
"Bukan apa apa! Hanya aku pikir, orang yang sedang jatuh cinta itu hatinya selalu berdebar kalau berada dekat dengan orang yang di cintainya...!"
"Tuan...!" pekik Mayang setengah berteriak. "Apa maksud, Tian?"
Dia benar benar tidak menyangka Alan akan Mengatakan itu kepadanya, apalagi di depan Kimi.
Alan yang menyadari kejengkelan Mayang hanya tersenyum. Dia sama sekali tidak menunjukkan ekspresi bersalah atau meminta maaf kepada Mayang.
Alan masih sibuk dengan kemudinya. Dia diam tanpa Menjawab pertanyaan Mayang. Sedang Mayang yang masih menahan jengkel pun hanya bisa diam sbil.memeluk.Kimi yang duduk anteng di pangkuannya.
Perjalanan pun di warnai dengan keheningan. Hanya Kimi yang sesekali terdengar celotehnya diantara suara deru mobil.yang melaju.
Tak terasa, mobil Alan sudah sampai di depan gerbang sekolah Kimi.
Kimi pun bergegas turun disertai dengan Mayang yang masih selalu setia menggandeng tangan Kimi.
Diambilnya tas dan perbekalan Kimi di kursi belakang. Lalu dia memberikannya kepada Kimi.
"Belajar yang rajin yaa sayang. Jadi anak baik, anak yang sholeha ya, jangan nakal sama teman-teman nya!" kata Mayang sesaat setelah memasangkan tas dan bekal Kimi di pundak kimi.
"Iya Tante...!" jawab Kimi sambil.meraih tangan Mayang untuk di ciumnya.
Alan yang menyaksikan itu tersenyum penuh haru. Rasanya tindakan Mayang seperti sikap seorang ibu kepada anaknya. Dan Kasih sayang Kimi kepada Mayang pun terlihat sangat tulus seperti kepada ibu kandungnya.
Tak terasa, mata Alan mengembun. Tetesannya hampir saja jatuh ke pipinya. Cepat dia mengusapnya dengan ujung jarinya. Dia tidak mau Mayang atau pun Kimi melihatnya.
"Salim sama Papa juga ya!" titah Mayang terdengar ketika Kimi selesai mencium tangannya.
Kimi mengangguk seraya berjalan mendekati Papanya yang kini sudah turun dari mobil dan berjalan mendekati mereka.
"Sini anak Papa yang cantik! Papa mau cium dulu, pengen cium wanginya anak Papa satu satunya!"
Alan memeluk dan menciumi pipi Kimi bergantian sebelum akhirnya melepaskannya ketika Kimi sudah berteriak meminta untuk dilepaskan.
"Baik-baik di sekolah ya sayang! Patuhi perintah Tante Mayang dan jadi anak baik!" kata Alan sambil melakukan Hi-five dengan Kimi setelah Kimi.mencium tangan Papanya itu.
Kimi kemudian bergegas masuki kelas setelah sebelumnya dia kembali memeluk Mayang sebelum mereka berpisah.
Alan kembali duduk di belakang kemudinya, begitu pun dengan Mayang yang kembali masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Alan.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Alan tak sedikit pun berusaha menginjak pedal gas untuk segera sampai dirumah.
"Bisakah Tuan sedikit lebih cepat?"
Alan sekilas melirik kearah Mayang yang terlihat sedang kesal.
"Kenapa harus buru buru? Bukankah dirumah sudah ada si Mbok?"
"Tapi saya harus menyiapkan makan siang untuk Non Kimi, Tuan!"
"Nggak perlu! Nanti kita makan siang di Restauran saja, setelah menjemput Kimi!" tukas Alan bernada memerintah.
Mayang terdiam. Hatinya semakin kesal dengan sikap Alan yang semaunya sendiri memerintahnya. Bahkan sepanjang jalan, Mayang hanya terdiam tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya.
