BOSS MAFIA

BOSS MAFIA
Part 3


__ADS_3

Malam telah berganti, cahaya matahari mulai menerobos masuk melalui celah-celah gorden, mengusik tidur seorang gadis yang masih meringku di atas ranjang kingsuper. Suara bising dari luar menambah kesadaran gadis itu untuk segera kembali dari alam bawah sadarnya.


“Hoamm….”


Helena mengerjap-erjapkan kelopak matanya, membiaskan pupilnya hingga menangkap bayang-bayang di sekitar. Ia terperanjak saat melihat ornamen dan dekorasi kamar yang tidak pernah Helena lihat sebelumnya.


“Aku dimana?”


Spontan Helena menegakan tubuhnya, selimut yang menutupi seluruh badannya tadi terjatuh di atas paha, kulitnya merasakan terpaan hawa dingin dari AC yang masih menyalah sejak semalam.


Mata Helena turun ke bawah, menatap tubuhnya yang tidak terbungkus suatu apa pun. Ia semakin terkejut saat melihat banyak sekali kiss mark di sekujur badannya. Buru-buru Helena menarik kembali selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.


“Apa yang terjadi padaku?!”


Helena mencoba mengingat namun otaknya sama sekali tidak bisa mereplay peristiwa yang telah dialaminya semalam.


“God, kenapa aku tidak mengingatnya?”


Helena merasakan sesuatu yang aneh, ia tahu pasti apa yang telah terjadi pada tubuhnya, tetapi Helena masih ingin berpikiran positif.


“Aku pasti sedang bermimpi.”


Tangan kanan Helena bergerak di atas paha, menyubit kulitnya sendiri—dipelintirnya sampai ia merasakan sakit yang amat sangat, menimbulkan lebam yang berwarna biru keunguan.


“Sakit!!” adu Helena sambil mengosok bekas plintirannya. “Astaga!!!! Berarti aku tidak bermimpi.”


Saat Helena akan berdiri tiba-tiba bagian sensitifnya terasa ngilu dan perih, ia semakin panik.


“Apa yang sudah kulakukan?!”


“Dengan siapa aku melakukannya?!”


“Tidak!!! Ini tidak mungkin terjadi padaku!”


Mata Helena memanas, seketika bulir-bulir air keluar dari kelopak matanya. Hatinya hancur, hancur sehancurnya, apa yang selama ini ia pertahankan harus terenggut begitu saja tanpa Helena tahu dengan siapa ia melakukannya.


“Hikss, bodoh!”


“Kenapa aku sebodoh ini, hiks…”


Disela-sela Helena menangis, ia melihat sebuah amplop berwarna coklat di atas nakas, mungkin itu bisa menjadi sebuah petunjuk untuk dirinya menemukan siapa yang telah berani merenggut keper*wanannya.


Helena menghapus air matanya, memungut pakaiannya yang berserakan di lantai lalu mengambil map itu. Buru-buru Helena memakai pakaiannya dan segera pergi dari kamar yang menjadi saksi bisu one stand night nya dengan laki-laki.


“Taxi,”


Helena menghentikan taksi, meminta supir untuk mengantarkannya kembali ke kediaman Delbert. Sepanjang perjalanan ke rumah Helena menangis tanpa suara, ia meratapi kebodohannya. Bagaimana hal itu bisa terjadi kepadanya.


“Anda kenapa Nona?” tanya supir taksi yang mendengar Helena sesenggukan. “Apa ada yang bisa saya bantu?”


“Ti… tidak pak, saya tidak apa-apa.”

__ADS_1


Supir taksi itu menyerahkan sekotak tisu kepada Helena. “Kalau Anda butuh bantuan katakan saja Nona,”


“Iya pak, terima kasih banyak.”


Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, Helena mulai merangkai adegan sebelum dirinya berakhir seperti itu, ia hanya mengingat kalau Sofia mengajaknya ke clup malam dan ia hanya duduk di pojokan sampai kemudian Endru menghampirinya.


“Apa jangan-jangan dia yang menodaiku?” pikir Helena.


“Tidak-tidak, aku ingat saat Kak Endru menyerahkanku kepada pelayan perempuan lalu dia menemui seseorang,” Helena samar-samar mengingatnya.


Sampai disitu saja ingatan Helena tercipta.


Kring…kring…. Kring..,,.


Suara dering telfon membuyarkan lamunan Helena, ia melihat layar ponsel bertuliskan Papa, ia masih enggan mengangkat panggilannya namun telfon terus berdering. Helena tidak ingin membuat ayahnya khawatir, dinetralkan perasaannya dan suara sesenggukan pun perlahan menghilang.


“Halo Pa,” suara Helena tercekat, ia harus berusha menahannya agar Ayahnya tidak curiga.


“Kamu dimana Ele?” tanya Alexander dari sebrang sana. “Kata Kakakmu semalam kamu tidak pulang?”


Helena gelagapan ia harus menjawab apa. “Aku menginap di rumah Sera, pa.”


Bohong, Helena merasa bersalah karena telah membohongi Ayahnya. “Ele minta maaf Pa,” batinnya.


“Oh, tidak biasanya kamu menginap di rumah temanmu.”


“Soalnya ada tugas yang harus dikumpulkan hari ini, Pa jadi Ele sama Sera begadang semalaman,” balas Helena. Lagi-lagi ia harus berbohong.


“Iya Pa, Ele minta maaf.”


“Suamiku ayo kita sarapan,” suara Rosalin-ibu tiri Helena tiba-tiba terderang di telfon.


“Papa tutup dulu ya, kamu jangan lupakan sarapan.”


“Iya pa, semoga liburannya menyenangkan.”


