
Danu yang mendengar hal itu terlihat bingung. “Apa maksudmu huh?”
Ishana semakin mengeratkan pelukan. “Aku akan berangkat ke kota besar Ayah, ada pekerjaan yang lumayan bagus di sana. Gajinya juga lumayan besar.” Sang Ayah mengangkat sebelah alisnya.
“Kenapa harus ke kota itu, di sini juga banyak pekerjaan bagus. Lagi pula di sana tidak ada yang kamu kenal, Ana. Jangan memaksakan diri, Ayah akan bekerja jika sudah sehat.”
Ishana tersenyum sembari menarik diri dari dekapan sang Ayah. “Jangan khawatir, Ayah. Kan Ayah sendiri yang bilang kalau aku sudah dewasa. Aku akan menjaga diri di sana. Lagi pula sudah saatnya aku keluar dari zona nyaman. Mungkin saja di sana aku bisa menemukan sosok yang seperti Ayah katakan tadi.” Gadis itu tersenyum untuk meyakinkan hati sang Ayah.
“Kau ini.” Danu mengacak rambut putrinya. “Ayah tidak terbiasa jauh darimu, berat jika harus melepaskan dirimu, Ana." Wajah Danu pun berubah sendu.
Melihat itu, senyuman Ishana pun perlahan memudar. Jika boleh jujur ia juga tak ingin meninggalkan sang Ayah, apalagi kondisinya masih belum sehat total. Namun, tidak mungkin juga dirinya terus di dekat sang Ayah, perlahan perutnya akan membuncit. Ia tak ingin Danu tahu soal kehamilannya saat ini, kesehatan lelaki itu akan menjadi taruhan.
“Ayah, jika aku terus disisimu. Kapan aku bisa mandiri?” Ishana berusaha menarik sudut bibirnya meski sulit.
Danu menarik napas panjang seraya membenarkan posisi duduknya. “Ayah tidak akan tenang jika dirimu jauh, Ana.”
“Ayah, izinkan aku pergi ya? Please.” Rengeknya seperti anak kecil, berusaha membujuk sang Ayah.
“Apa Venya juga ikut denganmu?”
“Tidak, Paman. Aku akan tetap di sini untuk menjagamu.” Sahut Venya yang tiba-tiba muncul dan langsung bergabung. Gadis dengan rambut sebahu itu pun duduk disamping Ishana tanpa rasa canggung karena rumah itu sudah seperti rumahnya sendiri. Kemudian sedikit menyenggol lengan Ishana.
“Biarkan saja dia pergi, Paman. Lagian di sini masih ada aku yang menjagamu, aku juga putrimu. Biarkan aku merawatmu. Dan izinkan putrimu yang satu ini mencari uang yang banyak. Supaya kita jadi kaya raya. Mana tahu dia pulang membawa menantu tampan dan kaya raya. Di sana kan gudangnya orang kaya.”
“Ve.” Protes Ishana menunduk malu. Sedangkan Venya justru tertawa geli karena berhasil menggoda si pemalu Ishana.
Danu yang melihat reaksi keduanya pun tersenyum. “Ah, aku hampir melupakan putriku yang ini. Tapi tetap saja aku ingin kalian berdua tetap bersama, menemani masa tuaku di sini.”
Ishana kembali memeluk sang Ayah. “Ayah, sebenarnya aku juga tak ingin pergi. Tapi… jika aku terus berada di dalam sangkar kita ini… kehidupan kita tidak akan maju. Aku pernah dengar pepatah, jika kita ingin sukses, maka keluarlah dari zona nyamanmu.” Ujarnya masih berusaha membujuk sang Ayah.
Danu membuang napas kasar mendengar kalimat yang putrinya lontarkan.
“Kita tahu sendiri di sini sulit sekali mencari penghasilan yang tinggi dengan pendidikan rendah sepertiku, jika ada pun kita harus punya orang dalam. Ayah, biarkan aku mencari pengalaman baru. Boleh kan?” Imbuh Ishana mengangkat wajahnya untuk menatap sang Ayah.
