
Musim dingin kini telah berakhir, dan musim gugur kini telah hadir dikota Tianyiang.
"ini adalah musim gugur kelima yang ku habiskan tanpa dirimu, kumohon kembalilah".
Xiliang berdiri memandangi langit yang berwarna jingga dengan sendu, wajahnya kini kembali menjadi sosok polos yang menginginkan sang belahan hati kembali.
"Permisi pak, saya mengantar berkas kontrak dengan Lay huong dan data keuangan bulan ini" Kaki jenjang tanpa noda itu melangkah mendekati meja Xiliang.
Tatapan keduanya bertemu dan diputuskan dengan cepat oleh Xiliang yang segera menyuruhnya kembali bekerja.
'dia menangis?'
"Lanjutkan pekerjaanmu, dan jangan mengatakan apapun pada orang lain. Atau kau akan merasakan akibatnya nona Yu Xe" nada mengancam dilayangkan Xiliang pada sosok cantik didepannya.
"Menggosip bukanlah bagian dari pekerjaan saya, permisi" Yu Xe segera berlalu setelah membungkuk hormat pada sang atasan.
Xiliang melebarkan matanya saat melihat berkas yang baru saja diantarkan sang sekretaris.
Yu Xe yang merasa moodnya hancur karena sang atasan menggerutu kecil kearah ponselnya.
"Menyebalkan, bahkan jika dibayar pun aku tak akan membawamu dalam bahan gosipan ku" tangannya beberapa kali mengetik dan menghapus pesan di ponsel pintarnya.
"Berhentilah bergumam, kau membuat telingaku sakit" tangan Yu otomatis berhenti dan menatap sang empunya suara horror.
"Ya Tuhanku" tangan lentiknya dengan gemulay menggeplak kepala pirang itu.
"Terimakasih atas hadiahnya" auranya mendingin seolah siap membunuh siapa saja.
"I-itu salahmu Pak jame, kau harusnya mengetuk sebelum masuk" Yu membela diri dengan jawaban absurdnya.
"Yayaya, aku kesini hanya ingin memberikan ini. Putraku akan merayakan ulang tahunnya minggu depan, datanglah karena dia cukup menyukaimu. Aku permisi" dengan gaya mengelus rambut pirangnya, takut menjadi bodoh karena baru digeplak, Jamesh berlalu sambil mengambil biskuit dari meja Yu Xe.
"Baiklah, aku akan datang. Tapi pertama-tama obati dulu kepalamu, takutnya kau akan jadi bodoh karna aku terlalu keras" Yu sengaja meninggikan suaranya agar sang wakil presdir mendengarnya, Xiliang yang tak sengaja lewat dan mendengar kata itu menatap horror Jame.
'Dia melakukannya dengan Yu? di jam seperti ini?' wajahnya memerah karena kesal dan segera masuk keruangan Yu yang sedikit terbuka.
"Apa semua sekretaris itu penggoda" Xiliang menyender di pintu ruangan Yu Xe dan menatap tajam perempuan itu.
"Apa presdir Ruong pernah ku goda?" dengan tatapan dan membusungkan dadanya, Yu menantang dengan tegas.
"Lihatlah gaya mu, tidak lebih rendah dari wanita penghibur" tanpa sadar Xiliang telah membuat perempuan itu emosi.
"Ya, aku tau itu. Ini bukan urusan anda, silahkan pergi jika tidak punya urusan lagi" Yu Xe duduk dengan pandangan kosong menatap berkas di mejanya.
'Apa semua orang kaya memang seperti ini' batin Yu xe tersenyum sakit.
"Cih" dengan membanting pintu keras, Xiliang berlalu dengan aura gelap menyelimutinya.
'drttt drttt'
__ADS_1
"Halo?" Yu xe berbincang sebentar di ponsel hitamnya dan menenteng tas jinjingnya kemudian berlalu keluar.
"Luo, aku akan ijin keluar. Mungkin tidak akan kembali hari ini, jadi kalau presdir bertanya bilang saja aku ada urusan mendadak. Bye" Yu xe berlari kecil keluar bangunan besar itu dan menyetop taksi menuju suatu tempat.
"Setidaknya jangan berlari seperti itu" sungut Luo menatap para karyawan yang merona memandang tubuh Yu saat berlari.
"Nona Luo" Luo yang baru saja akan berjalan ke kantin dikejutkan oleh James dan Xiliang yang berjalan kearahnya.
"Siang, Pak Presdir dan Wakil Presdir" Luo membungkuk hormat kearah atasannya.
"Jangan terlalu sungkan, dimana Yu xe?" James memandang sekeliling dengan tatapan mencari.
"Dia keluar hari ini, sepertinya dia sedang ada masalah" Luo mengelus dagunya pelan, dan berjalan kearah kantin diikuti kedua pria itu.
"Padahal aku ingin mengajaknya makan siang, tapi bersama nona Luo juga tidak masalah" kedipnya menggoda Luo yang seketika memerah dan memukul James pelan.
