BOSS MAFIA

BOSS MAFIA
Part 1


__ADS_3

Xavier Jonathan Fergie.


Pewaris tunggal keluarga Fergie yang terkenal akan kekejaman dan kebengisannya dalam berbisnis, ia benar-benar sadis dan berdarah dingin, tidak kenal kata ampun kepada orang yang telah berani mengusik atau menusuknya dari belakang. Xavier bisa melakukan apa saja dan mendapatkan apa pun yang ia inginkan dalam satu kalimat.


Tubuh tinggi berotot ditambah rupa yang sangat menawan membuat Xavier dieluh-eluhkan para wanita yang pernah melihatnya. Tak hanya wanita saja, bahkan laki-laki pun juga tidak memungkiri akan kesempurnaan yang di ciptakan Tuhan, bukti kalau Xavier berada di atas standar ketampanan dunia. Mereka pasti rela melakukan apa saja untuk bisa dekat dengan Xavier, meskipun hanya sebatas teman.


Namun sayangnya, Xavier tidak pernah tertarik untuk mejalin pertemanan atau hubungan spesial dengan perempuan mana pun padahal umurnya sudah menginjak kepala tiga, ia hanya fokus untuk membangun kerajaannya sendiri agar semakin besar dan berjaya hingga mengusai benua Eropa kalau bisa seluruh dunia.


Xavier memang jarang sekali menunjukan wajah tampannya di depan publik. Ia lebih suka berada di balik layar, memerintah dan menugaskan kaki tangannya untuk bergerak tanpa sepengetahuan siapapun sampai saingan atau musuhnya bertekuk lutut.


Tetapi tak ada satu orang pun yang tidak mengenal nama Xavier di dunia pembisnis ini, ia terus mengembangkan perusahaannya dalam segala bidang dan jasa, tidak ada yang tidak ia lewatkan sampai-sampai bisnis ilegal pun nama Xavier yang mengusai pasar gelap bahkan pihak berwajib tidak dapat menyentuhnya.


Hingga suatu hari, orang yang selama ini dianggap keluarga Fergie saingan dan sekaligus musuh terbesar Ayahnya tiba-tiba datang ke kediaman Xavier. Laki-laki paruh baya itu berlutut di depan kakinya untuk meminta belas kasihan Xavier karena telah meruntuhkan dan menghancurkan kejayaan perusahaan Albert.


Fergie—Ayah Xavier sendiri bahkan tidak mampu menjatuhkan satu perusahaan milik Albert namun Xavier yang baru mengambil alih kekuasaannya sudah berhasil mengenggam seluruh perusahaan milik musuh dan saingannya. Fergie sangat bangga terhadap Anaknya, karena otak cemerlangnya menghantarkan keluarga Fergie pada puncak teratas.


“Apa imbalan yang akan kau berikan padaku?!”


Albert menunduk takut, meskipun ia jauh lebih tua dari Xavier tetapi sekarang ia tidak punya kekuatan untuk berlaku tidak sopan, apalagi sejak tadi Marco—kaki tangan Xavier berdiri di belakangnya. Bisa saja jika Albert melakukan sedikit kesalahan nyawanya akan langsung melayang di tangan Marco.


“Tuan muda meminta saham berapa pun akan saya berikan,” kata Albert memelas.


“Hahaha…” Xavier tertawa penuh kesombongan. “Aku punya lebih banyak darimu!”


Albert tidak dapat berkutik, memang benar kekayaan milik Xavier pasti tidak dapat dibandingkan dengan miliknya. Ia tidak tahu lagi bagaimana cara membuat Xavier mau membantu perusahaannya agar tidak colep.


“Bagaimana kalau ditukar dengan anak perempuanmu?” celetuk Xavier tersenyum licik.

__ADS_1


Penawaran itu sedikit konyal, sebenarnya Xavier tidak bersunguh-sungguh, ia hanya ingin menguji Albert seberapa takutnya laki-laki tua itu menjadi gelandangan. Apakah Albert akan rela menyerahkan anak kesayanganya untuk dijadikan sebuah penyelamat kekayaan.


Xavier punya banyak informasi menyangkut semua musuhnya sampai hal terkecil pun ia biasa tahu, cara dia bersenang-senang lebih mengerikan. Xavier akan menghancurkan musuhnya sampai titik terendah tanpa harus membuhunnya, ia ingin melihat orang-orang mengemis di hadapannya.


