
5 menit kemudian Bintang sampai didepan pintu ruang kerja Aksana dan kemudian mengetuk pintunya perlahan.
"Siapa?!" teriak suara Gry dari dalam.
"Tuan Putri Bintang yang Mulia" jawab salah satu pelayan yang bersama Bintang. Aksana beranjak dari tempat duduknya dan menyuruh Gry untuk melanjutkan tugasnya. Cekreeekkk, Aksana membuka pintunya dan mendapati Bintang yang tidak biasanya datang kepadanya biasanya Aksanalah yang selalu datang dimanapun Bintang berada.
"Bintang ada apa? Kenapa kamu datang kemari?" tanya Aksana menatap mata Bintang yang masih kosong. Bintang terdiam kemudian meraih tangan Aksana dan menggenggamnya. Aksana menyuruh semua pelayan untuk meninggalkan mereka berdua. Bintang kemudian meletakkan tangan Aksana ke pipinya dan menyandarkan pipinya ke telapak tangan yang hangat milik Aksana.
"Kenapa tanganmu dingin? Apakah kamu sakit?" Aksana menyentuh kening Bintang dengan tangan satunya tetapi tidak panas0.
Bintang melepaskan tangan Aksana dari pipinya kemudian menggeleng dan kemudian menunjuk tetesan gerimis diluar jendela yang semakin deras.
"Tanganmu terkena air hujan, diluar dingin kita masuk kekamar saja ya" Aksana menggenggam tangan Bintang menuntunnya kekamar, Bintang hanya mengekor di belakangnya.
Sesampainya di kamar Bintang didudukkan di sofa panjang didepan TV kemudian Aksana duduk di sampingnya setelah menyalakan penghangat ruangan.
"Apa kamu ingin menonton TV bersamaku?" tanya Aksana.
Bintang menggeleng.
"Apa kamu lapar ingin makan sesuatu?" tanya Aksana lagi.
Bintang kembali menggeleng. Tiba-tiba dia merebahkan kepalanya di pangkuan Aksana membuat Aksana sedikit terkejut tapi dia tidak menolaknya.
__ADS_1
"Kamu mengantuk ya, dan kamu ingin aku menemanimu tidur? Baiklah kamu boleh tidur dipangkuanku aku akan menemanimu disini hingga kamu terbangun" ucap Aksana tersenyum.
Bintang memejamkan matanya, Aksana mengusap usap lembut rambut lurus Bintang. Bintang terduduk dan menatap mata Aksana hingga keluarlah air matanya. Aksana mengusap lembut air mata dipipinya.
"Tidak apa-apa jangan memaksakan dirimu untuk mengatakan kepadaku, aku akan terus bersabar dan akan selalu ada saat kamu sudah siap untuk mengatakannya" ucap Aksana lembut.
"Jangan menangis lagi ya, aku sudah bilang kalau menangis akan membuat wajahmu membengkak seperti anggur" Aksana mencubit pelan kedua pipi Bintang membuat Bintang mendongak ke wajahnya dan menatap matanya dengan tatapan memelas, membuat Aksana melepaskan cubitannya.
"Ayo sekarang tidur. Ini sudah waktunya istirahat siang" Aksana merebahkan kembali Bintang ke posisi sebelumnya yakni tidur di pangkuannya. Aksana kembali mengusap usap rambut Bintang. Dia tahu bahwa gadis ini mempunyai berjuta kata yang ingin dia katakan tapi kata-kata itu sulit untuk keluar dari mulutnya. Hingga Bintang hanya bisa terdiam dan menatap mata Aksana dalam-dalam. Ini bukan yang pertama kalinya Bintang melakukan Hal tersebut tapi Aksana tidak mau memaksanya. Melihatnya sekarang sudah membuatnya tersiksa, dia tidak mau melihat Bintang semakin tersiksa lagi karena paksaannya.
3 bulan berlalu setelah tragedi runtuhnya Kerajaan Bintang yang membuat Bintang mengalami trauma berat hingga tak mampu berbicara dan masih sering ketakutan saat bertemu dengan orang baru, hingga beberapa orang menganggapnya sudah kehilangan kewarasan. Hal ini diperparah saat Aksana memutuskan untuk menikahinya satu pekan yang lalu. Membuat banyak masyarakat planet Pluto yang menyayangkan kalau Aksana menikah dengan gadis gangguan jiwa. Tapi Aksana tak peduli akan hal itu, baginya Bintang hanya butuh waktu untuk bisa kembali. Dia tidak gila dia hanya terlalu takut dan memilih bersembunyi di dalam dirinya yang paling dalam. Sebelum tragedi Bintang adalah seorang gadis yang periang, pintar dan juga ramah. Namun setelah tragedi itu senyumnya seakan hilang dan tak tahu kemana harus mencarinya. Sepenuhnya bukanlah salah Bintang, jika Aksana ada diposisinya mungkin dia juga akan menjadi seperti Bintang sekarang.
