
“Sir Marco, Mr Albert sudah datang bersama anak perempuannya.”
Mendengar informasi penting dari pelayan rumah Fergie, Marco hanya mengangguk kemudian ia mengetuk pintu di depannya sebanyak tiga kali—sudah menjadi kebiasaannya sebelum masuk ke dalam ruangan istimewa milik Tuan muda Xavier—yang tidak sembarang orang bisa menginjakan kaki.
Setelah pintu terbuka, Marco melihat Tuan Mudanya tengah duduk di kursi malasnya bersama seorang perempuan. Xavier menatap tajam, seolah meminta penjelasan kepada sekertaris sekaligus kaki tangannya karena telah berani menganggu waktu bersantainya.
“Mr Albert dan Miss Albert sudah menunggu Anda di luar, Tuan.” ucap Marco memberitahu.
Tanpa bersuara Xavier mendorong tubuh wanita yang tadi duduk di atas pangkuannya, suasana hatinya sudah tidak mendukung untuk melanjutkan pergumul*n panas.
Entah kenapa, beberapa hari belakangan ini Xavier merasa tidak berselera dengan para wanita yang berusaha menghibur dirinya, padahal sebelumnya Xavier tidak pernah mempunyai kriteria khusus terhadap perempuan untuk memuaskan n*psunya asalkan parasnya sangat cantik.
Namun sekarang, anehnya Xavier merasakan ada sesuatu yang kurang. Ia selalu tidak puas dengan para wanita yang menemaninya, terasa hambar dan tidak membangkitkan gair*h.
“Keluar!”
Perempuan tadi kalang kabut, tanpa merapikan dulu baju yang berantakan dan lipstik yang belepotan ia langsung berdiri dan pergi.
“Saya permisi, Tuan.”
Mengabaikan salam perpisahan dari perempuan yang tidak ia tahu namanya, Xavier bangkit tak acuh, berjalan menuju meja kebesarannya lalu menghempaskan tubuhnya sendiri di atas kursi putar bersandar tinggi.
Mata abu-abunya menusuk tajam pada pupil mata Marco seakan memerintahkan untuk segera memanggil Albert dan anak perempuannya, Xavier penasaran dengan wajah gadis yang sudah membuat hari-harinya tidak semenyenangkan dulu sampai-sampai menyingkirkan kebiasaan buruknya yang suka bermain wanita.
“Sepertinya gadis itu akan membawa pengaruh baik untuk Tuan Xavier,” pikir Marco.
Brak…
Gebrakan meja membuat kesadaran Marco kembali, ia sudah hafal betul tabiat Xavier yang tidak banyak bersuara tetapi justru membuat kerusakan, Marco mengangguk patuh lalu menyusul perempuan yang sudah keluar duluan, tak berselang lama ia kembali masuk diikuti Albert dan anak perempuannya di belakang.
“Selamat pagi, Tuan Xavier.” sapa Albert. “Bagaimana kabar Anda?” Ia tahu jika Xavier tidak akan menjawab sapaan sekaligus pertanyaannya, Albert hanya ingin berbasa-basi saja.
“Dasar penjilat!” pikir Marco.
__ADS_1
Sejak kemarin Albert begitu senang karena secara khusus Xavier mengirim undangan kepadanya untuk datang lagi ke kediaman Fergie bersama dengan anak perempuannya, ia mengira kalau Xavier sudah jatuh hati kepada putri kesayangannya. Makanya Albert sudah tidak takut lagi dengan keberadaan Marco.
“Terima kasih Tuan muda sudah mengundang saya lagi dan anak perempuan kesayangan saya.”
Xavier tidak berkomentar, fokusnya hanya tertuju pada perempuan yang masih menunduk sejak pertama masuk. Ia merasa asing karena perempuan yang tidur bersamanya seminggu yang lalu berambut panjang sedangkan perempuan di depannya sekarang berambut pendek sebahu.
Xavier memang tidak terlalu mengingat wajah perempuan itu karena lampu kamar yang remang-remang menghalau penglihatannya. Sedangkan telapak tangan Xavier masih bisa merasakan rambut panjang perempuan itu saat membelainya.
“Apa dia memotong rambutnya?!” pikir Xavier.
Albert menyenggol bahu anak perempuannya untuk memberi salam karena sejak tadi gadis itu hanya diam malas, menunduk kaku dan merasa tidak nyaman, ia tidak ingin melihat laki-laki di depannya karena mengira colega Ayahnya sudah tua bangka.
“Kita berjumpa lagi, Tuan.” bohongnya, ia masih tidak ingin melihat wajah Xavier, bukankah panggilan Tuan itu identik dengan perawakan kakek-kakek.