Bayangan kejadian tadi malam masih saja membuatnya menjaga jarak dari Alan. Dia masih takut untuk bersikap biasa kepada Alan. Ada keraguan yang membuat dia merasa tidak nyaman saat berada di dekat Alan.
"Maaf Tuan! Bukankah ini bukan jalan menuju ke rumah?"
Alan hanya tersenyum tanpa menjawab. Dia melajukan mobilnya memasuki sebuah taman kota. Kemudian sesampainya disana dia segera menepikan mobilnya di dekat sebuah bangku taman yang berhadapan langsung dengan sebuah danau buatan yang berada di pusat taman.
"Saya harus pulang, Tuan! Saya harus membantu Si Mbok membersihkan rumah dan memasak."
__ADS_1
"Sudah saya katakan, kamu tidak usah repot memikirkan pekerjaan di rumah untuk hari ini! Kamu disini saja, temani saya!" ujar Alan sedikit keras.
Hal ini membuat Mayang terkejut. Dia berpikir Alan marah padanya karena dia menolak dia semalam.
"Maafkan saya Tuan! Tapi saya ikut Tuan karena saya bekerja. Kalau saya disini, itu berarti saya tidak melakukan pekerjaan saya!"
"Siapa yang menggaji kami?"
"Tuan Alan...!" jawab Mayang lirih.
"Lalu kenapa kamu masih meributkan soal pekerjaan kamu? Sedangkan aku adalah orang yang membayar kamu yang meminta kamu tetap disini?"
"Tapi, Tuan...!"
"Kenapa...? Apa kamu takut padaku...?"
"Tidak, Tuan...!" sahut Mayang lirih dan terbata. Dia hanya bisa menundukkan kepalanya menghindari tatapan mata Alan yang tajam kearahnya.
"Mengapa kamu menghindariku, Mayang?" cecar Alan penuh penekanan.
"Maksud Tuan...?" jawab Mayang seolah tidak mengerti
"Apa kamu takut pada ku?"
Mayang menggeleng lirih. "Tidak, Tuan!"
"Lalu mengapa kamu tidak mau memandangku?"
Mendengar pertanyaan seperti Itu, Mayang menjadi salah tingkah. Dia benar benar tidak tahu harus menjawab apa. Bagaimana mungkin dia akan mengatakan kalau.di gugup saat berdekatan dengan majikannya itu.
"Saya hanya sedang tidak enak badan, Tuan!"
Mayang lagi lagi hanya mengangguk lirih.
"Tapi bukan karena kejadian semalam bukan?"
Deg...!
Jantung Mayang rasanya mau copot. Bagaimana mungkin laki-laki di depannya itu bisa bertanya dengan entengnya seperti itu? Bukankah seharusnya saat ini dia meminta maaf padanya? Tapi mengapa laki laki ini justru dengan entengnya bertanya tentang kejadian semalam seperti tanpa ada beban dosa?
"Kamu marah pada ku Mayang?"
Mayang masih terdiam menunduk. Dia takut laki laki di depannya itu bisa mengetahui isi hatinya yang sedang gugup dan kalut.
"Lebih baik kita pulang saja, Tuan!"
"Kenapa...? Apa kamu ingin menghindari aku?"
"Bukan seperti itu...!"
"Lalu...?"
"Saya tidak mau orang orang salah paham karena melihat kita berduaan di sini."
"Biarkan saja...! Aku memang sedang ingin berduaan saja dengan kamu disini!"
Mayang terkejut mendengar jawaban Alan. Dia tidak menyangka Alan akan mengatakan seperti itu kepadanya.
"Sepertinya aku menyukai kamu, Mayang!"
Alan meraih tangan Mayang dan menggenggamnya erat. Matanya menatap sayu menyapu wajah Mayang.
__ADS_1
Diperlakukan seperti itu, membuat hati Mayang semakin tak karuan. Refleks dia menarik tangannya dari genggaman tangan Alan. Namun sepertinya Alan enggan melepaskan tangannya dan malah semakin erat menggenggam tangan Mayang.
