
Suara ketukan pintu dari luar membuat Arka meninggalkan aktivitas menonton televisinya. Arka berjalan membukakan pintu untuk tamu yang mereka tunggu.
Arka membuka handle pintu dan terlihat Monica tersenyum kepadanya. "Arka, di mana Liliana?" Monica berjalan mendahului Arka.
"Liliana sedang di dapur. Oh ya, di mana Bambang? Kenapa tidak ikut dengan kalian? Dan laki-laki yang tampan ini pasti Dante kan?" tebak Arka.
"Bambang tidak bisa ikut, karena ada perjalanan bisnis ke luar kota. Ia, ini adalah, Dante!"
"Dante, berikan salam kepada calon mertuamu!" kata Monica.
"Calon mertua? Apa maksud, Mama mengatakan laki-laki ini adalah calon mertuaku?" Dante bertanya karena tidak bisa mencerna ucapan Mamanya.
"Dante, Om Arka ini adalah teman Papa dan Mama, kami sudah sepakat untuk menjodohkanmu dengan putrinya, Om Arka dan Tante Liliana. No penolakan!" Monica mengatakannya dengan tegas.
"Dante tidak mau di jodohkan, Dante sudah memiliki kekasih! Aku dan Rigel sudah berencana menikah tahun depan." Dante menolak perjodohannya.
"Mama tidak mengenal siapa itu Rigel, kamu tidak bisa menolaknya, kalau kamu menolak, kamu tidak akan mendapatkan apa pun dari, Mama dan Papa! Pahamkan?" tegas Monica.
"Papa dan Mama selalu saja memaksa, Dante untuk menuruti semua kemauan kalian. Mulai dari kuliah S2 di luar negri, Dante menurutinya, dan sekarang urusan percintaan, Dante, juga kalian yang mengatur. Apa sebenarnya mau kalian dari, Dante?" Dante meninggikan intonasi suaranya.
__ADS_1
"Dante, jaga sikapmu! Ini bukan di rumah kita tetapi di rumah Om Arka. Mama dan Papa melakukan itu, untuk kebaikanmu, kami tidak mau kamu salah memilih pendamping hidup. Teman wanitamu tidak ada yang beres, mereka hanya mau denganmu karena mereka tau, kamu anaknya pengusaha terkenal di kota ini."
"Tetapi tidak dengan, Rigel, Ma. Rigel wanita yang baik, bukan seperti teman wanitaku sebelum-sebelumnya. Rigel berbeda dari wanita lain," ujar Dante.
Liliana yang mendengar suara di depan, datang menghampiri. "Eh, Monika, kalian sudah datang, ayo kita langsung makan saja," ajak Liliana.
"Di mana, Bambang?" Liliana mencari keberadaan Bambang dan pandangannya beralih kepada Dante yang berdiri di samping, Mamanya.
"Bambang ke luar kota, jadi tidak bisa datang memenuhi undangan kalian. Kenalkan, ini anakku, Dante!" Monica memperkenalkan Dante kepada Liliana.
"Halo, Dante! Ketampananmu menurun dari Papamu ya!" ucap Liliana tersenyum.
Dante merasa tidak tertarik mendengar pujian dari Liliana, Dante memaksakan senyumnya sebagai bentuk rasa hormatnya.
"Kalian duluan saja ke meja makan, Aku memanggil, Sharma dulu di kamarny!" ujar Liliana.
Dengan rasa malas, Dante mengikuti Mamanya dan Om Arka ke meja makan. Tanpa di suruh, Dante mendaratkan tubuhnya di salah satu kursi yang tersusun rapi di meja makan.
"Sharma, ayo turun, tamu kita sudah datang. Kita akan malam bersama mereka." Liliana berbicara dari balik pintu kamar Sharma.
__ADS_1
Sharma keluar memakai gaun di bawah lutut, mempoles bibirnya dengan sedikit lipstik berwarna merah. Kali ini, Sharma tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menuruti kemauan orang tuanya untuk menjodohkan dirinya dengan orang yang tidak di kenalnya.
"Anak Mama cantik sekali, gini dong, sesekali menyenangkan hati orang tua, ayo kita ke meja makan!" ajak Liliana.
Liliana menggandeng tangan Sharma dan membawanya ke meja makan. Sharma tidak berhenti berdoa agar perjodohannya batal.
"Ya Tuhan, semoga saja perjodohannya batal. Sharma belum siap menikah!" gumamnya.
Di meja makan, Monika duduk di depan Dante. Monica melihat Liliana datang bersama putrinya, Monica langsung melemparkan senyumnya kepada Sharma.
"Dante, coba kamu lihat ke belakang. Calon istrimu cantikkan? Kamu pasti langsung jatuh cinta melihatnya." Monica memuji kecantikan Sharma yang menurutnya kecantikan Sharma terlihat natural.
Dante tidak mengindahkan ucapan Mamanya. Dante hanya menatap piringnya yang kosong sambil memainkan sendok di atasnya.
"Liliana, putrimu sangat cantik sekali. Tidak salah, aku menjodohkannya dengan, Dante!" kata Monica tersenyum lebar.
"Tunggu! Tadi, Tante itu menyebut nama, Dante? Jangan-jangan yang di maksud adalah, Dante si biang kerok yang selalu mencari masalah kepadaku waktu di kampus dulu? Oh no, hidupku akan hancur jika dugaanku ini benar." Sharma merasa jantungnya berdetak dengan kencang memikirkan tebakannya.
"Kamu duduk di samping, Dante, biar kalian bisa lebih akrab," ujar Monica.
__ADS_1
Dengan perasaan kacau, Sharma duduk di samping lelaki yang mau di jodohkan dengannya. Dante melirik sekilas ke arah Sharma yang duduk di sampingnya.
Bersambung.