Bucinku Hanya Sebatas Untaian Kata

Bucinku Hanya Sebatas Untaian Kata
Masih salah paham?


__ADS_3

Aku langsung turun dari motor Putra "Put makasih ya, Maaf gua masuk duluan." lalu lari masuk kedalam. Di pintu sudah dihadang oleh abang, tapi aku mendorongnya memaksa masuk. "Tunggu dulu! Jelasin dulu ngapa maen masuk!" ucap abang dengan nada tinggi. Ucapannya tak kuhiraukan, aku terus memaksa masuk dan lari kekamar. Membanting pintu dan menguncinya dari dalam.


"Nath! Buka dulu mamak mau ngomong!!"


"Udahlah mak, tadi dah tenang. Kasihan ntar sia sia Putra nenangin Lia." jawabku agar Mamak tak terus terusan menggedor gedor pintu, Lia adalah nama panggilanku waktu kecil. Lalu Mamak meninggalkanku sendiri.


"Tante, Boleh ngomong sebentar gak sama Nath?" Tanya Maya


"Mendingan gausah, Reza anterin Maya pulang. Sekalian kerumah Bapak, Nath tadi manggil sendirinya Lia."


"Ngapa jadi gini? Ah!!! Yok pulang May." Lalu abang mengantar Maya pulang. Di ruang tamu masih ada Kak Arya, entah kenapa ia tak pulang.


"Buk, emm biar saya coba ngomong ke Nath ya? Sebentar aja." Pinta Kak Arya


"Masuk aja sana, mamak jadi pusing."


"Makasih buk, permisi."


*WOY KELUAR PACAR LU NUNGGUIN*


*Hah apaan*


*KELUAR DULU🤪*


*Males dodol gua lagi ga mood jan ngajak begelud ah*


*Bodo yg penting keluar dlu*


*Kga mau kakak PULANG aja*


*Gak mau, keluar dlu!! Calon pacar kalo ngambek makin imut yak😚*


*Hish gak mau*


*Yaudh gua nungguin didepan pintu ampe lu keluar😚*


*Gausah balek aja sno🙄*


*Pantang mundur sebelum lu keluar😎😚*


Akhirnya aku pun keluar dari kamar, dan benar saja ia memang menunggu di depan pintu.


"Wih lu nangis beneran hahaha"


"Dahlah gua tutup lagi"


"Weh weh iya, ngambekan sih. Nih buat lu." lalu memberikan beberapa jajan yang ia beli di minimarket sebelum kerumahku.


"Apaan?? Kan gua gak mintol beliin jajan?"


"Mintol apaan."


"Minta tolong beliin jajan!"


"Lah ini udah dibeliin, biar kalo ngambek ada temennya."


"Tapi kan...."


"Dah ambil aja, gua mau pulang ntar keburu Bapak lu balik."


"Hah!! Bapak mau balik?!"


"Iye abang lu lagi jemput dia, yaudah gua balik. Sini peluk dulu."


"Gua panggilin emak nih?"


"Eh eh iyaiya, baybay calon pacar Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, iya pulang sono sono."


Setelah meninggalkanku Kak Arya pun pamit kepada Mamak. Ia memberitahukan bahwa aku tak kenapa kenapa dan sudah mau keluar kamar walaupun sebentar. Ia juga mengatakan untuk tak usah khawatir Aku mogok makan, karena ada beberapa roti yang ia beli dan cukup untuk malam itu.


Maya sempat mengechatku tapi tak ku balas chatnya. Tak apa aku juga tak marah padanya, aku hanya kesal dengan Abangku. Tak perlulah ia sok sok an bersalah.


Sehabis isya' abang pulang dan benar kata Kak Arya kalau abang menjemput Bapak. Mati aku, Udah janji gak mau ngambek nyatanya sekarang. "Mak, masih belum keluar tuh anak?" tanya Bang Reza "Tadi sih udah keluar tapi cuma sebentar katanya." jawab Mamak "Lah kok katanya sih, kau kan emaknya ngapa bisa ada kata 'katanya'." Tanya Bapak keheranan. "Itu tadi kakak kelasnya yang ngebujuk supaya keluar, gak tau ngomong apaan tapi tadi ngomongnya udah mau keluar tapi cuma bentar trus masuk lagi." Jelas mamak.


