Briyan Dan Fiana: Romance Story

Briyan Dan Fiana: Romance Story
Cemburu


__ADS_3

Aku menepuk-nepuk pipiku. Namun aku tidak juga terbangun. Penglihatan mataku masih tetap sama, di dunia ini. Tidak, ternyata ini bukanlah sebuah mimpi. Ini adalah realita, hanya saja aku tidak begitu mempercayainya.


Dunia ini terasa terlalu cepat bagiku. Sekejap tadi aku masih anak SMP, sekejap tadi aku masih anak SMA yang suka membaca buku fiksi, sekejap tadi orang tuaku dan kerabat-kerabatku meninggal, sekejap tadi aku sudah menikah. Sungguh aku belum siap. Seandainya waktu bisa aku putar kembali, tentulah aku akan memilih untuk kembali ke masa lalu, dimasa kecilku. Masa di mana tanggung jawab belum membebani pundakku. Namun, itu sudah bukan duniaku lagi. Masa lalu adalah dunia yang telah hilang. Sekarang, adalah yang aku miliki.


Malam yang paling indah adalah malam pertama pernikahan. Banyak yang memimpikan malam pertama pernikahan akan menjadi malam terindah bagi seseorang dibandingkan dengan malam-malam yang lainnya. Kenapa bisa seperti itu? Jawabannya simpel, karena itu adalah malam yang baru untuk kehidupan kita. Saat itu kita tidak lagi sendirian. Pendamping sudah siap untuk menemani kita untuk membangun kerajaan kecil yang kita sebut keluarga.


Seperti itu juga yang aku alami bersama Briyan. Briyan yang sekarang ini menjadi suamiku. Malam pertama pernikahan kami habiskan dengan bersantai di atap rumahku. Hal yang dulu saat ingin aku lakukan, tapi aku terlalu takut dengan ketinggian. Dengan membentangkan kasur tipis atau kasur lantai, kami memandangi langit malam yang bertaburan bintang terang. Serta bulan yang sudah dua minggu lebih bersembunyi di balik mendung.


“Sayang, kamu tahu nggak, apa bedanya kamu sama bintang? “


“Nggak tahu, Mas. Apa emangnya? “


“Kalau bintang jauh di langit. Kalau kamu, jauh di mata dekat di hati. “


“Masa sih? Sejak kapan aku jauh dari kamu? “


“Saat kamu pergi belanja, kan aku nggak bisa lihat kamu? Pas kamu pergi mandi, udah gitu mandinya lama amat lagi. “


“Iya deh, aku salah. Mulai sekarang dan selamanya aku akan nempel terus dengan kamu, kemanapun kamu pergi aku akan menjadi pakaian bagi kamu. “


“Ciye, so sweet banget sih. Jangan Cuma ngomong doang, dilakuin dong. Biasanya juga kalau diajak ke luar rumah suka nggak mau. “


“Iih, Mas Briyan kayak nggak kenal aku aja deh. “


“Nggak kenal. Emangnya kamu siapa? “


“Ngomong gitu lagi nanti aku dorong kamu, biar jatuh sekalian. “


“Iya, maaf deh, mamah sayang. “


“Kamu tahu nggak? “


“Tahu apa? “


“Sebenarnya di rumah aku ini ada hantunya. “


“Masa? “


“Iya, katanya dulu rumahku bekas tempat pembunuhan. “


“Hii, kok serem ya? “


“Nggak sih, soalnya pembunuhnya ada di depan mataku. “


“Hah? Aku? “


“Iya, kamu yang telah membunuh rasa benci di hatiku menjadi rasa cinta kepadamu. Iyaaaa”


