Bintangku Adalah Kamu

Bintangku Adalah Kamu
EPISODE II Puisi-puisi mossy


__ADS_3

Islam Palestina


Nasibmu malang


Malammu tak tenang


Nyawamu terancam melayang


Telan pahit kehidupan


Lelah akan momok tembakan


Seakan kebal dengan tuntutan pengorbanan


Aku bangsamu


Beda nasib, beda tempat


Bersama kekurangan yang menghambat


Nyaliku ingin pula menahan ledakanmu


Nyawaku tak sabar mati sahit bersamamu


Namun sa’at ini hanya do’a yang temani jihatmu


Palestina, islam terancam


Indonesia, islam berang


Yahudi harus di musnahkan


Thank You Allah


Ya Allah . . ,


Atas segala nikmatmu,aku bersyukur kepadaMu . . .


Atas segala rahmatmu,aku berlindung kepadaMu . . .


Kau ajarkan aku tuk bersabar,atas musibah yang menimpa . . .


Ajarkan aku tuk slalu bersyukur atas apa yang ada . . ,


Tanpa merasa kekurangan suatu apapun . . .


Ya Allah . . ,


Kau berikan nikmat hidup ini kepada kami . . .


Begitu banyaknya nikmat yang Kau berikan . . ,


Sehingga,kami tak mampu menghitungnya . . .


Dan kami mendapatkan rahmat dan karunia


Yang tak terhingga yang telah Kau berikan kepada kami . . .


Ya Allah . . ,


Dengan otak,kami bisa berfikir


Dengan mata,kami melihat indahnya dunia . . .


Dengan hidung,kami menghirup udara segar . . .


Dengan mulut,aku bisa berbicara saat ini . . .


Dengan telinga,kami mendengar suara nan merdu . . .


Dengan tangan,kami melakukan banyak hal . . .


Dengan kaki,kami berjalan dan melangkah . . .


Ya Allah . . ,


Sungguh berlipat ganda nikmat yang telah kau berikan pada kami


Terutama,nikmat terbesar yang sejak dahulu ada


Yaitu nikmat Iman dan Islam


Yang dimiliki kaum muslim dan muslimat


Thank You, Allah . . .


Perjuangan Dakwah


Saat ku tersendat di jalan dakwah


Terasa berat mengemban amanah


Serasa pulang dari medan mu'tah


Yang berjuang sampai berdarah - darah


Kurenungi dengan akal sehatku


Inikah jalan yang mereka rindu


Yang Rasulullah bilang mereka sahabatku


Ku meratap luasnya langit


Berharap keluar dari dunia yang sempit


Dari dunia yang fana


Yang selalu tertimpa bencana


Mungkin inilah jalan yang harus kutempuh


Sebuah metafora jalan dakwah


Ku harus terus melakukannya tanpa keluh


Sampai ku berpijak di pelataran jannah


Sebelum Nyawa Terlepas Raga


Ketika tahta menguasai jiwa


Ketika mimpi tak beralas hati nurani


Tak peduli apa kata mereka


Bahkan Tuhan pun dianggap tiada


Saat logika berpikir nafas tak berakhir


Saat jiwa merasa menang tak kan ada lawan


Tak ada rasa takut akan hari kemudian


Karna rasa itu tlah tertutup bisikan syetan


Sadarlah wahai jiwa yang zolim


Kemenangan yang kau rasa sebenarnya adalah kekalahan


Surga yang kau rasa di dunia, sesungguhnya jalanmu ke neraka


Segeralah bersujud mohon ampunaNya


Sebelum nyawa terlepas dari raga


Tidak kah cukup bagimu tertulis berita


Kematian Fir'aun yang melegenda


Wanita Shaleha


Senyumnya..


Bagaikan tanda kelembutan tutur katanya


Dihiasi dengan wajah yang berseri


Bagaikan buktu ketaatan ibadahnya


Rambut yang terbalut indah oleh hijabny


Tangan yang cantik karena pacarnya


Berjalan dengan tertunduk....


Bagaikan wanita yang menjaga martabatnya


Kitab....


Tergenggam erat di tangannya


Bukti wanita cerdas


Yaang mampu memilih keputusan


Dengan baik di sertai senyum


Indah...


