
Mayang merebahkan badannya di atas ranjangnya. Sejenak meletakkan letih di pundaknya setelah seharian lelah mengikuti Kimi dan Alan jalan jalan.
Mereka menghabiskan waktu untuk makan di restauran dan jalan jalan Ke Mall.
Kimi sangat bahagia saat Papanya itu.mengajaknya bermain di arena bermain yang ada di dalam mall. Mereka tertawa dan bergembira menikmati hari sampai lupa waktu.
Menjelang sore mereka baru pulang, dan itu oun setelah Kimi kelelahan dan akhirnya tertidur di pangkuan Mayang.
"Kau tahu, Mayang? Kamu sudah seperti Mamanya Kimi. Sikapmu pada Kimi sudah seperti seorang ibu Terhadap anaknya sendiri. Aku senang melihat Kimi akhirnya bisa dekat dengan kamu!"
"Terima kasih, Tuan!"
"Tapi mengapa kamu tidak bisa membagi peran Mama bagi Kimi itu pada ku?"
"Maksud Tuan?"
Alam tersenyum tipis namun penuh arti. Dia kemudian menoleh kearah Mayang yang sibuk memeluk Kimi dalam rengkuhan nya.
"Kalau kamu.bisa berperan menggantikan posisi Mamanya Kimi untuk Kimi, bukankah itu berarti kamu juga harus berperan menggantikan posisi Mamanya Kimi untuk ku? Bukankah menjadi Mamanya Kimi berarti menjadi orang yang paling dekat denganku?" cecar Alan runtut.
"Apa kurangnya aku, Mayang?"
Mayang hanya terdiam. Dia tidak mau menjawab pertanyaan Alan dan terpancing kedalamnya.
Dia memang mengakui, Alan sangat sempurna untuknya. Mungkin kalau boleh jujur, dia juga menyukai Alan. Tapi entah mengapa, ada sesuatu yang membuat dia tidak bisa mengakui perasaannya.
Setelah kejadian malam itu, dia merasa seperti kehilangan harga dirinya. Entah mengapa dia seperti merasa kalau Alan melecehkannya dan merendahkannya sebagai seorang wanita.
Mayang mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menyibak rambutnya kebelakang dengan setengah menahan tangannya diatas kepala.
"Apakah aku menolaknya hanya karena aku gengsi karena dia merendahkan harga diriku malam itu. Apakah aku marah padanya karena tiba tiba dia menyentuhku tanpa ijin dariku dan disaat kita tidak ada hubungan apa pun?"
Mayang bangun dari ranjangnya. Kemudian berjalan menuju meja rias nya dan berdiri menghadap kaca rias yang terpasang tegak di depan nya.
"Mengapa dia tiba tiba menyukai aku, bahkan disaat baru beberapa hari saja dia mengenalku? Apa yang salah dengan diriku sehingga semua laki laki bermaksud melecehkan aku?"
Berulang kali Mayang memutar tubuhnya di Depan cermin. Memeriksa dirinya sendiri untuk menyadari kesalahan pada tubuhnya.
"Apa sebenarnya yang salah denganku...?" gumamnya lirih kemudian beranjak kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Dia segera melepas semua bajunya dan membiarkan tubuhnya basah oleh guyuran air shower.
Mayang berulang kali memejamkan matanya, dan mengusap pipinya dengan kedua tangannya, mengingat saat tadi ketika tiba tiba Alan menciumnya.
Saat itu Kimi tiba tiba saja rewel dan dia menangis didalam pelukan Mayang.
Mayang membujuk Kimi untuk tenang dan.berjanji akan Mengajak Kimi ke taman bermain kalau Kimi mau berhenti menangis.
"Tante janji mau mengajak Kimi ke taman bermain?" Seru bocah itu sambil tetap.memeluk Mayang.
__ADS_1
"Tentu saja, asalkan Kimi janji tidak rewel dan menangis lagi!"
"Kimi janji, Tante! Tapi Tante jangan bohong. Papa pasti nanti tidak akan mengijinkan kita pergi!"
