Briyan Dan Fiana: Romance Story

Briyan Dan Fiana: Romance Story
Nabila


__ADS_3

Di kota yang sibuk dan ramai. Kota Pahlawan, Surabaya. Disinilah aku tinggal bersama orang tuaku dan adik laki-lakiku. Rumah putih disertai kolam renang dan pepohonan rindang di halaman rumah. Berlantai dua dengan luas kurang lebih seperti rumah perkotaan pada umumnya.


Dan seperti biasa, keluarga perkotaan penuh dengan berbagai macam kesibukan. Mulai dari ayahku, ibuku, adikku dan aku juga. Kesibukan cenderung membuatku seperti hidup tanpa keluarga. Aku juga bisa memaklumi sih, mereka sibuk.


Oh iya, belum kenalan sudah main curhat aja. Kenalin namaku Sabrina Nia Fiana, biasa dipanggil Fiana, Nia juga boleh (kalau udah deket). Aku sekolah di SMA, lumayan deket dari sekolahku. Oleh karena itu, aku sering banget pulang sekolah sebelum waktunya alias bolos. Tapi jangan ditiru ya, kalau udah lulus nggak apa-apa bolos, nggak ada yang negur.


Enak juga sih tinggal di rumahku ini, soalnya lokasi rumahku ini sangat strategis. Depan rumahku SD, kanan rumahku supermarket, kiri rumahku pasar, sampingnya pasar bioskop, depannya bioskop toko buku, sedangkan belakang rumahku pemakaman, hiii, kok serem ya. Nggak apa-apalah, sama-sama makhluk juga kita.


Yang paling aku suka sih, di rumah. Nonton televisi, nonton youtube, nonton drakor, baca novel, baca komik, kadang diajak adikku main playstasion (tapi diajak doang, soalnya aku nggak suka main playstasion) masih banyak yang lainnya. Meskipun di luar rumah banyak kesenangan dan tempat hiburan, aku lebih suka nolep di rumah. Rumahku, sarangku. Alasannya sederhana, karena aku pemalas dari kecil. Nggak usah komen "Ihh, anak cewek kok pemalas, gimana nasib suaminya nanti?" Udah sering aku dikritik ibu, ibunya ibu, ibu-ibu, bahkan calon ibu (kasir supermarket yang datang berkunjung. Jadi, kalian jangan nambah-nambahi masalah aku, nanti aku tembak kepala kalian kayak film sniper. Nggak lah, bercanda doang.


Ngomong-ngomong tentang sniper, aku jadi ingat pernah ditembak puluhan cowok di sekolah. Hampir setiap hari jika aku lewat ke kelas suara siulan dan kata-kata nggak jelas dari cowok-cowok yang nggak jelas pula. Dan jawabannya? Tentu saja "Maaf ya, kita temenan aja." " Tapi aku cuma nganggap kamu teman." "Tapi kurasa kita nggak cocok deh." "Aku nggak cinta sama kamu." "Maaf ya, lain kali aja kita pacaran." Dan responnya selalu si cowoknya nangislah, pura-pura kesurupanlah, pura-pura "nggak bisa hidup tanpamu"lah, dan banyak lagi "lah" yang lain.


"Ehh, lho kejam banget sih jadi cewek? " Ehh, cinta itu nggak bisa dipaksakan tahu, namanya aku belum cinta ya belum cinta, belum mau menjalin asmara dengan siapapun termasuk kamu! "Lho, kok jadi saya? Ini ceritanya gimana? " Nggak tahu, pokoknya aku sebel sama kamu, titik nggak pakai tanda pagar.


Ini penulisnya mungkin lagi kesepian sampai-sampai tokohnya diajak bicara. Makanya cari jodoh woy, nikah cepetan! "Hiks, hiks, kok aku malah diejek karakterku sendiri." Biarin, masa ada author kayak kamu sih. Komen-komen sendiri nggak jelas.


Udah dulu ya, kasian penulis aku ejek terus nanti malah nggak semangat nulis. Di sekolah, aku selalu jadi tempat curhat untuk teman-temanku. Bukan hanya satu orang saja, hampir semua teman sekelas bahkan dari kelas-kelas lain. Emangnya aku ini psikopat eh sorry psikolog apa? Aku ikhlas sih ikhlas jadi tempat curhat, tapi bayangkan tiap hari ada lima orang yang curhat kepadaku. Ada yang datang saat sekolah, ada juga yang datang ke rumahku. Suatu hari juga ada yang rela tengah malam sekitar jam satu, datang cuma untuk curhat. Tapi kasihan juga sih, soalnya dia dihamili pacarnya dan biasalah, ditinggalin tanpa mau bertanggung jawab. "Woy! Biasa dari mana? Kasian, emangnya elo mau digituin?! " Ihh penulisnya mesum ternyata! Kabuuurrr!

