
Setelah Endru meninggalkan Shofia yang kembali bergoyang di Altar bersama banyak pemuda dan gadis-gadis berpakaian minim, dia langsung menghampiri Helena yang tengah duduk sendirian seperti anak hilang.
Tanpa meminta persetujuan, Endru mendudukan pantatnya di samping kursi yang di duduki Helena. “Hai, aku Endru temannya Shofia.” sapanya.
Sebenarnya Helena enggan berkenalan dengan siapapun di tempat ini, tapi karena Endru menyebut nama kakaknya jadi dia menerima begitu saja. “Saya Helena Kak.” jawabnya sambil menerima uluran tangan Endru.
“Enjoy saja Helena, tidak usah terlalu sopan.” kata Endru seraya melepaskan jabatan tangan Helena. “Mau minum,” sambungnya menyodorkan segelas shampion.
Helena menggeleng. “ Maaf Kak, saya tidak minum alkohol.” tolaknya dengan sopan agar pemuda itu tidak tersinggung.
Endru meletakan kembali gelasnya di atas meja. “Tunggu sebentar, aku ambilkan minuman bersoda.”
Belum sempat Helena menolak, Endru sudah bangun dari duduknya lalu berjalan menuju meja Bartender. Tak berselang lama Endru kembali menghampiri Helena dengan sekaleng minuman bersoda lalu menyodorkan kepada gadis itu.
“Minumlah, aku tau sejak tadi kau kehausan.”
Memang benar, dari pertama datang ke clup malam, Helena belum memasukan suatu apapun ke dalam mulutnya. Dia takut kalau salah minum atau makan yang membuatnya sampai mabuk dan Helena tidak mengira kalau ada minuman bersoda juga di clup malam, ia pikir hanya ada alkohol saja.
Kalau bukan karena Shofia berbohong meminta Helena menemani ke rumah temannya, dia tidak akan penah menginjakan kaki ke tempat seperti ini.
”Terima kasih Kak,” ucap Helena menerima pemberian Endru lalu berusaha membuka tutup botol.
Ada yang ganjal, Helena merasa kalau tutup botol ini sudah dibuka sebelumnya. Dia melirik Endru yang sedang menatapnya dengan niat terselubung, tetapi cahaya lampu yang remang-remang membuat wajah pemuda itu tidak begitu kentara.
Helena tidak mengambil pusing lagi, mungkin hanya perasaannya saja, pikirnya. Dalam hitungan detik, soda didalam botol sudah ditengguk hampir setengahnya. Itu karena kerongkongan Helena sudah kering sejak tadi, apalagi asap rokok mengepul di seluruh penjuru ruangan membuat Helena sesekali terbatuk.
“Kau baru pertama kali ke sini?” tanya Endru semakin mendekati Helena.
“Iya Kak,”
“Kenapa? Kakakmu tidak pernah mengajakmu bersenang-senang.” Endru mulai berani meraba tangan Helena yang terbungkus baju lengan panjang.
Tanpa membalas perkataan Endru, Helena berdiri dan ingin menjauh dari pemuda itu. Namun tiba-tiba Helena merasakan kepalanya berputar-putar, badannya menadak terasa panas, dan keseimbangan tubuhnya pun tak terkendali.
“Kau kenapa Helena, kau tidak apa-apa?” tanya Endru seolah khawatir sambil memegangi pinggang Helena. “Sepertinya, obatnya sudah mulai bekerja,” batin Endru tertawa senang.
“Tidak tahu Kak, tiba-tiba kepalaku pusing.” jawab Helena memeganging kepalanya sambil berusah menjaga kesimbangan tubuhnya pada dinding tembok.
“Sepertinya tempat ini memang tidak cocok untukmu, ayo aku bantu kau pergi dari sini.” tawar Endru memapah tubuh Helena dengan paksa.
“Tapi kalau Kak Shofia mencariku?” Helena sempat menepis tangan Endru.
__ADS_1
“Kau tenang saja, nanti aku yang akan memberitahunya.” balas Endru mengetahui keresahan hati Helena. “Gadis malang, padahal Kakakmu sendiri yang menyeretmu masuk ke dalam lubang neraka.”
“Baik Kak, sekali lagi terima kasih banyak.”
Baru berjalan beberapa jengkal, tiba-tiba langkah Endru terhenti. Dia melihat sosok Sania–pacar barunya yang sedang mencari dimana keberadaannya.
“Sialan!” umpat Endru. Seketika dia kalang kabut lalu menyerahkan tubuh Helena kepada seorang pelayan perempuan yang berada di dekatnya. “Bawa dia ke kamarku.” lirihnya agar tak terdengar oleh gadis itu.
“Baik, Tuan….”
Belum sempat pelayan itu menanyakan tepat di sebeleh mana kamarnya, Endru sudah berlari menghampiri Sania.