Venya yang melihat itu pun ikut menimpali kembali. “Benar Paman, lagi pula Kyle ada di sana. Aku akan memintanya untuk menjaga Ishana dengan baik."
Memang benar, selama Ishana di sana. Kyle juga akan ikut ke sana untuk memastikan kondisi Ishana. Bagaimana pun itu tanggung jawabnya.
Danu pun mengembuskan napas pasrah. “Kalian ini sangat kompak jika sudah merayu. Tapi, kenapa kalian begitu yakin di sana semuanya akan baik-baik saja? Ayah jadi penasaran pekerjaan apa yang kalian maksud?”
Ishana langsung melempar pandangan pada Venya, seolah meminta bantuan untuk menjawab.
“Ishana akan menjadi sekretaris, Paman. Ya, dia akan menjadi sekretaris bos disebuah perusahaan besar. Kebetulan Kyle ada kenalan di sana. Bahkan di sana disediakan rumah dan fasilitas mewah. Gajinya juga lumayan. Aku yakin Ana akan betah di sana. Apa lagi di kota sangat ramai.” Jawab gadis itu ngasal sambil mengerlingkan matanya pada Ishana.
Ishana semakin mengeratkan pelukan karena tak tega harus terus-terusan membohongi sang Ayah.
“Jika memang kamu begitu yakin ingin pergi, maka pergilah. Ayah hanya bisa mendoakanmu dari sini. Maaf jika Ayah belum bisa menjadi Ayah yang baik.” Sebuah kecupan hangat Ishana dapatkan.
“Terima kasih, Ayah. Aku janji akan selalu mengabarimu.”
“Hm. Lalu kapan berangkatnya?”
Venya yang ikut penasaran pun menatap Ishana, menunggu jawaban sahabatnya itu.
__ADS_1
“Mungkin besok, tadi pihak perusahaan sudah menghubungiku. Mereka akan menjemputku besok pagi.” Jawab Ishana apa adanya.
Danu terdiam sejenak, hatinya sangat berat untuk melepaskan sang putri. Sejak kecil Ishana tidak pernah jauh darinya. Namun, ia tak mungkin terus menahan putrinya yang ingin mengembangkan diri. Sebagai seorang Ayah, ia merasa gagal karena tak bisa memberikan kebahagiaan untuk Ishana. Mungkin membiarkan Ishana bebas di luar sana salah satu cara untuk membuat putrinya bahagia. Ia tidak tahu saja jika sang putri sedang menyembunyikan hal yang begitu besar. Entah kapan bom waktu itu akan meledak. Lalu menghancurkan kepercayaannya.
“Ya sudah, siapkan apa yang perlu kamu siapkan. Ayah merestuimu.” Sekali lagi ia menghadiahi kecupan hangat di kening Ishana.
“Terima kasih, Ayah. Aku mencintaimu.” Ishana memasang wajah sendu.
“Ayah juga mencintaimu, sayang.” Balas Danu.
Venya yang melihat itu langsung bangkit dari posisinya. “Ayo kita siapkan semuanya.” Ajaknya dengan semangat. Ishana pun menarik diri dari dekapan Ayahnya.
“Ya, sana pergi. Biarkan Ayah menikmati udara segar di sini.”
Ishana tersenyum geli. “Jangan terlalu lama, nanti masuk angin.”
Danu mengangguk. Kemudian Ishana dan Venya pun bergegas masuk. Meninggalkan Danu sendirian.
“Gila.” Maki Venya saat melihat jejeran test pack dengan hasil yang sama, yaitu positif.
Ishana yang saat ini sudah berbaring di atas kasur pun mengangguk sembari mengusap perutnya. “Aku sendiri tidak percaya, Ve. Di dalam sini sudah ada kehidupan baru. Rasanya sangat eneh.”
