
Libur tahun baru sudah mulai dekat. Acara-acara televisi juga sudah mulai memasang berita spesial tahun baru. Sedangkan aku sendiri tidak peduli. Aku masih sibuk dengan novel-novelku yang jumlahnya puluhan, berjajar rapi di lemari buku seperti perpustakaan.
Meskipun kutu buku, tapi sebenarnya aku nggak pintar-pintar amat sih. Hanya hobi dan hanya untuk bersenang-senang. Lha mau bagaimana lagi? Emang seperti ini hobiku sejak kecil. Males keluar rumah, suka di dalam rumah baca buku, main handphone, nonton televisi, udah gitu aja. Diajak teman pun kadang nggak aku respon, karena emang males dari bayi.
Tapi, seperti itu aku kadang sangat menderita jika malam hari, plus listrik padam. Uhuhuhu, aku harap itu hanya terjadi dua kali saja dalam hidupku. Menjadi anak nolep itu, ada kesenangan tersendiri. Yang pertama aku bisa terhindar dari pergaulan bebas remaja masa kini, yang kedua aku terhindar dari sinar matahari. "Kayak vampir aja lo, takut sama sinar matahari. "
Rencana aku ingin tahun baruan di rumah. Nonton acara anime kesukaanku yang bakal tayang jam sepuluh malam di malam pergantian tahun. Setelah itu tepat jam satu malam ada drakor favoritku yang tayang perdana season duanya. Menjelang subuh, sekalian nonton serial Hogwarts. Itulah jadwal semalam suntuk yang aku persiapkan untuk tahun baruan.
Briyan Pov.
Tahun baruan bingung sih mau ngapain. Mau ngajak Fiana ke alun-alun, terlalu biasa. Lagi pula dia kan paling ogah kalau diajak keluar rumah. Enaknya ngapain ya? "Nonton televisi sama Fiana. " Siapa itu?! Tunjukkan rupamu! Lho, aku kok bicara sendiri ngapain ya? Ah, sudahlah aku bingung mau ngajak Fiana kemana. Mungkin bener juga tadi, ngajak nonton televisi di rumah. Cobalah tanya dia.
Di supermarket.
"Fiana, aku sebenarnya ingin ngajak kamu tahun baruan bareng. "
"Kemana? "
"Kamu sendiri pengen kemana? "
"Kemana aja asalkan nggak di luar rumah. "
"Kok nggak di luar rumah? Masa kita tahun baruan di dalam rumah sih? "
"Ya, kalau kamu nggak suka ya udah. Ngajak tahun baruan orang lain saja. "
"Eh tunggu, baiklah kita tahun baruan di dalam rumah, di rumah kamu gimana? "
"Okelah. Tapi di malam pergantian tahun lho ya, nanti kita nonton film bareng-bareng di rumah aku. "
"Oke. "
Malam pergantian tahun, aku pun jadi ke rumah Fiana. Tak seperti yang aku duga, ternyata rumahnya hanya ditinggali dia seorang. "Lho, ortumu dimana Na? " "Ortuku di luar kota ngurus pekerjaan. Adikku di rumah temannya. "
"Sambil nunggu acaranya mulai, kita main PS dulu ya? "
"Terserah. "
Di ruang keluarga yang luas namun kosong itu, keseruan kami berlangsung. Teriakan kemenangan, tangisan kekelahan, teriakan kombo, menjatuhkan lawan, dan kerjasama. Ternyata seru juga meskipun hanya dengan bermain game.
Kesenangan kami semakin larut sampai pukul sepuluh malam. Fiana mengganti saluran televisi dengan film anime yang berkisah tentang seorang anak yang dikurung di dalam biara. Biara itu dikelilingi pagar yang besar dan berduri. Di sana, anak itu dijaga dengan sangat ketat. Anak itu merasa tertekan dan pada akhirnya ia mengetahui kalau sebenarnya ia adalah putra dari seorang raja. Ia juga mengetahui kalau sebenarnya ia mempunya kekuatan sihir yang sangat kuat. Ia mengalahkan semua penjaga dan pemimpin biara, menghancurkan tembok dan bertemu kembali dengan ayahnya.