Kata yang pantas untuknya


Bukti kebaikan pribadinya


Wanita yang baik akhlaknya


Kelembutan yang membuatnya mempunyai banyak teman


Akhlak yang membuatnya merasa tentram


Hijab yang membuatnya merasa terjaga


Agama yang membuatnya di cintai


Dialah wanita saleha


Tempat Yang Hanya Milik-Mu


Bukan kepalsuan yang ku mau


Bukan kesemuan yang ku butuhkan


Hanya sebuah tempat


Yang bisa terima hinanya aku


Ku temukan itu di Sisi-Mu


Terlihat dalam Agung NamaMu


Tempat terindah yang hanya Milik-Mu


Tempat terindah yang hanya di SisiMu


Tempat yang bisa terima kotornya aku


Yang beri bahagia dalam ketenangan


Sungguh kepalsuan tiada padanya


Kesemuan pun mustahil ada padanya


Wahai Dzat Penggenggam Jiwa


Jiwa-jiwa hidup dan jiwa-jiwa mati


MerinduMu dalam lembar penghambaan


Berharap diterima di tempat yang hanya MilikMu.


Senja Romantis


Aku berjalan


Di tengah padang


Sendiri..


 


Angin meliuk-liuk


Meniup ilalang


Pasir, bebatuan


Bermain tanpa batas


 


Di langit indah


Sekawanan burung pulang


Kembali ke sarang


Tempat menanti pasangan


Aku mengaduh


 


Duhai,


Aku di sini


Berkawan sepi


Langkah kaki


Semakin lelah bernyanyi


 


Aku masih di sini


Sendiri..


Menanti senja romantis


Mengisi hati…


 


Senja Dalam Luka


Ini sudah senja yang keseribu sayang


Begitu usang kutanggung sebuah penantian


Diam di sela angin yang bungkam


Alam mematung menadah hujan


 


Luka ini takkan sembuh sayang


Terlalu dalam kau goreskan di hati kelam


Membisu menatap hari semakin temaram


Jingga bergeser memeluk malam


 


Aku hanya bisa menuliskan beberapa aksara


Menggumpal dalam kalimat menyapa


Tentang rindu, cinta, dan airmata


Di seberang malam kau akan merasa


 


Entahlah, hingga kapan saya masih bertahan

__ADS_1


Bayanganmu tak pernah hilang


Menyapaku dalam tenang malam


Lembut, hangat menyatu dalam perasaan


 


Aku ingin menutup senja di depan jendela


Harapanku pudar dalam penantian sia-sia


Bersama malam yang tiba dalam kerudung hitam


Akhir penantian kuucapkan selamat malam


Senja Romantis


Aku berjalan


Di tengah padang


Sendiri..


 


Angin meliuk-liuk


Meniup ilalang


Pasir, bebatuan


Bermain tanpa batas


 


Di langit indah


Sekawanan burung pulang


Kembali ke sarang


Tempat menanti pasangan


Aku mengaduh


 


Duhai,


Aku di sini


Berkawan sepi


Langkah kaki


Semakin lelah bernyanyi


 


Aku masih di sini


Sendiri..


Menanti senja romantis


Mengisi hati…


 


Senja Dalam Luka


Ini sudah senja yang keseribu sayang


Begitu usang kutanggung sebuah penantian


Diam di sela angin yang bungkam


Alam mematung menadah hujan


 


Luka ini takkan sembuh sayang


Terlalu dalam kau goreskan di hati kelam


Membisu menatap hari semakin temaram


Jingga bergeser memeluk malam


 


Aku hanya bisa menuliskan beberapa aksara


Menggumpal dalam kalimat menyapa


Tentang rindu, cinta, dan airmata


Di seberang malam kau akan merasa


 


Entahlah, hingga kapan saya masih bertahan


Bayanganmu tak pernah hilang


Menyapaku dalam tenang malam


Lembut, hangat menyatu dalam perasaan


 


Aku ingin menutup senja di depan jendela


Harapanku pudar dalam penantian sia-sia


Bersama malam yang tiba dalam kerudung hitam


Akhir penantian kuucapkan selamat malam


 


Lenteraku


Piringan matahari hampir lenyap di tepi langit


Berganti malam yang dingin merasuk kulit


Kau bagaikan senja


Yang datang sekejap membawa luka


 