Tut… tut…. Tut….


Telfon sudah berakhir Helena tidak ingin memberitahukan apa yang terjadi kepada Ayahnya, ia takut jika Alexander akan kecewa dengan dirinya. Apalagi ia tidak tahu laki-laki seperti apa yang telah berhubungan denganya.


Sekeras apapun Helena berusaha untuk mengingat namun tetap saja ingatanya sebatas dirinya diantar seorang pelayan ke tempat tidur.


Hampir 20 menit pejalanan, akhirnya Helena sampai di rumahnya, ia turun dan tak lupa mengucapakan terima kasih pada supir taksi. Baru berjalan beberapa langkah Helena sudah dikejutkan oleh para pelayan yang berhambur ke arahnya, wajah mereka terlihat sangat gelisah.


“Nona Ele. Nona dari mana saja?” tanya Bi Siti—seseorang yang telah merawat Helena sejak kecil.


“Nona kenapa, nona terlihat sedih?” imbuh Arum—anak bi Siti memegang pipi Helena.


“Mata Nona sembab? Nona habis menangis?” sambung Ningsih.


Mereka sangat risau karena Nonanya jarang sekali memperlihatkan kesedihan di depan orang lain. Apalagi mata Helena berwarna merah dan sembab terlihat sangat kentara ditambah nonanya semalaman tidak pulang. Semua penghuni rumah panik karena Helena tidak pernah tidur di luar sama sekali.

__ADS_1


“Aku tidak apa-apa Bi, ini karena semalaman aku dan Sera begadang jadi mataku begini, kalian jangan khawatir.” kata Helena.


“Bagaimana kami tidak khawatir, ponsel Nona sama sekali tidak bisa dihubungi.” jawab Arum kesal.


“Dan lagi, semalam Nona Ele perginya sama Nona Shofi.” imbuh Ningsih khawatir.


Semua pelayan kediaman Delbert sudah hapal betul tabiat para Tuan rumahnya, sampai Nona kesayangannya—Helena yang selalu mendapatkan perlakuan buruk dari kakak dan Ibu tirinya pun mereka tahu namun semua pelayan tidak ada yang berani menyuarakan. Apalagi Nonanya sendiri melarang mereka untuk tidak mengadukan kepada Alexander.


“Memang Kakak tidak pulang juga?” tanya Helena.


“Pulang Nona, tapi keadaan Nona Shofia sangat mengenaskan.”


Helena terkejut, apa mungkin Shofia mengalami hal yang sama dengan dirinya. “Mengenaskan bagaimana maksud kamu Rum?”


“Nona Shofia pulang-pulang mabuk parah sampai merancau tidak karuhan, semua badannya bau alkohol Nona, bau banget.” jelas Arum.


Kekhawatiran di wajah Helena pudar, ia mengira kakaknya mengalami hal buruk juga.


“Beliau sampai diantar dua temannya.” sambung Ningsih.


“Temanya laki-laki?” tanya Helena ingin memastikan.


“Benar, Nona Ele. Laki-laki bertubuh besar rambutnya sedikit gondrong,” jawab Ningsih menjelaskan secara gamblang. “Mereka masih di dalam, semalam meng….”


Tanpa menunggu Ningsih menyelesaikan perkataannya, Helena berlari menuju pintu rumahnya, meninggalkan para pelayan yang terlihat kebingungan, ia ingin memastikan sendiri siapa laki-laki yang mengantar Shofia.


Klak….


Baru Helena mendorong gagang pintu, sudah dikejutkan seseorang yang dari dalam juga menarik gagang pintunya. Keduanya sama-sama terkejut.


“Tidur dimana kau?” ketus Shofia saat melihat Helena berdiri diambang pintu.


Helena tidak mengubris pertanyaan dari Kakak tirinya justru tertegun dengan kedua pemuda yang berdiri di depannya saat ini.


“Hai Helena, ketemu lagi.” sapa Endru. “Oh ya, semalam pergi ke mana? Aku mencarimu.”


Endru tidak berbohong, setelah bermain dengan pacar barunya ia pergi ke ruangan satunya untuk melihat keadaan Helena namun ternyata gadis itu sudah tidak ada di tempat.


Endru pikir Helena masih bisa kabur karena ia tidak memberikan dosis terlalu tinggi, jadinya ia tidak mengambil pusing, mungkin suatu hari nanti Endru bisa menikmati tubuh Helena tanpa mengunakan obat-obtan yang berarti Helena bisa menyerahkan tubuhnya sendiri kalau ia bisa meluluhkan hati gadis itu.


“Ah, oh… iya kak, semalam saya dijemput teman,” jawab Helena terbata-bata. “Berarti memang bukan dia.”


Endru memegang kedua pundak Helena. “Kepala kamu sudah tidak pusing lagi?”


Helena mundur ke belakang hingga tangan Endru lepas dengan sendirinya. “Iya kak, sudah sembuh. Saya masuk dulu ya,” pamitnya menerobos ke dalam rumah, mengiraukan tatapan aneh dari Shofia dan kedua pemuda itu.


Helena menaiki anak tangga dengan tergesa-gesa, berlari menuju kamarnya yang ada di ujung–tak lupa mengunci pintu. Ia berhambur ke kamar mandi, tanpa melepas pakaiannya Helena menguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin dari shower.


Helena lagi-lagi menangis tanpa suara, mengosok seluruh tubuhnya dengan kasar, ia tidak peduli dengan rasa sakit yang timbul. Helena hanya berharap bisa menghapus semua tanda merah yang ditinggalkan laki-laki brengs*k itu kalau bisa.


“Sekarang aku harus bagaiamana?”

__ADS_1


__ADS_2