
Hari Minggu. Seperti biasa di rumah gabut. Di luar lagi hujan, listrik pun mati. Halah, makin tambah males deh aku. Orang tuaku juga lagi pergi. Adekku, lagi belajar di rumah temannya. Rumahku kosong dari para manusia selain aku. Hanya suara televisi dan notifikasi handphone yang mengisi rumah. Hari Minggu yang kesepian.
Libur gini enaknya ngapain ya? Nonton televisi melulu, bosen juga sih. Mau ke supermarket, nggak ada yang mau aku beli. Mau ke bioskop, ogah ah hujan-hujan juga. Hmm, aku telepon teman saja deh.
Aku mengecek nomor telepon temanku, tapi nggak ada yang aktif. Aku scroll-scroll ternyata yang aktif Si Mira. Sebenarnya ogah juga sih nelepon dia, karena kalau ngomong sama dia pasti mbahasnya hantu-hantu terus. Yah, nggak apa-apalah daripada kesepian di rumah, mendingan ngomong sama bocah indigo itu.
"P. "
"Iya. "
"Temenin dong Mir, aku lagi kesepian nih. "
"Oh, kebetulan aku lewat di depan rumah kamu. "
"Sekalian mampir deh. "
Baru mbales chattan tiba-tiba orangnya udah muncul di depan muka aku.
"Eh, kalau datang permisi dulu napa, kayak hantu aja. "
"Sorry deh, katanya kesepian. Makanya aku langsung datang. Kelamaan nanti takut terjadi apa-apa. "
"Kamu tadi mau kemana? "
"Ke kuburan. "
"Ngapain? "
"Biasalah, masa nggak tahu kalau aku ke kuburan mau ngapain? "
"Gila. Bisa-bisanya hujan-hujan begini ke kuburan. Maklum sih, kamukan indigo. "
"Tapi beneran lho, rumah kamu ini sepi banget. Sampai aku nggak lihat apapun disini. "
"Emang nasiblah aku kesepian. "
Tak berselang lama, aku kedapur untuk mengambil beberapa makanan dan minuman untuk Mira. Baru mau kembali ke ruang tamu, tiba-tiba gelas plastik di atas meja jatuh sendiri. Aku tidak berani melihat, dan langsung mempercepat langkahku menuju ruang tamu.
"Kamu tadi lihat gelas jatuh sendiri ya? " kok dia tahu?
"Iya, kamu tahu? "
"Biasa, itu temen-temenku. Kalau aku pergi pasti mereka ngikutin. Mereka tiga orang, usianya masih 10 tahun. Yang satu selalu ada di sampingku, yang satu lagi suka mengawasiku dari pintu masuk, satunya lagi suka jahil. Tapi tenang aja, mereka baik kok. "
"Ya sih, tapi kalau pulang nanti bawa pulang juga. Soalnya ngeri, kalau aku di rumah sendirian terus temen kamu menteror aku. "
"Iya, santai aja nanti juga ikut pulang sama aku. "
"Ngomong-ngomong, kamu setelah lulus SMA mau kemana? "
"Sebenarnya sih aku mau kuliah, tapi kata ibuku aku harus langsung kerja. Soalnya ayah ibu udah mau pensiun. "
"Jadi, kamu langsung kerja? "
"Masih mikir sih, enakan juga kerja sambil kuliah. Kamu sendiri Na? "
"Aku sih bisa kerja, bisa kuliah, kalau udah ada yang ngelamar sekalian langsung nikah. "
"Nggak apa-apa sih langsung nikah, biar kalau ada apa-apa ada yang nolongin. "
"Maksudnya ada apa-apa? "
__ADS_1
"Nggak apa-apa. "
Mira menemaniku sepanjang pagi siang hingga sore. Kebanyakan ngobrol-ngobrol tentang hantu, seperti biasanya. Kadang juga aku diajak bicara dengan teman hantunya lewat perantara dia. Berteman dengan Mira membuat aku menghilangkan pikiran burukku tentang hantu. Nyatanya, hantu juga seperti manusia, ada yang baik dan ada yang buruk.
