
Malam semakin larut. Mayang kembali merebahkan tubuhnya diatas ranjangnya. Kali ini dia benar benar merasa bingung dengan perasaannya.
Mungkinkah dia mencintai Alan sast ini, Hingga tubuhnya benar benar menerima setiap sentuhan Alan. Bahkan dari alam bawah sadarnya.
Mayang berulang kali menggelengkan kepalanya dengan cepat. Matanya mengerjap beberapa kali mencoba menghapus bayangan dan perasaan aneh itu dari hatinya.
Namun bayangan Alan dan sentuhannya membuat pikirannya semakin liar. Berulang kali siluet tubuh Alan yang gagah bermain di benaknya. Otaknya selalu terbayang adegan saat wajahnya Berada begitu dekat dengan wajah Alan.
Tanpa sadar Mayang meraba bibirnya. Merasakan kembali sentuhan bibir Alan di bibirnya. Matanya terpejam, Hingga tanpa sadar dia pun terlelap dalam mimpinya.
Saat pagi menjelang...
Suara alarm penanda waktu sudah berteriak membangunkan Mayang dari tidurnya.
Hari ini adalah hari sabtu. Kimi akan bersekolah hanya sampai pukul sepuluh pagi. Karena setiap hari sabtu, sekolah Kimi akan mengadakan sekolah alam.
Hari ini Alan libur. Hari kerjanya hanya lima hari, dan setiap sabtu dia akan libur.
Kesempatan itu biasanya di gunakan Alan untuk mengantarkan Kimi ke sekolah. Meskipun hanya seminggu sekali, namun Kimi terlihat sangat bahagia saat Alan mengantarkan dia ke sekolah dan menjemputnya.
Hari ini Mayang bangun seperti biasa. Dia segera mandi dan sholat. Setelah itu dia segera menyiapkan sarapan untuk Kimi dan Alan bersama Si mbok.
Setelah semua beres, dia segera menyiapkan air hangat untuk di pakai Kimi mandi. Dan kemudian dia akan membangunkan Kimi di kamarnya.
Sejenak Mayang tertegun.
Dia baru ingat, kalau Kimi sedang tidak tidur di kamarnya. Kimi sedang berada di kamar ayahnya, Alan.
Mayang mengurungkan langkahnya menuju kamar Alan. Dia ingat kejadian semalam yang hampir membuatnya gila.
Sekali lagi dia tertegun. Mayang masih bingung, bagaimana caranya dia membangunkan Kimi yang kini berada di kamar Alan.
Dia ingin menghindari laki-laki itu. Dia tidak siap untuk bertemu dengan laki laki itu lagi setelah kejadian semalam.
Tapi ini sudah hampir jam setengah tujuh pagi. Kimi harus segera mandi agar tidak telat berangkat sekolah. Dengan hati bimbang, Mayang kemudian melangkah menuju kamar Alan untuk membangunkan Kimi
Setibanya di depan kamar Alan, Mayang hanya terdiam tertegun.
Dia ragu ragu untuk mengetuk pintu kamar Alan. Hingga tiba tiba, pintu kamar Alan terbuka dan Alan muncul di baliknya bersama dengan Kimi yang berada di dalam gendongannya.
"Tante Mayang...!" pekik Kimi bahagia ketika melihat Mayang berdiri di hadapannya.
"Selamat pagi sayang...!" sahut Mayang dengan senyum lebarnya.
Kimi segera mengangkat kedua tangannya, dan di arahkan kepada Mayang meminta berpindah di gendongan Mayang.
Reflek Mayang menyambut tangan Kimi, dan menggendongnya.
__ADS_1
Tanpa sengaja tangannya menyentuh tangan Alan yang masih erat menggendong Kimi. Dengan cepat Mayang segera mengambil alih Kimi dari gendongan Alan. Dan kemudian dia bergegas pergi dari tempat itu.
Sementara Alan masih diam terpaku Menatap kepergian Mayang dan anaknya. Dia merasa Mayang masih marah padanya dan membuat Mayang tidak menyapanya seperti biasa.
Alan kemudian bergegas masuk kembali ke kamarnya dan segera mandi. Dia tidak ingin terlambat untuk mengantarkan Kimi ke sekolah.
Di meja makan setelah semua siap.
Nampak Mayang sudah menghidangkan secangkir kopi untuk Alan. Dia juga sibuk menyiapkan sarapan dan menghidangkannya untuk Alan.
Semua di lakukan Mayang dalam diam. Tak ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Mayang sangat berusaha menghindari tatapan mata Alan padanya.
Berulang kali mata Mayang beradu dengan mata Alan, namun berulang kali itu pula Mayang menundukkan pandangannya.
Sarapan pagi kali ini berjalan sangat lambat bagi Mayang. Hanya keheningan tanpa celoteh Kimi dan Mayang seperti biasanya. Suara sendok dan garpu yang berdenting saat beradu dengan piring membuat suasana sedikit riuh.
Kimi telah selesai dengan sarapannya. Mayang segera memberi segelas susu pada Kimi dan kemudian merapikan aeragam.Kimi sebelum dia berangkat sekolah.
Alan yang juga sudah selesai dengan sarapannya, dan menyesap sedikit kopi buatan Mayang akhirnya bergegas untuk bersiap.
"Kalau hari Ini tante Mayang ikut nganterin Kimi ke sekolah, Kiki seneng nggak?" tanya Alan tiba tiba yang sukses membuat Mayang terkejut.
Mata Mayang membulat sempurna dan bibirnya sedikit terbuka menunjukkan keterkejutannya.