“Iiih, kocak. Hahaha. “


Intinya malam pertama itu hanya berisi obrolan-obrolan sepasang suami-istri. Jika aku ceritakan semuanya, aku kasihan sama authornya. “Apaan sih? “ Maaf ya, aku nggak menyindir Bang Author jomblo, tapi memang jomblo, terus Fiana harus bagaimana lagi? Udahlah, jodoh itu bisa dicari. Kalau belum ketemu, berarti memang ditunda. Soalnya semua makhluk di dunia ini diciptakan berpasang-pasangan. “Udah, lo jangan membuat gue tambah ngenes. “


Seperti orang pernah bilang, sesuatu yang sudah lama itu pasti akan diabaikan begitu saja. Hal itulah yang aku takutkan terjadi kepada hubunganku dengan Fiana. Apakah pernikahan ini terlalu cepat? Menurutku keputusan ini sudah sangat tepat agar aku tidak terlalu berlarut-larut dengan hubungan yang tidak serius. Hubungan ini sudah aku buat serius. Meski dimata hukum belum belum dianggap serius, tapi di mata agama pernikahanku sudah sah.


Beberapa hari lagi liburan tengah semester akan berakhir. Aku akan berangkat sekolah dengan status sudah berkeluarga. Tidak apa-apa, tentang masalah itu aku sudah berusaha menyembunyikannya.


Rumah yang ditempati Fiana sekarang mrnjadi rumah kedua bagiku. Walaupun sekarang penghuninya hampir tidak ada, kami masih merawat dengan baik rumah ini. Adik iparku juga sekarang tidak pernah pulang. Sekali saja aku lihat di supermarket, sudah tidak terlihat dimana ia berada sekarang. Pikirku saat aku menjadi kakak iparnya, ia akan bisa pulang dan berkumpul dengan satu-satunya keluarganya. Tapi entahlah, mungkin ia ingin mencari jalan hidupnya sendiri.


Sudah seminggu usia pernikahan kami, belum juga diberi keturunan. Karena kami belum buat ya, sorry kelupaan. Lha terus ngapain nikah kalau tidak “gitu-gitu”? Aku sebenarnya tertarik menikah cepat itu karena dalam agamaku, tidak memperbolehkan pacaran. Makanya secepatnya aku menikah dengan Fiana mumpung bapakku belum berubah pikiran. Soalnya kalau bapak sudah berubah pikiran urusannya bisa panjang untuk kedepannya nanti.


Seperti biasa setelah pulang kerja, aku dan Fiana nongkrong di atap rumah Fiana. Hal itu seolah sudah menjadi kebiasaan yang selalu diistiqamahkan oleh kami. Sambil nongkrong, sambil kita menyapa orang-orang yang lewat di jalan atau menyapa bintang-bintang di langit.

__ADS_1


“Eh yang, kamu tahu nggak apa persamaan jalan raya sama kamu. “ Dia yang mulai ngegombal kali ini.


“Nggak tahu, apaan emang? “


“Sama-sama rame di hati aku. “ Ih, so sweet amat sih.


“Giliran aku ya, apa bedanya kamu sama hujan. “


“Kalau aku manusia kalau hujan air. Entahlah tak tahu. “


“Kalau hujan turun ke tanah, kalau kamu turun ke hatiku. “


“Garing Mas, “


Iya sih, leluconku memang garing dan crispy. Oh tidak, aku tidak terima leluconku dihina seperti ini. Aku gelitiki perut istriku hingga terpingkal-pingkal. Tanpa sadar, genteng yang kami tempati roboh. Untung saja di bawah kami adalah kamar Fiana yang tidak terlalu tinggi. Kami jatuh tepat diatas tempat tidur dan tawa kami pun semakin terdengar keras.


~ ~ • • ~ ~


Bulan januari hendak datang menyambut kami, saatnya kembali ke rutinitas yang biasa kami lakukan di sekolah yaitu belajar dan dengerin curhatan orang.


“Eh Fiana, gue mau curhat dong. “ Baru pertama masuk teman sebangkuku sudah mengajak curhat. Namanya Dinda, cewek paling gemuk di kelas. Bukan ngejek lho ya, supaya biar jelas.


