Bukan Ibu Pengganti

Bukan Ibu Pengganti
Harus Meninggalkanmu


__ADS_3

Ketiganya terhenyak mendengar itu dan langsung melempar pandangan satu sama lain. Berbeda dengan mereka yang tampak kaget, Bianca justru terlihat berseri setelah mendengar perkataan suaminya. “Ya, kami akan membayarnya lima kali lipat dari perjanjian jika Nona Ana bersedia. Bagaimana?" Tawarnya dengan nada sedikit angkuh.


Ishana menggenggam erat tangan Venya.


“Maaf, Tuan, Nyonya. Tapi ini tidak sesuai perjanjian sebelumnya.” Ujar pemuda itu menatap Adam untuk meminta penjelasan. Bagaimana pun nantinya ia yang bertanggung jawab dalam masalah ini. Ia tak ingin ada masalah besar kelak.


“Seperti yang istri saya katakan, kami akan membayar lima kali lipat. Jika setuju, kita langsung tanda tangan suratnya. Jika tidak, kami juga tidak bisa memaksa. Kami akan mencari orang yang bersedia.” Tegas Adam.


Pemuda yang bertanggung jawab atas semuanya pun tampak mengusap wajahnya. Kemudian ia pun menatap Ishana. “Bagaimana, Ana?”


Ishana tampak berpikir keras, hatinya terasa berat untuk mengambil keputusan, tetapi wajah sang Ayah tiba-tiba saja melintas dibenaknya. “Saya setuju.” Putusnya dengan cepat.


Venya dan sang pemuda terkejut mendengar jawaban Ishana, sedangkan Adam dan Bianca terlihat senang dan benapas lega dengan jawaban itu. Tidak mudah bagi mereka mencari calon ibu pengganti secantik Ishana. Tadi itu hanya gertakan mereka saja. Karena sejak awal mereka sudah tahu permasalahan Ishana apa.


Venya menarik lengan Ishana dan dengan nada berbisik. “Apa kau yakin?”


Ishana mengangguk yakin. “Ayahku membutuhkan uang secepatnya, Ve. Aku bisa apa selain menerima tawaran ini?”


Venya menganguk paham, ia juga tidak bisa memberikan solusi lain. Kondisi yang genting membuat mereka terjepit. Ishana pun kembali memusatkan perhatian pada calon kliennya itu. “Saya setuju, tapi saya juga punya permintaan.”


Adam dan Bianca saling pandang, kemudian menatap Ishana bingung. “Katakan.”


Ishana menggigit ujung bibirnya. “Bisakah kalian membayar biaya operasi Ayah saya secepatnya?”


Adam dan Bianca tersenyum mendengar itu. “Nona tenang saja, setelah surat perjanjian ini ditandatangani. Semua kebutuhan hidup Nona kami tanggung sepenuhnya.” Adam mengeluarkan surat perjanjian. “Silakan dibaca dulu sebelum tanda tangan.”


Dengan tangan gemetar Ishana mengambil surat itu dan membacanya dengan seksama. Tenggorokannya terasa kering saat membaca semua isi perjanjian itu. Di mana nantinya ia tak memiliki hak apa pun lagi terhadap anak yang dilahirkannya. Hingga matanya berhenti tepat dipoin kelima, di mana selama masa kehamilan ia harus tinggal bersama Adam dan Bianca. Ishana menatap mereka lekat. “Point kelima ini….”


“Ya, Nona harus bersedia tinggal bersama kami selama masa kehamilan. Kami hanya ingin memastikan anak kami sehat sampai lahir. Juga menjamin kabar ibu pengganti ini tidak sampai ke luar. Jangan khawatir soal Ayah Nona, kami akan menyewa beberapa perawat untuk merawatnya.” Jelas Adam penuh keyakinan.


Ishana memejamkan matanya sejenak dan terdiam cukup lama sambil memandangi surat perjanjian itu, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menandatangi surat itu meski dengan berat hati. Lagi pula ia tidak mungkin tinggal bersama sang Ayah dalam keadaan hamil nantinya.


Hari berikutnya, Ishana dibawa untuk menjalani pemeriksaan. Sepekan kemudian proses surogasi pun dilakukan sesuai prosedur yang ada. Tentu saja semuanya berjalan tanpa kendala.


 


****


Sebulan setelah dilakukan inseminasi, hampir setiap pekan Bianca dan Adam menghubungi Ishana untuk menanyakan apakah sudah ada pertanda kehamilan atau belum. Namun, saat itu belum ada tanda-tanda kehamilan sama sekali. Membuat keduanya resah. Mungkinkah proses itu gagal?


