
Cahaya lampu memantul di atas air danau dengan indahnya. Bintang dan Aksana duduk di sebuah balkon di lantai 3 yang mengarah ke danau sehingga Bintang bisa menikmati pemandangan indah itu.
"Silahkan yang mulia, Ratu" ucap seorang pramusaji diikuti dengan beberapa pelayan dibelakangnya dengan membawa beberapa makanan dan menatanya dimeja tempat Bintang dan Aksana duduk. Bintang melihat ke makanan dengan mata berbinar. Aksana merasa senang karena Bintang mulai tidak takut dengan orang asing. Meskipun tadi sepanjang jalan menuju balkon dari pintu masuk Bintang menggenggam sangat erat tangan Aksana tapi Bintang berusaha untuk bersikap tidak takut.
"Steak disini sangat enak, cobalah" Aksana menyiapkan garpu dan pisau di piring Bintang. Tiba-tiba Bintang teringat akan adik bungsunya yang juga sangat menyukai steak membuat hatinya terasa sakit.
"Apa Ratuku tidak suka?" Aksana yang melihat raut sedih Bintang bertanya khawatir.
"Kalau kamu tidak suka aku bisa menggantinya dengan menu yang lain" ucap Aksana lagi.
Bintang menggeleng, dia mulai memegang garpu dan pisau kemudian memotong daging dengan ukuran kecil lalu memasukkannya ke dalam mulut. Beberapa saat kemudian mata Bintang berbinar kembali setelah mengunyah enaknya steak. Bintang kembali memotong dagingnya membuat Aksana bernapas lega.
"Syukurlah kalau kamu suka" Aksana juga mulai menikmati steaknya.
Sekitar 30 menit kemudian makanan sudah habis yang langsung diberesi oleh para pelayan restoran dan tinggal sisa makanan penutup dan anggur merah. Bintang yang menyukai mangga langsung melahap habis puding dengan mangga smoothies membuat Aksana terkekeh dan memberikan makanan penutup miliknya. Bintang menatap ragu seakan bertanya Bagaimana denganmu?
"Makanlah aku sudah terlalu kenyang" ucap Aksana.
Bintang langsung melahapnya lagi hingga habis tak tersisa.
"Ternyata Ratuku ini sangat doyan makan ya" Aksana mencubit pipi kanan dengan gemas. Namun Bintang tak pernah protes akan gal itu.
Bintang berdiri dari duduknya dan berjalan hingga ujung balkon dengan aksen bunga berwarna emas mewah, menatap ke arah danau dengan beberapa hiasana lampu dan kemudian menatap ke arah langit. Kosong. Tak ada apapun disana, hanya Bulan yang terlihat. Aksana menghampiri Bintang dan memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Maaf aku tidak bisa mempertahankan Bintang untuk tetap bersinar disana" ucap Aksana.
Bintang membalikkan tubuhnya dan memeluk Aksana dengan erat seakan menyampaikan tidak apa-apa. Aksana juga memeluk tubuh Bintang dengan erat.
"Apa kamu tahu bahwa aku sudah menyukaimu sejak aku berusia 15 tahun" Aksana bercerita tentang awal mula menyukai Bintang hingga saat ini, sama persis seperti apa yang di ceritakan Gry sore tadi.
"Jadi jangan dengarkan mereka yang menganggap kalau aku menikahimu karena kamu dari Kerajaan terbesar kedua di semesta atau hanya karena aku sekedar balas budi dan kasihan padamu. Karena siapapun dirimu, apapun latar belakangmu, dan bagaimanapun dirimu itu semua tidak bisa menghapus rasa cintaku padamu" ucap Aksana sambil mengusap-usap rambut Bintang. Bintang kemudian mengeratkan Pelikannya membuat Aksana kesulitan bernapas.
" Hei Iya aku tahu kamu juga mencintaiku tapi aku sulit bernapas sekarang" pekik Aksana.
Bintang langsung melepaskan pelukannya dan kini hanya Aksana yang masih memeluknya dengan longgar.
"Tidak apa-apa aku senang kamu memelukku. Kamu mau memelukku sepanjang hari juga boleh tapi jangan sekuat itu juga. Kamu bisa membunuhku karena kehabisan napas." Aksana terkekeh.
"Maafkan aku Aksana, aku belum bisa berbicara denganmu" ucap Bintang membatin.