“Suaranya berbeda!”
Xavier sedikit tercengang mendengar perkataan perempuan itu tetapi ia bisa menetralkan guratan kekecewaan di wajah tampannya.
“Sania?!” protes Albert karena anaknya bersikap kurang ajar.
Xavier semakin yakin kalau perempuan di depannya bukanlah gadis yang bersamanya tempo lalu. “Namanya Helena bukan Sania!”
Albert mencubit lengan Sania, mau tidak mau perempuan itu mendongakan kepala untuk melihat sekilas laki-laki tua yang seharusnya ia puaskan di ranjang untuk mengembalika harta kekayaan keluarganya.
“Hah! Sialan!” umpat Sania tanpa sadar karena pupil matanya menangkap pemandangan wajah Xavier yang sangat tampan. “Kenapa aku bisa menyia-nyiakan pria setampan dan setajir ini.” Ia menyesali keputusannya kemarin.
“Ah, sakit!!!”
Marco yang berdiri di belakang Sania reflek menarik rambut perempuan itu dengan paksa, sejak tadi ia sudah ingin mencekik lehernya karena terus berlaku tidak sopan kepada Tuan Mudanya. Marco juga melihat seklebat ekspresi Xavier yang merasa kecewa.
“Sepertinya kalian meremehkanku!”
Akhirnya kalimat itu yang pertama keluar dari mulut Xavier, ia sudah memastikan kalau perempuan di depannya itu bukanlah gadis yang tidur dengannya. Jelas-jelas gadis itu memanggil namanya sendiri dengan sebutan Helena saat sedang merancau, Xavier masih saja mengingat nama itu yang terus melekat di benak dan pikirannya beberapa hari ini.
__ADS_1
“Tidak Tuan Muda, bagaimana mungkin kami berani.” seru Albert jatuh terduduk, ia memohon ampun. “Ini hanya kesalahpahaman Tuan.”
Xavier berdiri dari duduknya, matanya menyorotkan sebuah laser. “Kesalahpahaman?!”
“Benar Tuan, Sania pasti tidak sengaja mengeluarkan kata-kata kotor. Saya minta maaf Tuan, saya pasti akan mendidik anak saya lebih keras lagi.”
Albert menarik tangan Sania sampai terduduk bersimpah, ia memerintahakan anaknya untuk segera meminta maaf kepada Xavier sebelum kemarahan pemuda itu semakin meluap.
“Saya minta maaf Tuan Muda, saya tadi tidak bermaksud mengatai Anda. Saya hanya terpesona oleh ketampanan Anda jadi saya mengekspresikannya seperti itu karena kebiasaan buruk saya, saya minta maaf.” kata Sania merendah sekaligus memuji, mungkin saja Xavier akan luluh dibuatnya.
Marco saja yang mendengar hal itu tersenyum kecut, dikira Tuan mudanya akan langsung terpikat dengan kata-kata bualan seperti itu. Tidak! Xavier tidak akan masuk dalam rayuan itu.
Tuan mudanya adalah laki-laki berdarah dingin yang tidak peduli dengan pujian yang dilayangkan untuk membuatnya senang. Ia bahkan tidak segan-segan menyiksa perempuan cantik yang telah membuatnya marah.
“Aku tidak peduli mau kau mengataiku atau memujiku!” ucap Xavier berjalan angkuh kearah mereka.“Yang aku pertanyakan sekarang, siapa gadis yang telah menggantikanmu untuk tidur denganku.”
Albert gelagapan, ia sendiri tidak tahu menahu. Jelas-jelas Sania berkata sudah memuasakan Xavier. Albert menatap anak perempuannya tajam, meminta untuk memberikan penjelasan.
“Itu saya Tuan. Bagaimana Anda tidak mengingat saya, jelas jelas kemarin saya yang berada di pelukan Tuan.” Lagi-lagi Sania berbohong, ia takut kalau Ayahnya akan membuat perhitungan—menyepelekan ketakutannya pada Xavier yang bahkan jauh lebih menyeramkan.
“Seret mereka!!!” perintah Xavier tanpa expresi.
“Tidak Tuan, maafkan kami. Beri kami kesempatan sekali lagi.” mohon Albert dan Sania sambil bersujud.
Xavier tidak bergeming, ia tidak peduli dengan mereka. Xavier sudah malas menanggapi keduanya, hingga bodygord menyeret Albert dan anaknya keluar. Entah apa yang akan terjadi dengan mereka.
“Marco, temukan perempuan yang bernama Helena!”
.
.
Jangan lupa Like, Koment dan Vote ya 🖤
__ADS_1