Venya tertawa kecil. “Memang sih, kau hamil padahal belum tahu rasanya bercinta. Kasihan sekali, kenapa kemarin itu kau tidak minta saja tidur dengan si tampan itu sih?” guraunya.
“Ve!” Kesal Ishana. “Menyebalkan.”
Suara tawa Venya pun menggelegar. “Hati-hati saja kau tenggelam dalam pesona Tuan Adam.”
“Ya, kau memang harus kembali ke sini. Jangan cemas, aku akan menjaga Paman dengan baik.” Ishana mengangguk pelan. Dan keduanya pun bungkam seakan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Ada rasa tidak rela dalam hati mereka untuk berpisah, tetapi semuanya sudah terlanjur. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti aturan permainan yang mereka lakukan sendiri.
Keesokan harinya, anak buah Adam benar-benar menjemput Ishana. Gadis itu pun langsung berpamitan pada sang Ayah dan sahabatnya. Lalu meninggalkan kediaman dengan berat hati.
****
Meski diawal Ishana merasa canggung karena baru pertama kalinya tinggal bersama orang asing dan ditempat asing pula. Namun, perlahan tapi pasti ia mulai beradaptasi. Beruntung Adam dan Bianca selalu memberikan perhatian padanya, mulai dari menemani dirinya saat mereka memiliki waktu senggang. Menemaninya melakukan yoga dan lain sebagainya yang berhasil membuat Ishana merasa nyaman. Bahkan tak jarang Adam menyempatkan diri menemui Ishana dan mengajak calon anaknya itu bicara. Seiring berjalannya waktu, Ishana mulai terbiasa dan menikmati semua yang dilewatinya.
Kini usia kandungan Ishana sudah memasuki dua puluh empat minggu. Gadis cantik itu berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya di sana. Perutnya terlihat membuncit, bahkan tubuhnya juga sedikit berisi. Tangan Ishana bergerak untuk mengelus perutnya itu. Sudut bibirnya terangkat saat ada pergerakkan di dalam sana. Lalu mengajak bayinya itu bicara. “Kau bahagia aku menyentuhmu huh?”
Namun, detik berikutnya senyuman itu pun memudar. Digantikan dengan ekspresi sedih saat mengingat perjanjian itu lagi. “Maafkan aku, aku tidak bisa selamanya bersamamu. Bisakah kau tidak membenciku nanti?”
Lagi-lagi bayi dalam perutnya melakukan pergerakkan kecil. Berhasil membuat Ishana tersenyum lagi. “Aku tahu, kau tidak akan menyalahkanku nantinya. Sepertinya hatimu akan selembut Ayahmu ya? Dia sangat baik, kau pasti bahagia mendapat Ayah sepertinya.”
Tidak lama pintu kamar pun terbuka, di sana Adam dan Bianca sudah berdiri dengan senyuman ramah seperti biasanya. Ishana berbalik pun berbalik, menatap keduanya bergantian.
Bianca melangkah masuk yang diiukti oleh Adam, lalu keduanya berdiri tepat di hadapan Ishana. Kemudian tangan Bianca terulur untuk menyentuh perut Ishana.
“Apa dia baik-baik saja?”
Ishana mengangguk. “Dia semakin aktif.”Jawaban Ishana membuat pasutri itu tersenyum bahagia. Adam merangkul sang istri dengan mesra.
“Kau dengar, sayang. Anak kita semakin aktif, aku jadi tidak sabar menyambut kelahirannya. Apa dia akan mirip sepertimu?” Kata Bianca sambil terus mengusap perut Ishana.
“Tentu saja.” Adam mengecup kening Bianca dengan lembut.
__ADS_1
Ada rasa tak rela dalam hati Ishana saat Bianca mengatakan itu anak mereka. Sudah jelas itu anaknya, darah dagingnya. Ingin sekali ia protes, tetapi ia sadar diri dan posisi. Sampai suara deringan ponsel Adam mencuri perhatiannya.
“Sebentar.” Adam agak menjauh dari istrinya untuk menerima panggilan.