~ ~ • • ~ ~
Di sekolah, Mira itu anak yang pendiam dan anti sosial. Ia lebih suka berbicara sendiri dan tertawa-tertawa sendiri di bangkunya yang terletak dipojokkan paling belakang. Sesekali ada anak cowok yang menegurnya ngatain dia "Anak aneh " "Orang gila " namun nasib mereka setelah bilang begitu, bisa dibilang sial. Beberapa anak berteriak histeris bahkan ada yang kesurupan. Makanya, hati-hati kalau sama temenku yang satu ini.
Dari segi fisik, Mira ini cukup cantik. Rambutnya dikepang kelabang. Badannya tidak terlalu tinggi dan ideal. Sebenarnya banyak juga cowok-cowok yang naksir sama dia. Tapi tahu kalau dia itu anak indigo, mereka pun mengurung niatnya untuk deketin Mira.
Tapi kalau kalian ada yang berminat jadi gebetannya Mira, nggak apa-apa bisa hubungi nomor teleponku yang sudah habis masa aktifnya.
Pernah suatu ketika Mira mengajakku ke rumah temannya. Lebih tepatnya uji nyali sih, karena temannya itu tinggal di sebuah rumah kosong peninggalan Belanda. Rumahnya ya mirip-miriplah kayak yang ada di film horor pada umumnya. Baru aja aku masuk ke rumah itu dengan Mira, bulu kudukku udah berdiri semua kayak orang kesetrum.
Semakin masuk ke dalam rumah, semakin gelap. Aku menyalakan senter, sedangkan Mira memanggil-manggil nama seseorang. Kami berhenti di depan sebuah kamar dengan pintu kayu. Setelah kami buka dengan perlahan. Terdengar suara pintu yang lama kreeek. Jumpscare!
Begitulah kisahnya berpetualang dengan Mira di rumah temannya. "Apaan woy cerita nggak jelas. " Udah jangan ribut. Kalau mau tahu ceritanya lebih lanjut silahkan simak kelanjutan dari cerita ini. Sekian dulu lah cerita tentang Mira. Aku jadi takut sendiri kalau cerita tentang dia. Soalnya, dimana ada Mira, disitu ada hantu.
~ ~ • • ~ ~
Minggu kemarin libur, sekarang Selasa libur lagi. Terus Senin masuk sendiri. Ini namanya hari terjepit. Rabu juga libur terus sampai 2 Januari. Ortu pergi lagi ke luar kota ada proyek, adek juga pergi ke rumah temennya sampai libur tahun baru habis. Sendirian deh aku di rumah. Eh Om Author, temenin aku dong. "Nggak bisa, gue ada urusan. " Iih, pelit amat sih. Terus aku harus gimana dong? "Keluar rumahlah, mumpung masih pagi. Jangan nolep terus di rumah. " Tapi aku males keluar rumah Thor, dipaksa gimanapun aku males. "Aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Oke, bye. " Iih, authornya jahat banget sih. Apa minta temenin Om Editor aja ya? Om Editor, temenin aku dong."Krik krik krik krik. " Malah yang mbales jangkrik heeeh.
Sesuai saran dari author, aku memutuskan untuk keluar rumah. Jam menunjukkan pukul tujuh lebih sepuluh menit. Daripada gabut di jalan, mending aku ke supermarket ajalah. Di supermarket, aku tanya sama kasirnya "Mas, kalau lagi nggak punya kerjaan enaknya ngapain ya? " "Tidurlah Mbak. " "Kalau nggak bisa tidur? " "Cari kerjaan. " "Oh, gitu ya. " Akhirnya aku melamar pekerjaan di supermarket tersebut sekedar menghilangkan kebosanan dan daripada gabut nggak jelas, sekalian aja kerja disini. Lumayan, hasilnya buat beli novel atau komik keluaran terbaru.
