Briyan Dan Fiana: Romance Story

Briyan Dan Fiana: Romance Story
Bromo


__ADS_3

Briyan. Entah kenapa setelah kamu menemuiku di rumahku. Aku merasa ada sesuatu yang janggal di dalam hatiku. Namun aku tak tahu itu apa. Rasanya seperti saat aku membaca beberapa novel romantis. Rasanya nyaman namun terkadang membuat hati terasa berdebar-debar. Aku merasa mempunyai sebuah ikatan terhadapmu. Ikatan yang membuat diriku tidak bisa melupakanmu. Briyan, aku mencintaimu. Aku ingin bersamamu, aku ingin kamu menemaniku, aku tidak rela kehilangan dirimu.


"Hey! "


"Ha! Hih ngagetin aja deh. "


"Udah mau tutup malah ngelamun, ngelamunin siapa sih? "


"Ada deh. " Sebenarnya sih ngelamudah orang yang aku ajak bicara ini.


"Sekarang gitu ya, mentang-mentang udah happy terus aku dilupain. "


"Iih jangan gitu deh, entar aku lupa beneran baru kamu nangis. "


"Nggak bakalan. Eh, aku mau jalan-jalan nih, kamu mau ikut nggak? "


"Kemana? "


"Ke gunung. "


"Gunung?! Entar kalau gunungnya meletus gimana?! Entar kalau ada longsor gimana?! Entar kalau ada monster lava muncul dari dalam gunung gimana?! Iih aku takut. "


"Nggak bakalan gunungnya meletus. Terus juga monster lava cuma ada di film Ultramen. Udah deh nggak usah takut, kan ada aku. "


"Jangan-jangan kamu monsternya ya? "


"Bisa aja sih. Nanti aku ajak Mbak udah yuk bantu aku nutup supermarket. "


Malam harinya seperti biasa. Lembar demi lembar novel, aku baca sebelum tidur. Biar tidurku nyenyak, aku terbiasa membaca novel horor. "Sama, gue kadang juga gitu. Kalau baca novel horor tidur nyenyak, kalau nulis novel horor malah nggak bisa tidur. " Sebenarnya sih aku nggak nanya ya Bang, sorry. "Iya, iya, besok mau diajak Briyan ke gunung. Nggak usah sombong deh lu. " Ciye, iri nih ye, aku udah punya gebetan sementara yang nulis aja belum. Huwahahahahaha. Eh, kenapa suaraku jadi kayak raksasa?


Malam itu aku nggak bisa tidur. Udah aku paksain mataku merem, tapi tetap susah. Bayangan Briyan menghantui pikiranku. Angan-angan tentang hari besok adalah mimpiku, namun aku yakin itu akan segera terwujud. Tidur yang nyenyak sayang (boneka beruangku).


~ ~ • • ~ ~


"Na, aku jemput jam delapan tepat ya? "


"Oke sayang. "


"Sayang? "


"Maksudnya Braiyen. "


"Oh, namaku jadi nama artis. Okelah, perlengkapan siapin semua ya, termasuk novel. Biasanya kan kamu kalau nggak baca novel selama tiga jam, kayak orang kesurupan. " Masa sih aku seburuk itu?


"Iya, mana mungkin aku lupa kalau masalah novel. "


"Jangan lupa bawa uang, tapi nggak usah banyak-banyak soalnya aku udah bawa banyak. "


"Oke, udah ya aku mau mandi dulu. "


Jam delapan kurang lima belas hari, maksudnya kurang lima belas detik. Briyan sudah stand by di halaman rumah, lengkap dengan helm hitam, jaket hitam, sarung tangan, celana, sepatu, motor, serba hitam. Mukanya nggak hitam lho ya, mukanya Briyan itu blesteran Indonesia dengan Belanda, setahuku sih. Apa jangan-jangan kisah di novelnya Pak Toer itu benar adanya? Briyan? Mana aku tahu.