“Duduklah.” Ajak Bianca menuntun Ishana duduk di tepi ranjang. “Ana, jika kau ingin sesuatu, katakan saja. Aku dan Adam pasti mengabulkannya, sejak kau tinggal di sini. Kau tidak pernah meminta apa pun, apa kau tidak ngidam? Mungkin kau ingin makan sesuatu?"
Ishana tersenyum. “Nyonya tenang saja, jika saya mau sesuatu pasti saya katakan. Tapi untuk saat ini saya tidak menginginkan apa pun. Semua makanan rasanya pahit dimulutku,.” Jujur Ishana.
Sejak hamil ia memang tidak banyak menginginkan sesuatu selain merasakan mual dan pusing. Justru ia lebih sering mengantuk ketimbang lapar.
Bianca menghela napas pendek, diraihnya tangan Ishana dengan lembut. “Kau tenang saja, setelah anak itu lahir. Dia tidak akan merepotkanmu lagi. Kau bebas memilih hidupmu sendiri. Kami akan menjadi orang tua yang baik dan merawatnya dengan penuh cinta.”
Mendengar itu mulut Ishana mendadak kelu, bibirnya seolah terkunci rapat. Perih, itulah yang ia rasakan dihatinya.
Ya Tuhan, kenapa hatiku sangat sakit? Tidak boleh seperti ini, kau sudah menandatangi perjanjian itu, Ana. Terima semua keputusan yang sudah kau ambil, anak ini bukan milikmu. Batin Ishana mencoba menenangkan hatinya.
Adam menghampiri keduanya setelah menerima telepon dari seseorang. Spontan kedua wanita berbeda usia itu pun menatapnya secara bersamaan.
“Dokter ingin bertemu dengan kita, katanya ada sesuatu yang ingin disampaikan.” Ujar Adam dengan raut wajah yang sulit dipahami. Bianca bangkit dari posisinya. “Ada apa, sayang?”
Alih-alih menjawab pertanyaan sang istri, Adam justru menatap Ishana lekat. “Sebaiknya kita tunggu dokter datang. Kita dengarkan sama-sama apa yang akan disampaikan.” Katanya yang berhasil membuat Ishana dan Bianca semakin penasaran.
Beberapa menit kemudian, dokter khusus yang menangani kehamilan Ishana pun tiba. Mereka pun berkumpul di ruang tamu.
“Ada apa, Dok?” Tanya Bianca yang sudah tidak sabar menunggu kabar apa yang dokter itu bawa. Bukan hanya dirinya, Ishana pun sama. Ia sangat penasaran dan sedikit cemas.
Dokter wanita itu menatap ketiganya secara bergantian, lalu menghela napas berat. Kemudian ia mengeluarkan sebuah amplop berlogo rumah sakit lalu menyodorkannya pada Bianca. Cepat-cepat ia membukanya. Namun, ia tak memahami isinya. “Apa ini?”
“Maaf, dengan berat hati saya harus menyampaikan kabar buruk ini pada kalian.” Dokter itu terlihat tegang. Begitu pun dengan Ishana dan Bianca.
Sedangkan Adam sejak tadi terlihat diam. Sepertinya lelaki itu sudah tahu apa yang akan dokter sampaikan.
Bianca langsung menatap suaminya itu, lalu Adam menggenggam tangannya. “Dengarkan saja.”
Bianca memasang wajah bingung, begitu pun dengan Ishana.
“Sejak awal kami sempat ragu dengan hasil pemeriksaan terakhir, karena itu kami melakukan pemeriksaan ulang. Dan dengan berat hati kami mengatakan jika ada masalah pada anak kalian."
Deg!
Baik Ishana dan Bianca terkejut mendengarnya. Keduanya terlihat tegang dan pucat.
“Maksudnya apa, dok?” Panik Bianca tak sabaran.
“Kemungkinan besar anak kalian mengalami gangguan mental, atau sering kita kenal sindrom down.”
“Apa?"
Bersambung….
__ADS_1