“Baiklah Tuan Muda. Saya akan menyerahkan anak perempuan saya, Anda harus berjanji untuk membantu perusahan saya agar kembali beroperasi.” jawab Albert mantap—tidak ada keraguan di wajahnya.


“Gila!” batin Marco tidak percaya.


Senyum evil terukir di bibir Xavier, ia tidak menduga ada seorang Ayah yang akan menjual anaknya sendiri demi uang. Tapi begitulah dunia, mereka akan gelap mata di depan kekuasaan dan kekayaan sampai mengorbankan apa yang sebenarnya lebih berharga.


“Wah!” Xavier berdiri dari kursi singgah sananya, memberikan tepuk tangan kepada Albert yang tanpa pikir panjang langsung memberikan anaknya begitu saja. “Kau memang Ayah tidak berguna!”


“…..”


Albert diam saja, ia tidak bisa berkata-kata mendengar penghinaan itu namun memang benar ia lebih memilih mengorbankan anak kandungnya sebagai mainan Xavier ketimbang harus jatuh miskin.


“Aku tidak pernah mengingkari perkataanku.” Xavier melemparkan sebuah berkas di depan wajah Albert. “Sisanya anakmu sendiri yang akan membawanya.”


...****...


...Wasington DC...


...23:35 PM...


Malam semakin larut, dentum musik remix yang dimainkan DJ profesional menggema ke seluruh gedung berlantai tiga. Sorak-sorai saling bersahutan kala volume musik diputar lebih kencang lagi dan lebih energik, membuat mereka yang bergoyang liar semakin terbuay oleh irama lagu.


Selama musik mengalun ada banyak sekali desah*n yang tercipta, sejauh mata memandang pasti ada sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang bercumbu, parahnya mereka terang-terangan saling merem*s dan mencium bagian aset keduanya.

__ADS_1


Sebaliknya, di sudut ruangan terlihat seorang gadis yang tidak nyaman berada di tempat duduknya, wajah yang dipoles dengan makeup tipis tak dapat menutupi raut kegelisahan di wajah cantiknya.


Mungkin karena ini pertama kalinya dia menginjakan kaki ke clup malam, biasanya gadis itu sudah berada di alam bawah sadar bersama guling dan selimut yang menghangatkan tubuh rampingnya.


Nama gadis itu Helena Deborah Delbert, gadis berusia 22 tahun yang sebentar lagi lulus kuliah dari Universitas ternama di Amerika Serikat, hanya butuh waktu tiga tahun saja untuk mendapatkan gelar studynya.


“Shof, adik tirimu cantik banget,” kata Endru sambil tersenyum penuh arti.


“Cih, lebih cantik dia atau aku?!” balas Shofia tidak terima.


Endru menarik pinggang Shofia, memeluknya lebih intens lalu berbisik dengan lembut di telinga perempuan itu. “Tidak ada yang bisa menandingi kecantikanmu, Shof. Laki-laki mana pun pasti bertekuk lutut di hadapanmu.” Lagi-lagi Endru tersenyum licik. “Hanya tubuhmu saja yang kami mau,” sambungnya dalam hati.


“Ih, genit.” Shofia tertawa kecil sambil mencubit perut Endru yang berotot.


“Shof, sebentar lagi pacarmu datang, aku harus pindah tempat,” ingat Endru karena Kevin–pacar Shofia–sekaligus sahabatnya akan bergabung.


Shofia mendorong tubuh Endru menjauh dari dirinya. “Benar, cepet pergi.”


“Aku temani adik tirimu, ya.” pinta Endru, ada maksud tersembunyi dalam permintaannya itu.


Tanpa pikir panjang Shofia mengangguk, dia tidak peduli apa yang akan dilakukan Endru pada adik tirinya. Lebih baik sesekali Helena mendapat masalah, karena itu akan memperlancar rencananya untuk mendapatkan kasih sayang sepenuhnya dari Alexander—Ayah tirinya.


“Terserah kau mau apain dia!”


“Kakak tiri brengs*k kau Shof.”


“Memang!”

__ADS_1


“Hahaha…”


Sejak awal Shofia memang tidak menyukai Helena, adik tirinya itu selalu mendapatkan kasih sayang yang selama ini ia inginkan. Alexander memang tidak pernah membedakan antara anak kandungnya ataupun anak tirinya namun kepintaran Helena dan kebaikan hati adiknya itu yang membuat Shofia menjadi iri hati, semua orang terlihat senang bersama Helena ketimbang dirinya.


__ADS_2