"Lepaskan tangan.saya, Tuan!"
"Kenapa...? Apa kamu tidak memiliki perasaan yang sama denganku, Mayang?"
"Maafkan saya, Tuan! Tapi Tuan justru membuat saya takut!"
"Kenapa...?"
"Ini terlalu cepat dan tiba tiba. Saya tidak tahu siapa Tuan da Tuan.pun juga tidak tahu siapa saya. Bagaimana mungkin Tuan bisa menyukai saya?"
"Aku menyukai kamu sejak pagi pertama kamu menyiapkan kopi dan sarapan untuk ku. Kalau alasan kamu kita belum saling mengenal, bukankah ini akan lebih baik. Kita akan menjadi dekat dan saling mengenal satu sama lain!"
"Tapi, Tuan...!"
"Kenapa lagi, Mayang...?" sahut Alan.
"Apa sebenarnya kamu marah padaku karena semalam aku mencoba menyentuhmu?"
Mayang memalingkan wajahnya. dia tidak tahu harus menjawab apa. Kalau dia menjawab iya, dia takut akan kehilangan pekerjaannya yang baru beberapa hari dia dapatkan. Sedangkan saat ini dia sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk.menghidupi adiknya dan dirinya sendiri.
Dimana lagi dia bisa mendapatkan gaji sebesar ini tanpa dia harus mengeluarkan biaya untuk makan dan tempat tinggal lagi?
Mayang mendengus kesal. Namun dia tidak berani menunjukkannya di depan Alan. Dia hanya bisa menahan semua kekesalannya di dalam hati.
"Aku juga tidak tahu, mengapa semalam aku begitu tergoda untuk Melakukannya. Saat melihat tubuhmu terbaring di ranjangku memeluk Kimi, aku teringat pada istriku. Aku tergoda untuk menyentuhmu karena aku membayangkan kalau kamu itu adalah Malia, Mamanya Kimi yang sudah meninggal!"
"Itu bukan pembenaran untuk Tuan melakukan itu pada saya, apalagi kita tidak ada hubungan apa pun dan Tuan melakukannya tanpa seijin saya!"
"Jadi, apakah kalau kita berdua mempunyai 'hubungan', aku boleh melakukannya?" Tanya Alan sambil mengangkat tangannya menggerakkan dua jari nya mengisyaratkan tanda petik.
"Tidak...!"
"Kenapa? Bukannya tadi kamu bilang, kalau diantara kira ada hubungan, aku boleh melakukannya?"
"Tidak tanpa seijin saya...!"
"Kalau begitu mengapa kamu tidak mengijinkannya? Apakah kamu tidak menyukaiku , Mayang?"
Lagi lagi Mayang tergagap mendengar pertanyaan Alan. Dia benar benar di buat mati kutu dengan pertanyaan pertanyaan Alan kepadanya.
"Katakan kalau kamu juga menyukai aku, Mayang! Aku bisa melihatnya dari sorot matamu saat kamu melihatku!"
Ah, sialan...!
Alan mengetahui perasaannya. Dia memang mengagumi sosok Alan. Dan dia memang sering mencuri pandang saat berada di dekat Alan.
Tapi, bagaimana mungkin Alan mengetahuinya? Apakah mataku benar benar jelas mengisyaratkan kalau aku juga menyukainya?
🍀🍀🍀
Hai...!
Author balik lagi nih. Maaf untuk waktu yang lama buat Up lagi. Mudah mudahan Author bisa Up lagi setiap hari mulai hari ini ya.
Ikuti terus kisah cinta Alan dan Mayang. Ceritanya akan semakin seru. dan pastinya menguras emosi jiwa.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya setelah membacanya. Like dan komennya sekalu di tunggu supaya authornya lebih semangat lagi buat nulis.
Terimakasih!
__ADS_1