
Sesampainya dirumah
Aku menyuruh Kak Arya masuk, ia duduk di ruang tamu sementara aku meletakkan bahan makanan di dapur. Karena aku terlalu lama didalam ia pun melihat lihat foto keluargaku.
"Nath, ini foto lu? Gila imut bener." Teriaknya sambil menatap dengan serius foto diriku yang masih umur 3 tahun itu. "Tapi abang lu kaga cakep ye pas bocil, cakepan gua." Ia meneruskan kata katanya yang berisi kalimat sombong. Lalu aku menghampirinya dan mengatakan bahwa memang diriku imut sampai sekarang, kalau dia bisa sombong mengapa aku tidak.
Lalu aku mengajaknya ke dapur untuk membantuku memasak.
"Eh berarti gua cowo yang pertama kali lu bawa pulang" tanyanya sambil menyeret kursi
"Kaga juga sih Kak, dulu pernah ada yang gua ajakin mampir tapi pas mau masuk dihadang emak trus diusir dah tuh."
"Hahaha kasian banget tuh anak, tapi kan gua yang lolos masuk kerumah lu."
"Yee itu kan karna emak gaada."
"Serem ya emak lu, kalau emak lu tiba tiba balek trus liat gua. Gua bakalan diusir kaga?"
"Sebenernya gua yang mau ngusir lu hihihi!"
"Lah sekarang ngapa nyuruh gua bantuin masak, jangan jangan lu mau jadiin gua bahan masakan ya?" Ucapnya sambil mengangkat pisau
"Yaellah kaga lah, taroh tu pisau lu mau bunuh gua apa? Mending bantuin tuh potong bawang."
"Masa iya bunuh lu ntar gua kesepian"
"Hih geli perut gua, potong tuh potong atau gua usir dah?!"
"Iyaiya galak bener, bawang yang mana ini?" ucapnya kebingungan
"Ini nih." kusodorkan beberapa siung bawang merah dan putih
Kak Arya memotong bawang dengan raut muka yang sudah bisa ditebak. Ia meneteskan air mata karena tak tahan dengan aroma bawang yang menusuk mata. Aku yang melihatnya hanya bisa tertawa, hari itu ia benar benar membantuku walau sedikit menyebalkan.
\*\*\*\*
Sekitar jam setengah tiga abang pulang. Suara motornya jelas sampe ke dapur. Aku keheranan karna biasanya ia pulang sore bahkan hampir malam. Tumben sekali, atau jangan jangan karna aku ngechat Abang kalau Kak Arya mau mampir.
Ia masuk langsung ke dapur melihat kami dengan tatapan yang aneh.
"Arya kok disini, hayooloo nath udah berani bawa cowo pulang." ucapnya sambil menunjuk kearah ku
"Kan gua udah ngechat bang."
"Eh masa sih?" ia merogoh hp di tasnya dan mengeceknya. "Eh iya tuh, gua lupa mau baca. Lu kan gak penting hahahaha." Abang tertawa diikuti Kak Arya yang juga ikut tertawa. Aku yang kesal lalu mengangkat pisau yang ku pegang sambil melotot kearah bang Reza.
"Eits letakkin tuh pisau."
__ADS_1
"Diem makanya, atau gua bakalan jadi Itachi!"
"Maksud lu mati muda?"
"Bukan itu, geblek banget ah lu."
"Dah lah gua mau mandi, lu Arya nanti mandi sekalian disini minjem baju gua kalo mau pake punya Nath juga gapapa."
"Emang gua banci apa?"
"Minta si kebo ambilin, itu masakan dah mateng?"
"Hahaha cantik gitu dibilang kebo? Belom adanya cuma nasi tuh."
"Abang.... Inget Itachi ye inget." ujarku sambil mengangkat sodet yang baru saja kena minyak panas
"Iya mati muda kan hahaha?"
Lalu abang pergi kekamarnya, meninggalkan kami berdua. Kami pun melanjutkan memasak dan akhirnya masakan pun matang yey.
"Gua mau mandi ah bauk nih"
"Iya bentar gua ambilin baju bang Reza." Aku pergi kekamar bang Reza dan memilih pakaian untuk Kak Arya. Kuberikan baju itu padanya dan ia pergi kekamar mandi. Selepas ia mandi aku yang gantian mandi.
\*\*Di ruang makan\*\*
"Masak pala kau pake kuah santan!"
"Sadis amat sih buk, eh tuh kan baju gua yang masih baru."
"Eh masa sih bang, yang ngambilin dia lho bukan gua." Sahut Kak Arya sambil menunjukku
"Itu kan gua beliin buat lu, tapi kan kekecilan lu juga gasuka warnanya kan. Yaudah tuh biar dipake Kak Arya aja gausah balikin." jawabku dengan nada merendah. Aku yang teringat kejadian saat Abang dulu mengatakan bahwa ia tak ingin memakai baju yang kubeli seumur hidupnya. Padahal itu baju nabungnya mati matian sampai gak jajan, belinya muter muter sampai nyasar di pasar.
"Eeh iyaiya maaf." Abang lalu mendekat dan memelukku. Waktu makan malah jadi waktu sendu. Aku menangis dipelukkan Bang Reza, pelukannya yang makin erat dan memory masa lalu yang kembali terlintas membuatku semakin menjadi saat menangis.
Kak Arya hanya bisa melihat kita berdua, ia tak mau mengganggu diriku yang sedang menangis. Kukira begitu dia tak mau mengganggu tapi nyatanya "Sini sini nath gua peluk lu juga." ucapnya dengan tangan didepan seolah siap menerima pelukan dariku.
"Hidih kaga mau aaa." Aku yang geli melihatnya lalu pergi kekamar.
"Lah malah pergi tuh, makannya kan belom abis."
"Udah biarin dia gitu, salah gua juga."
"Gapapa ntar gua chat dia biar makan hehe."
"Lanjut tuh makan masa iya udah kesini kaga jadi makan."
"Iye bang, tuh ekstra bulutangkis masih...." mereka melanjutkan pembicaraan mereka tentang kegiatan sekolah.
__ADS_1
*Woy calon pacar😚*
*Apaan bambank*
*Ini bukan bambank tapi calon pacar😚*
*Hih apaan dodol*
*Turun cepet makan udah gua bantuin masak juga malah kga makan*
*Ah males*
*Turun cepet makan atau gua gedor pintu kamar lu😎*
*Bodo serah kau lah gua kaga mau*
*Yaudah gua mau pulang kalo gitu*
*Iya gua turun bentar*
*Giliran gua mau pulang malah turun😒*
Aku turun ke ruang tamu dan mengantarnya kedepan.
"Lu kaga mau bawa masakannya? Masih banyak tuh"
"Yah mana orang belum lu siapin."
"Ehe tapi kaga jadi ah."
"Ngeselin lu, gua bal..." belum sempat ia menyelesaikannya aku pergi kedalam dan keluar lagi membawa rantang berisi masakan tadi
"Nih buat dirumah." sambil menyodorkan rantang
"Iya makasih besok gua balikin."
"Hooh sono pulang."
"Tapi abis ini lu makan yee awas kalo kaga, sia sia gua bantuin lu."
"Hih bawel lu Kak, iya ntar makan."
"Oke bay Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam"
Lalu Kak Arya pulang menuju rumahnya.
__ADS_1