Bukan Ibu Pengganti

Bukan Ibu Pengganti
Gugurkan anak itu!


__ADS_3

 


Bianca bangkit dari duduknya dengan tatapan tak percaya. Adam yang melihat itu ikut bangun dan menenangkan istrinya. “Tenanglah.”


Sedangkan Ishana terdiam seribu bahasa, mencoba mencerna perkataan sang dokter meski ia juga sangat kaget.


Bianca melayangkan tatapan tajam pada suaminya. "Bagaimana aku bisa tenang, Adam? Anak itu cacat, aku tidak bisa terima.”


“Mungkin saja itu salah, sayang.”


“Salah? Apa kau tidak mendengar perkataan dokter tadi huh? Dia bilang anak itu cacat. Aku tidak mau memiliki anak cacat.” Bentaknya yang berhasil membuat Ishana kaget. Untuk kali pertama ia mendengar kata-kata kasar Bianca. Selama ini wanita cantik itu selalu bersikap baik dan lembut. Tetapi hari ini ia seakan melihat sisi lain dari Bianca. Ishana mulai ketakutan sembari memeluk perutnya.


“Pokoknya aku tidak mau anak itu, gugurkan dan kirim wanita itu kembali ke asalnya. Sejak awal aku agak ragu dengan kualitas gadis ini, Adam. Tapi kau terus memaksa.” Timpal Bianca seraya menujuk kasar kearah Ishana seolah melempar kesalahan pada Adam dan Ishana. Membuat bumil itu semakin ketakutan.


Adam mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu memberi izin sang dokter untuk pergi. Setelah kepergian dokter itu, Adam menatap istrinya tajam. “Jangan melempar kesalahan pada siapa pun, Bi. Kita sudah setuju sejak awal, apa pun yang terjadi kita harus terima itu. Anak itu tanggung jawab kita. Ibu pengganti juga kau yang mengusulkan."


“Terima kau bilang? Bagaimana bisa aku menerima anak cacat, Adam? Bagaimana dengan reputasiku? Semua orang akan mencemoohku, karierku bisa terancam. Singkirkan anak itu sebelum terlambat, Adam.” Baik Adam maupun Ishana terkejut mendengar kalimat yang Bianca lontarkan. Refleks Ishana semakin melindungi perutnya.


Bianca melayangkan tatapan tak bersahabat pada Ishana, lalu menghampiri dan memaksanya berdiri, sontak Adam kaget dan langsung menarik Ishana, melindungi Ishana dibelakangnya. Melihat itu, Bianca semakin murka.


“Adam! Biarkan aku menyingkirkan anak cacat itu.”


“Cukup! Dia anakku, Bi. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya.” Tegas Adam masih berusaha melindungi Ishana dibalik punggung besarnya. Sedangkan Ishana terlihat gemetar ketakutan sambil terisak. Ia benar-benar shock.


“Berhenti melindungi wanita itu, Adam. Dia pasti sengaja melakukan semua ini, dia ingin merebut perhatianmu menggunakan anak cacat itu. Dasar wanita murahan, melahirkan anak sehat saja kau tidak bisa. Percuma aku membayarmu mahal.” Geram Bianca masih berusaha menyerang Ishana yang semakin ketakutan. “Gugurkan anak itu!”


“Cukup!” Bentak Adam. “Sudah aku katakan jangan melempar kesalahan pada siapa pun. Semua ini diluar kendali kita. Ana tidak salah dalam hal ini, tidak ada yang tahu semua ini akan terjadi.”


Bianca mengepalkan kedua tangannya, amarahnya semakin terbakar mendengar pembelaan Adam untuk Ishana. “Jadi kau lebih membela wanita itu ketimbang aku istrimu, Adam?”


“Aku tidak sedang membela siapa pun, apa yang aku katakan benar apa adanya. Jadi berhenti membuat keributan. Ayo kita pikirkan solusinya baik-baik.” Adam masih berusaha menenangkan istrinya itu. Meraih tangan wanitanya dengan lembut, tetapi langsung ditepis begitu saja.


Bianca tertawa hambar, lalu mendekati sang suami dan mempelkan telunjuk di dada suaminya itu. “Satu-satunya solusi terbaik adalah menyingkirkan anak itu, Adam. Lalu kembalikan wanita itu ke tempat asalnya, kita tidak punya alasan lagi untuk menampungnya di sini. Kita bisa hidup bahagia tanpa anak, Adam. Sebelumnya juga kita hidup bahagia.”


Ishana yang mendengar itu semakin ketakutan dan terus melindungi perutnya dengan kedua tangan. Sedangkan Adam menatap istrinya seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya. “Mungkin anak tak penting bagimu, tapi bagiku penting, Bianca. Apa pun alasannya, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya. Aku akan merawatnya bagaimana pun kondisinya.”