“Oke, silahkan. “


“Kemarin tuh ya pas liburan tengah semester, gue diajak jalan sama pacar gue. Lha, pas itu rencananya dia mau ngajak ke cafe. Cafe yang deket sama rumah lo itu. Pas udah sampai di cafe dia baru duduk lima belas menit udah izin ke WC. Lha, dia ninggal hpnya tuh, di meja. Ada yang nelpon, namanya “My Wife” mukanya glowing pakai pakaian minim seksi banget Na. Beda jauh sama penampilan gue. “


“Mungkin temennya kali. “


“Udah gue lihat chattannya dan hasilnya pakai panggilan “sayang” segala. “


“Mungkin sepupunya kali. “


“Sepupu apaan tanya “Kapan kita nikah? Ibuku sudah nunggu loh, kapan kamu datang ngelamar aku? “ udah gue duga ternyata selama ini gue Cuma dimanfaatin sama pacar gue. “ Mukanya tampak meratapi nasib yang menyedihkan.


“Lo mah enak, wajah lo cantik banyak yang suka. Sedangkan gue, udah gemuk muka item, siapa yang mau suka sama gue? “


“Nggak semua cowok menilai cewek dari penampilannya. Kadang juga cewek cantik ujung-ujungnya diputusin sama si cowoknya gara-gara apa? Ketidak cocokan hati. Kamukan pinter, pasti ada yang suka sama kamu. “


“Iya juga sih, udah ah gue move on sekarang juga. Gue mau serius belajar lalu ngalahin Tika. Kalau gue rangking satu, otomatis gue bisa banyak yang suka. “


“Nah, gitu dong. Jangan mudah menyerah. Mungkin Si Kribo tuh yang suka sama lo. “


“Masa? Masa Kribo suka sama gue? Oke, gue tunggu kalau memang Kribo suka sama gue. Gue mau lihat dia dulu ah. “ Dinda pergi ke kamar mandi sekedar lewat di depan kelasnya Kribo alias Taufik. Taulah kenapa dia dipanggil Kribo karena rambutnya. Memang ciri khas teman-temanku sejak taman kanak-kanak hingga SMA, pasti ada saja teman kita yang kribo. Entahlah, mungkin suku kribo memang sudah ada sejak homosapiens.


Jam istirahat berbunyi. Seperti biasa kantin menjadi tempat paling ramai. Kali ini aku tidak jadi ke perpustakaan karena Briyan sudah menungguku di luar kelas.


“Kita kemana nih? “ Briyan bertanya.


“Terserahlah, kan kamu nahkodanya. “


“Ke kantin mau nggak? “


“Nggak ah, gue lagi diet ini soalnya. “


“Kamu itu udah kurus ngapain pakai diet-diet segala? “


“Kenapa? Nggak boleh? “


“Nggak apa-apa sih. Kamu emang cantik. “


“Ehem ehem. “ Sekelompok orang ternyata memperhatikan kami sedang mengobrol.

__ADS_1


“Ciye deket banget sih. Udah jadian belum? “ Seorang cewek dengan rambut kuncir kuda bertanya pada kami. Hanya aku balas dengan senyuman dan anggukan kepala. Bukan Cuma jadian sih lebih tepatnya.


Briyan menggandeng tanganku membawaku menjauh dari mereka. Dari arahnya sudah bisa aku tebak kalau Briyan akan mengajakku ke kantin. Udah dibilangin aku lagi diet juga, masih aja ngajakin aku ke kantin.


Ternyata dugaanku benar. Aku baru tahu kalau kantin sekolah besarnya hampir sama dengan restoran. Briyan mengajakku ke kursi yang kosong dan kebetulan hanya untuk berdua. Segera ia memesan makanan berupa nasi dengan lauk.


