuju ruangan dimana Bintang sedang ditangani.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Aksana pada salah satu medis yang sedang hilir mudik ruangan untuk menyiapkan peralatan.

__ADS_1


"Kami sedang berusaha semampu kami, Putri mengalami luka fisik dan luka hati yang berat jadi kami membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memberikan penanganan. Mohon maafkan saya, yang mulai saat ini belum diperkenankan masuk. Kami akan memberitahu jika keadaannya sudah stabil" ucap salah satu medis menjelaskan.


"Baiklah, tolong berusaha dengan keras untuk menyelamatkan Bintang. Karena dia sangat berarti bagiku"


"Baik yang mulia kami akan bekerja lebih keras lagi"


Aksana meninggalkan ruangan tersebut menuju ruang kerjanya. "Yang mulia untuk apa Anda keruang kerja Anda, Anda harus beristirahat terlebih dahulu" bujuk Gry.


"Saat ini aku tidak bisa beristirahat Gry. Tolong bawakan semua berkas tentang istana Bintang yang tehubung dengan blackhole meskipun hanya berita yang remeh" perintah Aksana sambil duduk dikursi kerjanya.


"Baik yang mulia" sebagai asisten yang sudah melayani Aksana sejak baru lahir Gry sudah paham bahwa jika Aksana sudah berambisi akan sesuatu dia tidak akan menyerah sedikitpun, yang bisa dilakukan Gry adalah tetap memberikan nasehat, mendukung dan membantu apapun keputusan Aksana.


6 jam berlalu sejak pertama kali Bintang di tangani oleh para medis barulah salah seorang medis menemui Aksana dan mengatakan bahwa kondisi Bintang sudah stabil meskipun masih kritis karena kehilangan banyak darah dan Aksana sudah bisa menemuinya.


Aksana bergegas ke ruangan dimana Bintang terbaring lemas dengan balutan putih menutupi hampir seluruh tubuhnya. Di balik balutan itu Aksana bisa melihat gadis yang sama, gadis yang hanya bisa dia lihat fotonya selama bertahan-tahun dan kini gadis itu berada di Planet nya.


"Aku tak tahu ini dimana?" ucapnya dalam hati.


Aksana bergegas pulang setelah mendapat telpon dari kastil bahwa Bintang menghilang, tak butuh waktu lama dia sudah sampai di Kastil karena menempuh perjalanan dengan sangat cepat. Aksana langsung menuju ruangan Bintang dan mendapati Bintang sudah tidak ada disana hanya tersisa bekas balutan-balutan luka yang masih berwarna merah darah di ranjang dan Ada yang berceceran dilantai.


"Dimana semua orang kenapa tidak ada penjaga disini?" tanya Aksana mulai emosi.


"Maafkan saya yang mulia, tadi saya memanggil semua penjaga untuk rapat koordinasi bulanan dan pada saat itu ada seorang medis yang menjaga Putri tapi medis itu keluar untuk mengambil persediaan obat yang mulai habis dan saat kembali Putri sudah tidak ada diruangannya" ketua dari para penjaga mencoba menjelaskan pada Aksana.


"Maaf yang mulia dari pengamatan saya sepertinya Putri sudah sadar dan berjalan keluar dari kamar, dia tidak akan pergi jauh karena kondisinya masih lemah" seorang medis yang tadi menjaga Bintang ikut menambahkan.

__ADS_1


"Kerahkan semua orang untuk mencari di setiap tempat di Kastil sekarang juga" perintah Aksana.


"Baik yang mulia"


Para penjaga, pelayan, medis, Gry dan Aksana menyusuri setiap kastil sambil memanggil manggil nama Bintang. 10 menit berlalu hasilnya masih nihil. Hingga Aksana teringat bahwa Bintang menyukai bunga mawar dan saat sedih dia akan berbicara dengan mawar mawarnya.


Aksana diikutin oleh Gry dan penjaga lainnya segera berlari ke area kebun kastil yang letaknya di belakang kastil dan kebun ini ditumbuhi oleh berbagai bunga, buah dan sayuran. Aksana tidak tahu apakah ada bunga mawar di kebun tersebut. Benar saja, sesampainya di kebun Aksana melihat Bintang yang masih mengenakan dress putih polos dengan noda darah di beberapa bagian sedang menatap ke arah bunga Anggrek.


Awalnya dia tidak percaya Bahwa gadis yang didepannya adalah Bintang, karena gadis ini memiliki rambut yang terurai sedangkan Bintang dipangkas habis rambutnya saat proses perawatan karena terdapat luka di bagian kepalanya. Aksana semakin yakin bahwa gadis didepannya adalah Bintang saat dia memanggil namanya perlahan.


"Bintang"


Bintang menoleh ke arah Aksana dan para penjaganya. Sorot mata Bintang berubah panik dan ketakutan.


"Jangan takut kami tidak akan menyakitimu, kamu aman bersama kami" Aksana mencoba mendekati Bintang perlahan sambil mengulurkan tangannya. Bintang terpaku dan tubuhnya bergetar seketika dia menyembunyikan wajahnya dengan lengannya dan terjongkok lemas.


"Hey, jangan takut. Kami tidak akan menyakitimu. Kami disini berusaha untuk membuatmu sembuh dan syukur lah sekarang kamu sudah membaik" Aksana ikut jongkok dan menyibak rambut Bintang yang terurai menutupi wajahnya. Tubuh Bintang masih bergetar hebat. Namun Aksana tidak menyerah. Aksana meraih lengan Bintang dan menggenggam tangannya.


"Kamu bisa melihatku dan merasakan bahwa aku bukan orang yang jahat" ucap Aksana perlahan.


Setelah beberapa detik Bintang mulai membuka wajahnya dan melihat ke arah Aksana dan para penjaganya yang tersenyum ke arahnya.


"Aku Aksana, raja dari Kastil di planet Pluto ini. Ya saat ini kamu sedang berada di planet Pluto. Kamu aman disini" ucap Askana masih menggenggam tangan Bintang.


Bintang kemudian berdiri dan menggenggam tangan Aksana dengan tangan satunya lagi dan mulai melihat masa lalu Aksana. Bintang memang mempunyai kekuatan mampu melihat masa lalu dan masa depan dari menggenggam tangan seseorang dan Aksana tahu itu.

__ADS_1


Setalah hampir 3 menit Bintang melepaskan genggamannya dan mulai menatap ke mata Aksana dengan tatapan yang halus.


"Sekarang kamu percaya padaku kan?" Aksana tersenyum pada Bintang.


__ADS_2