Mayang melihat kearah Alan untuk meminta persetujuan. Dan Alan pun tanpa di duga menyetujui permintaan Mayang.
"Papa akan mengijinkan Kimi pergi ke taman bermain kalau Papa dapet satu ciuman manis dari anak Papa yang cantik ini!" Sahut Alan membuat Kimi bersorak bahagian.
Dengan cepat Kimi mengulurkan kedua tangannya hendak meraih wajah Papanya itu untuk di cium. Alan oun akhirnya mendekat dan berhasil.masyk dalam rengkuhan tangan Kimi yang mungil.
Bukan Alan kalau dia tidak memanfaatkan kesempatan yang ada. Kimi yang masih dalam.gendongan Mayang membuat wajah Alan begitu dekat dengan wajah Mayang. Apalagi saat itu Kimi memeluk Papanya itu setelah menciumnya. Sontak wajah Alan kini berada di dipan dada Mayang.
Entah setan mana yang merasuki Alan. Setelah Kimi melepaskan pelukannya, Alan Ganti menciumi Kimi di kedua pipinya secara bergantian. Dan itu membuat Kimi tertawa kegelian. Tanpa Mayang sadari, Alan tiba tiba mendaratkan satu ciuman ke pipi Mayang. Bahkan nyaris saja ciuman itu mendarat di bibir Mayang kalau saja di tidak reflek menoleh saat itu
Mayang terkejut mendapatkan perlakuan seperti itu dari Alan. Namun Alan yang melakukannya hanya acuh, seakan tidak pernah terjadi apa pun.
Alan berlalu meninggalkan Mayang dan Kimi sendirian dan mengambil.mobil di parkiran. Entah apa maksud Alan sebenarnya, Mayang hanya bisa diam dan mengusap pipinya yang tiba tiba merona karena sentuhan Alan.
"Kenapa aku bahagia mendapatkan sentuhan yang hanya sedetik saja aku rasakan dari Tuan Alan? Apakah aku sebenarnya juga menginginkan dia menyentuhku?"
Mayang memejamkan matanya sekali lagi. Bayangan wajah Alan kembali melintas didalam pikirannya.
Sementara itu di ruangan lain.
Alan masih saja gelisah. Dia baru saja masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya diatas ranjangnya yang besar.
Hatinya tiba tiba saja tidak tenang. Otaknya terus memikirkan Mayang. Bahkan berulang kali terdengar dia mendesah dan membisikkan nama Mayang di bibirnya.
Alan bangun dari ranjangnya, dia terduduk sebentar dan berpikir tentang sesuatu sebelum.akhirnya beranjak pergi.
Alan keluar dari kamarnya dan menuju ke kamar Kimi. Dia membuka pintu kamar Kimi perlahan Supaya tidak membangunkan Kimi yang sedang tertidur pulas.
Mata Alan berputar ke seluruh ruangan mencari keberadaan Mayang. Namun orang yang dia cari ternyata tidak berada disana.
Alan mengurungkan niat nya untuk memasuki kamar Kimi. Dia kemudian keluar dari kamar Kimi dan melangkah ke kamar Mayang yang terletak di samping kamar Kimi yang hanya di batasi ruang tengah.
Perlahan, Alan mengetuk pintu kamar Mayang. Beberapa saat berlalu, tidak ada jawaban yang dia dengar dari dalam.kamar Mayang.
Alan memutar handle pintu dan mendorongnya. Pintu kamar Mayang pun terbuka. Entah karena ceroboh atau lupa, Mayang tidak mengunci kamarnya kali ini.
Alan melangkah masuk kekamar Mayang dengan hati hati. Dia menyapu pandangannya ke semua arah berharap dia bisa menemukan sosok yang dia cari di sana.
Namun lagi lagi Alan harus kecewa. Dia tidak menemukan Mayang di dalam kamarnya.
Saat hendak berbalik untuk keluar dari kamar Mayang, Alan mendengar sesuatu dari dakam.kamar mandi Mayang.