“Lho, aku nggak dipesenin Mas? “


“Katanya lagi diet? “


“Ih, gitu aja kok percaya sih. “


“Yaudah, sepiring makan berdua aja. “


“Tapi kan, malu dilihatin siswa lain. “


“Ngapain malu, kan kita udah nikah. “


“Tapi kan.. “ Belum sempat ngomong udah main suap aja nih suami. Hedeh.


“Tuh, aku udah baik hati lho nyuapin kamu. “


“Udah ah, daripada mesra-mesraan di depan umum mendingan aku pergi aja. “


“Nggak boleh, kamu nggak boleh pergi. “


“Jangan sok merintah aku deh. “


“Perintah suami. “ Aku yang tadinya sudah berdiri, kembali duduk. Itulah yang aku takutkan, Briyan menggunakan senjata pamungkas agar aku menuruti kehendaknya.


“Halah, aku pengen ke perpustakaan Mas. “ Bibirku aku kerucutkan seperti bebek agar Briyan menurutiku.


“Bantu aku menghabiskan makanan ini dulu. Nih. “ Ia menyuapiku lagi. Dengan terpaksa aku terima suapannya sambil melihat sekeliling. Untung saja para siswa sibuk dengan obrolan mereka masing-masing. Aku pikir kemesraan kami di tempat umum akan menarik perhatian mereka. Huuh.


~ ~ • • ~ ~


Briyan dan Fiana akhirnya disatukan ke dalam ikatan pernikahan. Meskipun mereka masih murid SMA, tetapi dengan latar belakang cinta yang kuat mereka memutuskan menikah di usia muda.


Menjalani kehidupan pernikahan bukanlah hal yang mudah. Disisi lain ada tanggung jawab dan cobaan yang tidak henti-hentinya menghantui pasangan pengantin. Rasa cemburu sebagai yang paling pasaran dari masalah keluarga. Termasuk juga masalah ekonomi, perhatian, bahkan tentang kepuasan.


Masalah juga tidak luput dari Briyan dan Fiana. Terkadang Briyan merasa cemburu jika Fiana didekati oleh cowok lain, begitupun sebaliknya. Rasa cemburu itu termasuk bukti cinta. Tapi, terkadang rasa cemburu yang memuncak justru akan membuahkan kehancuran dalam rumah tangga.


Suatu hari Briyan sedang bersantai di balkon lantai dua sepulang sekolah. Sambil menunggu Fiana yang sedang di kamar mandi, dilihatnya taman sekolah yang hijau dengan bunga bermekaran dan dua pohon palem. Tanpa ia sadari ternyata seorang wanita berambut kuncir kuda yang kemarin menegurnya datang kemudian mencium pipinya. Sedangkan Briyan menerima ciuman itu tanpa memberontak sedikitpun. Saat itu Fiana melihat dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan kata.


Berlarilah Fiana menuju rumahnya. Jika biasanya ia dibonceng suaminya, kini ia hanya menaiki kedua sepatunya. Sebenarnya Briyan sudah berusaha memberontak ketika dicium oleh wanita itu, tapi apalah daya karena cemburu sudah datang terlebih dahulu.


Pulanglah Fiana ke rumah, dikunci pintu kamarnnya. Ia tidur menutup seluruh badannya termasuk wajah dengan selimut tebal. Biasanya ia tidur dengan pelukan Briyan, sekarang ia tidur dengan pelukan guling. Memang berbeda rasanya, tapi setidaknya guling tidak bisa menyakiti hatinya.


Fiana melihat ke jendela rumah. Di depan gerbang taman ia melihat Briyan sedang berdiri mematung memegangi gerbang rumah yang terkunci. Seperti seseorang yang meratapi kesalahannya, hendak meminta maaf tapi takut salah. Tapi Fiana tidak peduli sama sekali. Biarpun Briyan kepanasan kehujanan atau tersambar petir biarlah itu terjadi. Rasa cemburu kali ini benar-benar menggelapkan hatinya. Tidak pernah ia merasa secemburu ini dalam hidupnya.


