
Mayang terlonjak kaget. Seketika dia mendorong tubuh Alan dari atas tubuhnya dan refleks menutupi dadanya yang Sudah sebagian terbuka karena ulah Alan.
Alan terjengkang ke belakang karena dorongan tangan Mayang yang kuat. Dia terdiam dan memandang Mayang yang sudah duduk dengan menekuk kedua kakinya di depan dada.
Dia melihat Mayang menangis. wajahnya dia sembunyikan diantara kedua lututnya yang di tekuk. Mencoba melindungi Bagian tubuhnya yang sempat di buka paksa Alan. Tubuhnya terguncang karena isakannya.
"Maafkan aku...!" ucap Alan kemudian. Dia duduk terpekur di depan Mayang yang masih menangis.
"Aku Khilaf! Aku tidak mampu menahan hasrat ku yang sudah lama tidak tersalurkan karena melihatmu tidur di sini. Sekali lagi maafkan aku...!"
Mayang hanya diam tanpa jawab. Dia masih menangis tersedu sedu.
Alan mengambil tangan Mayang dan menggenggamnya erat.
"Aku akan bertanggung jawab Atas perbuatanku jika kamu mengijinkan!"
Mayang mendongakkan kepalanya. Matanya merah dan sembab karena tangisnya.
"Saya tidak menyangka, Tuan akan tega melakukan ini kepada saya...!"
"Aku minta maaf Mayang! Aku khilaf! Keadaan yang membuat aku melakukan ini"
"Jangan menyalahkan keadaan Tuan" tukas Mayang tajam diantara isaknya.
"Meskipun keadaan memaksa Tuan, jika Tuan mampu menahannya, maka ini tidak akan terjadi!"
Alan memandang tajam kearah Mayang. Matanya menelisik, jauh kedalam mata Mayang.
"Apakah kamu tidak menginginkannya...?"
"Apa maksud Tuan...?"
"Apa kamu tidak menginginkan unyuk melakukan itu dengan ku...?"
Plaaakkk....!!!
Terdengar sebuah tamparan keras melayang di pipi Alan.
Mata Mayang memerah menahan amarah.
"Apa Tuan pikir, saya wanita murahan yang bisa dengan gampang Tuan tiduri setiap Saat Tuan menginginkannya...?" Mayang turun dari ranjang dan beranjak pergi meninggalkan Alan yang masih kaget dengan reaksi Mayang.
"Tidak! Bukan itu maksud ku Mayang...!"
Alan mengejar Mayang yang berlari keluar dari kamarnya. Bahkan dia sudah tidak mempedulikan lagi kalau dia hanya memakai ****** ***** saja.
Mayang terus berlari keluar dari kamar menuju kamar nya sendiri. Dia menutup pintu kamarnya dengan keras setelah berhasil masuk kedalamnya.
Alan tertegun didepan pintu kamar Mayang. Dia hanya bisa menyandarkan tubuhnya ke pintu dan berusaha memanggil Mayang.
"Mayang...! Maafkan aku...! Aku tidak bermaksud merendahkanmu. Aku hanya ingin sekedar menanyakan hal itu padamu saja"
Sekali lagi Alan mengetuk pintu kamar Mayang. Namun Mayang tak kunjung menjawab. Dia hanya diam di dalam sana tanpa mau mendengar segala penjelasan dari Alan.
Alan kembali ke kamarnya dengan lunglai. Hasratnya sudah hilang. Bahkan mungkin kini tidak ada lagi.
__ADS_1
Gara gara kecerobohannya tidak bisa menahan nafsu, hampir saja Mayang menjadi pelampiasan Nafsunya.
Dengan langkah gontai Alan memasuki kamarnya. Membuka lemari dan mengambil sebuah celana boxer dari dalamnya dan dipakainya.
Dia terduduk di pinggir ranjang, tepat dimana tadi Mayang berbaring.
Alan mengusap perlahan tempat dimana Mayang tertidur. Memandangnya dan kemudian membaringkan tubuhnya di sana.
Mengapa aku bisa tergoda dengan tubuh Mayang? Dan bahkan diluar sana, setiap saat banyak wanita yang lebih cantik dan sekai yang bersedia memberikan tubuhnya padaku. Lalu mengapa Harus Mayang yang membuat imanku goyah, jika selama ini saja aku mampu menahan diri dari wanita wanita diluar sana yang selalu menggoda ku dengan tubuhnya...?
Apakah aku sudah jatuh cinta pada Mayang...?
Ataukah ini hanya rasa tertarik karena melihat Mayang setiap hari?
Atau, karena aku melihat Mayang begitu dekat dan sangat menyayangi Kimi anakku...?
Alan mengusap wajahnya dengan kasar. Menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal dan kemudian menutupi wajahnya yang sempurna itu dengan bantal.
Tidak mungkin aku mencintai dia. Mungkin aku hanya tergoda sesaat karena terbawa suasana tadi.
Tapi, mengapa hati ku sakit melihat Mayang menangis karena kata kata ku tadi. Apakah itu rasa bersalah?
Apakah itu sebuah perasaan ingin melindunginya...?
Yaa Tuhan...!
Perasaan apa ini...?
Apakah aku jatuh cinta pada baby siter anakku sendiri...?
Tidak...!
Aku tidak mungkin jatuh cinta padanya. Ini hanya nafsu bukan Cinta!