Mata Bianca terbuka lebar dan menyorot tajam. “Adam, apa kau lupa? Kau yang mengatakan akan menerimaku apa pun kondisinya. Dan sekarang kau malah membela anak cacat yang belum lahir itu huh?”


“Berhenti menyebutnya anak cacat, dia anakku.” Tanpa sadar Adam mendorong Bianca untuk menjauh darinya.


Bianca berteriak frustrasi, bahkan wanita itu mengacak rambutnya dengan kasar. “Anak sialan, sejak awal aku tidak pernah menginginkan seorang anak, Adam. Tapi kau tetap memaksaku. Dan sekarang kita salah memilih ibu pengganti, Adam. Wanita ini….” Bianca sengaja menggantung kalimatnya sambil menunjuk Ishana dengan tatapan tajamnya. “Dia pembawa sial dalam rumah tangga kita. Wajahnya saja yang terlihat cantik, tapi tidak bisa memberikan anak yang berkualitas dan malah mengandung anak yang cacat. Dia sudah menipu kita, Adam. Sudah banyak uang yang kita habiskan, tapi apa yang dia berikan? Dia memberikan kita anak yang cacat.” Imbuhnya mencerca Ishana tanpa iba. Membuat bumil itu semakin terpojok.


“Diam!” Bentak Adam tak mampu menahan emosinya lagi. “Sudah cukup. Kau sudah keterlaluan, Bianca.”


Dan pertengkaran pun terus berlanjut karena keduanya sama-sama emosi. Ishana menutup kedua telinganya saat Bianca terus memojokkannya. Bahkan wanita itu terus menekankan ucapannya untuk menggugurkan bayi tak berdosa itu. Ia merasa malu jika harus memiliki anak cacat, sebagai seorang top model tentu saja ia tak mau namanya tercoreng.

__ADS_1


Karena tak tahan, Ishana pun berlari meninggalkan mereka yang masih bertengkar hebat.


 


Ishana bersandar di daun pintu kamar, menutup kedua telinganya karena ia masih bisa mendengar pertengkaran mereka. Tangisan Ishana pun semakin menjadi, ia sangat takut. Takut jika Bianca akan melenyapkan anaknya.


"Tidak, dia anakku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya. Jika mereka tak menginginkannya, maka aku yang akan membesarkannya." Gumam Ishana terus menggelengkan kepalanya. "Apa aku pergi saja dari sini?"


Dengan langkah gontai Ishana beranjak menuju ranjang. Lalu berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut. Tubuhnya bergetar karena tangisan.


Tidak lama, pintu kamarnya pun terbuka. Spontan Ishana pun beringsut bangun dan melihat Adam yang masih berdiri di ambang pintu.


"Ana." Sapa lelaki itu beranjak masuk, lalu menutup pintu perlahan.


Ishana menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, dan tatapannya masih awas ke arah Adam.


Adam yang menyadari ketakutan dalam diri Ishana pun menghela napas berat. "Aku tidak akan menyakitimu, Ana."


Ishana terus mengawasi pergerakan lelaki itu. Di mana Adam duduk di tepi ranjang yang lumayan jauh darinya. "Maaf atas apa yang terjadi. Kita semua shock atas berita ini."


Air mata Ishana kembali luruh. "Apa Tuan juga ingin anak ini digugurkan?"


Adam menggeleng. "Dia anakku, Ana. Aku sangat menyanginya. Bagaimana mungkin aku menyakitinya."


Adam tersenyum. "Aku tidak peduli, dia darah dagingku, Ana. Apa pun kondisinya aku akan menerima itu. Kau tahu sendiri kan aku sangat mendambakan seorang anak."


Ishana mencari sebuah kebohongan dari wajah Adam, dan sepertinya ia tak menemukan itu. "Lalu Nyonya?"


Adam kembali menghela napas berat. "Dia masih shock, aku yakin setelah emosinya redam. Dia juga akan menerima anak itu."


Ishana terdiam, ia tidak yakin soal Bianca akan menerima anak itu. Jika dilihat dari reaksinya tadi. Bahkan wanita itu dengan tega terus menyumpahi anak yang belum lahir itu. Tanpa sadar Ishana mengusap perutnya. "Jika kalian tidak menginginkannya, saya yang akan merawatnya."


"Tidak, Ana. Aku menginginkannya." Sanggah Adam memberikan tatapan serius.


Bibir Ishana bergetar. "Tapi saya takut Nyonya...."