Alan berjalan berjingkat mendekati kamar mandi. Dia mendekatkan telinganya diatas daun pintu untuk menguping Sesuatu di dalam sana.
"Rupanya dia sedang mandi!" gumam Alan. Dia masih berusaha menguping semua hal yang sedang dilakukan Mayang dikamar.mandi.
__ADS_1
Beberapa saat berlalu, dan tiba tiba suara air bergemericik audah tidak terdengar lagi. Mayang sepertinya sudah selesai mandinya dan itu membuat Alan sedikit gugup.
Bagaimana pun dia tidak mau ketahuan sudah memasuki kamar Mayang dengan diam diam. Dia pun bergegas pergi meninggalkan kamar Mayang. Namun belum sempat dia beranjak, Mayang sudah membuka pintu kamar mandi dan memergokinya.
"Tu-tuan..!" pekik Mayang tertahan.
Alan menghentikan langkahnya. Kemudian di berbalik menghadap Mayang yang baru selesai mandi dan hanya menutupi tubuhnya yang basah dengan jubah mandinya.
"Bagaimana bisa Tuan berada di dalam kamar saya?" hardik Mayang sengit.
Alan hanya tersenyum mendengar perkataan Mayang. Matanya jalang menelanjangi tubuh Mayang yang tidak tertutup dengan sempurna dengan jubah mandinya.
"Aku harap kamu tidak lupa kalau ini adalah rumahku, Mayang?"
"Tapi ini kamar saya, Tuan! Ruang pribadi saya! Seharusnya Tuan meminta ijin untuk memasuki kamar saya terlebih dahulu."
"Tapi kamar kamu berada di dalam rumah saya. Dan otomatis saya pun juga berhak atas kamar kamu!" sahut Alan sambil.merangsek maju kearah Mayang yang berdiri gemetaran karena ketakutan.
"A-apa yang Tuan lakukan...!" Mayang memundurkan langkahnya menerima intimidasi dari Alan yang terus merangsek maju mendesaknya.
"Aku hanya ingin melihatmu dari dekat! Entah mengapa aku begitu ingin berada di dekat mu saat ini!" sahut Alan sambil tersenyum penuh kemenangan melihat Mayang semakin tersudut.
Mayang yang memang sudah kehabisan langkah, akhirnya terdesak kedinding. Sedangkan Alan terus saja merapatkan tubuhnya Menghimpit tubuh Mayang diantara tubuhnya dan dinding di belakang Mayang.
Sekarang Alan mengunci tubuh Mayang dengan meletakkan tangannya sejajar dengan kepala Mayang. Satu tangan Alan mencakup dagu Mayang dan mendekatkannya kearah wajahnya.
Alan menghirup aroma wangi sabun yang keluar dari tubuh Mayang. Dia memejamkan matanya sejenak menikmati aroma tubuh Mayang.
"A-apa yang Tuan lakukan? Lepaskan saya Tuan!"
Alan.menyeringai. Senyum tersungging di bibirnya. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Mayang dan sangat dekat.
"Mengapa kamu menolak ku, Mayang? Bukankah kamu juga menikmati sentuhan ku?"
Mayang menggeleng kuat. Dia memejamkan matanya saat hembusan nafas Alan dia rasakan mejelajahi kulit wajahnya.
"Katakan saja kalau kamu juga menginginkan aku, Mayang! Biarkan aku melakukannya!" ujar Alan lagi dan mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Mayang.
"Tidak...!" tiba tiba terdengar suara Mayang berteriak. Dia meronta melepaskan diri dari cengkeraman Alan dan berlari menjauh dari Alan.
Namun naas, karena terburu buru, Mayang justru terjatuh diatas ranjangnya. Dan itu semakin membuat Alan hilang akal..
🍀🍀🍀🍀🍀
Hai...!
Cerita cinta Alan dan Mayang semakin seru saja nih. Jangan lupa tinggalkan jejak dan dukungannya untuk karyaku ini ya.
Ikuti terus kisahnya dan jangan lupa votenya..
__ADS_1
Terima kasih untuk semua yang sudah setia membaca.