Sedikit demi sedikit bayangan tentang peristiwa tadi siang mulai menggerogoti pikiran Fiana. Penyesalan telah menikah dengan Briyan mulai muncul. Harusnya dulu ia tahu kalau Briyan itu seorang playboy, tapi dulu ia telah jatuh cinta tanpa alasan yang jelas kepada Briyan. Belum dipikir secara logis kalau nikah itu bukan sebuah permainan. Memang benar apa yang dikatakan pakdhe kalau menikah itu satu-satunya jalan yang terbaik untuk menjalin cinta, tapi kami ini hanya seorang remaja yang masih duduk di bangku SMA. Kami masih harus kuliah, meniti karir, membangun bisnis, dan banyak lagi yang lain.


Menyesal Fiana mengatakan “Iya” tanpa pertimbangan barang sedetik pun. Kepalanya pusing disertai air mata mengalir tanpa henti. Dipeluknya guling dengan tangan dan kakinya. Meluaplah segala kesedihan dan kemarahan. Ia pukul-pukul guling tersebut dan membantingnya dengan keras ke lantai.


Jam menunjukkan tepat tengah malam. Disamping jam alarm berbentuk beruang itu, terdapat foto saat pernikahan Fiana. Foto dimana Briyan mengenakan baju koko putih dan peci hitam, sedangkan ia memakai baju putih dan kerudung putih. Dicium dengan lembut tangan suaminya dalam foto itu. Terkadang memang sakit hati ini untuk menerima kenyataan. Tapi memang itulah sekiranya yang harus dihadapi.


Fiana turun menyusuri tangga rumahnya menuju halaman rumah. Hujan deras saat itu dan baru ia sadari. Saat di depan gerbang, betapa terkejutnya ia melihat suaminya yang masih berada di depan gerbang rumah. Briyan tidur di depan gerbang beralaskan tanah diterpa hujan. Ia jadi merasa bersalah. Digendonglah suaminya itu dibawa masuk ke dalam rumah. Ia menidurkan Briyan diatas sofa panjang ruang tamu, kemudian mengganti bajunya dan menyelimutinya. Briyan menggigil dan menyebut nama “Fiana” meskipun matanya masih tertutup.


Fiana merasa selimut ini kurang tebal, ia rebahkan tubuhnya. Ia taruh kepalanya di atas dada Briyan dan memeluknya erat-erat. Pelukan itu juga dibalas Briyan dengan melingkarkan kedua tangannya di badan Fiana. Kedua pasangan itu tertidur lelap dalam pelukan hangat.


Mengenai ciuman tadi siang itu, ternyata ia adalah saudara Briyan. Lebih tepatnya disebut saudara berbeda ibu. Dulu sebelum menikah dengan ibu Briyan, ayahnya yang bernama Fauzi terlebih dahulu menikah dengan wanita bernama Asma. Dari pernikahan itu lahirlah Farida. Saat Farida umur satu tahun, Asma menggugat cerai Fauzi karena masalah ekonomi. Farida dirawat oleh Asma. Setelah itu Fauzi menikah dengan Ruqayyah, dan lahirlah Briyan.

__ADS_1


Farida sejak kecil sudah tahu kalau Briyan adalah saudara tirinya. Karena itu Farida selalu membenci Briyan. Namun, semua itu berubah ketika ia nyaris ditabrak kereta api. Briyan dengan sigap mendorongnya keluar rel. Briyan jugalah yang menjenguk ibunya secara diam-diam di rumah sakit saat ia tertidur, membawakan bunga lily kesukaan Asma. Farida yang tidur dikasur ibunya melirik sedikit. Sejak SMA hubungan Briyan dan Farida membaik dan puncaknya ketika Farida mencium pipi adik tirinya itu. Mulai saat itu ia akan menganggap Briyan layaknya saudara kandung.


__ADS_2