"Selama ada aku dia tidak bisa menyakitimu, Ana." Sela Adam meyakinkan Ishana. Ia tidak mau Ishana semakin stres dan mengganggu kehamilannya.


Ishana masih memberikan tatapan ragu. Adam yang paham akan perasaan Ishana saat ini pun cuma bisa menarik napas panjang. "Baiklah, aku tidak akan mengganggumu."


Ishana mengangguk. Kemudian Adam pun tersenyum sebelum beranjak keluar.


****


Pagi hari, Ishana terbangun dari tidurnya saat mendengar suara pintu terbuka. Dan ternyata Bianca yang masuk bersama dua pelayannya. Sontak Ishana langsung beringsut bangun dengan tatapan yang awas. "Nyonya?"

__ADS_1


Bianca memberikan tatapan tak bersahabat. "Pegangi dia." Titahnya pada kedua pelayan itu. Spontan Ishana pun berusaha menghindari keduanya. Sayangnya Ishana berhasil mereka tangkap. Kedua pelayan itu pun memegangi tangan Ishana.


"Mau apa kalian?" Teriak Ishana terus memberontak. Matanya pun tertuju pada Bianca. Wanita itu tersenyum miring, lalu mengeluarkan botol kaca berukuran kecil. Obat peluruh kandungan. Mata Ishana membulat saat melihat benda itu.


Perlahan Bianca pun mendekati Ishana.


"Saya mohon, Nyonya." Lirih Ishana dengan tatapan memohon. Namun semua itu sama sekali tak membuat Bianca terpengaruh. Tatapannya pada Ishana semakin penuh kebencian.


"Seharusnya kalian tidak pernah hadir dalam kehidupan kami. Anak ini hanya akan merusak reputasiku." Bisik wanita itu dengan sorot mata tajamnya.


Ishana menggeleng. "Tapi Anda dan Tuan yang menginginkan anak ini, Nyonya."


Bianca tertawa hambar. "Aku tidak pernah mengharapkan anak cacat."


Ishana semakin ketakutan. "Saya mohon, jangan sakiti anak ini. Dia tidak berdosa."


Lagi-lagi Bianca tertawa hambar. "Kenapa? Apa kau takut Adam akan membuangmu jika anak ini mati huh? Kau senang kan mendapat perlakuan spesial dari suamiku? Setiap pagi, siang dan malam dia datang padamu. Itulan yang kau inginkan bukan?"


Dahi Ishana mengerut bingung. "Kenapa Nyonya bicara seperti itu?"


"Kau bertanya kenapa, Ana!" Bentak Bianca menarik rambut Ishana dengan kuat. Membuat ibu hamil itu menjerit kesakitan. "Dia suamiku! Tapi kau berhasil merebut perhatiannya dariku. Aku benci itu. Tapi aku mengenyampingkan semua perasaanku karena bayi itu. Tapi apa? Dia malah cacat. Dasar tidak berguna."


"Ampun, Nyonya." Mohon Ishana menahan rasa perih dan panas dikepalanya karena jambakan Bianca.


"Kau dan anak itu sumber masalah rumah tanggaku, Ana. Jadi aku harus menyingkirkan akar masalahnya dari sekarang." Bianca melepaskan jambakannya dengan kasar. Lalu membuka penutup botol itu dengan cepat dan mencoba meminumkannya pada Ishana.


Ishana memberontak, berusaha agar terlepas dari cekalan kedua pelayan itu. Sayangnya ia tak sekuat itu. Tenaganya belum terkumpul sepenuhnya karena ia baru bangun tidur.


"Pegangi dia dengan benar." Bentaknya pada kedua pelayan itu. Lalu tangan kirinya menjepit rahang Ishana agar wanita itu membuka mulut. Akan tetapi Ishana menutup mulutnya rapat-rapat dan menendang Bianca sampai terhuyung ke belakang.


"Arrrghh! Sialan." Umpat wanita itu semakin emosi.


Plak!


Sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi Ishana. Gelenyar panas dan rasa perih dipipinya membuat ia lemas.


Tuhan, lindungi anakku. Aku mohon. Mohonnya dalam hati.


Melihat kondisi Ishana yang sudah melemah. Bianca memanfaatkan itu untuk meminumkan obat itu. Namun, belum sempat ia melakukan itu Adam muncul lebih dulu.


"Bianca!" Adam menarik istrinya itu menjauh dari Ishana. Botol itu pun jatuh kelantai dan pecah karena Bianca belum siap dengan tarikan suaminya.


Mata tajam Adam tertuju pada dua pelayan itu. Sontak keduanya melepaskan Ishana dan pergi dari sana. Tubuh Ishana pun merosot ke lantai. Mengabaikan kondisi Ishana, Adam membawa istrinya pergi dari sana.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2