__ADS_1


Sepanjang profesiku menjadi juru curhat, aku paling menderita jika sudah musimnya orang patah hati. "Emang ada ya?" Ada dong. Biasanya waktu mepet ulangan atau semacamnya, perhatian pasangan kepada pasangannya biasanya berkurang. Dari situlah terjadi keretakan hubungan, saling berprasangka buruk, saling menuduh, saling menyalahkan, diakhiri dengan kalimat "Kita putus!" baik secara langsung maupun tidak langsung.


Meskipun tahu kalau sudah putus, beberapa orang kadang menganggap tidak terjadi apapun. Itulah faktor belum bisa move on. Makanya sejak zaman prakambrium hingga zaman tersier aku tidak pernah sekalipun yang namanya pacaran. Bukan karena takut patah hati atau takut dikhianati, tapi karena aku ingin menikmati kesendirian dan banyak belajar terlebih dahulu. Meskipun kenyataannya aku paling malas belajar.


Jujur aja aku berharap suatu saat ada orang yang tiba-tiba datang melamar dengan memberikan kuota unlimited seumur hidup, eh salah maksudnya cincin berlian seberat dua ton dengan bunga tujuh rupa. Eh salah juga intinya ada orang yang ngelamarlah, daripada hidup ngejomblo nggak enak juga dilihatin tetangga. Sebenarnya tetanggaku nggak ada yang komen juga sih tentang kehidupanku, nggak kayak penulisnya ini.


~ ~ • • ~ ~


Suatu hari, ada seorang temanku datang curhat. Namanya Nabila. Jenis kelaminnya perempuan, udah kelihatan sih. Nah, Si Nabila ini punya pacar inisialnya Reno Wahyu Abimanyu. "Itu sih nama lengkap." Hubungan antara Reno dan Nabila ini bisa dibilang sangat dan sangat romantis. Sampai-sampai guru IPS yang masih jomblo iri dengan keromantisan mereka berdua. Tak jarang, karena keromantisan mereka berdua mengganggu kegiatan belajar mengajar, guru IPS menyuruh mereka keluar dari kelas. Aku rasa sih, karena gurunya aja yang meratapi kejombloannya. Tapi, aku hanya bisa mendoakan semoga pak guru IPS bisa mendapat jodoh yang shalehah, amin.


Setelah kejadian tersebut, Reno sudah jarang menampakkan dirinya di sekolah. Selalu datang izin dari temannya mengatakan kalau dia sakit atau ada acara keluarga atau yang lainnya. Tapi, aku sudah tahu kalau itu hanya alasan saja untuk menghindari Nabila.


Aku jadi kasihan sama Nabila. Sejak diputusin Reno, ia jadi kayak kuntilanak. Matanya merah, kelopak matanya hitam, rambutnya yang ditutup kerudung kadang beberapa helai keluar. Bibirnya yang dulu selalu tersenyum kini pucat pecah-pecah. Bedaknya pun sudah habis, apalagi maskara juga tidak pernah dipakai.


Sesekali aku ngomong sama dia "La, nggak usah sedihlah. Malu juga kamu cewek baik-baik nangisin orang yang udah jadi masa lalu kamu." "Aku ini bukan perempuan yang baik Na, kalau gue memang baik, kenapa Reno mutusin gue dan ngilang gitu aja tanpa alasan yang jelas." "Lo itu cewek yang baik La, nggak usah dipikirin apa yang udah diperbuat Reno padamu.Yang penting sekarang lo nyiapin hidup yang baru tanpa Reno.Percaya deh, lo masih bisa hidup walaupun tanpa Reno." Nabila mengusap air matanya yang sempat menetes ketika aku berbicara. Aku mengusap-usap pundaknya. "Lha kenapa lo nggak cari tau aja ke rumahnya? " "Iya juga ya Na. Gue nggak kepikiran. Nanti abis pulang sekolah lo temenin gue ya kesana?" "Siap."


Ditengah pembicaraan kami, tiba-tiba ada seorang siswa berwajah mirip, nggak mirip siapa-siapa sih. Rambutnya kayak Lee Min Ho, tapi mukanya nggak karuan. "Fiana, lo mau nggak jadi calon istri gue?" "Besok aja ya, nunggu tanggal 50 Februari."

