Bintangku

Bintangku
"Jangan takut..."


__ADS_3

Bintang tidak sempat menjawabnya tubuhnya terasa seringan kapas, pandangannya gelap dan akhirnya dia jatuh pingsan, dengan sigap Aksana meraih tubuh Bintang sebelum jatuh menyentuh tanah dan kemudian membopongnya kembali keruangannya.


Aksana berdiri di dekat jendela kamar dimana Bintang masih terlelap disana. Medis mengatakan bahwa kondisi Bintang kembali kritis karena kehilangan hampir seluruh energinya tapi sekarang sudah dalam kondisi stabil. Aksana memandang keluar dengan pikiran yang terus bergemuruh. Banyak hal yang harus dia lakukan sebagai seorang raja dari planet Pluto dimana planet yang sudah di anggap tidak ada, namun faktanya mereka memang sengaja bersembunyi karena merasa lebih aman jika bersembunyi.


"Ibu..." suara lirih Bintang membuat lamunan Aksana buyar dan langsung duduk disisi ranjang dekat dengan Bintang.


"Sepertinya dia hanya mengigau lagi" Aksana menghela napas panjang saat tahu bahwa gadis didepannya belum akan terbangun.


'Ini sudah hampir 1 bulan tapi kamu belum juga bangun. Semangat Bintang aku tahu kamu pasti kuat' Aksana menggenggam tangan Bintang sembari membatin dari hatinya. Berharap Bintang bisa melihat dari genggamannya.


Aksana terkejut saat merasakan tangan Bintang meremas tangannya dengan sedikit kuat.


Perlahan-lahan mata Bintang mulai terbuka.


Ia terperanjat melihat Aksana sudah berada didepannya. Bintang langsung menarik tangannya yang sedang digenggam Aksana dan kemudian duduk merapatkan diri di ujung ranjang menjauhi Aksana.


"Jangan takut, ini aku Aksana yang sudah menolongmu. Kamu juga sudah melihatku dari tanganku" Aksana menatap halus mata Bintang. Bintang teringat kejadian di sebuah taman sebelum dia kehilangan kesadaran. Bintang menatap wajah Aksana perlahan dan membuka dirinya perlahan. Kini dia sudah bisa duduk dengan normal. Tapi Aksana masih bisa melihat aura ketakutan dan trauma mendalam dari mata Bintang yang membuat hati Aksana juga terasa sakit.

__ADS_1


"Apa kamu lapar ?" tanya Aksana mengingat selama satu bulan hanya cairan infus yang masuk ke tubuh Bintang.


Bintang mengangguk pelan. Aksana tersenyum dan kemudian memanggil seorang pelayan. Bintang kembali meringkuk ketakutan ketika melihat pelayan itu mendekati ke arahnya, membuat pelayan tersebut menghentikan langkahnya.


"Tidak apa-apa dia pelayanku, dia tidak akan menyakitimu. Dia akan mengambilkan makan untukmu katamu kamu tadi lapar kan ?" Aksana menggenggam tangan Bintang meyakinkannya.


Bintang mengangguk lagi dan perlahan membuka dirinya.


"Tolong bawakan makan siang kesini" perintah Aksana pada pelayan tersebut.


"Baik yang mulia" pelayan tersebut menunduk hormat dan kemudian berlalu dari kamar Bintang.


Bintang bisa melihat Aksana kecil yang sedang berada di Istana Kerajaan Bintang dan dia sedang memandangi foto-foto yang terpajang didinding salah satunya adalah foto dirinya yang sedang tersenyum manis menggenggam sebuah pot kecil berisi bunga mawar pemberian Ibunya.


Kemudian Bintang melihat saat Aksana remaja bertemu dengan ayah Bintang dan mengatakan bahwa Aksana cocok jika menjadi menantunya dari salah satu putrinya yakni anak ke 7 dan itu adalah Bintang. Setelah itu Bintang melihat ayahnya membela planet Pluto agar tidak terjadi peperangan yang bisa memusnahkan Planet Pluto. Kemudian Bintang melihat Aksana menolongnya dari runtuhnya para Bintang Bintang hingga diapun terluka karenanya. Bintang melihat Aksana terus berada disampingnya saat Bintang tidak sadarkan diri. Di masa depan BintangĀ  melihat Aksana menggenggam tangannya dan berjalan menuju cahaya putih yang begitu silau.


Bintang membuka matanya perlahan yang sudah terdapat genangan air disana entah kenapa air matanya keluar begitu saja dan semakin deras membanjiri pipinya. Aksana mengusap air mata di kedua pipi Bintang kemudian memeluknya. Bintang semakin menangis tersedu tubuhnya bergetar namun dia sama sekali tidak bersuara. Aksana terus menerus mengusap rambut dan punggung Bintang dengan lembut.