Kami berangkat menuju gunung. "Woy, dari tadi nyebut gunang-gunung, gunung mana sih? " Gunungnya itu Gunung Everest. Eh, ya nggak lah. Kalau Bang Nic tahu Gunung Bromo, ya itu. Nah, perjalanan dari Surabaya ke Bromo ternyata seru juga. Banyak yang bisa aku lihat untuk pertama kalinya, dan itu membuatku sangat takjub terheran-heran. Bagaimana kehidupan masyarakat di pedesaan, terutama disekitar bromo. Ini benar-benar perjalanan yang seru.


Kami berhenti sejenak di pinggir jalan yang berdekatan dengan sawah. Disana ada pos ronda, kami istirahat disana.


"Gimana capek? "


"Nggak. Seru kok. " Sebenarnya capek sih. Tapi nggak apa-apalah.


"Sebenarnya kita mau sampai sih, tapi mumpung masih ada waktu, sore ini aku mau ketemu pakdhe sama bibi dulu. "


"Kok panggilannya beda ya? "


"Soalnya pakdhe dari Jogja, bibi adik kandung ayah. Dulu kata ayah mereka saling bertengkar karena panggilan itu. Mau milih dipanggil pakdhe-budhe atau paman-bibi. Akhirnya, diambil jalan tengah seperti sekarang ini. "


"Itu dia pakdhe. " Briyan menunjuk seorang pria yang kira-kira berusia 27 tahunan. Merasa diomongin, ia memanggil kami.


"Ooooooyyyyyy. " Ia berlari menuju kami dengan lumpur sawah yang menenggelamkan sebagian kakinya. Kemudian sampai ia di pos ronda, kemudian mencuci kaki dengan air botol.


"Owalah, Dek Iyan kalau mau datang kok nggak bilang-bilang. Kebetulan bibimu tadi masak makanan kesukaanmu. "


"Berarti pas banget Iyan datang kesini Pakdhe. "


"Oo, iyo pasti itu. Langsung ke rumah sekarang. " Sambil menenteng cangkul, pakdhennya Briyan yang entah siapa namanya itu mengantar kami menuju rumahnya. Selama perjalanan ia bercerita panjang lebar menggunakan bahasa Jawa. Yang sudah pasti tidak aku ketahui artinya. Mungkin hanya kata "iyo" dan "ora" yang aku paham.


Sampailah kami disebuah rumah joglo bergenteng hitam, berdinding kayu, dan bergaya ala keraton di film-film kolosal indonesia. Rumah megah namun bernuansa tradisional. Baru tahu aku, kalau masih ada orang yang punya rumah seperti ini.


Dari pintu kayunya yang seperti gerbang ke alam jin, maksudnya gerbang kerajaan, aku semakin penasaran bagaimana bagian dalam dari rumah ini. Ternyata, bagian dalamnya rapi. Dipenuhi dengan barang-barang kuno seperti keris, ceret kuno, ukiran lemari dengan aksara Jawa, kitab-kitab kuno, dan banyak lagi yang lainnya. Ada juga beberapa buku tentang kebudayaan jawa. Seperti Ramayana, Mahabharata, Sutasoma, Negarakertagama, dan lain-lain. Ini rumah apa museum sih?


Pakdhe mengajak kami makan-makan di gazebo depan rumahnya.


"Lha bibi kemana Pakdhe? "

__ADS_1


"Biasalah, arisan. "


"Di desa seperti ini pun ada arisan? " Aku ikut nimbrung.


"Yo ada dong. Meskipun warga desa, pemikiran kami ndak kalah dengan warga kota. Gini-gini warga desa juga tau gengsi. Tapi kalau gengsinya hidup pemborosan, kami sangat anti. "


"Pakdhe ini kok seperti wakil warga desa ya? " Briyan mengomentari.


"Lho, kamu nggak tahu? Pakdhemu ini baru diangkat jadi ketua RT. Sebagai ketua RT yang baik, pakdhe harus peduli kepada sesama warga. "


"Oh iya, Pakdhe, saya mandi dulu yah. " kataku.


"Oh iya, kamar mandi di sampingnya dapur. "


~ ~ • • ~ ~


Briyan Pov.


"Dik Iyan ini mau kemana sebenarnya. " Tanya pakdhe.


