
"Kau sudah gila?" Sentak Adam melepas tangan istrinya dengan kasar hingga wanita itu sedikit tersentak kebelakang. "Sudah aku katakan jangan sakiti dia."
Bianca melayangkan tatapan tajam pada suaminya. "Kenapa? Agar kau bisa bermesraan terus dengannya huh?"
Sepertinya saat ini Bianca tengah diselimuti api cemburu yang akan membakar dirinya sendiri. Sejak Ishana masuk ke rumah mereka. Bianca selalu merasa perhatian Adam terbagi. Ia terbiasa mendapat perhatian penuh dari suaminya. Dan ia tak rela perhatian suaminya terbagi, lebih-lebih itu pada Ishana yang notabennya orang asing di rumah ini.
"Omong kosong." Adam juga memberikan tatapan yang cukup nyalang. Ia sangat marah dengan apa yang istrinya lakukan pada Ishana. Beruntung dirinya bangun lebih cepat dan menyadari Bianca tidak ada di kamar. Jika telat sedikit saja mungkin ia akan kehilangan calon anaknya. "Kau keterlaluan, Bi."
"Kau yang keterlaluan, Adam! Kau terus membela wanita sialan itu. Apa lagi kalau bukan kau jatuh cinta padanya." Tuding Bianca tanpa berpikir lagi. Ia benar-benar dirasuki api cemburu karena terus melihat Adam memperlakukan Ishana dengan baik. Bahkan kali ini suaminya itu pun lebih membela Ishana ketimbang dirinya sebagai seorang istri.
Adam menggeram kesal. "Kau itu cemburu buta, Bi. Aku sama sekali tak pernah berpikir untuk berpaling darimu. Aku mencintaimu."
Bianca mendengus kasar. "Cinta kau bilang? Jika kau mencintaiku, kau akan mendengarkanku untuk menggugurkan anak itu, Adam." Karena sangat kesal Bianca menjambak rambutnya sendiri. "Kau berubah sejak wanita itu hadir, Adam. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Cara kau bicara padanya, menatapnya, itu berbeda saat kau bersamaku."
Adam memejamkan matanya. Ia tidak habis pikir dengan apa yang istrinya pikirkan selama ini. Sedikit pun ia tak pernah berpikir untuk berpaling dari istrinya. Ia hanya melakukan tanggung jawabnya, membuat Ishana senyaman mungkin. Bagaimana pun ia tidak ingin terjadi sesuatu pada calon anaknya. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih seperti yang istrinya bayangkan.
Bianca mendekati Adam, lalu menarik baju lelaki itu sambil menangis. "Ayo gugurkan anak itu, Adam. Aku tidak mau orang lain memandang kita sebelah mata."
Adam menatap istrinya tak percaya. "Aku tidak percaya kau sejahat ini, Bi. Aku selalu berpikir kau wanita lembut. Tidak perlu membunuh anak itu untuk menutupi semuanya, kita bisa menyembunyikannya dari orang."
Bianca menatap Adam kesal. "Apa kau pikir mudah menyembunyikan seorang anak, Adam?"
Adam mengeratkan rahangnya. "Apa pun itu, aku akan tetap mempertahankan bayi itu. Dia anakku."
Bianca mundur beberapa langkah. "Jadi kau lebih memilih anak cacat itu ketimbang aku huh?"
Adam menatap Bianca dengan sorot mata kecewa, lalu menjawab. "Ya."
"Adam!" Geram Bianca dengan kedua tangannya yang terkepal.
"Kau yang memberikan saran padaku untuk mencari ibu pengganti, Bi. Lalu kenapa sekarang kau seolah melempar kesalahan padaku dan wanita tak bersalah itu huh? Kau bisa saja mengandung anakku, tapi kau lebih mementingkan penampilanmu ketimbang perasaanku. Karena aku mencintaimu, aku tetap menghargai keputusanmu. Tapi kali ini aku tidak akan membiarkan kau menyakiti anakku. Hari ini aku kecewa padamu." Adam masih memberikan tatapan penuh kecewa. Lalu ia pun beranjak pergi menuju kamar Ishana.
"Arrrgghhh!" Teriak Bianca frustrasi. Tubuhnya lemas seketika, ia pun ambruk ke lantai dan terus merutuki Ishana sangking kesalnya.
Sesampainya di kamar Ishana, Adam langsung menghampiri Ishana yang masih terduduk di lantai sambil menangis pilu. Lelaki itu berjongkok di depannya dengan hati-hati, tak ingin membuat wanita yang tengah mengandung anaknya itu kaget.
"Ana." Panggilnya seraya menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Ishana. Hatinya langsung terenyuh saat melihat wajah sembab dan pipi lembam wanita itu. "Maaf aku terlambat."
__ADS_1
Mata Ishana bergerak pelan ke arah Adam, bibirnya bergetar karena tangisan. "Saya ingin pulang." Lirihnya begitu menyayat hati siapa pun yang mendengarnya.
Merasa iba, Adam pun membawa Ishana dalam pelukan. "Semua ini tidak akan terjadi lagi, aku janji."
Tanpa sadar Ishana membalas pelukan Adam. Saat ini dirinya masih ketakutan, terlihat jelas dari tubuhnya yang masih bergetar. Bahkan tangisannya pun semakin pecah. Adam mengusap punggungnya dengan lembut, mencoba menenangkannya. "Aku akan melindungi kalian."
Perlahan Ishana pun mulai tenang. Adam pun membawanya ke atas ranjang. Ditatapnya pipi Ishana yang membiru. "Aku akan mengobati pipimu."