"Eh Mbak, Mbak kan yang rumahnya di sebelah itu ya? " tanya temen kasirku.
"Iya Mas, emang kenapa? "
"Oh, kenalin saya Briyan. "
"Saya Fiana. "
"Dan dari sinilah kisah cinta Briyan dan Fiana dimulai. Kisah cinta yang romantis, humoris, sekaligus manis. Hal yang tak terduga akan hadir disini. Dan hal yang tak terjawab akan terjawab disini. Namun, seiring berkisahnya cerita ini, tetap diselingi dengan curhatan-curhatan teman Fiana yang aneh-aneh. Selain itu Fiana juga tetap bisa bicara dengan saya. Tapi kadang omongannya juga menusuk hati saya. Tapi nggak apa-apa karena ini cerita humor, semoga terhibur. "
"Masa sih aku jadi idola? Aku malah baru ngerti. " Pura-pura tidak tahu.
"Kita ini satu sekolahan masa nggak kenal sih. "
"Iyalah, masa aku disuruh kenal sama semua orang di SMA, kan mereka banyak banget Yan. "
"Itu sih karena kamu di kelas terus,makanya sekali-kali keluar dong. "
"Iya, iya, tapi nanti aja. Soalnya kita liburnya masih lama. Ngomong-ngomong kamu kelas mana? "
"Aku kelas IPA 1. "
"Uwiiih, pinter dong kamu? "
"Nggak sih, nilaiku aja masih 95. " sombong amat.
"Dulu ortuku juga nyuruh aku di IPA, tapi aku males jadinya aku ngambil jurusan Bahasa. Sekalian hobiku kan baca novel. "
"Kebetulan aku juga suka baca novel. Genrenya apa? "
"Aku sih suka horor, thriller, fiksi ilmiah, sama misteri. "
"Gila. Serem amat selera lo. Aku aja baca novel horor baru satu chapter takutnya tiga hari tiga malam. "
"Berarti mental kamu lemah. Cobalah sekali-kali ke kamar mandi, biar nggak penakut kayak kamu. "
"Emang ada hubungannya rasa takut sama kamar mandi? "
__ADS_1
"Nggak ada sih. Udah ya, aku mau ngerapiin barang dulu. Stok kulkas udah abis tuh. " Menghindar dari pembicaraan.
Huh, hampir aja aku keceplosan kalau aku hobi di kamar mandi. "Hayo, ngapain tuh. " Perhatian-perhatian, Si Author Mesum kembali lagi. Berikan sorakan untuk authornya. "Prok prok prok prok. " "Siapa yang tepuk tangan? Perasaan aku nggak nyewa penonton deh. " Hantu kali. Mira kan kemarin main ke rumahku. "Lo jangan nakut-nakutin gue dong Na, gue nulis cerita ini sendirian di rumah. " Ya aku nggak mau tahu dan nggak peduli. Mungkin di belakang Bang Author ada yang nemenin tuh, hehehe bercanda.
Tentang Briyan, ternyata baru tahu kalau dia itu rumahnya di samping supermarket. Parah ya? Tetangga sendiri kok tidak tahu. Maklumi saja anak nolep seperti saya ini. Baru saja berjumpa dengan Briyan, aku ngerasa terbebas dari nolep dan kesepian. Karena aku jadi punya teman bicara, teman cerita, teman curhat dan teman untuk mendapat rekomendasi novel. Dari Briyan aku belajar sesuatu. Bahwa hidup bersosial itu sebenarnya menyenangkan. Perlahan-lahan aku bangkit dari kenolepanku di rumah, mencoba berinteraksi dengan pelanggan, dengan sopir truk yang setor dan kepada bos supermarket yang tak lain adalah ayah Briyan sendiri.