Katanya kau hadir bagai lentera


Penyambung hidupku yang dirundung duka


Melambungkanku di atas mega


Lalu jatuh bersama rintik air mata


 


Tak sempat aku goreskan tinta


Tuk menuliskan kisah hidupku yang gelita


Kau yang datang lalu hilang entah kemana


Jauh di dasar sukma aku cinta


 


Cinta yang menenggelamkanku


Menghancurkanku


Di saat detik-detuik berbahagiaku


Kau meningalkanku


 


Bodohnya aku yang dibutakan oleh rasa


Merelakanmu pergi bersama dia


Di penghujung September ini


 


Aku rela melepasmu


Mengikhlaskan kepergianmu


Daripada cintaku dimadu.


Senja Romantis


Aku berjalan


Di tengah padang


Sendiri..


 


Angin meliuk-liuk


Meniup ilalang


Pasir, bebatuan


Bermain tanpa batas


 


Di langit indah


Sekawanan burung pulang


Kembali ke sarang


Tempat menanti pasangan


Aku mengaduh


 


Duhai,


Aku di sini


Berkawan sepi


Langkah kaki


Semakin lelah bernyanyi


 


Aku masih di sini


Sendiri..


Menanti senja romantis


Mengisi hati…


 


Senja Dalam Luka


Ini sudah senja yang keseribu sayang


Begitu usang kutanggung sebuah penantian


Diam di sela angin yang bungkam


Alam mematung menadah hujan


 


Luka ini takkan sembuh sayang


Terlalu dalam kau goreskan di hati kelam


Membisu menatap hari semakin temaram


Jingga bergeser memeluk malam


 


Aku hanya bisa menuliskan beberapa aksara


Menggumpal dalam kalimat menyapa


Tentang rindu, cinta, dan airmata


Di seberang malam kau akan merasa


 


Entahlah, hingga kapan saya masih bertahan


Bayanganmu tak pernah hilang


Menyapaku dalam tenang malam


Lembut, hangat menyatu dalam perasaan


 


Aku ingin menutup senja di depan jendela


Harapanku pudar dalam penantian sia-sia


Bersama malam yang tiba dalam kerudung hitam


Akhir penantian kuucapkan selamat malam


 


Lenteraku


Piringan matahari hampir lenyap di tepi langit


Berganti malam yang dingin merasuk kulit


Kau bagaikan senja


Yang datang sekejap membawa luka


 


Katanya kau hadir bagai lentera


Penyambung hidupku yang dirundung duka


Melambungkanku di atas mega


Lalu jatuh bersama rintik air mata


 


Tak sempat aku goreskan tinta


Tuk menuliskan kisah hidupku yang gelita


Kau yang datang lalu hilang entah kemana


Jauh di dasar sukma aku cinta


 


Cinta yang menenggelamkanku

__ADS_1


Menghancurkanku


Di saat detik-detuik berbahagiaku


Kau meningalkanku


 


Bodohnya aku yang dibutakan oleh rasa


Merelakanmu pergi bersama dia


Di penghujung September ini


 


Aku rela melepasmu


Mengikhlaskan kepergianmu


Daripada cintaku dimadu.


Sendu merindu


Pagi ini enggan rasa untuk bangun


Ku buka jendela, masih banyak rintik hujan menetes di tepi teras ku


 


Aku berharap matahari datang lebih awal


Menyinari genangan hujan yang masih tersisah


Merindu sungguh aku rindu


 


Hatiku terasa sendu, pilu yang melengggu


Kian memicu aroma tubuh mu di pikiranku


Namun, aku tau itu telah berlalu


 


Berlalu menyisakan kisah dan luka


Membuat cerita di goresan luka nya dengan imajenasi di kisah nya


Aku rela


 


Senjaku


Ketika proses mulai menjadi angka


Dan senja pergi meninggalkan mentari


Tak satupun terlihat terang


Begitupula di kejauhan


Keheningan terbias dan menunggumu


 


Namun senja tak pernah mengingkari


kesepakatan pergi dan selalu kembali esok hari


Tak pernah lari


Selalu tiba sempurna waktu


Menunggu mentari dan pergi bersamannya


 


Tak kau sadari betapa indah hari itu


Batapa indah ombak berderu


Menyerbu bibir pantai


Seakan membawa rindu yang hanyut bersamamu


 