"Mau ke Bromo Pakdhe. "


"Perempuan yang tadi itu siapa? "


"Temen, Pakdhe. "


"Oh, kalau temen, usahakan jangan deket-deket yah. Kalau kamu suka, menikah saja itu lebih baik. Dalam tata krama Jawa, kita dilarang berdua-duaan dengan wanita yang bukan sedulur dengan kita, ora elok. "


"Iyan juga pengen nikah Pakdhe, hanya saja kayaknya Iyan belum siap. Apalagi kan, Iyan masih sekolah. "


"Yowes, pakdhe juga maklum. Tapi,usahakan jangan terlalu deket sama dia, ya? "


"Njih Pakdhe. "


Sore sudah berganti malam. Mega merah di barat sudah mulai berganti dengan kegelapan. Rembulan dan bintang-bintang menggantikan mentari. Kami berpamitan dari rumah pakdhe, namun bibi belum juga kelihatan dimana. Entahlah, aku dan Fiana meneruskan perjalanan.


Jalanan malam saat itu sepi. Seolah hanya kami berdua saja yang lewat dari jalan itu. Sawah dan kebun di kanan kiri, perumahan yang tak seorangpun menghuni, tiang-tiang listrik roboh tak ada yang mengurusi.


"Gimana ke rumah pakdhe? Seru? "


"Seru banget. Aku kayak pergi langsung ke film Ramayana. "


"Hahaha, aku yang Rama, kamu yang Sinta. "


"Terus, pakdhe yang jadi rahwana gitu? "


"Emang aku hamil apa? Pake selametan segala. "


"Hahaha, kamu lucu banget sih. Jadi pengen nyeburin kamu ke sungai. "


"Hiii, jahat. Di villa nanti jangan macem-macem loh, awas aja aku punya jurus tinju mabok. "


"Jangan mabok dulu, aku nggak bawa plastik. "


"Bukan mabok perjalanan. "


"Mabuk cinta? "


"Bukan. "


"Terus? "


"Mabukku sayang padamu. "


"Ha?! Apa?! Nggak kedengeran. "


"Nggak apa-apa. "


Sampai disana, aku memesan villa. Maunya sih dua kamar, tapi Fiana memaksa pesan satu kamar. Soalnya ya gitu deh. Takut villanya ada hantunya lah, takut ada monster lah, takut diculik rahwana lah, dan banyak lagi. Akhirnya, villa sekamar untuk dua orang. Jangan mikir mesum dulu loh ya.


"Aku tidur di atas, kamu di bawah. " Dia udah main ngatur-ngatur.


"Tega banget kamu nyuruh aku tidur di lantai. "


"Kalau gitu aku yang tidur di bawah, kamu yang di atas. "


"Nggak enak sih, masa cewek tidur di lantai. "


"Tidur di atas semua. Oh, no no no. Udah ah, jalan tengah. Tidur di bawah semua. Aku di kanan ranjang, kamu di kiri ranjang. "


"Hmm, setuju. Oke, tunggu apa lagi? Langsung tidur."


Ceklek.

__ADS_1


Kamar langsung gelap. Kami berdua terlelap. Jaket tebal yang aku lipat sebagai bantal empukku. Namun tetap saja aku tidak terbiasa tidur di lantai. Terbiasa tidur di kasur yang tingkat dua. Aku melihat jam di hpku. Jam sebelas tepat. Melamun bentar. Aku lihat lagi, jam sebelas lebih lima menit. Main game sebentar, malah baterainya habis. Udah ah, udah ngantuk banget. Aku putuskan untuk naik ke ranjang, kemudian memeluk sebuah guling empuk.


Saat aku bangun, kok jadi manusia ya? Ha? Manusia. Apa?! Manusia?! Jadi.


"Loh ya, kamu curang tidur di atas. " Fiana ternyata tidur di sampingku.


