Bukan Wanita Pilihan

Bukan Wanita Pilihan
Bab 3


__ADS_3

Aku merasa ada yang aneh dengan mas Bryan, sebelum menikah dia terus saja mendekati dengan berbagai cara,bahkan dia selalu menemani ku kemanapun aku pergi,tapi mengapa setelah kami menikah sikapnya mulai berubah,ia terlihat begitu dingin seolah ingin menghindari ku terus. Ingin mengutarakan nya langsung tapi aku merasa canggung,takutnya dia salah paham padaku nantinya,tapi jika di biarkan aku yang merasa tidak nyaman,seolah aku melakukan kesalahan yang membuatnya berubah padaku.


Tak ingin terus larut dalam memikirkan perubahan mas Bryan padaku, lebih baik aku menyibukkan diri saja,aku harus berfikir positif mungkin saja mas Bryan sedang begitu sibuk jadi ia belum memiliki waktu luang untukku ,meski kami adalah pasangan baru menikah.


" Sayang,kamu ngapain di sini?" Tanya ibu mertua ku yang tiba-tiba muncul saat aku sedang memasak di dapur.


" Aku lagi masak Ma,aku bosan jadi aku cari kesibukan saja." Ujar ku sembari terus memotong sayuran untuk di masak makan malam nanti.


" Ini tugas pelayan sayang,biarkan mereka yang memasaknya."


" Tidak apa-apa Ma, lagian masih banyak pekerjaan lain yang harus di mereka kerjakan."


Dirumah ini memiliki tiga pelayan wanita yang, masing-masing mereka sudah memiliki tugas sendiri.


" Maaf,nyonya besar...saya sudah melarang nona muda untuk memasak tadi." Jelas sang pelayan wanita yang tiba-tiba muncul ,dari wajahnya jelas terlihat kecemasan, mungkin ia takut jika kena marah dari mama.


" Tidak apa-apa kan Ma,aku bantu-bantu masak?"


Ibu mertuaku terlihat membuang nafas,ia lalu tersenyum kemudian mengangguk pelan.


" Tapi kamu akan tetap di bantu Ana,mama tidak mau kamu mengerjakan semuanya sendiri." Ujar mama akhirnya mengizinkan.Ia lalu berjalan meninggalkan dapur dapur ,sedangkan aku melanjutkan pekerjaan ku di dapur.

__ADS_1


Malam telah tiba,semua hidangan makan malam telah tersaji di meja makan,aku pun sudah mandi dan berganti pakaian dan kini menunggu mas Bryan yang belum pulang dari kantor. Harusnya ia masih cuti tapi mungkin ada pekerjaan yang mendesak jadi hari ini dia masuk kerja .


Aku turun ke lantai bawah,dan melihat mama mertuaku sedang duduk di sofa di depan televisi,di sampingnya ada papa mertuaku yang sepertinya baru saja pulang kantor,terlihat dari pakaiannya yang masih menggunakan pakaian kantor.


" Jeny...sini sayang." Ujar mama sembari menepuk sofa yang kosong di sampingnya menyuruhku duduk di sana.


Aku lalu berjalan menghampiri keduanya dan duduk di samping mama.


" Papa mandi dulu ya,gerah ini." Pamit papa lalu beranjak dari tempatnya.


" Bryan belum pulang ?" Tanya mama .


" belum Ma,mungkin sedang di jalan." Jawabku.


" Mungkin macet ma."


" Bryan itu memang seperti itu sayang,dia itu gila kerja.kamu harus membuat dia agar mengurangi pekerjaan nya,biar dia ada waktu untuk mu juga ." Mama terlihat masih kesal,aku hanya tersenyum dan merasa terharu karena mama selalu memikirkan kebahagiaan ku,ya sejujurnya aku pun merasa sepi,harusnya aku bisa lebih mengenal mas Bryan lebih dekat lagi,tapi bagaimana bisa aku mengenal nya lebih dekat,sedangkan dia selalu saja sibuk dengan pekerjaan nya.


Aku,mama dan papa duduk di ruang tengah,masih menunggu mas Bryan yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya,padahal jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat .


Aku mulai gelisah,takut terjadi sesuatu padanya. Sedari tadi aku menghubungi nomornya tapi tidak aktif.

__ADS_1


" Jangan mengkhawatirkan nya,Dia memang seperti itu selalu pulang larut malam." Ucap papa,Mungin ia menyadari kegelisahan ku.


" sebaiknya kita makan malam saja, menunggu nya akan membuat kita kelaparan nantinya. Anak itu pasti akan pulang larut malam lagi seperti yang sudah-sudah." Ujar mama sembari beranjak sei duduknya dan di susul papa.


" Jen...ayo sayang." Ajak mama ketika ia menyadari aku belum juga beranjak dari tempat ku.


" Mama sama papa makan saja duluan, nanti biar aku sama mas Bryan saja makannya." Ujarku ,aku merasa kehilangan selera makan karena pikiran ku hanya tertuju pada suami ku,aku takut terjadi sesuatu padanya.


" Ya,sudah....tapi kalau kamu sudah lapar jangan menunggu nya,makan saja." Ucap papa.


Aku mengangguk pelan sebagai jawaban, sedangkan mama masih terlihat kesal karena putranya itu tidak kunjung pulang juga .


Waktu terus berjalan,tak terasa sudah pukul dua belas malam,tapi mas Bryan belum juga menampakkan dirinya , telfonnya pun masih belum bisa tersambung. Sedangkan. Kedua mertua ku mereka sudah terlelap,mungkin mereka sudah terbiasa jika mas Bryan pulang larut malam. Tapi tidak dengan ku ,aku merasa gelisah, perasaan ku tidak enak...entah lah aku hanya merasa khawatir dengan suamiku itu.


Pintu di buka sangat pelan,aku mendengar nya,tapi aku pura-pura tidur sembari mataku sedikit terbuka untuk melihat mas Bryan yang baru saja memasuki kamar. Untunglah kamar ini gelap,jadi ia tak menyadari jika aku melihatnya secara diam-diam.


" Iya,ini baru aku masuk kamar...aku mau mandi dulu,aku sangat lelah." Ucapnya pada seseorang melalui sambungan telfon,cara bicara nya begitu lembut penuh kasih sayang. Siapa yang berada di balik telfon itu,aku begitu penasaran,aku merasa ada sesuatu yang di sembunyikan nya dariku. Ingin langsung mencecarnya tapi takut ia akan marah padaku dan menuduhku lancang ,lebih baik aku tetap pura-pura tidur saja,aku akan mencari tahu nya besok.


Aku merasa dia sudah tidur di sampingku. Sejujurnya aku merasa sedih sebagai pengantin baru harusnya kami menikmati masa-masa indah bersama,tapi ia begitu dingin padaku. Ingatanku kembali ke saat-saat dimana dia terus mengejarku dan terus meyakinkan ku untuk menerima cintanya.


Pertemuan kami memang begitu singkat,hanya tiga bulan saat itu aku yang sedang bekerja di salah satu perusahaan yang ternyata merupakan cabang perusahaan nya tanpa sengaja menabrak tubuhnya saat kami berpapasan di koridor kantor. Saat itu ia sedang ada kunjungan ke kantor cabang.

__ADS_1


Awalnya kami biasa-biasa saja,tak ada rasa tertarik di antara kami,tapi entah mengapa dua Minggu sejak kejadian itu ia tiba-tiba kembali datang ke kantor dan mendekatiku. Aku yang tahu diri terus menghindarinya tapi semakin aku menghindarinya semakin ia mendekati ku Berbagai cara ia lakukan untuk dekat dengan ku. Hingga pada suatu peristiwa saat Tante Mia masuk rumah sakit dan memerlukan perawatan dia muncul sebagai penolong kami,yang memang saat itu kami sedang membutuhkan biaya untuk operasi tanteku.


Sejak saat itu kami mulai dekat ,aku di perkenalkan pada kedua orangtuanya yang dengan tangan terbuka menerima kedatangan ku. Bahkan kedua orangtuanya lah yang datang kan pada Tante Mia untuk melamar ku,karna hanya beliau lah yang aku miliki di dunia ini.


__ADS_2