Bukan Ibu Pengganti

Bukan Ibu Pengganti
Pertemuan


__ADS_3

Avalon, California


Dari kejauhan, terlihat seorang gadis cantik terduduk lemas di depan IGD. Wajahnya terlihat pucat pasi sejak dokter mengatakan jika sang Ayah harus segera menjalani operasi besar secepatnya. Sedangkan dirinya tak memiliki uang sepeser pun, sebagai pekerja paruh waktu tentu saja uang yang dihasilkan hanya cukup untuk makan sehari-hari. Dan kini ia diminta untuk menyiapkan biaya operasi yang cukup besar. Jika tidak, keselamatan sang Ayah menjadi taruhan. Sedangkan satu-satunya keluarga yang ia punya hanya sang Ayah saat ini. Ia tak ingin kehilangan sosok yang disayanginya itu begitu saja. Tapi... di mana dia harus mencari uang?


Ishana Yasmine, gadis berusia dua puluh tahun yang sekarang bekerja sebagai cleaning service di sebuah resort. Gadis mungil bersurai hitam, berkulit putih, berwajah oriental dengan bibir tipis, juga matanya yang lebar berbingkai alis tebal dan dipadukan dengan hidung yang lurus meruncing. Cukup cantik memang, tetapi kehidupan yang dijalani tak secantik parasnya. Meski ia tinggal di sebuah kota wisata yang cukup terkenal, tetapi nasibnya tak sebaik kota itu. Sejak kecil ia sudah terbiasa hidup susah. Sang Ayah yang dulunya bekerja sebagai buruh hanya mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari. Namun, Ishana tak pernah mengeluh dan memahami kondisi keluarganya. Sedangkan sang Ibu sudah tiada sejak Ishana masih bayi. Beberapa tahun belakangan, kondisi kesehatan sang Ayah menurun karena penyakit yang dideritanya. Yaitu penyakit jantung. Karena itu Ishana yang menggantikan sang Ayah menjadi tulang punggung.


“Ya Tuhan, kemana aku harus mencari uang sekarang?” Gumamnya begitu frustrasi. Tidak berapa lama, gadis seusianya datang dengan langkah tergesa. “Ana.” Sapanya.


Gadis bernama Ishana itu pun bangkit dan langsung memeluk sahabatnya. "Ayah, Ve. Aku takut.”


Venya, sang sahabat pun berusaha menenangkannya. “It’s okay. Semuanya akan baik-baik aja.” Ishana mengeratkan pelukannya. Air mata yang sejak tadi ia tahan pun tak mampu lagi terbendung. Ia menangis dalam pelukan Venya, sahabat yang selalu setia menemani dirinya.


“Dokter bilang, Ayah harus segera dioperasi, Ve. Biayanya tidak sedikit. Di mana aku harus cari uang sebanyak dan secepat itu? Aku tidak punya siapa-siapa di sini.”


Venya termangu mendengar itu. Ia sendiri tak bisa membantu sang sahabat, karena kondisi ekonominya tak jauh beda dari Ishana. Gadis itu mendorong bahu Ishana perlahan, lalu ditatapnya wajah sendu sang sahabat dengan iba. “Maaf, aku tidak bisa membantumu. Sebagai sahabat, aku merasa tak berguna, Na.”


Ishana menggeleng. “Aku mengerti. Kita sama-sama paham kondisi masing-masing.”


Venya menggigit ujung bibirnya, lalu ditatapnya Ishana lekat. “Begini, Na. Aku tahu caranya supaya kita dapat uang banyak dan cepat.” Ujarnya yang berhasil membuat Ishana kaget.


“Hah? Jangan bercanda, Ve.”


Venya pun menarik Ishana menjauh dari IGD, membawanya ke taman belakang. Lalu keduanya duduk di sebuah kursi panjang bercat putih. Venya sedikit memiringkan tubuhnya ke arah Ishana yang masih terlihat bingung. Gadis itu menarik napas panjang sebelum bicara.


“Jadi begini….”


“Tunggu!” Sela Ishana. “Jangan bilang kau mau aku jual diri? Itu tidak mungkin, Ve. Ayah selalu mengajarkanku untuk menjunjung tinggi harga diri.”


Venya menggigit ujung bibirnya. “Aku tidak tahu pekerjaan ini terbilang jual diri atau bukan? Tapi kita tidak ada pilihan lain, mau pinjam pun kita tidak punya kenalan. Setidaknya dengarkan aku dulu, selanjutnya kau putuskan sendiri.”


Ishana terdiam sejenak, lalu ia pun menyetujuinya.


“Jadi begini, kebetulan sekali kemarin aku bertemu teman lama. Dia sedang mencari wanita yang mau dijadikan sebagai ibu pengganti, dan bayarannya cukup besar.”


Alis Ishana saling terpaut. “Ibu pengganti?”