"Kamu juga tidur di atas. "


"Kalau aku hamil nanti gimana? "


"Woy, aku nggak ngapa-ngapain kamu. "


"Bohong. Tadi malam aja lo naik ke kasur terus meluk aku. "


"Aku kira kamu guling. "


"Alasan. Udah ah, kalau aku hamil kamu harus tanggung jawab. "


"Aku nggak ngapa-ngapain kamu. Aku yakin 100% aku nggak "gitu"in kamu. "


"Kalau nggak yaudah, buruan mandi sana. Jadilah calon ayah yang baik. "


"Fianaaaa... "


"Bercanda kok, jangan dianggep serius. Hehehe. "


"Bercandamu kelewatan. Untung aja aku sayang kamu. "


"Hmm, hah?! Ngomong apa barusan?! "


"Nggak apa-apa. "


Aku langsung pergi mandi. Sebenarnya omonganku tadi serius. Tapi, aku ingat pesen pakdhe. Jangan terlalu dekat dulu. Sabar lah Briyan, sabar.


Setelah mandi, aku mengajak Fiana untuk berkeliling Bromo. Gunung yang katanya terkenal dengan keindahannya ini punya satu tempat yang diberi nama Atas Awan. Soalnya kalau kita ke tempat tersebut, rasanya seperti tinggal di negeri atas awan. Tempatnya di puncak Bromo. Ada banyak sekali orang yang berada disana, menikmati keindahan alam. Beberapa ada yang seorang pendaki, pecinta alam, bahkan ada yang sekedar foto saja.


"Gimana di Bromo? Seneng? "


"Seneng banget. "


"Masih mau tiduran di rumah lagi? "


"Sebenernya sih, iya. Tapi nggak apa-apalah ternyata di luar ruangan asyik juga. "


"Eh Fiana. "


"Apa? "


"Pas aku ngomong tadi pagi itu, aku serius. "


"Ngomong yang mana? "


"Yang sebelum aku mandi. "


"Sama. "


"Maksudnya? "


"Sama, aku juga sayang sama kamu. "


"Jadi? Kita pacaran atau nikah? "


"Hmm, dua-duanya juga boleh. "


"Serius lho ya? Kalau aku, mau malam ini juga. "


"Terserah, aku nurut aja sama suami. Eh, calon suami deh. "


Matahari mulai meninggi, hampir ke tengah-tengah. Kami kembali ke villa untuk makan siang, udah laper soalnya tadi pagi cuma makan roti keju. Padahal, makan siangnya juga hampir sama. Hanya saja rasa coklat. Aku duduk di kasur, sementara Fiana tiduran sambil membaca novel Ellyana dan Dialog Setan.


"Nikah nanti pakai mahar novel kamu mau nggak? "


"Ya maulah, ide bagus itu dari pada mahar pakai mobil juga nggak aku pakai. "


"Serius nih, kamu masih nolep? "


"Nolep tetap nolep. Its my life. "


"Dasar, nolep terus awas kamu ya. "


"Kenapa? Mau potong gaji? Nggak bisa. Weeek. " Ia menjulurkan lidah, mengejekku. Membuatku semakin geram untuk mencubit pipinya.


Liburan di Bromo terasa sangat berkesan. Terutama hatiku berdebar-debar saat menembak Fiana dengan cara yang tidak pernah aku sangka-sangka. Ternyata reaksinya biasa, dan aku diterima. Hatiku senang tiada tara. Namun kesenangan itu merendah saat aku melihat Fiana seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Cewek itu masih polos. Mungkin efek nolepnya yang berkepanjangan.

__ADS_1


Malam harinya, aku berdiskusi kepada ayah tentang rencanaku. Aku kira ayah bakal menolak mentah-mentah, tapi tidak aku sangka ayah bakal mengizinkanku menikah di usia ini. "Ayah mendukung apa saja yang kamu inginkan. Ayah yakin kamu sudah cukup dewasa untuk memutuskan jalanmu sendiri. Tapi, usahakan kamu memikirkan lebih lanjut untuk masa depanmu. " "Baik Yah. Terima kasih. "


Pernikahan terjadi malam itu juga. Dengan kehadiran Mbak Salsa, Mas Aziz dan istri, serta pakdhe juga ikut. Perasaan pakdhe kemarin masih di rumah deh. Setelah itu barulah aku dan Fiana menjalani malam pertama. Tapi bukan "gitu" woy. Jangan suuzon.


__ADS_2