__ADS_1


Diluar sedang gerimis ketika Aksana tengah sibuk dengan segala dokumen di atas meja kerjanya. Ada Gry juga disana yang juga sedang mengecek beberapa dokumen.


"Apakah tidak ada cerita apapun yang Yang mulia pernah dengar" tanya Gry.


"Aku hanya pernah mendengar kalau blackhole adalah tempat orang orang yang dibuang, jadi menurutku disana bersarang dendam dan juga amarah yang menyala-nyala." ucap Aksana.


"Kalau itu semua orang disemesta ini juga sudah tahu Yang mulia, apa menurut yang mulia apa yang terjadi dengan Istana Bintang ada kaitannya dengan balas dendam?" mata Gry menyicip curiga.


"Bisa saja, tapi ini bukanlah hal yang biasa. Kerajaan Bintang tidak bisa di tembus dengan mudah tapi dia berhasil memusnahakanya dalam waktu setengah bulan saja. Orang seperti apa Kira-kira yang ada dibalik semuanya. Dia pasti bukanlah orang yang sembarangan" Jelas Aksana.


"Hingga saat ini bukti kuat mengarah pada salah satu tahanan di blackhole yang buangan dari Kerajaan Bintang, dia bahkan mengakui kalau dia punya dendam yang besar padpa Raja Sirius karena sudah membuangnya, tapi saat aku melihatnya di persidangan kemarin orang seperti dia tidak mungkin mempunyai kekuatan yang luar biasa itu bahkan dibandingkan dengan Putripun sepertinya dia akan kalah"


"Hmm... Benar Gry, tapi Bagaimana pun juga sidang sudah ditutup dan lagi Matahari sedang mencari cara untuk bisa membangkitkan kembali Kerajaan Bintang dengan mencari orang orangnya yang selamat. Kita tetap harus berhati-hati untuk menelisik masalah ini lebih jauh. Saat ini posisi Bintang juga tidak aman karena kita belum tahu motif asli dibalik ini semua."


"Apa Putri belum juga mau bicara, aku rasa dia lebih tahu dibandingkan dengan semua dokumen dokumen ini yang mulia?" tanya Gry membuat Aksana menggeleng sedih.


"Kita tidak bisa terlalu memaksanya Gry, dia mempunyai luka hati yang lebih dalam dari blackhole. Lagi pula aku tidak bisa melihatnya lebih tersiksa lagi dan membuat hatiku lebih sakit lagi" ucap Aksana.

__ADS_1


Gry terdiam tak lagi menanggapi, semenjak tragedi Kerajaan Bintang Gry melihat rajanya itu berusaha mati matian untuk membuat Putri Bintang pulih kembali. Dia bahkan jarang tidur dan sering terlambat makan untuk turun tangan mengurus Putri Bintang dan juga berusaha mengungkapkan kebenaran yang terjadi dari tragedi tersebut.


Bintang menyodorkan tangannya ke tetesan gerimis di teras belakang tempat Aksana membuatkan taman mawar kecil dilengkapi dengan alat membuat parfum. Karena Bintang suka membuat parfum dari berbagai varian bunga dan tumbuhan lainnya. Bintang memejamkan matanya merasakan kesejukan tetesan air hujan yang kini menggenang di tangannya. Dia teringat dulu sering bermain hujan dengan adik bungsunya anak terakhir di Kerajaan Bintang yakni Putri Gemini. Dari ketujuh saudaranya Bintang memang sangat akrab dengan Gemini dan juga Leo seorang pangeran anak ke 5 yang selalu baik padanya dan sering ngobrol hingga berjam-jam lamanya. Namun semuanya lenyap ketika semua orang di Kerajaan Bintang di bantai, Praaakkkk! Bintang langsung membuka matanya masih sangat ingat bagaimana bunyi suara Bintang Bintang yang berjatuhan dan itu suara yang sangat mengerikan baginya. Dia tidak mau mengingatnya walau kadang ingatan itu muncul tanpa ia minta. Bintang menarik tangannya dari tetesan air hujan dan kemudian berjalan masuk menuju kastil diringi dengan 3 pelayan setianya yang selalu membuntuti kemanapun Bintang berada sesuai dengan perintah dari Aksana. Bintang berjalan perlahan dengan tatapan kosong seperti biasanya sampai sampai orang orang disekitarnya seakan tak terlihat olehnya.


__ADS_2