Saking asyiknya menonton film, aku baru sadar kalau Fiana tertidur. Ia menyandarkan kepalanya ke pundakku. Aku amati, ternyata cantik sekali dia ketika sedang tidur. Tapi fokusku malah kepada celana pendek yang dikenakannya. Ih kok malah jadi sampai situ sih.
Aku tidak tahan, aku kecup kening Fiana yang masih tertidur pulas. Kubelai rambut panjangnya, dan aku sentuh pipi lembutnya. Tak tahan lagi, aku mencium bibirnya. Tapi, alangkah gilanya aku. Ia terbangun dan memberontak.
"Apa yang kau lakukan! Dasar mesum! "
"Tidak Fiana, aku hanya ingin me.... "
__ADS_1
"Ingin apa?! Ingin berbuat mesum kan?! "
"Itu, drakornya udah mulai. "
"Oh masa? Oh iya, untung aku terbangun tadi. Cepetan ambil popcorn di dapur. "
"Oke. "
Fyuh, untung saja dia tidak berteriak "maling" kalau iya habis hidupku. Sungguh cewek itu memang terlalu aneh dan terlalu lucu menurutku. Malam ini akan menjadi malam yang berbeda bagi diriku. Malam yang tak pernah kubayangkan, dengan orang yang membuatku jatuh hati.
~ ~ • • ~ ~
Fiana pov.
"Fiana, jujur saja. Aku mencintaimu. " Kalimat itu sempat membuat jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Lha terus? " Aku memilih untuk merespon dengan wajah datar sambil terus menonton drakor.
"Mau nggak kamu jadi pacar aku? "
"Hmm, gimana ya? " Aku sebenarnya nggak nyangka Briyan akan menembakku di malam pergantian tahun ini. Harus aku jawab gimana ya? Aduh malah salah tingkah sendiri nih aku jadinya. Gimana ya? Ya tidak, ya tidak, ya tidak, sebenarnya aku nggak ngerti sama sekali tentang pacaran.
"Nggak usah ditanggepin serius, aku cuma niruin gaya drakornya. "
"Owalah, kirain beneran. Kalau beneran pasti udah aku jawab "iya". "
"Beneran? "
"Dasar! "
Tahun baru ini, bukan sekedar tahun baru biasa. Kehadiran Briyan membuatku punya semangat, membuatku serasa punya diri yang lain. Yang biasa aku ajak bercanda, yang bikin aku tertawa, yang bisa kubikin tertawa, dan yang bisa aku kerjai tanpa ada rasa marah sedikitpun. Teman untuk berdiskusi bersama tentang novel, komik, film, drakor, anime, kadang juga membahas game, mbahas kisah masa lalu masing-masing, kisah masa kecil, kisah keluarga, banyak deh yang aku bagi dan dapatkan dari Briyan.
Semakin lama, aku semakin dekat dengan Briyan, apalagi tempat kerja kita sama, setiap pulang kerja pun aku ngobrol sama dia lewat telepon. Bangun tidur aja, di luar rumah udah di tunggu dia. Bahkan mimpi pun mimpiin dia. Semuanya nggak luput dari Briyan.
Liburan tidak terasa panjang seperti liburan-liburanku yang lain. Semuanya berjalan normal, netral, dan tentu saja bahagia dengan kehadiran Briyan disisiku. Ia jadi sering berkunjung ke kelasku. Mengajakku ke kantin dan pulang bersama denganku. "Yan, seharusnya kemarin aku ingin berhenti kerja. " "Lho, kenapa emangnya? " "Aku sebenarnya kerja untuk menghilangkan kebosanan selama liburan saja. " "Yah, nggak apa-apa sih kalau kamu mau berhenti kerja. " "Tapi aku kasihan, nanti kamu jadi kesepian tanpa aku. " Briyan tertawa kecil dan menutup dengan tangannya. Aku memukul pundaknya pertanda sebel.