Dan kini Ishana mulai merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya. Akhir-akhir ini Ishana sering pusing dan tak enak badan, bahkan hari ini Ishana terus berdiam diri di kamar karena tubuhnya terasa lemas. Merasa curiga dengan kondisinya saat ini, Ishana pun melakukan tes kehamilan.

__ADS_1


Ishana mencengkram erat test pack sekuat tenaga, tanda garis dua menunjukkan jika dirinya positif hamil. Dan itu adalah test pack kesepuluh yang ia pakai. Membuktikan jika dirinya benar-benar hamil. Ia menengadahkan kepalanya ke udara, entah kenapa dadanya terasa sesak menerima kenyataan jika dirinya hamil, di luar nikah tentunya. Namun, ia tak bisa menyesali apa yang sudah terjadi. Semua itu keputusannya sendiri.


Cukup lama ia termenung di dalam kamar mandi. Sampai suara deringan ponsel miliknya membuayrkan lamunan. Cepat-cepat Ishana keluar dari sana dan kembali ke kamar. Lalu menerima panggilan. Ternyata Adam lah yang menghubunginya.


“Bagaimana?” Alih-alih suara Adam yang terdengar, justru Bianca lah yang bicara saat ini. “Jangan katakan belum ada perkembangan, ini sudah satu bulan, Ana. Jika memang belum ada tanda-tanda, kita harus kembali ke dokter. Mungkin saja rahimmu ada masalah.” Cecar Bianca seperti biasanya. Wanita itu sangat tidak sabaran.


Ishana menghembuskan napas pendek, ditatapnya test pack yang masih ia pegang dengan gemetar. “Saya hamil.”


“Apa?” Pekik Bianca di sana. “Kau serius? Sudah dipastikan hamil?”


“Saya sudah sepuluh kali mencoba test pack, hasilnya tetap sama.” Jujur Ishana.


“Ya Tuhan, jadi rencana kita berhasil? Adam, kita berhasil.” Seru Bianca sangking bahagianya. Tidak lama panggilan pun diambil alih oleh Adam.


“Apa itu benar, Ana?” Suara lembut Adam terdengar begitu jelas ditelinga Ishana.


“Iya, Tuan. Jika Tuan dan Nyonya tidak percaya, sebaiknya kita periksa ke dokter untuk memastikan.” Saran Ishana dengan tatapan masih tertuju pada benda pipih ditangannya.


“Ide bagus, besok anak buahku akan menjemputmu. Persiapkan dirimu, mulai sekarang kau akan tinggal bersama kami. Sesuai isi perjanjian. Sebelum itu kita akan melakukan pemeriksaan lebih dulu. Ya Tuhan, aku sangat bahagia Ana.”


Ishana terdiam sejenak. “Baik.” Sahutnya kemudian.


Ishana bingung harus menjawab apa. “Ya, Tuan."


“Aku tutup dulu, sampai jumpa besok.” Pungkas Adam yang langsung menutup panggilan sepihak. Sepertinya lelaki itu akan merayakan kebahagiaan bersama sang istri. Berbeda dengan Ishana, gadis itu terduduk lemas di ujung ranjang.


Perlahan, tangannya tergerak untuk menyetuh perutnya yang masih rata. Tanpa sadar, air matanya menitik. Ada gelenyar aneh saat dirinya mengingat isi perjanjian itu lagi, di mana dirinya tak memiliki hak apa pun atas bayi yang ada dalam perutnya saat ini. Padahal Ishana tahu jika bayi itu darah dagingnya sendiri. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Surat perjanjian sudah ia tandatangi sepenuhnya. Bahkan ia sudah menerima bayaran yang cukup besar, hingga sang Ayah berhasil dioperasi dan kini sudah bisa beraktivitas seperti biasanya.  


Ishana menarik napas panjang, kemudian menghubungi Venya untuk memberikan kabar kehamilannya. Tidak butuh waktu lama, panggilan pun tersambung.


“Halo, Ana.”


“Ve, aku berhasil hamil.” Ungkap Ishana yang diikuti helaan napas panjang.


Mendengar itu, Venya langsung melompat dari tempat tidur karena posisinya masih berada di atas pembaringan. “Kau serius?”


“Ya, aku pastikan kali ini tidak salah lagi. Ve, bisakah kau kemari?”


“Ya, aku akan ke sana sekarang. Kau mau apa huh? Kata orang hamil muda itu banyak menginginkan sesuatu.”


Ishana tersenyum tipis. “Tidak ada, cepat kemari. Aku hanya ingin dirimu.”

__ADS_1


Venya tertawa kencang. “Baiklah, Aunty akan segera datang, Baby."