Ketika Adam hendak pergi, Ishana memegangi tangannya begitu erat. Ia masih takut Bianca akan kembali dan menyakitinya.
"Dia tidak akan menyakiti kalian lagi. Aku sudah memperingatinya." Adam mengelus tangan Ishana. Lalu melepaskan tangan kecil itu perlahan. "Aku tidak akan lama."
Ishana mengangguk ragu. Adam pun tersenyum, lalu meninggalkan kamar itu.
Tidak perlu lama, Adam sudah kembali dengan sebuah nampan ditangannya. Isi nampan itu bukan hanya wadah berisi es batu, melainkan ada sepotong sandwich juga segelas susu. "Aku tahu kau lapar kan?"
Ishana tersenyum kecil, lalu meringis karena melupakan luka bekas tamparan disudut bibirnya.
"Sebaiknya kau tidak perlu banyak tersenyum dulu." Adam meletakkan nampan itu di atas nakas, lalu duduk disebelah Ishana. Kemudian mulai mengompres pipi Ishana yang sudah membengkak. Ishana mendesis, menahan rasa sakit. Sebenarnya ia merasa canggung dengan perhatian yang Adam berikan saat ini. "Tu--tuan, biar saya obati sendiri."
Adam menghela napas panjang. "Maaf atas sikap Bianca sangat keterlaluan."
"Saya yang minta maaf, tidak bisa memberikan apa yang kalian mau. Sebenarnya saya merasa bersalah pada Nyonya. Gara-gara saya Tuan dan Nyonya jadi bertengkar."
"Itu tidak akan terjadi jika dia bersikap bijak." Adam mengelus perut Ishana dengan lembut. "Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku akan menerima anak ini apa pun keadaannya dan merawatnya dengan sepenuh hati."
Saya juga ingin merawatnya, Tuan.
Ishana menggigit ujung bibirnya. Ingin sekali rasanya ia bicara hal itu. Sayangnya semua itu tak bisa keluar dari bibirnya. "Tu--tuan...."
"Ya?" Adam menatap Ishana penuh tanya.
"Saya lapar." Hanya itu yang mampu Ishana ucapkan. Sontak Adam pun tersenyum geli.
"Ah, aku hampir lupa." Dengan penuh perhatian Adam mengambil makanan yang dibawanya tadi. Kemudian memberikan itu pada Ishana.
"Terima kasih," ucap Ishana meletakkan piring sandwich itu di atas pangkuan. Kemudian memakannya dengan tangan yang masih menganggur.
__ADS_1
Adam yang melihat itu tersenyum.
"Apa Tuan sudah makan?" Tanya Ishana meletakkan kembali sisa sandwichnya di piring.
"Aku belum lapar, kau lanjut saja makannya. Lalu istirahat. Aku akan kembali ke kamar." Adam mengusap lengan Ishana sebelum bangkit dari duduknya.
Ishana mengangguk. "Terima kasih sekali lagi."
"Sama-sama." Adam pun beranjak pergi dari sana.
Ishana menghela napas panjang. Tiba-tiba saja ia jadi merasa takut lagi. Bagaimana jika wanita itu kembali menyerangnya? Tapi tadi Adam sudah mengatakan jika Bianca tidak akan mengusiknya lagi. Haruskah Ishana percaya?
Perkataan Adam memang benar, Bianca tidak datang lagi. Dan itu membuat Ishana bernapas lega. Namun, meski seperti itu ia masih belum bisa merasa tenang. Kapan saja wanita itu bisa datang dan menyerangnya. Ingin rasanya ia kabur dari sana, tetapi ia tidak tahu harus kemana. Tidak mungkin juga ia pulang dalam keadaan perut besar seperti sekarang ini.
Huft. Ishana menarik napas panjang. Kepalanya terasa pening memikirkan semua yang tengah terjadi. Dan memutuskan untuk istirahat dan menenangnya hatinya yang tengah berkecamuk.
****
Ketika memasuki kamar, dahi Adam mengerut saat melihat sang istri memasukkan pakaian ke dalam koper. Dengan langkah lebar Adam menghampirinya, lalu menahan pergerakan Bianca. Tatapan keduanya pun bertemu. "Apa yang kau lakukan?"
"Aku ingin pergi dari sini." Tegas Bianca dan lanjut memasukkan pakaiannya ke dalam koper berukuran besar.
Adam menarik tangan wanita itu hingga mereka kembali berhadapan. "Aku tidak mengizinkanmu pergi. Kita bicara baik-baik."
"Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Sudah jelas kau memilih wanita j*l*ng itu."
"Bianca!" Adam meninggikan suaranya. Perkataan istrinya itu selalu membuat Adam naik pitam. "Bisakah kau bicara sopan sedikit?"
Bianca tertawa hambar, lalu melempar sisa pakainnya asal. "Terus saja bela wanita itu. Aku rasa kau memang sudah jatuh cinta padanya."
Adam mengusap wajahnya dengan kasar. "Bi...."
"Ayo kita cerai." Pinta Bianca menyela ucapan Adam. Sontak Adam pun kaget mendengarnya. Tak menyangka Bianca mengucapkan kata-kata itu dengan enteng.
Melihat Adam bergeming, Bianca pun memungut pakaiannya. Kemudian memasukannya ke koper dan menutupnya dengan kasar. "Jangan menahanku! Pergi saja pada wanita kebanggaanmu itu."
Bianca pun meninggalkan Adam begitu saja. Adam yang masih diselimuti rasa kecewa pun membiarkan istrinya pergi. Mungkin mereka memang butuh waktu untuk menyendiri. Setelah kepala mereka dingin, Adam akan menjemputnya. Itu yang lelaki itu pikirkan saat ini.
__ADS_1