Kimi yang bahagia mendengar pertanyaan Ayahnya pun mengangguk dengan cepat mengiyakan pertanyaan Papanya. Seketika Kimi mengalihkan Pandangannya kepada Mayang. Matanya yang bening dengan bulu mata yang lentik itu benar benar membuat hati Mayang terpesona dan jatuh cinta pada gadis kecil itu.
Sejenak Mayang tertegun mendengar permintaan Kimi. di tatapnya lekat bocah perempuan mungil.di depannya itu.
Mata yang mempesona itu membuat Mayang tidak pernah bisa menolak permintaan Kimi. Hingga tanpa Sadar mayang pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Horee....! Kimi berangkat sekolah sama Papa, sama Tante Mayang...!"pekik bocah perempuan itu bahagia.
Wajahnya begitu menunjukkan kebahagiaan yang terasa hangat dirasakan Menjalar di hati Mayang.
Alan diam diam tersenyum mendengar jawaban Mayang. Bagaimana pun, nantinya dia akan punya waktu berdua dengan Mayang selepas mengantarkan Kimi ke sekolah. Dan itu akan dia manfaatkan sebaik mungkin untuk meminta maaf kepada Mayang.
Mereka kemudian bergegas bersiap. Kimi nampak sangat bahagia, karena ini pertama kalinya dia diantar Papanya bersama Mayang.
"Nanti pulang sekolah, Papa jemput Kimi sama Tante Mayang lagi ya...!" pinta Kimi dengan logat cadelnya. Dia menunjukkan senyumnya kepada Papanya.
"Tanya Tante Kimi dong sayang, bisa nggak nanti jemput Kimi sama Papa?" jawab Alan di sertai dengan senyuman khasnya.
Mayang refleks melihat kearah Alan yang berjalan santai Melewati dirinya dan Kimi yang masih sibuk memakai sepatu.
"Tante Mayang mau kan jemput Kimi nanti sama Papa?" tanya Kimi manja sambil memonyongkan bibirnya ke arah Mayang.
Mayang tersenyum mendapati Pertanyaan Kimi barusan. Dia bingung harus menjawab apa. Saat ini dia ingin menghindari Alan. bahkan kalau bisa tidak usah bertemu lagi. Tapi untuk permintaan Kimi yang kedua ini rasanya hanya akan membuat Alan semakin salah sangka padanya.
__ADS_1
Dia bersedia mengantarkan Kimi ke sekolah, hanya karena dia iba melihat Kimi memohon padanya karena mungkin saja Kimi sedang Merindukan Ibunya.
"Kalau tante Mayang nanti ikut jemput Kimi, lalu siapa yang masak di rumah?" jawab Mayang berdalih dengan lembut.
"Nanti Kimi makan apa...?
"Nanti minta Papa makan di restauran saja Tante...!" sahut Kimi sambil satu tangannya menunjuk kearah Papanya.
Mayang menggeleng lirih. Dia tidak tahu harus beralasan apa lagi kepada bocah perempuan mungil ini agar dia terhindar dari bertemu dan berduaan dengan Alan lagi.
Kimi yang sudah selesai memakai sepatu segera Berlari menyusul Papanya ke mobil yang kemudian di susul Mayang yang berjalan di belakang Kimi.
"Kimi di depan saja duduk sama Papa!" kata Mayang ketika melihat Kimi membuka pintu mobil.belakang dan hendak duduk di sana.
"Tapi Kimi mau duduk sama Tante...!" rengek Kimi manja sambil berpura pura membuat mimik muka cemberut di depan Mayang.
"Tidak bisa sayang...! Kimi duduk di depan sama Papa, Tante di belakang!"
"Nggak mau...!"
"Sudah lah Mayang, kamu duduk saja di depan. Kamu bisa kan memangku Kimi?" ujar Alan tiba tiba memotong perdebatan kecil antara Mayang dan Kimi.
Mayang nampaknya kaget mendengar perkataan Alan. Dia bahkan tak.menjawab atau memberikan reaksi apa pun. Hingga suara Kimi tiba tiba menyadarkannya kembali.
"Horee...! Kimi dipangku Tante mayang...!"
Kimi bergegas membuka pintu depan mobil. Kemudian sebelum.memasukinya, tangannya yang mungil menggandeng tangan Mayang dan menuntunnya untuk memasuki mobil bersamanya.
"Kalau begini kan lebih enak dipandang mata...!" ujar Alan ketika Mayang dan Kimi sudah memasuki mobil dan duduk di sebelah nya.
Mayang sekilas melirik kearah Alan. Wajahnya menunjukkan kekesalan yang luar biasa. Mayang menyadari, saat ini Alan menggunakan Kimi untuk membuatnya terus berada di dekatnya.
"Kenapa dada Tante Mayang bunyi Dug, dug, dug gitu? Apa Tante sakit?" tanya Kimi tiba tiba.
Tak ayal pertanyaan Kimi membuat Mayang salah tingkah. Kimi yang dia pangku dan berada di dalam pelukannya, ternyata bisa merasakan detak jantungnya yang semakin tak berirama.
Mayang hanya bisa tersenyum lalu memeluk Kimi dan mencium kedua pipinya.
"Tante Mayang mungkin sedang marah dengan seseorang tuh, sayang!" sahut Alan tiba tiba.
Sontak perkataan Alan itu membuat Mayang kaget dan langsung menoleh kearah yang empunya suara.
"Atau mungkin, Tante Mayang sedang Jatuh cinta...!" sambung Alan lagi tanpa memperdulikan Mayang yang sudah setengah mati menahan marah.
"Apa maksud Tuan...?"
Alan tersenyum tanpa menoleh kearah Mayang yang melihatnya dengan heran.
__ADS_1
"Bukan apa apa! Hanya aku pikir, orang yang sedang jatuh cinta itu hatinya selalu berdebar kalau berada dekat dengan orang yang di cintainya...!"