
"Dasar wanita penggoda, sudah tua masih juga di embatnya," cibir wanita yang bernama Abel.
"Sharma, silahkan duduk!" ujar Pak Bambang.
"Terima kasih, Pak!" Sharma menjawabnya seraya mendaratkan tubuhnya di kursi yang berada di depan meja kerja Pak Bambang.
"Sharma, minggu depan anak saya sudah memegang perusahaan ini, Bapak harap, kalian berdua bisa bekerja sama dengan baik ya. Sebagai asisten pricdinya, kamu harus siap mengikutinya ke mana pun anak saya pergi," tandas Pak Bambang.
"Kecuali ke kamar mandi kan pak?" tanya Sharma spontan.
"Hahaha, kalau itu kamu tidak perlu menemaninya, bahaya jika kamu juga menemaninya ke kamar mandi." Pak Bambang mengatakannya sambil tertawa.
"Kamu sangat polos sekali, Sharma. Semoga saja kamu betah bekerja dengan anak saya nanti ya," ujar Pak Bambang.
Sharma tersenyum kikuk. "Pasti saya betah, Pak!" jawabnya.
"Ya sudah, kamu boleh keluar, Bapak hanya menyampaikan itu kepadamu!" ujar Pak Bambang.
Sharma keluar dan melemparkan senyumnya kepada Abel. Abel memberhentikan langkah Sharma dengan sengaja menyenggol kakinya membuat Sharma terjatuh ke lantai.
Abel berjongkok di depan Sharma. "Hei wanita penggoda, ilmu apa yang kamu pakai untuk menggoda Pak Bambang? Jika Ibu Karina mengetahui kamu sudah menggoda suaminya, kamu pasti akan di giring keluar dari perusahaan ini," kata Abeltmemandang sinis kepada Sharma.
__ADS_1
Sharma mengepalkan kedua tangannya mendengar penghinaan yang di lontarkan Abel kepadanya. Sharma berdiri dan menarik rambut Abel yang tergerai.
"Kau yang pantas di sebut wanita penggoda! Dari sikap dan pakaian yang kamu pakai, menunjukkan seperti apa jati dirimu. Kau memang cantik tapi hatimu tidak secantik wajahmu." Sharma mengatakannya sambil menarik rambut Abel.
"Sharma, lepaskan tanganmu!" Abel berusaha melepaskan tangan Sharma yang menarik rambutnya. Abel meringis karena merasa sakit.
"Berani kamu mengatakan aku wanita penggoda, akan ku bongkar rahasiamu!" ancam Sharma.
Sharma melepaskan tangannya dan pergi meninggalkan Abel yang kesakitan.
"Dasar wanita gila, aku tidak takut dengan ancamanmu!" teriak Abel.
Sharma melambaikan tangannya saat mendengar teriakan Abel. "Sudah jelas dia yang gila, masih juga menuduhku yang gila," gumam Sharma.
"Sharma, kenapa dengan wajahmu yang cantik ini?" tanya Nadira.
"Aku baru saja berantam dengan sekretarisnya Pak Bambang. Kamu tau, si Abel yang setengah waras itu menuduhku telah menggoda Pak Bambang, menurutmu, gila nggak tu cewek?" tanya Sharma.
Sharma menekukkan wajahnya karena rasa kesalnya kepada Abel. "Tu cewek memang nggak tau diri sekali ya, sok cantik, sok seksi, padahal kamu jauh lebih cantik dari dia. Kok bisa sih bos kita mempekerjakan cewek kek dia di kantor ini?" Nadira juga ikut geram melihat kelakuan Abel.
Sharma mengangkat bahunya. "Udahlah, Nad, sebaiknya kita bekerja lagi, pusing jika terus menceritakan tu cewek pasti nggak ada habisnya," ujar Sharma.
__ADS_1
Sharma dan Nadira kembali berkutik di depan komputer masing-masing. Tidak ada suara selain suara tangan mereka yang sedang mengetik di atas keyboard komputer.
**
Sore harinya, Sharma pulang menggunakan motor Vario lamanya. "Nadira, aku duluan ya," ujar Sharma yang sudah duduk di atas motornya.
"Ok Shar, kamu hati-hati ya!" Nadira menjawab seraya mengangkat handphonenya yang sedang berdering.
Saat Sharma melajukan motornya, Abel tiba-tiba saja meneriakinya. "Hei.. Sharma, wanita penggoda! masih zaman pakai motor butut seperti itu? Ganti dong, percuma kamu menjadi simpanan Om-Om," cibir Abel.
Sharma merasa darahnya mendidih, wajahnya merah seperti kobaran api neraka. Karyawan lain yang mendengar teriakan Abel melihat ke arah Sharma dengan pandangan jijik.
Sharma menongkatkan motornya, tangannya mengepal dan dia berjalan ke arah Abel dengan gaya elegan.
"Coba kamu katakan sekali lagi, apa yang kamu katakan barusan. Sepertinya kamu memang sudah siap untuk mempermalukan dirimu sendiri!" Sharma menghunuskan tatapan tajam kepada Abel.
Abel merasa tidak takut, Abel mengulangi kalimat yang dia lontarkan untuk menghina Sharma.
"Teman-teman, kalian jangan pernah percaya dengan mulut wanita penggoda ini ya, wanita ini tidak lebih seperti wanita penggoda yang berkeliaran di luar sana. Kalian tau, target dia adalah bos-bos besar!" ujar Abel memandang rendah kepada Sharma.
"Good, baiklah, siapkan dirimu untuk di hina kembali!" Sharma tersenyum menyeringai.
__ADS_1
Bersambung.