
Seketika mata Marco melotot setelah mendengar perintah dari Xavier yang tidak masuk akal. Bagaimana bisa ia menemukan perempuan yang tidur dengan Tuan mudanya sedangkan Marco sendiri tidak pernah melihat wajah perempuan itu.
Bahkan Xavier sendiri tidak tahu pasti rupa perempuan yang sudah dinodainya, apa Marco harus membawa semua perempuan yang bernama Helena di hadapan Tuan mudanya?
“Tidak! kalau salah orang, bisa-bisa perempuan yang aku bawa akan langsung mati di tempat.” pikir Marco khawatir.
Wajah Xavier tidak boleh dikenal orang-orang sipil, banyak musuh yang mengincar nyawa Boss nya, kalau identitasnya sampai tersebar di public akan lebih membahayakan. Pertumpahan darah tidak akan bisa dihindari.
“Anu, Tuan… bagaimana ciri-ciri Nona Helena?” Marco memberanikan diri untuk bertanya, mungkin saja Tuan mudanya mengingat sesuatu.
Xavier kembali duduk bersandar, mencoba mengingat apa yang ada di memori otaknya. “Rambutnya panjang,”
“Bisa saja dia memotong rambutnya, Tuan.” batin Marco ingin mengomentari tetapi tidak berani.
Seumur-umur baru kali ini Xavier tertarik dengan seorang perempuan, padahal biasanya Tuan mudanya itu tidak pernah mau berhubungan lagi dengan perempuan yang sama, nama-namanya saja Xavier tidak pernah tahu.
Mungkin ada kesan mendalam dengan perempuan itu sampai-sampai Xavier ingin bertemu lagi atau bahkan ia merasa bersalah.
“Wajahnya bagaimana Tuan?” Marco bertanya lagi, ia ingin mendapatkan gambaran yang lebih jelas.
Xavier mengendikan bahunya. “Tidak terlihat.”
“Lalu bagaimana saya bisa menemukannya Tuan kalau Anda sendiri tidak bisa membantu saya menjelaskan perawakan Nona Helena.”
“Aitu kan urusanmu!”
Marco menyumpah dalam hati, kenapa tabiat Tuan mudanya jelek sekali. Selalu menyusahakan dirinya dengan pekerjaan yang menguras pikiran seperti ini. Lebih baik Marco disuruh push up seribu kali sampai pingsan ketimbang harus berpikir yang tidak ada ujungnya, malah bisa membuatnya mati berdiri.
“Ah, aku ingat.” seru Xavier yang mendapat kerlingan di mata Marco, mungkin itu bisa menjadi sebuah petunjuk untuk menemukan perempuan bernama Helena dengan mudah.
“Iya Tuan?”
“Aku meninggalkan dokumen perusahan milik Albert, mungkin saja dia akan mencari keberadaanku untuk meminta pertanggung jawaban karena aku sudah mengambil keperaw*nnya.” jawab Xavier diselingi tawa kecil.
Marco terdiam, ia bingung harus menanggapi penjelasan Xavier yang membahas hal pribadi. Marco takut salah berbicara, tidak biasanya Tuan Mudanya mau membicarakan hal sensitif dengannya. Apalagi Xavier sampai tertawa, hal paling mustahil yang ditunjukan Tuan mudanya di mata sekertaris sekaligus bodyguardnya.
“Kau juga tidak percaya kan kalau di zaman sekarang ini masih ada perempuan dewasa yang bisa menjaga martabatnya sendiri.” Xavier terlihat antusias dengan apa yang dia katakan.
__ADS_1
Marco tidak berkutik, ia hanya menatap wajah Tuan mudanya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
“Aku masih ingat suaranya saat menjerit kesakitan. Hahaha…”
Lagi-lagi Xavier tertawa senang, tawanya jauh lebih besar hingga mengema ke seluruh ruangan. Sampai membuat bulu kudu Marco berdiri, ia tidak menyangka bisa melihat dan mendengar tawa Tuan mudanya tanpa dibuat-buat seperti saat bersama para penjilat.
“Aku harus mengatakan apa? Pembicaraan ini tidak pernah terlintas di otakku.” Marco memutar isi kepalanya, ia sendiri saja belum pernah berhubungan dengan perempuan. Jadi Marco tidak bisa mengimbangi pembicaraan Xavier.
“Marco!”
“Iya, Tuan.”
“Segera temukan dia!”
Mau tidak mau Marco hanya bisa mengangguk pasrah, ia tidak mungkin menyanggah atau bahkan sampai menolak perintah dari Xavier. Bisa-bisa ia sendiri yang harus meregang nyawa di tangan Tuan Mudanya.