Tak jarang pelanggan adalah teman sekelas atau bahkan orang yang pernah menyukaiku. Reaksi mereka beragam, ada yang menyembunyikan muka, pura-pura tidak lihat, gemetaran dan histeris, serta ngobrol akrab denganku sampai-sampai pelanggan yang mengantre ribut-ribut.
~ ~ • • ~ ~
Briyan Pov.
Fiana. Sabrina Nia Fiana. Masih aku ingat dengan jelas nama itu di kepalaku. Nama yang selalu dihubung-hubungkan denganku. Nama yang aku sendiri terkadang merasa risih melihat orangnya. Seandainya saja saat ia melamar kerja, ayah tidak ngomong "Kita itu membuka lapangan kerja untuk masyarakat untuk siapapun dan dari bangsa manapun, " pasti aku tidak akan menerimanya bekerja di supermarketku.
Tapi, Fiana ternyata tidak seperti yang aku duga. Dia ternyata baik, humoris, kadang kalau ngomong suka tidak nyambung, dan punya selera yang aneh. Selama libur sekolah ini, aku jadi akrab dengan dia. Entah kenapa, dulu aja kalau lihat dia aku menghindar. Sekarang, mau berpisah aja rasanya kayak nggak bisa ketemu lagi.
Wajahnya yang imut itu bikin ngangenin. Apalagi rambut indahnya yang panjang tidak dikuncir namun tetap kelihatan cantik. Pantas saja teman-temanku banyak yang tertarik sama dia. Rasanya aku juga mau ngejar dia sih, tapi aku nggak biasa. Biasanya cewek-cewek yang ngejar-ngejar aku, tapi kali ini aku yang harus ngejar seorang cewek. Demi Fiana, aku rela deketin dia. Lumayan juga bagian tengahnya agak maju. Iih kok malah jadi mikirin "itu" sih, nggak realistis banget.
Malam itu aku memutuskan untuk menelepon Fiana. Nomor handphonenya darimana? Aku minta tadi siang.
"Halo Sayang, eh maksudnya Fiana. "
"Sejak kapan aku pacaran sama Anda? "
"Tak tahu ah. Eh apa kabar? "
"Kamu tanya gitu nggak capek apa? Udah lima kali lho hari ini tanya gitu. "
"Lha terus aku harus nanya gimana? "
"Tanya udah makan belum? Mau ditraktir nggak? Mau nonton nggak? Mau dibeliin novel nggak? Banyak dong seharusnya. "
"Kalau mau aku traktir, kerjain dulu pekerjaan rumahku entar aku traktir sepuasnya. "
"Pekerjaan rumah? Yang bener aja masa liburan masih ada pekerjaan rumah? Ogah ah. "
"Lo mau nikah nggak? "
"Nggak, aku udah punya suami. "
"Siapa? "
"Vibra... Eh nggak jadi, pokoknya ada deh. "
"Lo sendirian di rumah? Kok suara kamu kayak lemes gitu ya? Kamu sakit? "
"Nggak aku sehat selalu. "
"Masa sih? Coba video call. "
"Aku lagi di kamar. Gelap. "
"Nyalain dong lampunya. "
"Rusak. "
"Kalo gitu pindah ruangan. "
"Males, udah ya aku telepon dulu. "
"Kamu kok kayak ngos-ngosan kena---"
__ADS_1
Dasar perempuan aneh. Pikiranku jadi mikir yang tidak-tidak nih. Ah sudahlah, paling juga lagi kena flu, maklum musim hujan. Aku menaruh handphoneku, menatap langit-langit rumahku. Sesekali aku membayangkan wajah Fiana, berharap jika suatu saat aku bersanding dengannya. Ini pertama kalinya aku mabuk cinta. Memang aku ini playboy, begitu mudah bagiku mencintai dan melupakan seseorang. Tapi, Fiana itu berbeda dari cewek-cewek yang pernah aku jumpai di sekolah. Seorang cewek pemalas dan aneh. Aku mulai tertarik kepadanya.