Bos Dingin Si Dua Kepribadian

Bos Dingin Si Dua Kepribadian
Rumit


__ADS_3

"Sudah brapa kali kubilang, jangan membuat masalah dengan Putra bungsu keluarga Ruong?" suasana mencekam yang ditimbulkan dari percekcokan Tua Lui dan putrinya, membuat sang ibunda hanya bisa menghela nafas dalam.


"Ini bukan salahku, wanita sialan itu penyebabnya!!" triak Mei Lui marah.


'plak' tamparan keras mengenai pipi Mei hingga jatuh tersungkur.


"Braninya kau mengeraskan suara dihadapanku. Kurung dia digudang , jangan beri makan sampai dia mengakui kesalahannya, dan juga ajari putri kesayanganmu itu" ujarnya sambil berlalu.


"Huhuhuhu ibu, knapa ayah membela gadis rendahan itu daripada aku" Mei menangis dipelukan sang ibu yang merasa tertekan.


"Lang, kita pulang sekarang" putus nyonya Lui pasrah dan memutuskan untuk pulang bersama supirnya.


"Baik nyonya, silahkan" ungkap sang supir dan berlalu meninggalkan Hotel.



Xiliang yang sedang berdansa dengan Yu harus mengakhirinya dengan tidak rela setelah sebuah tarikan ditangannya.



"Liang, maaf mengganggumu. Tapi 'dia' ada disini, dan sesuai dugaanmu dia membuat masalah lagi" Bisik James setengah berbisik.



"Kau tunggu disini jangan pergi kemana-mana, aku ada urusan sebentar. Jame, ayo kesana" ucap Xiliang melirik kearah Yu sebentar dan segera berlalu diikuti James.



"Baiklah" Yu hanya mengangguk patuh dan menatap kepergian kedua bosnya itu dengan enggan.

__ADS_1



"Aku sangat membenci pesta, tapi karna sudah terlalu jauh, saatnya menikmati pesta yang sesungguhnya" dengan langkah riang Yu segera menghampiri deretan makanan dimeja.



Suasana ruangan tempat keluarga Ruong berkumpul terlihat sangat mencekam dan tegang.


Xiliang dan James yang baru tiba hanya saling memandang dengan bingungnya.


"Wah lihatlah adikku yang manis ini, kau sudah datang rupanya. Apa kau menikmati pestanya? pasti banyak wanita yang bisa menemanimu bukan?" seseorang yang sangat mirip dengan Xiliang menyambut mereka berdua dengan santainya.


"Ayah, ibu aku datang. Maaf tak menyambut kalian segera, aku ada urusan sebentar dibawah" langkah tegasnya segera menuju sang ibu yang sedari tadi menatapnya.


"Apa aku tidak disambut?" Pria bermata rubi itu menghalangi langkah lebar Xiliang dengan tangan kanannya yang diulurkan kesamping menahan bahunya kuat.


"Yang saya tau tuan Ruong Xiling bukanlah orang yang suka meminta perhatian adiknya" dengan santai ditepisnya tangan sang kakak.


"Ling, ingat umurmu. Apa kau tidak ingin menikah, ibu memiliki teman dan jika kau mau ibu bisa mengurusnya" wanita paruh baya itu mencoba menahan sang putra agar lebih lama bersamanya.


"jangan mencampuri urusanku, aku pergi" Sebelum keluar dari pintu, Xiling berhenti disamping James dan membisikkan sesuatu yang membuatnya terkekeh kecil.


Mencoba mengabaikan perkataan sang kakak yang menyindirnya, Xiliang segera menghampiri ibunya yang sedang duduk bersama sang ayah.


"aku merindukanmu" Xiliang membenamkan kepalanya dipangkuan sang ibu.


"kupikir anak polosku akan berubah jika bekerja" ibunya mengelus lembut rambut sang putra dengan sayang.


"tentu saja tidak, aku akan tetap jadi Xiliang yang polos" sanggahnya sambil berdiri dan duduk disamping ibunya.

__ADS_1


"Ayah akan kebawah sebentar, kalian juga cepatlah turun kebawah" Sang ayah berjalan keluar dengan aura tegasnya.


"Liang, Putri presdir Lui menyukaimu. Bagaimana menurutmu?" tanya ibunya lembut.


"Aku masih menunggunya pulang, wanita yang kuinginkan hanya dia. Kuharap ibu mengerti" tolak Xiliang sambil menatap langit-langit ruangan itu dengan sendu.


"hah, terserah kamu saja. Ibu hanya bisa berpesan bukankah gadis tadi menarik?" goda sang ibu membuyarkan lamunan putranya.


"Dia sekretarisku, ya kuakui dia memang menarik. Mirip landak, indah namun sangat galak" kekehnya sambil melirik sang ibu.


"sudahlah, ayo kebawah. Dia pasti menunggumu, kenalkan ibu juga ya" Dengan lembut Xiliang mengapit dengan ibunya dengan erat.


Yu yang sedang menikmati kue manis didepannya dikejutkan Xiliang dan ibunya.


"Yu?" sapa Xiliang ramah.


"ooh Tuan muda dan nyonya Ruong, maaf tidak menyadari kalian" Yu membungkuk dan meminta maaf.


"gadis yang baik, apa pestanya menarik?" tanya wanita paruh baya itu ramah.


"tentu nyonya, hhhhh" Yu mencoba tersenyum ditengah kegugupannya.


"ini sudah malam, kuantar kau pulang" tawar Xiliang ramah.


"baiklah, mampirlah kerumah jika ada waktu nona Yu" Ibu Xiliang memeluk tubuh Yun hangat dan melambai pergi sambil menghampiri suaminya.


"Ayo"


Kedua sejoli itu berjalan berdampingan ketempat parkir dan menuju rumah Yu Xe.

__ADS_1


.............................................................................................


__ADS_2