“Sudahlah, pasti Nona ini tahu.”
Tak butuh waktu lama pelayan itu berada di lantai tiga–yang dikhususkan untuk tempat istirahat para anak kolongmerat papan atas–saat mereka tak ingin pulang ke rumah.
“Mati aku, ruangan Tuan tadi yang mana? Kalau aku sampai salah kamar bisa gawat.” gumam pelayan itu, sepertinya dia pekerja baru di Clup Skynight ini. “Nona, bangun. ruangan Tuan dimana?” tanyanya pada Helena yang kesadarannya tidak bisa dipercayakan.
Helena hanya menunjuk kamar paling ujung tanpa tahu dia dimana, hanya butuh hitungan detik, tubuhnya sudah berada di atas ranjang super besar dan empuk, rasanya sangat nyaman. Helena mengira dia sudah berada di kamarnya sendiri.
“Saya permisi Nona,” pamit pelayan itu keluar, tak lupa menutup pintu.
Mungkin hampir lima belas menit Helena berputar-putar di atas kasur itu, tubuhnya semakin terasa panas.
“Tidak nyaman….”
Tubuh Helena bergetar hebat ditambah suhu udara sangat panas baginya, keringatnya pun bercucuran, rasanya ada sesuatu di dalam tubuh Helena yang ingin dilampiaskan.
“Panas sekali….”
Tanpa sadar Helena membuka satu persatu kancing bajunya, menangalkan pakaian dan celana panjang yang dikenakannya tadi, hanya menyisakan singlet bertali dan pakaian dalam berwarna hitam. Terlihat sangat kontras dengan warna kulit Helena yang seputih salju.
Klek….
Terdengar suara gagang pintu dibuka dari luar, diikuti langkah kaki besar menuju ke arah Helena. Samar-samar mata coklatnya menangkap siluet seorang pemuda tinggi dengan penampilan yang sangat memukau tengah berdiri di hadapan Helena.
“Papa?”
Tidak ada jawaban, pemuda itu hanya menatap Helena yang terlihat mengenaskan.
“Tolong bantu Helena….” pinta gadis itu sambil menarik tali singlet dari pundaknya. “Panas….”
__ADS_1
Pemuda itu masih diam di tempat, memperhatikan kelakuan Helena yang terus berusaha menanggalkan semua pakaiannya.
“Papa, Helena kepanasan… bantu Helena menyalahkan AC.” pintanya memelas.
Mungkin yang ada di bayangan Helena saat ini adalah Ayahnya. Padahal saat ini Ayahnya sedang berlibur ke luar negeri bersama Ibu Tirinya.
“Apa dia habis diberi obat?” pikir pemuda itu.
“Papa… cepat! Helena tidak nyaman,” Helena merajuk dengan agresif.
“Benar-benar tidak sabaran!” lirih pemuda itu, membelai pipi Helena sangat lembut.
“Huh…”
“Huh…”
“Tolong Helena Papa, badan Helena terbakar….”
Napas Helena semakin memburu, membuat pemuda yang mendengarnya mengeluarkan senyum mematikan.
“SEBENTAR LAGI KAU AKAN MENIKMATINYA HELENA…..”
Tak butuh waktu lama, pemuda itu berhasil melepas semua pakaian yang menutupi tubuh indah Helena begitu juga dirinya. Tubuh keduanya sama-sama tidak tertutup sehelai benang pun.
Pemuda itu merengkuh tubuh Helena dalam dekapannya, membelainya dengan lembut hingga membuat gadis itu nyaman berada di pelukan laki-laki tak dikenal yang dianggap Ayahnya itu, Helena tidak bisa melihat dengan jelas dan otaknya bahkan tidak bisa berpikir jernih.
“AHHH…., SAKIT!!!!!”
Helena mencengkram kuat pundak pemuda itu, menancapkan kuku tumpulnya hingga mengores kulit pemuda itu.
“Sialan! Jangan-jangan perempuan ini…” mata Pemuda itu membulat, melepaskan pelukannya dari Helena dan melihat ada bercak kemerahan di atas ranjang.
Benar apa yang ada dipikirannya saat ini, gadis yang tidur bersamannya kali ini belum tersentuh orang laki-laki lain.
“Apa aku harus berterima kasih pada pak tua itu karena telah menyerahkan anak gadisnya yang masih peraw*n?!” ucap pemuda itu lirih.
Setelah melampiaskan semua nafsunya pada Helena, pemuda itu pun beranjak dari ranjang, menyelimuti tubuh gadis itu yang sudah terlelap dengan tanda merah yang hampir memenuhi sekujur tubuhnya. Ada sedikit rasa kasihan yang terbesit di dada pemuda itu.
“Salahkan orangtuamu karena telah menjualmu padaku!!!”
.
__ADS_1
.
Jangan lupa love, koment dan vote ya 🖤