“Baik Tuan.”
...*****...
Helena menatap amplop berwarna coklat di kedua tangannya, berkali-kali ia hanya melihat tanpa berani membuka isi amplop itu. Helena hanya tidak tahu harus bagiamana jika mengetahui isi di dalamnya, apa ia bisa menemukan laki-laki brengs*k itu hanya bermodalkan sebuah dokumen yang belum jelas apa isinya.
“Aku masih tidak tahu harus berbuat apa?!”
Helena merebahkan tubuhnya di atas ranjang, mengangkat tangan kirinya lalu menatap lagi amplop yang di pegang hampir setengah jam itu. Ia menerka lagi dalam pikirannya, kalau Helena berhasil menemukan laki-laki brengsek yang sudah menodainya apa yang akan ia lakukan.
“Apa aku harus memakinya?!”
“Menjebloskan ke dalam penjara?”
Helena bermonolog sendiri, membayangkan pertemuan tragis dengan laki-laki itu. Bagimana kalau ia salah menuduh orang atau laki-laki itu terus berkilah kalau bukan dia yang melakukannya.
“Aaaaa… Aku tidak punya bukti yang jelas untuk menuduh sembarang orang!”
“Menuduh apa, Ele?”
Mendengar sebuah sahutan pertanyaan, Helena menoleh untuk melihat siapa yang bersuara, ia gelagapan saat menemukan Alexander—Ayahnya sudah berdiri di ambang pintu kamar. Spontan Helena bangun dari rebahannya, ia terlihat sangat gelisah karena takut kalau Alexander mendengar semua ucapannya.
__ADS_1
“Apa maksud perkataanmu tadi?” Alexander berjalan menghampiri Helena. “Menuduh siapa? Bukti apa?” sambungnya penasaran, ia takut anak kesayangannya mendapatkan sebuah masalah.
Tiba-tiba Helena membisu, ia ingin menangis dan mengadukannya kepada Alexander tetapi di lain sisi Helena takut mengecewakan Ayahnyanya sendiri. Tanpa menjawab pertanyaan Alexander, Helena merengkuh tubuh Ayahnya dalam dekapan.
“Apa ada yang menyakitimu, Ele?”
Perkataan itu membuat Helena semakin ingin menangis, kasih sayang dan perhatian yang Alexander curahkan kepada anak perempuannya tidak pernah berkurang sedikit pun sejak Helena lahir sampai sekarang.
Bagi orang tua meskipun anaknya sudah tumbuh besar dan dewasa bahkan sudah menikah pun tetap terlihat anak kecil di matanya, begitu juga Alexander, ia terus menganggap Helena adalah peri kecilnya sampai kapan pun.
“Katakan pada Papa, Ele.” Alexander mengusap lembut puncak kepala Helena.
“Tidak ada apa-apa, Pa. Ele cuma kangen sama Papa.” jawab Helena semakin mempererat pelukannya.
“Oke tapi kalau ada masalah sekecil apa pun, kamu harus cerita sama Papa.”
Helena hanya mengangguk kecil. “Sekali lagi maafin, Ele. Pa karena belum bisa jujur sama Papa.”
Tidak ada lagi pembicaraan yang tercipta, kedua orang itu hanya saling menyalurkan kasih sayang. Hingga Helena reflek melepaskan pelukannya dari Alexander karena melihat Ayahnya berusaha mengambil amplop yang bisa menjadi masalah besar.
“Apa isinya? Kenapa kamu sepanik itu.” Alexander justru semakin penasaran.
“I..itu Pa, em…. Anu….” Helena bingung memberikan jawaban apa. “Ini hasil nilai ujian Ele… Ele takut kalau nilainya jelek, nanti aja kalau Ele sudah lihat baru Ele kasih tahu ke Papa, heheeh..”
“Astaga, tidak apa-apa. Sini Papa mau lihat, biasanya nilai kamu kan selalu bagus.”
“Ih, jangan dulu, Ele mau kasih kejutan buat Papa.”
“Oke baiklah, Papa setia menunggu.” kata Alexander tidak mempermasalahkannya lagi. “Ayo turun, Mami beliin oleh-oleh buat kamu dari Bali.”
Helena mengangguk kecil. “Papa turun duluan nanti Ele nyusul.”
“Cepat ya, Mami dan Kakak pasti sudah nungguin kamu.”
“Iya, Papa.”
Helena tersenyum tipis, ia tahu Rosalin dan Shofia tidak benar-benar sedang menunggunya, karena Ibu tiri dan Kakak tirinya ternyata baik kepada Helena saat ada Alexander saja selebihnya hanya perlakuan buruk yang di dapat Helena.
__ADS_1