Bapak langsung menuju kamarku mengetuk dengan pelan dan memanggilku.


"Nathalia??" adem banget suaranya


"NATH!! NATHALIA!!" Ganggu banget itu suaranya abang


"Heh suaranya, mandi sana kamu!" walaupun ia ngebentak tapi suara nya masih pelan. Lalu abang pergi

__ADS_1


"Lia buka??"


"Apaan pak? Lia gak papa."


"Yaudah buka, Bapak mau ngomong."


Kubuka pintu kamarku


"Lia nangis??"


"Ya ndak lah, ngapain nangis wong Lia kuat kok." ucapku sambil tersenyum menahan tangis.


"Sini tak peluk?"


"Gak mau orang dah gedhe." lalu memeluk Bapak


"Apaan coba ini, laen di mulut laen di tindakan." lalu ku lepaskan pelukanku


"Masih mau sendiri, Bapak makan aja sana."


"Lah Lia ndak makan? Katane tadi langsung masuk ngambek ndak mau keluar?"


"Udah noh dapet jajan dari punggawa Abang."


Aku masuk kembali ke kamar dan mengunci pintu. "Dari siapa weh, buka dulu?"


"Yang penting makan!!! Peduli amat dari siapa nya!!!"


"Dasar bocah gemblung!"


Maaf masih saja aku berdusta


Janji waktu itu sudah ku langgar


Namun tak apa aku juga masih sanggup


Untuk memulai kembali janji yang dulu


*Putra bisa mintol kga*


*Apaan, bales lama yak masih mabar*


*Iya, mau mintol besok jemput gua brangkat sekuulll*


*Oh oke, tapi ku tinggal kalo kelamaan*


*Iye kaga lama, yang lama tuh elu bales chat*


*Mabar*


*Yaudah lanjoot*


**Di teras**


"Itu yang emak maksud siapa Za?"


"Oh itu adek kelas Eza, dia masih satu ekstra makanya kenal. Ngapa Pak?"


"Enggak cuma nanya. Lah ada masalah apaan sama Lia? Masa orang luar ampe ikutan."


"Cuma salah paham, lagian Nath aja yang gak suka Eza deket ama cewe. Masa tiap mau deketin cewe dianya ngambek gajelas."


Lalu Mamak datang membawa kopi dan ubi goreng. "Pantes kalo adek lu ngambek, dari kecil kan barengan terus. Mamak dulu juga gitu."


"Hah Emang Mamak punya Abang?"


"Ada nih Abangnya...." ucap mamak sambil menunjuk Bapak, Bapak cuma menaikkan alis.


"Yeee beda itu mah, Mak Eza boleh pacaran?"


"KAGA!!!" jawab Mamak dan Bapak berbarengan. "Tunggu lulus SMK baru boleh. Lagian lu juga harus dapet ijin dari adek lu." ucap mamak. "Heh.... Dah lah mau tidur. AKU DEWE NING KELAS SEK JOMBLO LUR!" Ucap abang lalu meninggalkan teras. "NYANTE LUR, PENTING ISIH ISO MADANG." Balas Bapak


****


Pagi itu aku mandi lebih pagi dari biasanya. Sehabis mandi langsung ke kamar lagi, kukunci lagi pintunya. Sarapan di kamar, yah walaupun cuma roti yang Kak Arya kasih kemarin. Tak apa sudah cukup.


06.15 Putra mengabariku bahwa ia sudah didepan. Langsung kurapikan tas ku dan bergegas keluar, pamit ke Mamak sama Bapak. "Loh Nath, tumben dah siap siap. Reza masih mandi tuh." Tanya Bapak keheranan


"Ada piket, mau bareng temen aja. Assalamualaikum." pamit lalu menghampiri Putra. "Ni anak bandel bener, sarapan dulu!" teriak Mamak keluar. "Udah makan roti!" "Misi tante." lalu aku dan Putra pun berangkat.