__ADS_1


~ ~ • • ~ ~


Sore itu, aku dan Nabila pergi ke rumah Reno sesuai janji yang kita buat tadi. Rumah Reno berada tepat di samping perempatan ketiga sebelah selatan rumah Nabila di samping lampu lalu lintas. Sampai di depan rumah kami terkejut bukan main, ramai sekali rumah Reno. "Tumben rumah Reno ramai, biasanya sepi, " tanyaku kepada Nabila. Namun ia tak menjawab, langsung ia memencet bel rumah. Pemilik rumah tak kunjung membukakan pintu. Ia memencet bel untuk yang kedua kali, reaksinya sama negatif. Bel ketiga, barulah pintu dibuka. Tanpa kesulitan, Reno yang membukakan pintu. Ia tampak kaget melihat Nabila. Setelah itu, seperti biasa pertengkaran-pertengkaran yang jika dituliskan disini tidak akan muat. Aku hanya berpanngku tangan tanpa mengganggu sedikitpun. Takut ikut terjerumus kedalam perdebatan pasangan yang aku tidak begitu mengerti.


Setelah bertengkar kurang lebih sepuluh menit, datanglah seorang wanita dari dalam kamar Reno. Wanita itu seumuran denganku, hanya saja perutnya sudah membuncit. "Ada apa Mas? Kok ribut-ribut?" "Maaf, Mbak ini siapa ya?" aku memutuskan bertanya, sebelum Nabila mulai bersuuzon kepadanya. "Saya istrinya Mas Reno." Aku menelan ludahku, Nabila menahan tangisnya. "Reno, kamu ternyata selama ini cuma main-main pacaran sama aku. Tega kamu Ren." Air mata Nabila meluncur deras membasahi kedua pipinya. "Mbak ini, pacarnya Mas Reno ya? " "Enggak, dulunya iya, tapi sekarang lo udah ngerebut Reno dari gue! " Teriakan Nabila menggelora ke seluruh ruangan. Kupegangi lengannya agar amarahnya tidak semakin meluap-luap. "Maaf Mbak, saya tidak tahu kalau Mbak pacarnya Mas Reno." "Ya emanglah! Pelakor kayak lo mana bisa tau! Taunya cuma ngerebut pacar orang lo! " Wanita itu tak tahan. Ia kembali ke kamarnya.


Suasana tegang menyelimuti keheningan kami. "Reno, coba ceritain gimana lo bisa kayak gini? Gimana lo nikah sama dia? Gimana lo bisa mutusin Nabila? Ceritain semuanya." "Sebenarnya gini, gue nikah sama Najiha, karena tidak punya pilihan lain. Gue kasihan sama dia. Hamil diluar nikah, penyebabnya karena kakak gue. Saat kakak gue mau tanggung jawab, malah dia kecelakaan. Kalau gue biarin Najiha, dia sudah tak punya keluarga. Kerabat pun jauh di Kalimantan. Makanya, sebagai gantinya gue yang terpaksa tanggung jawab buat kakak gue. Tolonglah La, kamu ngertiin aku."


Mendengar penjelasan Reno, Nabila mulai mengerti. Ia sudah mulai menghentikan tangisnya. Ia mulai mencoba memahami situasi yang membingungkan ini. Disisi lain ada seseorang yang tidak boleh diabaikan. Disisi lain ada dua insan yang dengan tulus mencintai. Sementara untuk mengikhlaskan salah satunya adalah perkara yang teramat susah.


"Reno, gue ngerti kok. Gue cuma butuh waktu untuk bisa ikhlas. Maafin gue tadi datang langsung marah-marah nggak jelas." "Iya nggak apa-apa. Untuk sementara gue emang sengaja nggak berangkat sekolah buat ngerawat Najiha sampai dia lahiran nanti. Harap maklum." "Iya gue maklumin. Tapi kalau izin jangan lama-lama, nanti ketinggalan pelajaran." "Sejak kapan lo mikirin pelajaran? " "Nggak tahu." Senyum dan tawa memulai cairnya suasana di ruangan ini.


Begitulah kisah cinta dari Reno dan Nabila. Kisah cinta paling romantis di SMA. Sampai-sampai saudaranya Nic Soul ingin mengangkat kisah cinta mereka ke layar tancep. "Sejak kapan saudara gue main layar tancep? " Kisah yang tertulis disini hanya sebagian kecil dari jutaan kisah Reno dan Nabila. Di bab ini, hanya memuat inti, puncak konflik, dan endingnya. Oleh karena itu harap dimaklumi jika kisah cintanya kurang romantis.


Cinta yang tak berujung pelaminan memang terasa agak menyesakkan, namun itu dapat memberi kita pelajaran. Semua mimpi kita di dunia ini tak ada yang semuanya dapat terwujud. Sekeras apapun kita berjuang jika itu bukan takdir kita, tidak akan berhasil. Karena kita ini hanya manusia. Tidak bisa menentang takdir, hanya bisa berusaha.


Semoga pelajaran ini bisa menjadi pelajaran bagi kita agar tidak berlarut-larut dalam patah hati. Memang hati yang patah itu sulit untuk diperbaiki. Tapi semakin sering hati itu dihantam oleh berbagai jenis masalah, semakin kuat pula hati itu suatu saat nanti.

__ADS_1


__ADS_2