Teman-temanku mengira aku lagi pacaran sama Briyan, padahal nyatanya tidak begitu. Aku hanya berteman dengan Briyan. Tapi bagaimana menurut kalian netizen? "Pacaranlah itu, masa temenan deketnya sampai segitu sih. " Oh, berarti benar apa yang dikatakan teman-temanku dong? "Iya bener sekali. " Lha terus? Aku nggak mau pacaran, aku maunya langsung nikah biar bisa ngelakuin "itu". Kalau belum nikah, kan nggak boleh. "Setuju. " "Pake pengaman lah. " "Kalau mau nikah muda entar rumah tangganya bisa kacau, soalnya belum siap. " "Nikah ya nikah aja, saya penghulunya. " "Cepetan nikah, cepet punya anak, saya dokter kandungan. " "Cepetan mati, saya tukang gali kubur." Tanya netizen di Sosmed malah balesannya gitu, nasib-nasib.
~ ~ • • ~ ~
Briyan Pov.
Cewek polos, lugu, dan lucu itu. Membuat hatiku meronta-ronta ingin memiliki dirinya. Ingin sekali aku meluapkan semua yang kurasakan kepdanya. Rasa cinta yang telah memenuhi hatiku sudah tak tertahan lagi. Aku ingin bertemu ayahnya, bilang kalau aku mencintai putrinya. Aku akan menunggu. Menunggu sampai orang tuanya pulang dan sampai saat itu aku akan langsung melamar Fiana.
Fiana, Fiana, Fiana. Semoga kita bisa bersatu. Kita akan membangun rumah tangga bersama. Kita akan hidup bersama-sama. Aku ingin menjadi suamimu setelah kita lulus SMA nanti.
Saat yang aku tunggu pun tiba. Orang tua Fiana sudah pulang ke rumah. Bisa aku lihat dari supermarket mobil mereka merapat ke rumah. Aku langsung bersiap untuk menyambut kedatangan mereka. Bukan orang tua Fiana yang kusambut, melainkan hanya supirnya saja. Supir itu memberitahu kalau ada kecelakaan di pesawat yang di tumpangi orang tua Fiana. Bukan hanya orang tua Fiana tapi juga paman, bibi, kakek, nenek, sepupu, dan beberapa pekerja yang mengikuti kepergian mereka.
Tangisan Fiana pecah. Ia berlari dengan tangisan menuju rumah kesayangannya. Aku ingin mengikutinya untuk menghiburnya, namun pintu rumah telah ditutup dan dikunci sebelum aku sempat masuk.
__ADS_1
Aku paham apa yang sedang dirasakan Fiana. Kuputuskan untuk membiarkannya sementara waktu, membuatkan surat izinnya di sekolah, dan menceritakan tentang keadaannya kepada teman-temannya.
Fiana yang biasanya nolep, sekarang tambah nolep. Gelak tawanya yang dulu selalu kudengar, kini bahkan membukakan pintu untukku pun dia tak pernah. Dalam masa duka ini, semoga dia bisa tetap tabah menghadapi cobaan yang berat ini.
Supermarket terasa sepi tanpa kehadiran Fiana. Belum lagi Mbak Salsa baru lahiran anak pertamanya, sedangkan Mas Aziz lagi married. Jadilah, cuma aku yang jaga supermarket. Pelanggan pertama datang di hari ini dan aku sudah hafal betul dia mau apa. "Kak, kayak biasanya ya. " "Iya. Berapa? " "100." Dia seorang anak SMP yang hobi banget main game. Hampir tiap hari ia isi ulang voucher game. Sehingga aku sampai hafal kalau dia kesini pasti mau top up.