Aksara Senja


Bias jingga di ujung cakrawala


Terukir indah dalam remang


Lembayung menata warna


Di garis lurus sang surya senja


 


Embusan bayu


Membelai pucuk riak


Berkejaran menuju pantai


Menghempas di tepian karang


Pecah berderai menciprak pasir


 


Camar kepakkan sayap


Terbang edari tiang sampan


Memekik di antara desiran angin


Lalu pergi tinggalkan jejak


 


Redup lentera bahtera nelayan


Datang menghampiri gelap


Meninggalkan pesisir pantai


Berharap anugerah akan datang


Menjingga Bersamamu


Ada kata yang sulit terucap


Ada bibir yang enggan bicara


Ada rasa yang enggan tuk diam


Ada rindu yang terus menguar


 


Semua itu karena kamu


Karena kamu yang kurindu


Karena kamu yang kucinta


Karena kamu rasa itu ada


 


Kau tahu,


Senja itu seperti kamu


Tak pernah bisa tergapai dengan jemariku


Tak bisa teraih oleh jutaan rindu


 


Terkadang,


Aku ingin seperti angin


Yang membawa puing kenangan


Yang membawa sejuta asa.


 


Aku ingin menjadi sejuta cahaya


Yang bisa membiaskan keindahanmu


Yang menjingga di langit sore


Yang bersinar layaknya senja


 


Tentu saja tak bisa


Aku hanyalah aku


Yang hanya punya kenangan biasa


Yang kebetulan ada kamu di dalamnya.


 


Senjakala


Satu dua kata yang kuganti


Tuk memanggil kembali


Bait-bait kenang dalam simfoni langgam hati


Bukan puisi,Tetapi rangkaian ujar berima sunyi


 


Senandung elegi


Satu dua ingatan pergi


Bersama pupus ribuan denah mimpi


Bukan puisi,


Hanya dongeng angan yang begitu teringini


Tak mungkin kembali


 


Lantunan soliteri


Dari bayang pantul bias asa


Kupincing di antara sela,


Celah cahaya di kiasan rona selaksa jingga


 


Lembayung senja


Puisi yang hasilnya pun merindu kata


Dalam satu dua senyawa warna


Di bait-bait cinta



TUTUP


PANTUN CINTAPANTUN NASEHATPANTUN JENAKAPANTUN TEKA TEKI


BERANDA / PUISI CINTA


#131 Puisi Cinta Dalam Diam Syahdu, Tenang, Dan Sedih


Ads by optAd360


Puisi cinta dalam diam adalah puisi yang mengungkapkan isi hati seseorang yang sedang jatuh cinta, namun ia tak sanggup menyatakannya.


Sehingga cintanya hanya tersimpan di dalam hati. Tidak diketahui kecuali oleh dirinya sendiri. 


img:pixabay.comBerikut sebagian dari puisi-puisi cintayang begitu sedih karena tak terungkapkan.


Ads by optAd360



Jatuh Cinta



Dhuhur, 3 Ramadhan 1440 H


Saat kutatap wajahmu,


Tiba-tiba terbit perasaan


Yang tak pernah kurasa sebelumnya. 


Antara bahagia, suka, juga 


Sedikit rasa cemas. 


Setiap kupandangi wajahmu,


Tiba-tiba hatiku tersenyum. 


Dan mengalir pula rasa bahagia. 


Entah karena apa?


Mungkinkah aku sedang jatuh cinta?


Ataukah sekedar rasa kagum saja.


Ads by optAd360


Ah,


Biarlah. Kusimpan rapi-rapi perasaan ini. 


Saat Jatuh Cinta, Kutulis Puisi Nan Indah


Segalanya tentangmu...


...adalah keindahan. 


Senyumanmu,


Binar bola matamu,


Bibir merahmu,


Pipi putih,


Bahkan sekedar cara dudukmu: 


Uh, indah. Hanya indah. 


Aku ingin menatapmu dari jauh. Menyaksikan segala yang terbaik darimu.


Ingin kuperhatikan bagaimana tangan-tangan kebahagiaan, mengulurkan persembahan untuk hidupmu. 


Aku jatuh cinta padamu. Ya, sekali lagi aku katakan, aku jatuh cinta padamu

__ADS_1


Tapi aku tak mau mengganggu diriku dengan segala rasa ini. 


 


__ADS_2