Venya mengangguk kuat, selanjutnya menjelaskan apa itu ibu pengganti pada Ishana. Yang mana dirinya diminta untuk hamil anak orang lain dengan perjanjian tertentu. Tentu saja Ishana kaget mendengarnya, ia tak pernah mendengar pekerjaan seperti itu. “Kau hanya perlu meminjamkan rahimmu saja, dan mereka akan memberikan bayaran mahal. Semua kebutuhan hidupmu selama masa kehamilan, bahkan sampai melahirkan akan mereka tanggung. Aku rasa mereka juga bersedia melunasi biaya operasi Ayahmu. Jika kau mau, aku akan menghubungi temanku itu sekarang. Bagaimana?”


Ishana menghadap lurus ke depan. “Itu sama saja dengan menjual harga diriku, Venya. Menyewakan rahim? Bahkan aku tidak pernah mendengar pekerjaan seperti itu.”


Venya menarik tangan Ishana, mencuri perhatian sahabatnya. “Dengar, jika aku bisa membantumu. Aku tidak akan menawarkan pekerjaan seperti ini. Tapi kondisi sekarang genting, Ana. Coba kau pikir-pikir lagi.”


Ishana menundukkan kepalanya, air matanya kembali meluncur. Diusapnya pipi mulus tanpa pori itu dengan kasar. Semuanya begitu menyesakkan. “Aku merasa tak berguna menjadi seorang anak, Ve. Apa aku jual ginjal saja?”

__ADS_1


“Jangan bodoh, jika kau menjual ginjalmu, resiko kematian cukup besar. Jika kau mati, lalu siapa yang merawat Ayahmu?”


Ishana melempar tatapan tajam pada Venya. “Lalu apa bedanya menjadi Ibu pengganti, bagaimana jika aku mati saat melahirkan huh?”


Venya terdiam sejenak. “Kau benar.”


Keduanya terdiam cukup lama, terhanyut dalam pikiran masing-masing. Hingga akhirnya Venya kembali bicara.


“Begini saja, biar aku yang menjadi ibu pengganti. Uangnya kau pakai saja, aku tak masalah. Setidaknya aku berguna untukmu.” Putus Venya setelah berpikir panjang. Sontak Ishana terhenyak mendengar itu.


“Tidak, aku tidak setuju.” Tolaknya mentah-mentah. "Jangan gila, Ve."


Venya membuang napas kasar. “Kita tidak punya pilihan lain, Ana. Jika kita meminjam uang pada rentenir, itu sama saja membunuh kita perlahan. Hah, terkadang aku menyesal dilahirkan menjadi orang miskin.” Keluh Venya mengusap wajahnya karena frustrasi.


Ishana memeluk sahabatnya dari samping. “Terima kasih kau selalu ada untukku, tapi aku tidak akan membiarkanmu berkorban hanya untukku. Aku terima tawaranmu. Kau benar, kita tidak punya pilihan lain. Ayah harus dioperasi secepatnya. Aku bersedia menjadi ibu pengganti.” Putusnya dengan mantap.


Venya terkejut mendengar keputusan sahabatnya barusan. “Kau yakin?”


Ishana mengangguk yakin. “Mungkin sudah saatnya aku berkorban, bahkan apa yang aku lakukan mungkin tak akan bisa membalas jasa Ayahku. Meski aku harus mengorbankan masa depanku. Kau bilang, hanya menyewakan rahim bukan?”


“Ya. Semuanya akan dilakukan secara medis. Kau tidak perlu tidur dengan pria mana pun. Dokter yang akan melakukan semuanya.” Sahut Venya memeluk Ishana erat. Ishana hanya mengangguk pasrah, saat ini hatinya masih terasa berat. Akan tetapi kondisi sang Ayah membuatnya tak punya pilihan lain. Dengan berat hati ia menerima  risiko yang akan dihadapinya kedepan, demi sang Ayah. Kesembuhan sang Ayah adalah prioritasnya saat ini. Ia belum siap kehilangannya.


****


Sang pemuda yang juga sadar akan kecemasan Ishana pun angkat bicara. “Tenang saja, mereka pasti datang. Mungkin akan sedikit terlambat, orang penting seperti mereka pasti butuh waktu untuk datang kemari.”


Venya menatap teman lamanya itu. “Sebenarnya siapa mereka?”


Pemuda itu tersenyum. “Adam Xander dan Bianca Xander, aku rasa kalian mengenal mereka. Wajah mereka hampir setiap hari terpampang dimajalah dan televisi.”


Mendengar itu Ishana dan Venya pun saling melempar pandangan, setelah itu keduanya kembali memusatkan perhatian pada sang pemuda.


“Kau tidak salah? Pasangan sempurna seperti mereka ingin memakai jasa ibu pengganti? Apa model cantik itu mandul?” Celetuk Venya yang berhasil mendapat cubitan lembut dari Ishana. “Sorry, aku cuma menebak saja.”