"Kalian akan duduk dimana, biasanya aku dan Yu xe disini" tunjuk Luo kearah meja paling sudut.
"Makan bersama tidaklah buruk, bagaimana denganmu" tatapan Luo dan James memperhatikan sang atasan yang diam sedari tadi.
"Hm" gumam Xiliang dan segera duduk elegan membuat mereka menjadi bahan gosip terbaru disana.
.........................................................................................
"Aku sudah bilang berapa kali, jangan pernah menggangguku lagi" Suara yang terdengar familiar itu membuat Xiliang menyender dibalik dinding sebuah kafe.
Disana dia dapat melihat Yu xe yang berbicara dengan seseorang yang terlihat sangat familiar dimatanya.
"Akhirnya kau datang, masuklah" Xiling merangkul bahunya dan menuntunnya kesebuah meja.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Xiliang to the point.
"Aku hanya ingin meminta maaf, kau harusnya tau aku tidak pernah menghianatimu. Wanita itu menjebakku, karena dari awal dia hanya ingin memanfaatkanmu" Xiling tersenyum kearah pelayan yang menyodorkan menu kearahnya.
Setelah sang pelayan berlalu, Xiling kembali melanjutkan perkataannya yang tertunda.
"Kuharap kau bisa membuka lembaran baru dari sekarang, jangan menunggunya lagi" tatapan keduanya beradu dengan sengit.
"Itu bukan urusanmu" jawab Xiliang ketus.
Xiling hanya terkekeh kecil atas respon adiknya, Xiliang memang sedari awal sangat menyukai wanita dimasa lalunya itu.
"Aku bilang jangan mencampuri urusanku!" Suara teriakan itu sontak membuat penghuni kafe kaget.
"Yu, apa kau begitu membenciku?" si pria terlihat menarik lengan wanita itu lembut.
"Lepaskan aku sialan" tatapannya seketika membola saat melihat Xiliang yang menatapnya, dengan tergesa Yu berlari keluar dengan dibanjiri air mata.
'Aku benci hidupku' tanpa ia sadari Xiliang mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
Tubuhnya jatuh merosot disebuah dinding gang yang sepi, suara tangisannya semakin mengeras disetiap detiknya.
"Apa dia klien mu?" sebuah suara menginterupsi tangisan Yu dari belakang.
"Ini bukan urusanmu" desis Yu tajam dan berbalik menatap pria itu dingin.
"Dia tidak membayarmu sesuai kesepakatan?" tatapnya dengan wajah dingin.
"Apa di matamu aku serendah itu?" air mata mengalir di pipi Yu dengan deras.
"Ya, kau sangat rendah, sampai aku ingin mencekikmu hingga mati" kekehan Yu membuat Xiliang mengerut dahinya heran.
"Aku adalah pelacur, kau puas" tubuhnya dihempas dengan keras kearah dinding dan dihimpit tubuh kekar itu.
"Bukan masalah kalau aku memakaimu kali ini, SATU JUTA DOLLAR" Xiliang mencoba menahan hasratnya yang menggebu saat melihat baju Yu yang tersingkap.
"Hiks... hiks.., aku membencimu" suara cicitan lemah Yu membuat nafsu Xiliang naik dengan cepat.
Dengan kasar diciumnya Yu kasar, Yu yang merasa kekurangan oksigen memukul dada pria itu kuat.
Ciuman keduanya terlepas membuat Xiliang menggeram dan menariknya keparkiran.
"Puaskan aku" dengan kasar dihempaskan tubuh Yu kedalam dan membawanya ke apartemennya.
"Apa yang kau lakukan, turunkan aku sialan" wajah Yu memucat saat memandang bangunan megah didepannya.
"Kau pelacur, jangan terlalu tinggi memandang dirimu" ejek Xiliang dan menarik paksa lengan Yu kekamarnya.
Yu yang berusaha berontak membuatnya dipukul dengan keras, pipinya memerah dan terdiam seketika.
"Aku sangat membenci pembangkang" Xiliang mengangkat tubuh Yu yang terjatuh akibat pukulannya kemudian menghempaskannya di kasurnya.
Yu hanya terdiam berusaha tidak bersuara saat Xiliang menyetubuhinya dengan kasar.
Air matanya tak kunjung mereda saat melihat tubuhnya yang sudah dikotori presdirnya sendiri.
Jam menunjukkan pukul 12.00 malam, itu artinya sudah 9 jam Xiliang menyetubuhinya tanpa henti.
"Bagaimana? kau puas ******" tatapan dingin Xiliang membuat Yu bergetar ketakutan setengah mati.
Tubuh keduanya berkeringat dengan nafas tersengal, tangan Xiliang melingkar diperut Yu dengan lembut.
"Aku akan mentransfer uangnya ke rekeningmu besok, tidurlah" Xiliang mengecup bibir Yu dan menutup matanya tertidur.
"Kuharap aku bisa mati" bisik Yu terisak pelan dipelukan pria yang sangat dibencinya itu.
Dengan pelan Yu memungut bajunya satu persatu dan meninggalkan apartemen Xiliang.
__ADS_1