"Sama siapa? Cowo yang kemaren ngebujuk Lia?" Tanya Bapak penasaran


"Bukan, tapi kemarin dia yang nenangin Nath duluan. Trus nganterin pulang gak tau sih kemana dulu kemarin."

__ADS_1


"Pacarnya kali??"


"Bukan, dia mah temen sekelas. Orangnya pendiem gitu mana mungkin pacaran ama anak tulul kek Ntah." sahut Bang Reza


"Heh masa??"


"Dah lah Bapak mau balik kerja kaga, ayok sekalian!"


"Oiya balik, bentar Emak masih packing makanan."


"Hilih sok keren, pake segala packing. Ngomong aja lagi nyiapin bekal."


"Itu maksudnya anakku..."


****


"Turun Nath."


"Lah belum sampe."


"Sarapan aja dulu, tuh ada bubur ayam."


"Tapi gua dah makan roti tadi."


"Kalo gak mau makan, berangkat sendiri aja."


"Hish iya..."


Kami mampir ke warung pinggir jalan, entahlah kuturuti saja kemauannya. Lagian makan roti juga gak bikin kenyang, cuma ganjel lapar. Baru saja makanannya datang Annisa datang ke warung itu.


"Lho Nis ngapain kesini?" tanyaku


"Eh itu, Putra nyuruh kesini." jawabnya dengan muka memerah


"Hah kapan?? Lagian kamu yang sendiri yang tiap hari kesini." Jawab Putra mengelak, ada apa dengan mereka? Kenapa Annisa tiap pagi kesini? Ah palingan juga nyari sarapan.


"Emm bentar yah, saya mau pesen dulu." lalu ia memesan semangkok bubur dan samar samar kudengar ia juga memesan satu untuk dibungkus.


"Nath, kamu kenapa kemarin. Saya dengar kamu nangis?"


"Kata sape gua nangis!?"


"Tuh,,,, kang gamer." ucap Annisa sambil menatap Putra. Putra langsung kaget dan menatap wajahku. "Hih kapan ngomongnya Nis, ih fitnah." ucap Putra membela dirinya.


"Mwehe gak, dia cuma ngomong habis bawa kabur Nath. Trus kalo tau kamu nangis dari Maya dan katanya karna ulah dia."


"Oh itu kga, bukan salah dia juga. Hihi..."


Kami menghabiskan bubur itu dengan cepat. Lalu pergi ke sekolah bersama, ah baru ingat biasanya Annisa bareng sama Maya. Setelah sampai di parkiran Annisa pergi menemui seseorang dan memberikan bubur yang ia beli kepadanya. Hah dia siapa? Pacar Annisa? Ah mana mungkin.


"Dia siapa Put??"


"Temennya orang yang dikagumi ama Annisa."


"Maksudnya pacar bukan? Atau gebetan gitu?"


"Gak reti, taunya mereka berdua sama sama suka tapi ya gitu mau kejar sekolah dulu."


"Oh,,, kalo lu punya juga?"


"Ada."


"Wah cakep tuh, kasih tau gua lah mana orangnya."


"Nih depan mata."


"Heh,,, daku tak pantas dengan seorang pangeran."


"Kau adalah titik akhir yang kucari."


"Aku bukan titik melainkan kata yang harus kau lengkapi."


"Akan kucari tiap diksi agar kau menjadi bait terindah yang pernah ku miliki."


"Wih keren juga lu."


Baru kali ini kutemukan orang yang bisa menerima hobiku dan ia pun juga mengikutinya. Tak kusangka Putra juga memiliki kesukaan yang sama. Tapi yang tadi itu beneran apa cuma.....


"Hih Putra kena virusnya Nath..." ucap Annisa


"Emang gua apaan."


"Hahahaha sini kejar, kita balapan sampai kelas. Yang kalah wajib beli soto abis pulang sekolah." Annisa menantang kami berdua. Aku dan Putra mengiyakan tantangan Annisa. "Ooke ayo." jawab kami berbarengan. "321 mulai!!" Teriak Annisa sambil berlari. "Iiih curang, Tante curang!!" Putra mengejek Annisa yang mendahului start.

__ADS_1


"Alah cepetan kalau mau menang mah!" Ucap Annisa.


__ADS_2