“Tidak ada yang tahu alasan mereka apa? Yang perlu kita tahu itu mereka pasti mampu membayar dengan jumlah setimpal.”


Venya menarik napas panjang. “Ck, mentang-mentang orang penting mereka datang terlambat.” Kesalnya karena sudah hampir satu jam mereka menunggu.


“Sabarlah, tidak mudah bagi mereka berkeliaran disembarangan tempat.”


“Dia benar, sabarlah, Ve. Mungkin sebentar lagi mereka datang.” Ucap Ishana yang sebenarnya mencoba meluapkan kecemasannya sendiri.


“Cih, padahal kau yang terlihat cemas sedari tadi.” Kesal Venya. Lalu ketiganya pun kembali bungkam.

__ADS_1


Tidak lama, sepasang suami istri berpakain serba hitam dengan wajah yang tertutup dibalik topi dan makser pun datang. Sontak kedua gadis itu langsung berdiri, disusul oleh sang pemuda. Pemuda itu pun menyalami pasangan tersebut. Lalu kedua orang itu membuka topi dan masker yang dikenakan. Sontak Ishana dan Venya terkesiap melihat ketampanan lelaki yang kini berdiri dihadapan mereka. Begitu tampan seolah tak ada celah cacat sedikit pun, tidak jauh beda dari yang sering mereka lihat dimajalah atau televisi. Bersurai coklat, bibir tipis berpadukan rahangnya yang tegas, mata sedikit sipit berbingkai alis yang tegas pula, sugguh ciptaan Tuhan yang sempurna. Di sisi lelaki itu juga berdiri wanita cantik, yang mereka ketahui seorang model papan atas. Tubuhnya yang nyaris sempurna, benar-benar cocok menjadi top model. Sungguh pasangan yang serasi.


Bukan hanya Ishana dan Venya yang terkesiap dengan kesempurnaan mereka, ternyata sepasang suami istri itu pun menganggumi kecantikan Ishana. Keduanya pun saling melempar pandangan dan menyunggingkan senyuman penuh arti. Seolah mengisyaratkan mereka tak salah memilih calon ibu pengganti.


“Apa dia orangnya?” Tanya lelaki itu dengan suara baritonnnya seraya melempar pandangan pada Ishana. Sedangkan yang ditatap hanya menunduk malu.


“Benar, Tuan. Dialah yang bersedia menjadi ibu pengganti.” Jawab sang pemuda yang kemudian mempersilahkan keduanya duduk. Posisi duduk Adam saat ini tepat di hadapan Ishana, membuat gadis itu tak berani mengangkat kepalanya. Ishana sendiri memang gadis pemalu.


“Ah, dia sangat cantik.” Puji wanita bernama Bianca tersebut sambil terus menilai penampilan Ishana.


“Tentu, dia juga gadis baik-baik.” Sahut Venya tanpa ragu.


Bianca tersenyum tipis. “Aku percaya, sepertinya dia juga pemalu. Berapa usiamu?” Tentu saja pertanyaan itu ia tujukan untuk Ishana.


Perlahan Ishana mengangkat wajahnya. “Dua puluh."


“Wah, muda sekali. Apa tidak masalah, sayang?” Tanyanya pada sang suami. Wanita itu merengkuh tangan suaminya seolah memberi tahu orang lain jika dia miliknya seorang.


“Aku rasa tidak masalah, untuk lebih jelasnya kita tanyakan itu pada dokter jika memang gadis ini bersedia. Ah, maaf. Kalau boleh tahu siapa namamu?” Adam menatap Ishana, menunggu jawaban.


“Ishana.” Jawab Ishana pelan.


“Biasanya kami memanggil dia Ana.” Imbuh Venya dengan senyuman lebarnya.


“Okay, Nona Ana. Apa kamu sudah yakin bersedia menjadi Ibu pengganti? Sudah tahu resikonya?” Tanya Adam lagi.


Ishana terdiam sejenak, hingga ia pun menjawab. “Ya, saya bersedia. Saya juga sudah mempertimbangkan resikonya."


Adam pun menatap sang istri, sebelum kembali menatap Ishana. “Jika memang Ana ini sudah bersedia, kita langsung tanda tangan saja surat perjanjiannya. Kami tidak punya banyak waktu.”


Wanita cantik itu menyentuh lengan suaminya seolah memberi kode yang entah apa itu.


“Eemm. Tetapi sebelum menandatangi surat itu. Kami ingin menyampaikan hal yang lebih penting terlebih dahulu.” Ujar Adam menatap pemuda yang duduk di sebelah Venya.


Pemuda itu tersenyum. “Kami persilakan, Tuan.”


Adam terlihat menarik napas panjang sebelum memulai bicara. Tentu saja hal itu membuat Ishana, Venya dan sang pemuda merasa penasraan.


“Jika Nona Ana bersedia, kami bukan hanya ingin menyewa rahim saja. Tapi… sel telur Anda juga."


Deg!


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2