"Dimana Bintang?" tanya Aksana saat baru saja kembali dari kunjungan luar kepada pelayan yang menyambutnya didepan pintu masuk kastil.
"Gry hari ini istirahat dulu, aku akan memeriksa dokumen perdagangan setelah makan malam, dan atur juga jadwalku besok" perintah Aksana pada tangan kanannya itu sambil berjalan masuk.
"Baik yang mulia, saya akan menyiapkan semuanya. Yang mulia bagaimana dengan undangan pesta semesta? bagaimanapun mereka menuliskan planet pluto disana jadi mereka pasti tahu jika planet kita masih ada" tanya Gry masih membuntuti Aksana.
Aksana menghentikan langkahnya dipersimpangan dimana Gry akan berhenti mengikutinya karena mereka beda arah.
"Tentu saja mereka mengundang kita, karena itu perintah langsung dari Matahari. Aku tidak tahu apa maksudnya ingin membuat semesta tahu bahwa kita masih ada jadi kita harus tetap menyelidiki hal ini sebelum memutuskan untuk datang ataupun tidak" balas Aksana.
Gry hanya menggangguk dan menunduk hormat saat Aksana berlalu meninggalkannya menuju taman bunga milik Bintang.
__ADS_1
Aksana bisa melihat Bintang dari koridor kastil menuju ruang tamannya sedang fokus dengan botol kaca dan pipet ukur ditangannya. Terlihat Yasi, Arun, dan Weki membantunya. Semenjak ditunjuk sebagai pelayan yang 24 jam disamping Bintang mereka diperlakukan dengan baik oleh Bintang dan mendadak menjadi akrab layaknya seorang teman karena Bintang tidak pernah menganggap mereka Pelayannya, bahkan Bintang pernah mengobati luka lutut yang di alami Weki karena terjatuh setelah kepleset dari kamar mandi. Hal itu membuat Aksana yakin meskipun sekarang Bintang berbeda tetapi sifat aslinya yang ramah masih tetap ada pada dirinya.
Para pelayan mendadak berhenti dari aktivitasnya dan menunduk hormat ketika Aksana datang. Bintang langsung berhambur memeluknya.
Aksana lalu menyuruh pelayan untuk melakukan pekerjaan lain dan ia akan bersama dengan Bintang hingga malam nanti. Mereka menurut sambil tersenyum senang meninggalkan Bintang dan Aksana.
Aksana menatap lembut wajah Bintang dan mengusap rambutnya.
"Apa kamu sudah makan siang" tanyanya.
Bintang mengangguk. Aksana mencium tangan Bintang yang berbau harum bunga mawar karena dia memang sedang membuat parfum dari ekstrak bunga mawar.
"Hmm baunya harum, aku menyukainya" ucap Aksana. Bintang menatap Aksana dengan ekspresi lembuh dan teduh membuat semua lelah dan beban yang sedang dipikulnya seakan menghilang.
"Kita istirahat dulu yuk, besok bisa dilanjut lagi membuat parfumnya" ajak Aksana mengusap pelan pipi Bintang.
Bintang mengangguk dan kemudian menggenggam tangan Aksana untuk berjalan bersama menuju kamar mereka.
Sesampainya di kamar Bintang duduk di sofa panjang yang menghadap ke TV. Aksana menghidupkan TVnya dan pergi mandi meninggalkan Bintang sejenak yang kini menatap layar besar didepannya. 15 menit kemudian Aksana keluar dari kamar mandi dengan rambut masih basah dan handuk yang melingkar di lehernya. Aksana memakai setelan rumah dengan kaos hitam dan celana panjang Abu muda. Dia duduk disamping kanan Bintang dan kemudian mengumpulkan rambut Bintang disamping kiri sehingga terlihat lah leher putih bersih Bintang. Entah kenapa Aksana sangat suka melihat leher Bintang saking sukanya dia tidak memperbolehkan orang lain melihatnya itulah sebabnya saat berada diluar kamar Bintang akan selalu menguraikan rambutnya atau memakai syal. Bintang menggenggam tangan Aksana dan memejamkan matanya menyelami apa yang sudah suaminya lakukan diluar hari ini. Bintang senang melakukannya karena aslinya dia bukanlah perempuan yang suka berdiam diri dirumah dia lebih senang beraktifitas dan cenderung tidak bisa diam makanya dia ingin melihat dunia luar dari tangan Aksana karena diapun masih terlalu takut untuk pergi keluar. Aksana tidak pernah keberatan soal itu. Seketika Bintang membuka matanya dan kemudian menunjuk sebuah berita di TV tentang pesta semesta.
"Kamu juga melihatnya ya?" Aksana ikut menatap layar TV.
Aksana mencoba menjelaskan tentang undangan pesta semesta, Bintang mengangguk mengerti dan dia melihat masa depan yang terjadi dengan pesta semesta tersebut membuat Bintang dilema. Tapi apapun itu dia tidak bisa mengubah masa depan.
__ADS_1