"Eh Kak, kakak perempuan yang biasanya disini kemana kok nggak kelihatan? "
"Yang mana? Yang pakai kerudung atau yang nggak? "
"Yang mana ya? Lupa. Dua-duanya deh. "
"Yang pakai kerudung lagi lahiran, yang nggak pakai kerudung lagi berduka. "
"Berduka? Oh, yang tragedi pesawat jatuh itu? "
"Iya. "
"Kok Jaka nggak tahu ya? "
"Maksudnya? " Satu anak yang seumuran menyusul.
"Kak, isi ulang sekalian buat gua. "
"Eh Jaka, coba deh cek korban tragedi pesawat kemarin. "
"Siapa emangnya? "
"Orang tua lo. "
"Terus? Apa peduli gua? "
"Orang tua lo tewas ****. "
"Iya, terus kenapa? "
Orang tua? Tunggu-tunggu. Mungkinkah dia adalah. "Dik Jaka ini adiknya Fiana ya? " "Tepat sekali. Tapi, gua nggak nganggap dan nggak merasa jadi adiknya ataupun bagian keluarganya. Gua bebas, gua nggak terikat hubungan apapun dengan keluarga itu. Bilangin sama dia. Udah dulu, berapa semuanya? " "Seratus ribu. "
Nggak terikat hubungan apapun dengan Fiana? Sebenci itukah Jaka kepada keluarganya? Sampai ia tidak mengakui keluarganya?Jaka itu satu-satunya keluargamu yang masih tersisa dan sekarang ia bahkan tidak mengakuimu sebagai keluarga? Hancur sudah semuanya.
Aku putuskan untuk menyembunyikan semuanya sampai keadaan membaik. Sampai keadaan bisa diterima dengan lapang dada oleh Fiana. Tapi, sudah hampir seminggu nggak ada kabar dari Fiana, apa yang harus kulakukan sekarang? "Temui Fiana. " Bagaimana aku bisa masuk ke rumahnya? "Lewat jendela. " Jendela tidak dikunci ya? "Nggak. " benarkah? Serius? "Iya. " Oke. Langsung otw kesana sekarang.
Ternyata benar, jendela tidak dikunci. Hanya pintu saja yang dikunci. Aku menyusuri seluruh rumah, namun tidak kutemukan Fiana. "Ada di kamarnya Mas Bro, cuman kamarnya dikunci. Kau bisa ketuk pintu, kalau nggak dijawab dobrak aja. Gue bantu doain lo. " Sudah pasti kalau aku ketuk nggak akan dijawab, aku langsung dobrak. Disitu Fiana sedang berbaring di ranjang kamarnya. Aku memegang pundaknya namun ditepis dengan tangannya. Duduklah aku ditepi ranjang. Terus aku harus ngomong apa? "Hibur dia. "
"Fiana. Aku tahu kamu sedih. Aku tahu kamu lagi berduka, tapi nggak gini juga. Aku yakin kamu pasti nggak makan selama seminggu. Yuk, aku temenin makan. " Bujukanku sia-sia, ia masih menyembunyikan wajahnya dibalik bantal.
"Ayolah Na, kamu nggak boleh kayak gini. Hidupmu belum berakhir. Kamu nggak boleh bersedih berlarut-larut begini. Kamu harus bangkit Fiana. " Namun ia masih tak merespon.
"Dalam hidup itu nggak ada yang mulus. Semua itu penuh lika-liku. Terkadang kita harus merelakan orang yang kita sayangi pergi meninggalkan kita. "
__ADS_1
"Baiklah, aku pergi jika kamu nggak perlu aku disini." Aku pergi meninggalkan Fiana.
"Tunggu. " Pasti, dia takkan tega. Aku berbalik, disambut pelukan erat dari Fiana. Ini yang kuharapkan. Dia kembali tersenyum seperti sediakala.