Jam menunjukkan pukul 11.00 pada saat Aksana dan Bintang tiba di kamar mereka. Aksana langsung mengganti pakaiannya begitu pun dengan Bintang. Setelah berganti dengan dress tidur berwarna biru muda Bintang duduk di kursi meja riasnya dan mulai membersihkan wajahnya. Aksana keluar dari kamar mandi, menghampiri Bintang, mengumpulkan rabut Bintang ke arah kanan kemudian mencium leher Bintang disebelah kiri.
"Aku harus ke ruang kerja untuk persiapan jadwal besok. Ratuku tidak perlu menungguku. Tidurlahh terlebih dahulu. Aku akan menyusul setelah selesai. Malam ini kamu hebat Ratuku." Aksana kembali mencium leher Bintang dan kemudian berlalu meninggalkan kamar.
Gry masih mengurus beberapa berkas saat Aksana masuk ke ruang kerja. Gry berdiri dan menunduk hormat. Aksana kemudian duduk di tempat duduk kerjanya.
" Apa semua sudah siap Gry, bagaimana dengan berkas tanah ladang sayuran yang ada di utara?" tanya Aksana tanpa basa basi langsung mencecer Gry untuk mengecek apakah semua benar benar sudah siap. Aksana memang selalu seperti itu.
__ADS_1
"Semua sudah siap yang mulia, saya hanya sedang berangsur menyiapkan berkas untuk rapat umum minggu depan" jawab Gry pada pertanyaan terakhir Aksana.
"Oke baik lah bagus, besok sepertinya kita akan pulang malam lagi" Aksana menghela napas menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursinya dan memejamkan matanya.
"Yang mulia" panggil Gry.
"Ada apa Gry? Katakanlah" Aksana masih belum membuka matanya.
"Ini soal pesta semesta yang mulia" ucap Gry ragu. Aksana membuka matanya.
"Ah iya aku juga harus memikirkannya. Menurutmu bagaimana Gry apa kita harus datang?" Aksana bertanya pada Gry membuat Gry salah tingkah harus menjawab apa.
"Saya akan mencoba memilah dampak positif dan negatifnya yang mulia" jawab Gry.
"Baiklah, katakan" perintah Aksana menegakkan tubuhnya dari sandaran kursi.
"Dampak negatifnya adalah mereka akan tahu bahwa selama ini kita bersembunyi dan membuat rumor bahwa Pluto sudah menghilang. Setelah tahu kita masih ada akan ada musuh dari beberapa planet yang mengincar kita. Jika Ratu ikut hadir disana dia bisa bertemu dengan blackhole dan akan membuat semesta gempar karena anggota Kerajaan Bintang masih ada yang Selamat dan sekarang menjadi Ratu di Planet Pluto. Berita semesta dan orang orang akan membicarakan Ratu dan itu bisa membuat Ratu tertekan. Poitifnya adalah dari sebuah gunung yang meletus akan membuat tanah semakin subur, dari semua kejadian negatif tadi akan membuat planet kita bisa bekerjasama dan berkontribusi dengan dunia luar, kita tidak perlu lagi memalsukan identitas untuk bisa masuk atau sekolah ke planet lain. Yang paling penting adalah akan ada harapan bahwa Kerajaan Bintang bisa bangkit kembali. Karena Kerajaan Bintang sangat berdampak besar terhadap semesta" jelas Gry.
"Jadi apa yang akan kau pilih Gry?" tanya Aksana membuat Gry menghela napas berat
"Saya akan memilih gunung meletus itu menyuburkan tanah setelahnya yang mulia" jawab Gry menunduk.
"Baiklah, kalau begitu kita harus mempersiapkan diri sebelum datang ke pesta semesta dan untuk apa yang akan terjadi nanti setelah pesta selesai, kita ikuti saja alurnya" balas Aksana membuat Gry terheran heran kenapa jawaban Aksana sama dengan jawaban Bintang tadi sore. Apakah ini maksud yang di katakan Bintang bahwa semua semua akan berjalan sesuai alurnya dan juga masa depan tidak bisa dirubah. Gary semakin merinding akan semua hal itu apalagi membsyangkan apa yang akan terjadi dimasa depan. Bintang pasti sudah tahu akan masa depan jadi Gry sedikit tidak khawatir lagi.
__ADS_1