Ishana terdiam mendengar itu, seolah ia kembali ditampar oleh kenyataan. Di mana ia akan terpisah dengan anaknya kelak. Ishana memutus panggilan, lalu meletakkan ponselnya di atas meja kecil. Untuk yang kesekian kalinya ia menghela napas panjang, dan kembali menatap test pack yang masih digenggamnya. Tidak ingin terlalu larut dalam kesedihan, Ishana menaruh test pack itu di dalam laci. Setelah itu ia keluar dari kamar untuk menemui sang Ayah.


Seulas senyuman manis tersungging dibibir Ishana saat dirinya menemukan sang Ayah tengah membaca koran di teras rumah. Melihat wajah berseri lelaki tersayangnya membuat Ishana senang bukan kepalang, tidak pernah ia dengar lagi sang Ayah melenguh kesakitan seperti sebelumnya. Karena Adam menepati janjinya untuk memberikan perawatan intensif untuk Ayah Ishana sehingga masa pemulihannya terbilang cepat.


Dengan gerakan kecil, Ishana memeluk sang Ayah dari belakang tanpa membuatnya terkejut karena sejak kecil Ishana sering melakukan hal tersebut. Sehingga sang Ayah bisa menyadarinya tanpa melihat. “Ck, selalu saja aku gagal membuat Ayah kaget.” Sebuah kecupan hangat ia hadiahkan dipipi sang Ayah.


Sejak kecil Ishana memang selalu bersikap manja seperti ini. Sang Ayah tersenyum seraya meletakkan koran di atas meja usang. Kemudian membalas kecupan putri semata wayangnya. “Ayah bisa merasakan kehadiranmu meski mata ini tertutup.”


Ishana berdecak sebal karena itu, kemudian beranjak duduk di samping sang Ayah.


“Apa  hari ini ada keluhan, Tuan?” Canda Ishana.


“Seperti yang kamu lihat, Ayah jauh lebih baik.”


Ishana kembali menyunggingkan senyuman manis. “Kelihatan, sekarang wajah Ayah seperti muda lagi. Lihat, tidak ada lagi kerutan di sini.” Ishana mengusap kening sang Ayah dengan lembut.


“Kau ini.” Danu, sang ayah pun mengacak rambut putrinya dengan lembut.


“Semuanya berkat dirimu. Jika bukan karena temanmu itu, mungkin saat ini Ayah sudah menjadi tanah.”


Ya, selama ini Danu hanya tahu biaya operasinya ditanggung oleh teman Ishana yang tak lain adalah pemuda saat itu, Kyle. Ishana sengaja berbohong meski hatinya begitu sakit saat melakukan itu. Semuanya ia lakukan untuk kebaikan sang Ayah, salahkan kondisi ekonomi yang tak pernah berpihak padanya. Jika Ayahnya tahu apa yang sedang ia lakukan saat ini, entah apa yang akan tejadi. Ishana tak bisa membayangkan hal itu.


“Ayah, jangan bicara seperti itu.” Rengek Ishana memeluk sang Ayah penuh kasih sayang. “Aku akan melakukan segala cara supaya Ayah sehat terus. Cuma Ayah yang Aku punya.”


Danu mengecup kening Ishana dengan lembut. “Jangan memaksakan diri, kamu sudah dewasa, Ana. Carilah kebahagiaan sendiri. Ayah sudah tua, cepat atau lambat Ayah akan pergi. Jadi sebelum ayah pergi, carilah sosok yang bisa membahagiakanmu.”


Mendengar itu Ishana melerai pelukannya, lalu menatap sang Ayah tajam. “Jangan katakan itu lagi, aku akan marah padamu.”


Danu tertawa renyah. “Maafkan Ayah, sayang. Ayah bicara apa adanya.”


Ishana tersenyum, tetapi detik berikutnya senyuman itu sirna saat dirinya mengingat akan segera meninggalkan rumah sederhana ini. Terutama meninggalkan sang Ayah. “Ayah.”


“Iya, sayang? Ada apa? Jangan katakan kau sudah menemukan pujaan hati huh? Wah… anak Ayah sudah dewasa.” Goda Danu ingin mencairkan suasana. Sejak dulu Danu memang selalu membuat candaan untuk menghibur putrinya itu.


Ishana sedikit menunduk, ia bingung harus memulai dari mana. Danu yang melihat itu pun menarik dagu Ishana. “Ada apa? Katakan pada Ayah.”


Mata Ishana berkaca-kaca dan langsung memeluk Danu. “Maaf, Ayah. Aku harus meninggalkanmu setelah ini.”


Tbc....

__ADS_1


__ADS_2