***
Mayang Pov.
Aku sungguh tidak menyangka dia akan tega melakukan itu pada ku. Aku pikir dia adalah laki laki yang baik. Aku percaya padanya ketika dia bilang dia tidak akan berbuat macam macam padaku tadi.
Tapi nyatanya...
Hiks...
Dia hampir saja merenggut kesucian ku ketika aku tengah terlelap tidur. Bahkan dia tega melakukannya di depan anaknya sendiri yang juga seorang perempuan meskipun dia masih kecil dan sedang tertidur.
***
Mayang duduk di depan meja riasnya. Dipandanginya wajahnya di antara pantulan cermin.
Tangannya mengusap bibirnya pelan. Menelusuri setiap inci wajahnya yang telah di jamah Alan.
Mayang terpekur. Pandangannya nanar menatap pantulan dirinya di cermin. Tangannya menangkup di depan dadanya. Matanya terpejam.
Angannya liar membayangkan sentuhan Alan tadi. Seandainya dia memang orang yang istimewa di hati Alan, tentu saja itu akan menjadi saat yang paling membahagiakan dirinya bisa melakukannya dengan Alan.
__ADS_1
Tapi faktanya, dia hanyalah pengasuh anaknya. Dan Alan adalah bosnya. Mana mungkin dirinya berarti di hati Alan.
Mayang mengusap air matanya. Tanpa sadar dia menangis. Hatinya kembali sakit mengingat perlakuan Alan padanya.
Dia pikir, dia akan menyerahkan tubuhnya untuk orang yang dia cintai. Tapi ternyata, laki laki yang tidak dia cintai itu Pun hampir saja merenggut kesucian nya. Dan bahkan mungkin dia tadi sudah berhasil menjamah sebagian tubuhnya tadi.
Mayang tertegun. Ingatannya melayang saat dia pertama kali sampai di tempat ini. laki-laki yang hampir merenggut kesuciannya itu tadi yang menolongnya dari jalan karena dia pingsan.
Jika memang dia menginginkan tubuhku, kenapa tidak sejak saat itu saja. Bukankah waktu itu aku sedang pingsan...?
Dia bisa bebas melakukan apa saja terhadapku waktu itu kalau dia mau. Dan aku tidak akan menyadarinya. Tapi mengapa justru sekarang dia melakukannya padaku...?
Dulu ketika pertama kali melihatnya, aku begitu terpesona dengan ketampanannya. Bahkan aku sampai tak berkedip menatap nya kala dia sedang menjelaskan apa saja pekerjaanku.
Mungkin itulah yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku sudah jatuh cinta saat pertama kali melihatnya.
Tunggu...!!
Apakah benar aku mencintainya. Apakah aku benar benar jatuh cinta padanya...?
Lalu mengapa aku menolak sentuhan itu. Mengapa aku marah saat dia mencoba melakukan itu padaku. Apakah karena cintaku bertepuk sebelah tangan...?
Ya Tuhan...
Benarkah aku marah karena mempertahankan harga diriku, ataukah hanya karena aku marah karena dia melakukannya tanpa tidak dengan hati dan perasaannya untukku...?
Mayang tergugu. Menangis meratapi kebodohannya. Dia yang tidak bisa sadar diri dengan posisi dan keberadaannya yang hanya seorang pengasuh di istana ini, tapi memimpikan sang Raja akan mencintainya.
Mungkin sebaiknya memang aku pergi dari rumah ini. Aku tidak bisa menghadapi laki laki itu lagi di sini. Apalagi jika harus tinggal serumah dan bisa dipastikan setiap saat bisa bertemu.
Tidak...
*Bagaimana dengan Kimi...?
Bagaimana aku harus menjelaskan kalau aku harus pergi dari rumah ini...?
Baru beberapa minggu aku mengurusnya, tapi aku sudah jatuh cinta dengan gadis kecil itu. Mana Mungkin aku sanggup berpisah darinya.
Oh Tuhan...
Apa yang harus aku katakan pada gadis kecil itu nanti jika aku harus pergi darinya*.
Malam itu pun dilewati Mayang tanpa bisa terpejam. Kantuk hebat yang tadi menyerangnya tiba tiba saja menghilang. Hatinya sedang gelisah.
Mayang bimbang unyuk tetap bertahan di rumah ini. Dia takut Alan akan semakin memperlakukannya dengan tidak baik dan menginjak injak harga dirinya sebagai perempuan. Tapi dia juga enggan berpisah dari Kimi.
Anak itu telah mencuri hatinya, meskipun ayahnya kemudian telah menghancurkannya. Dan sekarang dia harus menetapkan sebuah keputusan untuk menyelamatkan harga dirinya.
Meski pun itu berarti, dia harus meninggalkan Kimi.
***
Di tempat lain, dikamar Alan.
Alan masih juga belum bisa memejamkan matanya. Bayangan wajah Mayang yang menangis dan marah kepadanya membuat dia semakin tidak tenang.
__ADS_1
Aku harus meminta maaf padanya besuk pagi. Aku tidak mau dia pergi dari sini. Kimi menyayangi Mayang. Dan aku rasa mungkin memang aku mau dia tetap ada disini. Meskipun aku tidak bisa memiliki hatinya, setidaknya aku masih bisa melihatnya.